
Anan duduk sambil memegang gelang giok pemberian tuan Kendra. Ia merasa senang mendapatkan hadiah itu. Tak lama, Abhizar pun datang dengan membawa dua minuman dalam kemasan gelas plastik dan menyerahkan satu kepada Anan.
"Jus wortel untuk princess Anan," serunya seraya membungkukkan badan dan tersenyum, meski tak terlihat oleh Anan.
"Kamu pasti sedikit membungkuk," tebak Anan, membayangkan kisah Cinderella dalam bentuk animasi.
Abhizar hanya tersenyum, tak menyahuti tebakan Anan.
"Terima kasih. Tapi, kenapa lama?" Anan lalu menyeruput jus pesanannya.
"Maaf, tadi antreannya panjang." Abhizar kemudian duduk di samping Anan.
Baru saja Abhizar meneguk latte miliknya, ponsel dalam saku celananya berdering. Ia pun merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya.
Tanpa menunggu waktu, ia langsung mengangkat panggilan dari Zidan.
"Ya, halo."
"Bawa Anan ke rumah sakit sekarang juga! Mamah Yati gawat," beber Zidan, terdengar panik.
"Baiklah."
Keduanya memutuskan sambungan telepon.
"Ayo, Nan! Kita ke rumah sakit sekarang!"
"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Anan sembari memegang dadanya yang terasa sesak sejak Abhizar berteleponan dengan Zidan tadi.
"Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang!"
Anan pun mengulurkan tangannya yang memegang sapu tangan untuk dituntun Abhizar menuju kendaraan milik Abhizar.
Ya, semenjak Anan tidak bisa melihat, sapu tangan adalah alat perantara bagi siapapun yang menuntunnya yang bukan mahram. Penggunaan sapu tangan ini tak lain adalah ide dari Zidan yang waktu itu hendak mengajak Anan jalan-jalan untuk pertama kalinya setelah insiden yang dialami Anan.
Anan yang enggan keluar karena keterbatasannya, dipaksa oleh Zidan dengan berbagai alasan. Alhasil, Zidan pun mampu membujuk Anan yang sebenarnya sangat merasa minder dengan kondisinya.
Dan sapu tangan milik Zidan adalah sapu tangan pertama yang digunakan Anan.
🍁🍁🍁
Di rumah sakit Sandra Hospital.
Anan tiba langsung disambut oleh ibu Yani dan dokter Sandra. Sedangkan Zidan menemani mamah Yati di ICU.
"Apa yang terjadi dengan mamah, Tante?" tanya Anan ke ibu Yani yang dipenuhi kecemasan.
"Em... itu... ." Ibu Yani sungguh tak sanggup mengatakan apapun kepada Anan.
"Kamu tenang dulu, Sayang. Kita duduk di sana, ya!" Dokter Sandra mengajak Anan dan ibu Yani duduk di kursi tunggu tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Kini mereka bertiga duduk dengan Anan yang berada di antara dokter Sandra dan ibu Yani.
"Dengan berat hati Mamah katakan bahwa kondisi mamah Yati saat ini semakin memburuk. Dan kita harus segera melakukan prosedur operasi. Hanya saja kita belum menemukan donor ginjal yang cocok."
Kabar tentang kondisi kesehatan mamah Yati seketika meluruhkan bulir bening di paras cantik Anan.
"Ambil ginjalku saja, Mah. Anan yakin, ginjal Anan akan cocok dengan mamah," ucap Anan yang terisak dan memegang kuat lengan dokter Sandra.
__ADS_1
"Sabar, Nak. Kamu jangan gegabah. Bukan maksud Tante tidak menginginkan kesembuhan untuk mamahmu. Tapi, kamu juga masih membutuhkan itu. Meski kita masih bisa hidup dengan hanya satu ginjal, tapi tetap akan berbeda. Jadi Tante mohon, pikirkan masa depanmu juga."
Sama seperti Anan, ibu Yani pun sangat bersedih dengan memburuknya keadaan kakak kandung satu-satunya itu. Apalagi saat mendengar Anan merelakan ginjalnya untuk didonorkan, air matanya menetes bagai gerimis di siang hari. Sungguh beruntung mamah Yati memiliki anak sebaik Anan, pikirnya.
