Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 69


__ADS_3

[ Vote, Vote, Vote ]


"Bagaimana hasil penyelidikanmu, Raka?" tanya tuan Kemal yang duduk di kursi kebesarannya di perusahaan Grissham Company, setelah menerima draft kerja sama yang disodorkan oleh Raka.


"Maaf, Tuan. Saya belum menemukan orang yang Tuan cari. Tapi, berdasarkan informasi yang kami dapat, kemungkinan besar orang yang Tuan cari pindah ke kota ini, Tuan."


Tuan Kemal mengangguk-angguk mendengar penjelasan Raka.


"Begitu rupanya." Kemudian tuan Kemal lanjut memeriksa dokumen yang ada di depannya.


Hening untuk beberapa waktu.


Raka masih pada posisinya, berdiri di hadapan atasannya. Tapi dengan air muka yang penuh dengan beban.


Ia ingin memberitahukan sesuatu kepada tuan Kemal, namun ia ragu. Ia takut, jika apa yang akan ia sampaikan adalah hal yang tidak penting. Tapi ia juga merasa harus mengakatannya. Entahlah, seolah ada sesuatu yang mendorongnya untuk mengungkapkannya.


"Ada apa dengan wajahmu itu?" Tuan Kemal menyorot raut wajah Raka yang nampak jelas bagi tuan Kemal seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu.


Raka ingin mengatakan tidak ada apa-apa, namun tuan Kemal memberinya sorotan intimidasi.


"Mungkin tidak mengapa kalau aku mengutarakannya," batin Raka.


"Maaf, Tuan. Tanpa ada maksud lain sama sekali, saya cuma mau menyampaikan bahwa nona yang ingin Tuan temui tempo hari sudah siuman."


"Benarkah?" Entah mengapa, tuan Kemal senang mendengar berita yang disampaikan oleh asistennya itu.


"Benar, Tuan. Tapi, nona itu mengalami kebutaan." Raut wajah tuan Kemal berubah seketika. Wajah yang tadinya semringah, kini memancarkan kesedihan.


Tuan Kemal menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang ia duduki. Pandangannya terasa kosong mengetahui Anan yang tak dapat melihat. Seakan terhalang dinding, sulit baginya untuk menemukan jawaban dari situasi yang terjadi padanya.


Ia kembali terngiang ketika dokter Sandra membeberkan kabar tentang Anan yang mengalami kecelakaan, setibanya di tanah air.


Ia terkesiap. Ia pun teringat dengan segala apa yang dirasakannya diwaktu yang sama dengan kejadian itu. Termasuk ketika tanpa sengaja ia menjatuhkan gelas yang dipegangnya.


Meski terlihat tenang, namun ada amarah yang membuncah di baliknya. Hatinya seakan remuk dan hancur berkeping-keping. Ia sungguh mengecam pelaku penculikan dan penabrakan terhadap Anan.


Walau telah berhari-hari berlalu, tuan Kemal masih terus memikirkan Anan. Baik itu Anan yang diceritakan oleh dokter Sandra, maupun Anan yang ditemuinya beberapa bulan lalu di perusahaannya.


Karena itu, tuan Kemal pun bermaksud mencari tahu. Ia ingin memastikan apakah mereka adalah Anan yang sama atau orang berbeda tapi dengan nama yang sama.


Dulu, ia sempat ingin memerintahkan Raka untuk mencari tahu tentang Anan, akan tetapi ia urungkan. Seolah ada sesuatu yang membisikkan agar ia tidak perlu melakukannya. Meski hati kecilnya meronta ingin tahu.


Dan tiga hari yang lalu, karena merasa memiliki ikatan batin dan juga untuk mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya terhadap Anan, ia pun menyempatkan diri berkunjung ke rumah sakit tempat Anan di rawat.


Namun baru saja ia hendak memegang gagang pintu ruang ICU, rasa bimbang menghinggapinya. Logika dan perasaannya seolah beradu. Akhirnya, logika tuan Kemal yang mendominasi.


Terasa aneh, dirinya yang bukan siapa-siapa Anan, tiba-tiba datang menjenguknya, pikirnya. Sehingga ia pun berlalu begitu saja sebelum menemui dan melihat kondisi Anan.


"Ada apa ini?" Tuan Kemal Menghela nafas berat sambil memegang dadanya.


