Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 64


__ADS_3

Zidan segera menghampiri orangtua Septy. Disusul Adji dan Abhizar. Abhizar sendiri bingung, kenapa Zidan dan Adji mendadak panik setelah melihat sepasang suami istri itu.


"Apa yang terjadi, Om, Tante?" tanya Zidan begitu berada di hadapan mamah Santi dan pak Bagas.


"Om juga belum tau bagaimana ini bisa terjadi. Tiba-tiba saja Om mendapat telepon dari kantor polisi dan mengatakan Septy dilarikan ke rumah sakit." Pak Bagas menerangkan dengan pelan dan dengan gurat kesedihan.


"Lalu, bagaimana keadaan Septy sekarang, Om?" tanya Adji.


"Septy masih diperiksa dokter. Om berharap semoga tidak parah." Pak Bagas melirik Abhizar. Abhizar yang paham dengan lirikan pak Bagas, segera mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri.


"Keluarga nona Septy?!" seru dokter yang menangani Septy bertanya, begitu keluar dari ruang IGD.


Pak Bagas dan mamah Santi bergegas menghampiri dokter tersebut.


"Kami orangtua pasien. Bagaimana keadaan putri kami, Dokter?"


"Syukurlah, luka tusuknya tidak terlalu dalam, sehingga tidak sampai mengenai organ dalam pasien. Kami telah melakukan prosedur pengobatan untuk luka pasien. Jika Bapak dan Ibu mau melihat keadaan pasien, tunggu sampai pasien di pindahkan ke ruang perawatan."


Tak lama berselang, dua orang perawat mendorong brankar Septy keluar dari ruang IGD.


Mamah Santi dan lainnya mengikut di belakang. Tak lupa dua orang polisi wanita yang bertugas mengawal Septy.


Mamah Santi yang sangat mencemaskan putrinya, segera menghampiri. Dapat ia lihat putri semata wayangnya terbaring lemah dengan jarum infus di tangan kanannya. Hatinya terasa ngilu menyaksikan keadaan putrinya saat ini. Ia juga marah begitu tau Septy masuk rumah sakit karena ditikam dengan pecahan kaca jendela.


Beruntung, saat pelaku mengayunkan tangannya hendak menusuk Septy lagi, polisi segera meringkus pelaku. Dan Septy pun tumbang tak sadarkan diri dan bersimbah darah.


Ia mengelus rambut putrinya dan mencium keningnya.


"Apa yang terjadi, Sayang? Siapa yang melakukan ini?" tanyanya disela tangisnya.


Di luar ruangan, pak Bagas berbincang dengan polisi yang mengawal Septy. Ditemani Zidan, Adji, dan Abhizar.


"Kami masih mendalami kasus ini pak. Dan Bapak tenang saja, pihak kami tentu akan mengusut tuntas kejadian ini," kata salah satu polisi wanita itu, menjawab pertanyaan pak Bagas.


Ternyata dugaan Abhizar benar. Septy telah mengalami perundungan. Entah bagaimana ceritanya sehingga si perundung melukai Septy. Ia pun tidak terima, dan akan menuntut pelaku agar dijatuhi hukuman yang seberat-beratnya.


***


Di sebuah ruangan yang luas, di mana terdapat rak-rak buku di sisi sebelah kanannya. Seorang pria paruh baya tengah sibuk dengan setumpuk berkas di meja kerjanya.

__ADS_1


"Tuan," sapa Raka begitu memasuki ruang kerja atasannya.


"Apa yang kau dapat?" tanya tuan Kemal, menatap asistennya.


"Maaf, Tuan. Saya belum mengetahui keberadaan orang yang Tuan cari. Hanya saja, orang-orang di kampung itu berkata bahwa orang yang Tuan cari telah pindah ke kota 4 tahun yang lalu," jelas Raka.


"Dan, orang suruhan saya juga mendapat informasi bahwa orang yang Tuan cari tidak hanya sendiri ke kota, tapi juga bersama dengan putrinya yang bernama Laras," lanjut Raka.


"Apa kau yakin dengan semua informasi itu?" tanya tuan Kemal.


"Saya yakin, Tuan," sahut Raka, mengangguk.


"Apa Yati menikah kembali, sehingga memiliki seorang putri?" gumam tuan Kemal, membatin. Kemudian menghela nafas berat.


"Ini juga salahku, karena telah menelantarkannya," gumamnya lagi dalam hati.


"Tuan? Tuan tidak apa-apa?" tanya Raka, cemas.


"Aku tidak apa-apa," sahut tuan Kemal, menggeleng.


"Lanjutkan pencarian, Raka. Aku mau sampai mereka ditemukan," perintah tuan Kemal.


"Baik, Tuan," sahut Raka, mengangguk.


***


Di belahan bumi lain.


"Jadi dia masih mencari istrinya yang kampungan itu?" Gurat kebencian terpancar dari wajah tuan Kendra. Ia tidak menyangka untuk yang kesekian kalinya, lagi-lagi tuan Kemal gencar mencari istri pertamanya itu.


"Betul, Tuan. Dan menurut informan kita, istri tuan Kemal telah menikah lagi dan memiliki seorang putri, Tuan," jawab si bawahan, membeberkan.


Tuan Kendra semakin naik pitam ketika mengetahui perempuan yang dicari tuan Kemal dengan mengorbankan tenaga dan materi sudah menikah lagi, bahkan memiliki seorang anak.


"Sungguh bodoh kau Kemal. Perempuan seperti itu yang kau bela dan bangga-banggakan. Dan demi perempuan tidak jelas itu kau bahkan berani menentangku. Lihat saja, tidak akan kubiarkan kau menemukannya," gumamnya, membantin dengan tersenyum sinis.


