Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 70


__ADS_3

Dan setelah jarak ibu Yani dengan tempat tidur Anan terkikis, lagi-lagi ibu Yani terperangah. Ingin sekali ia mengucapkan beberapa buah kata, namun tak bisa. Lidahnya terasa kelu untuk berucap apapun. Hanya ada bulir air mata yang mengalir membasahi kedua pipinya.


Melihat hal ini, Zidan dan Adji saling pandang. Mereka mengira ibu Yani menangis karena sedih melihat kondisi Anan pasca kecelakaan. Sehingga mereka membiarkan ibu Yani tanpa menanyainya.


Ibu Yani duduk di kursi yang terletak di samping brankar Anan. Ia lalu meraih tangan Anan dan menggenggamnya sambil menangis tersedu-sedu.


Zidan dan Adji kembali saling pandang dan mengerutkan kening. Tadinya mereka menganggap biasa saja ibu Yani yang meneteskan air mata. Namun, sekarang mereka dibuat bingung dengan reaksi ibu Yani yang menurut mereka sudah berlebihan dan tidak wajar jika hanya sebatas pembesuk dan pasien.


Zidan mengangkat kepalanya sekali. Mengisyaratkan tanya kepada Adji. Sedang Adji hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban. Baik Zidan maupun Adji, mereka berdua sama-sama tidak mengerti dengan situasi yang mereka lihat saat ini.


"Maafkan om Dani, nak. Om Dani sama sekali tidak berniat untuk melukaimu, apalagi sampai membunuhmu. Ini semua diluar kendalinya," ucap ibu Yani disela tangisnya.


Mendengar suara tangis di sekitarnya, Anan pun membuka matanya. Namun sayang, lagi-lagi ia tak dapat melihat cahaya sedikit pun.


"Tante tau, om Dani salah, tapi tante harap kamu mau memaafkan om Dani," lanjut ibu Yani yang belum menyadari Anan telah membuka mata.


"Tante? Tante Yani?" lirih Anan memanggil ibu Yani, namun masih dapat terdengar oleh mereka yang ada di ruangan itu.


Meski sudah berpisah bertahun-tahun, Anan masih mengingat dengan jelas suara wanita yang dulu pernah merawatnya. Begitu pula dengan ibu Yani yang masih bisa mengenali wajah Anan walau kini Anan telah dewasa.


Ibu Yani mengarahkan pandangannya ke wajah pucat Anan. Ia senang karena Anan masih mengingat dirinya.


"Iya, Nak. Ini Tante, tante Yani," sahut ibu Yani, tersenyum.


"Ini benar tante Yani?" tanya Anan, memastikan.


"Benar, Nak. Ini benar tante Yan."


Seketika cairan bening pun lolos dari kedua pelupuk mata Anan dan membasahi parasnya. Ibu Yani bangkit dari duduknya lalu mendekap keponakan yang telah lama dicarinya itu. Keduanya larut dalam isak tangis.


Ternyata selama ini ibu Yani beserta suaminya tidak pernah mengabaikan Anan dan mamah Yati. Ibu Yani dan suaminya bahkan banyak berkorban demi untuk menemukan keluarga mereka. Entah itu materi maupun non materi.


Namun sayang, proses pencarian terpaksa mereka hentikan karena tidak juga membuahkan hasil dan lagi, dana yang mereka kucurkan sudah tidak lagi sedikit.


Alhasil, perusahaan yang didirikan oleh om Dani dari sejak muda, kini terlilit banyak hutang hingga akhirnya mengalami kebangkrutan.


Untuk yang ketiga kalinya, Zidan dan Adji lagi-lagi saling bertukar pandang. Namun kali ini mereka sama-sama mendelik. Ternyata Ibu Yani adalah keluarga dekat Anan.


"Kamu kemana saja, Nak? Di mana mbak Yati? Mbak Yati baik-baik saja kan?" tanya ibu Yani setelah melepaskan dekapannya.


"Tante, tadi Tante menyebut om Dani. Om Dani kenapa Tante? Dan dari mana Tante tau aku di sini?" desak Anan mengabaikan pertanyaan ibu Yani.