"Apa Tuan baik-baik saja?" tanya Raka, khawatir dan sedikit mendekat.


"Entahlah, Raka. Aku sendiri tidak begitu paham."

__ADS_1


"Maaf, Tuan. Tapi sebaiknya Tuan memperhatikan kesehatan Tuan."


Tuan Kemal tersenyum mendengar nada khawatir di kalimat asistennya itu. Kemudian kembali menghembuskan nafas panjang.


"Aku baik-baik saja. Oh iya, apa kamu masih ingat dengan sekretaris utusan perusahaan Wima Group waktu itu?" tanya tuan Kemal, menatap serius.


"Masih, Tuan."


"Mungkin ini terdengar kurang baik di telingamu. Atau bahkan terkesan tidak wajar. Tapi ketahuilah, tanpa bermaksud apa-apa, sejak bertemu waktu itu, aku terus memikirkan gadis itu. Aku merasakan jalinan yang begitu erat di antara kami. Tapi aku juga tidak tau itu apa."


Tuan Kemal berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati lemari bufet yang berjarak dua meter di belakang tempat duduknya.


Ia meraih salah datu bingkai foto yang ada di sana. Ia menatap lekat gambar yang tersemat dalam bingkai tersebut seraya mengusapnya. Lalu berbalik menghadap Raka.


"Foto itu... ," batin Raka, melihat foto yang di tangan tuan Kemal.


"Mungkin kamu bertanya-tanya, siapa wanita yang ada di foto ini?" Raka mendelik, tuan Kemal mampu menebak apa yang dipikirkannya.


Lagi, tuan Kemal kembali menghela nafas panjang kemudian kembali duduk di kursinya.


"Ini adalah foto istri pertama aku. Sebelum menikahi mamahnya Zidan, aku sudah pernah menikah di sebuah kampung yang jauh dari sini."


Tuan Kemal tersenyum dan terkekeh kecil membayangkan kisah cintanya dengan seorang wanita yang merupakan cinta pertamanya waktu itu. Namun, sejurus kemudian senyum dan kekehan itu terganti dengan raut wajah muram dan sedih.


"Tapi sayang, pernikahan aku tidak berjalan seperti yang kuharapkan. Demi kebahagiaan dan keberlangsungan rumah tanggaku, aku menyetujui usul opa Zidan untuk mengurus perusahaan yang ada di Jepang. Namun ternyata, keberangkatan aku ke Jepang adalah awal perpisahan aku dengannya."


Raka bisa merasakan kekecewaan yang mendalam di hati pimpinan Grissham Company itu. Dan tatkala ia menyaksikan setetes bulir bening yang jatuh dari pelupuk mata atasannya itu, hatinya pun turut merasa sedih. Tak disangka, seorang pria yang sangat dihormati dan diseganinya, meneteskan air mata di hadapannya.


Raka maju dan memberikan dua lembar tisu ke tuan Kemal.


"Maaf, Raka. Tidak seharusnya kami melihat ini," ujar tuan Kemal yang merasa tidak enak hati menangis di depan asistennya.


"Tidak apa-apa, Tuan. Saya yang seharusnya meminta maaf. Dan menurut saya, belum ada aturan yang mengatakan bahwa seorang pria dilarang menangis." Ucapan Raka sontak membuat tuan Kemal tertawa kecil.


Tuan Kemal kembali berdiri dan meletakkan bingkai foto yang dipegangnya ke tempat semula.


Tuan Kemal memutar badannya menghadap Raka.


"Oh iya, Raka. Sudah bertahun-tahun aku melakukan pencarian, tapi... aku bingung mengapa tim yang aku bentuk melalui kamu belum memberikan hasil maksimal?"


Raka terdesak oleh air liurnya sendiri sehingga membuatnya terbatuk.


"Ada apa? Apa kamu baik-baik saja?" tanya tuan Kemal.


"Gawat! Apa aku sudah ketahuan?" batin Raka.


Tuan Kemal mulai mengayunkan langkahnya ke arah Raka. Tatapannya tak lepas dari orang yang berdiri di hadapannya itu.


"Bisa celaka kalau aku benar-benar ketahuan." Raka kembali membatin.