"Kerahkan seluruh anak buahmu untuk menemukan perempuan itu. Jangan biarkan tuan muda kalian mendahului kita!" titahnya.


"Siap, Tuan." Tuan Kendra mengangkat tangannya ke udara, menyuruh bawahannya keluar dari ruangannya.

__ADS_1


Setelah orang kepercayaan tuan Kendra menghilang di balik pintu, tuan Kendra menyandarkan tubuhnya pada kursi yang didudukinya. Ingatannya melayang ke 22 tahun yang lalu.


Flashback on.


Setelah mendapat informasi dari tangan kanannya dua hari yang lalu, tuan Kendra menyuruh tuan Kemal untuk kembali ke Jakarta. Ia sungguh marah mengetahui putra satu-satunya telah menikahi seorang perempuan yang tidak jelas asal usulnya, menurutnya.


Ditambah lagi, tuan Kemal menikahi wanita pujaan hatinya itu tanpa izin dan restu dari tuan Kendra. Sungguh membuatnya membenci perempuan yang dinikahi tuan Kemal waktu itu sampai ke ubun-ubun.


Tuan Kemal muda telah berdiri di depan pintu ruang kerja tuan Kendra di kediamannya. Jantungnya berdebar kuat. Sangking kuatnya, ia bahkan dapat mendengarnya berdetak. Satu hal yang dapat dipahami tuan Kemal kala itu, tuan Kendra memanggilnya pulang bukan untuk membahas masalah bisnis atau pekerjaan. Melainkan masalah pribadi.


Tuan Kemal telah mempersiapkan diri akan hal ini. Sedari awal ia menikahi mamah Yati, ia sudah memastikan akan ada penolakan dari pihak keluarganya, terutama tuan Kendra, papih tuan Kemal. Namun meskipun demikian, ia akan tetap memperjuangkan wanita pujaan hatinya agar mendapatkan pengakuan dari pihak keluarganya.


Tuan Kemal mengatur ritme nafasnya sebelum menekan gagang pintu. Namun bukan sambutan hangat yang ia peroleh begitu ia berada di balik pintu menghadap papihnya. Ia justru mendapat luka di bagian keningnya disebabkan hantaman asbak kaca berdiameter sejengkal orang dewasa yang dilayangkan oleh tuan Kendra kepadanya.


"Anak kurang ajar! Berani-beraninya kamu bertindak tanpa sepengetahuan dan seizin Papihmu! Apa otakmu sudah bergeser, hah?! Menikahi perempuan yang tidak jelas bibit, bebet, dan bobotnya. Apa kamu sadar dengan apa yang sudah kamu lakukan? Mau ditaruh di mana muka Papih ini di hadapan keluarga dan kolega bisnis Papih? Tindakanmu ini sungguh mencoreng muka Papih." Tuan Kendra mengeluarkan amarahnya dengan tubuh yang bergetar dan penuh penekanan di setiap akhir kalimatnya.


"Papih tidak mau tau. Kamu harus tinggalkan perempuan itu! Dia tidak pantas untuk kamu! Dan sampai kapan pun dia tidak akan diterima di keluarga ini!"


"Tapi, Pih. Aku mencintainya. Dan aku sudah berjanji akan selalu bersama dan membahagiakannya," sanggah tuan Kemal dengan tatapan memelas.


Semburat emosi menguar di wajah tuan Kendra. Ia benar-benar murka. Ia tidak menyangka putra yang dibangga-banggakannya telah berani menentangnya.


"Beraninya kau menjanjikan apa yang seharusnya tidak kau janjikan! Apa ini baktimu kepada Papih, hah?!" Tuan Kendra menunjuk kasar pada putranya.


"Aku mohon, Pih. Tolong terima dia. Dia istriku, Pih. Istri sahku di mata hukum dan agama."


"Persetan dengan buku nikah kalian! Papih mengirimmu ke sana untuk mengurus lahan yang akan menjadi aset keluarga kita. Bukan untuk mencari pendamping dan menikah!" Tuan Kendra menghela nafas berat.


"Pantas saja, setiap kali Papih memintamu kembali kamu selalu saja menolak dengan berbagai macam alasan. Rupanya kamu sudah kepincut dengan perempuan kampung yang mungkin saja hanya mencintai hartamu, bukan dirimu!" cibir tuan Kendra, menatap sinis putranya.


"Cukup, Pih! Yati tidak seperti itu. Dia gadis baik-baik. Bahkan dia tidak tau latar belakang Kemal, Pih. Jadi tolong, jangan menuduh istri Kemal gila harta. Dia benar-benar tidak tau siapa Kemal. Justru Kemal lah yang telah membohonginya, Pih. Alasan Kemal menemui Papih untuk mencari pekerjaan, bukan untuk bertemu Papih. Dan Papih tau apa yang dikatakannya? Dia tidak peduli apapun pekerjaan Kemal, walaupun hasilnya sedikit yang penting halal dan berkah. Ini membuat Kemal semakin mencintainya, Pih."


"Kamu sungguh dibutakan oleh cinta!" cibir tuan Kendra. Tak lama mimik wajahnya pun berubah. Ide licik terlintas di pikirannya.


🌸🌸🌸


Author meminta vote dan like dari Emak-emak, kakak-kakak, dan adek-adek yang baik, cantik, dan tidak sombong.


Pokoknya kece badai gitu 😘😘😘

__ADS_1


Salam sehat selalu.


Terima kasih πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2