"It-itu, Nak. Sebenarnya... malam itu om Dani tidak sengaja menabrak kamu. Itu murni kecelakaan. Tante akui om Dani bersalah karena telah berkomplot menculik kamu atas perintah seseorang. Tante sendiri tidak tau. Tante tau setelah mendapat telepon dari kantor polisi bahwa suami Tante ditangkap."


Ibu Yani menghela nafas sembari mengusap air matanya.


"Semenjak perusahaan om Dani gulung tikar, om Dani mendirikan bengkel kecil-kecilan untuk menopang hidup kami. Tapi, karena om Dani memiliki banyak hutang, ia pun mencoba menerima ajakan temannya. Awalnya om Dani menolak karena itu adalah tindakan kriminal. Namun karena terdesak keadaan, om Dani pun terpaksa mengambil pekerjaan itu. Dan itu adalah pertama kalinya om Dani bertindak diluar batas. Itu pengakuan om Dani di hadapan Tante sewaktu Tante menjenguknya di kantor polisi."


Ibu Yani manatap lekat wajah Anan.

__ADS_1


"Percayalah, om Dani benar-benar menyesal dengan apa yang telah dilakukannya. Jujur saja Tante tidak tau kalau yang jadi korban itu kamu, Nak. Niat Tante datang ke sini mewakili suami Tante untuk meminta maaf kepada korban dan keluarga korban. Tapi Tante sama sekali tidak menyangka kalau yang menjadi korban itu keponakan Tante sendiri."


Air mata ibu Yani kembali bercucuran.


"Tante mohon... maafkan om Dani. Maafkan suami Tante," imbuhnya disela isak tangisnya sambil menggenggam tangan Anan.


"Tante... Tante jangan khawatir. Aku tidak pernah menaruh dendam pada siapapun. Terlebih pada keluargaku sendiri. Aku pasti memaafkan om Dani. Bahkan jika Tante tidak memintanya," tutur Anan, tersenyum meski masih terdapat jejak air mata di paras cantiknya itu.


Ibu Yani kembali merengkuh Anan dan semakin terisak.


"Terima kasih, Nak. Kamu memang baik hati sama seperti mamahmu."


Lalu mendudukkan bobot tubuhnya di kursi.


"Ngomong-ngomong, di mana mamah kamu? Tante sangat merindukannya."


"Mamah juga ada di rumah sakit ini, Tante. Sudah enam bulan mamah dirawat karena gagal ginjal." Ibu Yani menutup mulutnya. Ia sungguh syok mengetahui kakak kandungnya menderita suatu penyakit dan telah berlangsung lama.


"Kalau begitu kasih tau Tante, di ruangan mana mbak Yati dirawat?" desak ibu Yani.


Anan tersenyum, "Sabar dong, Tante. Tunggu listriknya nyala dulu, baru Tante menemui mamah."


Ibu Yani mengernyit. Bingung dengan ucapan Anan barusan.


"Tapi... ."


"Ehmm!!!" Deheman Zidan menghentikan kalimat ibu Yani, membuat ibu Yani menoleh ke arahnya.


"Baiklah. Kalau gitu, Tante tunggu listriknya nyala saja," ujar ibu Yani, tersenyum kikuk.


"Oh iya, Zidan, sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Anan, berpura-pura.


"Oh, itu... em... baru saja." Baik Adji maupun ibu Yani, keduanya menatap Zidan, selidik. Sedang Anan menghela nafas kecewa.


"Ohh. Oh iya, Zidan. Di sini ada tante Yani. Tante Yani adik kandung mamah Yati. Tante Yani juga merawat aku waktu kecil dulu. Kamu perkenalkanlah dirimu."


"Apa kamu sudah lupa siapa aku? Aku pasti akan cepat akrab dengan tante Yani. Bukan begitu, Tante?"


"I-iya," sahut ibu Yani.


"Ya udah, kamu istirahat ya, biar aku temani tante Yani ngobrol di luar, soalnya di sini gelap," kata Zidan lalu mengajak ibu Yani keluar dari ruang rawat Anan.