Sampai akhirnya tuan Kemal berdiri tepat di depan Raka. Tuan Kemal masih menyorot Raka. Dan tak lama, ia mengangkat tangannya ke udara.


"Sepertinya hari ini kamu sedang tidak enak badan. Pulanglah lebih awal!" titahnya sembari menepuk pundak Raka dua kali.

__ADS_1


"Tapi, Tuan. Saya baik-baik saja. Saya masih bisa bekerja hari ini," sanggah Raka, sedikit menunduk.


"Tidak apa. Aku akan pulang diantar sopir," tegas tuan Kemal.


Kalau sudah begini, mau tidak mau Raka harus mengikuti perkataan pimpinannya itu. Raka pun pamit undur diri dan meninggalkan tuan Kemal sendiri di ruang kerjanya.


Di perjalanan pulang ke apartemen, Raka tidak berhenti bermonolog. Ia juga menyesal selama ini ia ternyata telah melakukan kesalahan. Ia tidak menyangka jika apa yang disampaikan tuan Kendra bertolak belakang dengan cerita yang dikisahkan oleh tuan Kemal. Ia pun menyadari bahwa yang menjadi korban sesungguhnya adalah tuan Kemal dan orang yang dicarinya.


"Mulai detik ini, aku tidak akan melaporkan apapun lagi ke tuan Kendra. Kalaupun aku harus kehilangan pekerjaan, itu tidak masalah. Yang penting aku tidak merasa bersalah lagi. Aku benar-benar kasihan pada tuan Kemal. Aku harus membantu tuan untuk menemukan orang yang dicarinya. Harus!" gumamnya, membulatkan tekad.


🌸🌸🌸


Di rumah sakit Sandra Hospital.


Zidan mengekor berjalan di belakang Adji. Setelah maniknya menemukan orang yang hendak ditemuinya, Adji pun bergegas menghampirinya.


"Ibu Yani?" sapa Adji, ramah.


"Eh, Mas Adji." Ibu Yani memanggil Adji dengan sebutan 'Mas' sesuai permintaan Adji.


"Kebetulan Mas Adji ada di sini. Ibu bermaksud menemui korban yang ditabrak oleh suami Ibu."


Tatapan ibu Yani beralih ke Zidan.


"Oh, perkenalkan, ini Zidan, sahabat aku."


Zidan pun mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan ibu Yani. Namun, bukannya disambut, Zidan justru mendapat pelototan dari ibu Yani.


"Ada apa dengan ibu ini? Mengapa dia melihatku dengan membelalak begitu? Apa wajahku kelihatan horor?" gumamnya membatin seraya menyentuh kedua pipinya bergantian.


"Mengapa aku seperti melihat mas.... ."


"Ibu... Ibu Yani?" Adji memanggil-manggil ibu Yani, sehingga ibu Yani tersadar dari lamunannya.


"Eh, maaf. Maaf, Mas." Ibu Yani tersenyum kecil ke arah Adji, dan sesekali melirik Zidan.


"Maaf, Nak Zidan. Tante kurang konsentrasi," tutur ibu Yani juga tersenyum ke arah Zidan.


"Tak apa, Bu."


"Panggil ibu Yani saja. Sama seperti mas Adji memanggil Ibu," minta ibu Yani.


"Baik, Bu. Bukankah Ibu mau menjenguk korban? Mari kami antar," ajak Zidan yang juga menyebut Adji.


Mereka lalu bergerak menuju ruang perawatan Anan di ICU.


Adji membuka pintu begitu tiba di ruangan yang dimaksud. Ia pun mempersilakan ibu Yani beserta anaknya masuk, disusul dirinya dan juga Zidan.


Dan setelah jarak ibu Yani dengan tempat tidur Anan terkikis, lagi-lagi ibu Yani terperangah. Ingin sekali ia mengucapkan beberapa buah kata, namun tak bisa. Lidahnya terasa kelu untuk berucap apapun. Hanya ada bulir air mata yang mengalir membasahi kedua pipinya.


🌸🌸🌸


Author meminta maaf, karena up chapter barunya lama.

__ADS_1


Dan author berterima kasih yang sebesar-besarnya karena telah sudi menanti update cerita terbaru dari author remahan ini.


Serius, kalian sungguh luar biasa... πŸ˜ŠπŸ˜˜πŸ™


__ADS_2