"Yang dikatakan ibu Yani benar. Setelah mendonorkan salah satu ginjal kita, ruang gerak kita berangsur-angsur akan terbatas. Makanan enak pun tidak semua bisa kita konsumsi. Dan lagi, suatu hari nanti kamu pasti menginginkan pernikahan dan memiliki keturunan."
"Tidak, Mah! Anan tidak apa jika tidak menikah. Yang penting mamah sembuh dan baik-baik saja. Tolong, Mah. Anan mohon, izinkan Anan memberikan salah satu ginjal Anan untuk mamah."
"Cukup, Nan! Apa kamu sadar dengan ucapanmu?! Tidak baik anak gadis ngomong seperti itu, Nak." Ada kekesalan dibalik ucapan ibu Yani. Bagaimana tidak. Disaat gadis lain mendambakan pernikahan yang megah dan mewah, Anan malah tak menginginkannya.
"Tante, tak ada yang lebih penting dari kesembuhan mamahku. Jadi Anan mohon, Tante mau menyetujui keputusanku." Ibu Yani benar-benar dibuat bingung oleh keputusan Anan. Ia tidak tahu, apa harus mengiyakan atau membujuk Anan agar mengurungkan niatnya.
Ibu Yani mengalihkan pandangannya ke dokter Sandra yang juga menatapnya.
"Nan, bukan maksud Mamah tidak menghargai keputusan yang kamu ambil. Tapi, ada beberapa hal yang harus dipastikan terlebih dahulu sebelum seseorang dianggap boleh untuk mendonorkan ginjalnya. Memang benar bahwa yang memiliki hubungan darah dengan pasien cenderung berpeluang untuk berhasil. Kendati demikian, tetap kita mempertimbangkan komplikasi yang bisa saja timbul pasca bedah. Apa kamu siap dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi setelahnya?"
Dokter Sandra mencoba memberi pengertian kepada Anan. Tentunya, dokter Sandra berharap Anan mau mempertimbangkan dan mengurungkan niatnya.
"Anan siap, Mah. Apapun itu Anan siap."
Sungguh diluar dugaan dokter Sandra. Tanpa berpikir panjang Anan menyatakan kesiapannya akan segala risiko yang ada.
Air mata ibu Yani kembali meleleh membasahi pipinya.
Dokter Sandra menghela nafas panjang.
"Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusan kamu, Sayang. Tapi, Mamah kembali ingatkan. Prosedur bedah bisa kita lakukan jika donor cocok dengan resipien."
"Terima kasih, Mah," ujar Anan sembari tersenyum. Kemudian beralih ke ibu Yani.
"Tante, maafkan Anan. Tapi, izinkan Anan berbakti kepada mamah."
"Kamu tidak salah, Nak. Kamu tidak harus meminta maaf kepada Tante. Kamu juga anak yang baik. Tante tahu kamu anak yang berbakti," tutur ibu Yani dengan air mata yang menganak sungai. Begitu pula dengan Anan.
Dari arah pintu ICU, Zidan berjalan menghampiri ketiganya. Zidan mengerutkan keningnya melihat Anan dan ibu Yani berpelukan sambil menangis terisak.
"Ada apa ini, Mah?" tanyanya yang berdiri di depan dokter Sandra.
Dokter Sandra menatap sekilas ibu Yani dan Anan yang memunggunginya, kemudian beralih ke Zidan.
"Kita ke ruangan Mamah!" ajaknya, menggaet lengan Zidan lalu meninggalkan Anan dan ibu Yani tanpa berpamitan.
Di ruangan dokter Sandra.
"Apa, Mah?!" pekik Zidan setelah mendengar penjelasan dokter Sandra.
"Tidak, Mah. Anan tidak boleh melakukan itu." Zidan sungguh tidak terima keputusan Anan.
"Tapi, Sayang. Anan telah membulatkan tekad. Dan Mamah tidak bisa mencegahnya."
"Lakukan sesuatu, Mah! Apa saja yang bisa menggagalkan keputusan Anan. Kalau perlu, Mamah bilang saja ginjal Anan tidak cocok setelah pemeriksaan," usul Zidan.