Zidan dan ibu Yani beserta anaknya telah meninggalkan ruangan Anan. Namun tidak dengan Adji. Ia enggan beranjak dari tempatnya berdiri. Tidak ada sedikit pun niatnya membiarkan Anan sendiri. Sebagai sahabat, ia sungguh tidak tega.


"Bicaralah, Dji. Aku tau kamu ada di sini." Adji terkesiap mendengar ucapan Anan yang mengetahui keberadaannya.


Adji pun berjalan mendekati Anan.


"Bagaimana kamu bisa tau aku ada di sini?" tanyanya membuat Anan tersenyum.

__ADS_1


"Itu tidak sulit. Dari awal kita kenal sampai sekarang kamu tidak pernah mengganti merk parfummu. Jadi aku tau itu kamu," jawab Anan.


Adji lalu menggeser letak kursi di dekat tempat tidur Anan untuk ia duduki.


"Aku tau Dji, kalian semua membohongiku." Adji terperanjat. Ia yang seharusnya duduk di kursi, kembali mengangkat bobot tubuhnya menjauh dari kursi yang hendak ia duduki sangking kagetnya.


Adji manatap Anan dalam.


"Kamu tidak usah berbohong, Dji." Anan terkekeh kecil. "Mana ada rumah sakit sebesar ini mati lampu. Apa kamu lupa rumah sakit ini milik siapa? Jadi, tolong jangan membodohiku."


Adji hanya diam, tak sanggup membalas ucapan Anan.


"Aku tau, aku tidak bisa melihat. Mungkin diagnosanya belum keluar. Tapi yang aku tau, saat ini mataku bermasalah. Dan aku tidak lebih dari seorang gadis yang buta."


"Anan," lirih Adji.


"Inilah takdirku. Suka tidak suka, aku harus menerimanya." Anan menghela nafas.


"Sejujurnya aku kecewa pada kalian semua. Mungkin kalian berpikir aku tidak akan bisa menerima keadaanku ini. Sungguh kalian salah. Kamu tau, Dji? Aku justru bahagia dengan kondisiku yang seperti ini."


"Apa maksudmu, Nan! Kamu jangan putus asa. Kamu pasti bisa melihat lagi. Aku, Zidan, tante Sandra, dan yang lainnya pasti berusaha sekuat tenaga untuk kesembuhan matamu. Kalau perlu, kami akan membawamu berobat keluar negeri."


"Tidak usah, Dji. Kalian tidak usah repot-repot. Meski sulit, aku akan berusaha ikhlas," tegas Anan.


"Tapi, Nan. Jika tante Yati sampai tau hal ini, tante Yati pasti akan sangat sedih. Aku tau kamu kuat menghadapi ini, tapi bagaimana dengan tante Yati? Apa dia sanggup melihat kamu dalam kondisi seperti ini? Kamu juga harus memikirkan perasaan mamahmu, Nan."


Setetes bulir bening lolos dari pelupuk mata Anan. Ia pun tidak akan sanggup jika mamah Yati bersedih karenanya.


"Tinggalkan aku sendiri, Dji. Aku mau istirahat," ucap Anan kemudian berbalik memunggungi Adji.


Adji sungguh tidak menyangka jika dari awal Anan sudah menyadari keadaannya. Ia benar-benar salut dengan kesabaran yang dimiliki sahabatnya yang satu ini.


"Kamu istirahatlah. Nanti aku kembali lagi."


Setelah kepergian Adji dari ruang rawat Anan, Anan sama sekali tidak mengubah posisinya.


🌸🌸🌸


Hai pembaca setia author.


Terima kasih atas segala bentuk dukungan kakak-kakak yang cantik serta adik-adik yang manis.


Tetap dukung author kesayangan kalian ini.


Dan jika berkenan, bagikan link novel 'Benar Kata Mamah' ini ke saudara, sepupu, sahabat, teman, atau siapapun yang kalian kenal. Agar mereka bisa membaca cerita yang ada dalam novel ini. Karena banyak pelajaran yang bisa kita petik di dalamnya.


Terima kasih πŸ™


Author menyayangi kalian 😘😘😘

__ADS_1


Salam sehat selalu 😊πŸ’ͺ


__ADS_2