"Tidak bisa, Sayang. Itu melanggar kode etik kedokteran. Memalsukan data adalah tindakan ilegal. Kamu pasti tahu itu, 'kan?"
"Lantas, apa yang harus aku lakukan Mah, agar Anan mau mengubah keputusannya?" tanya Zidan, frustrasi.
Dokter Sandra menggeleng pelan.
__ADS_1
"Mamah sudah berusaha membujuknya, namun dia tetap kekeh."
Dokter Sandra menghela nafas berat.
"Sebaiknya kamu mendukung keputusan Anan dan mendoakannya. Semoga inilah yang terbaik," ucap dokter Sandra.
Zidan menundukkan kepalanya. Sungguh berat baginya menerima semua ini. Ia juga tidak menyangka Anan akan mengambil keputusan yang sangat berisiko ini.
"Apa yang kamu pikirkan, Nan? Baru sebulan kamu pulih setelah kecelakaan. Sekarang kamu lagi-lagi harus terbaring di brankar rumah sakit. Meskipun rumah sakit ini sudah seperti rumahmu, bukan berarti kamu harus sakit berada di sini." Zidan membatin kemudian menghela nafas berat.
"Ya udah, Mah. Zidan keluar dulu."
Zidan pun melenggang meninggalkan dokter Sandra yang masih duduk di kursi dalam ruangannya.
🍁🍁🍁
Ibu Yani yang ditinggal Anan ke ruangan ICU, duduk termenung. Masih terngian pernyataan Anan tentang kesiapannya sebagai donor untuk mamah Yati. Air matanya lagi-lagi luruh. Dalam benaknya sungguh tidak menyetujui keputusan keponakannya itu.
Dari kejauhan, seorang petugas kebersihan memperhatikan ibu Yani. Hari ini adalah jadwalnya membersihkan ruang ICU. Sebenarnya ia ragu, tapi ia penasaran dan ingin memastikan siapa yang dilihatnya. Ia pun menaruh peralatan bersih-bersihnya dan melangkah mendekat.
"Ibu? Ibu Yani?" sapanya begitu berdiri tepat di depan ibu Yani.
Ibu Yani tersadar dari lamunannya lalu mendongak ke arah orang yang menyapanya. Kemudian mengalihkan pandangannya ke lain arah seraya menghapus air matanya buru-buru. Lalu kembali menatap wanita yang berdiri di hadapannya.
"Ternyata benar, ini Ibu. Ibu masih ingat saya?"
"Bibi Jum?"
"Benar, Bu. Ini Bibi."
Ibu Yani mengangkat bobot tubuhnya lalu merengkuh wanita yang pernah bekerja sebagai ART di rumahnya itu, sejak menikah sampai akhirnya terpaksa memberhentikannya karena kondisi keuangan yang sudah tidak menentu.
Ibu Jum menangis haru. Ia tidak mengira akan bertemu dengan mantan majikannya setelah setahun berhenti bekerja sebagai asisten rumah tangga.
"Ibu, apa kabar?" tanyanya setelah melonggarkan pelukannya.
"Alhamdulillah, baik, bu Jum."
"Tidak, Bu. Panggil saya seperti biasa." Ibu Jum menolak ibu Yani mengubah panggilannya.
"Kita tidak seperti dulu lagi, Bu. Sekarang saya bukan lagi majikan Ibu," tutur ibu Yani, tersenyum kecil.
"Tidak apa-apa, Bu. Bibi sudah terbiasa dengan panggilan itu dari Ibu. Lagi pula, Bibi senang kok, Ibu manggilnya gitu," ucap bu Jum yang juga tersenyum.
"Ya, udah. Duduk, Bi!" ajak ibu Yani.
🍁🍁🍁🍁🍁
Terima kasih buat para pembaca setia novel 'Benar Kata Mamah' yang senantiasa bersabar menunggu episode terbaru dari author.
Jangan lupa tuk selalu dukung kisah Anan ini dengan vote, like, dan komen.
Jangan lupa juga untuk memberikan rate ⭐ 5.
Dan yang paling penting, jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan.
Author sayang kalian. Kalian luar biasa.
__ADS_1
Terima kasih.