Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 62


__ADS_3

[ Vote, Vote, Vote ]


🌸🌸🌸


Di kantor polisi.


Septy telah dimasukkan ke dalam sel. Tak lama, Adji menghampirinya setelah mendapat izin dari petugas yang berjaga. Adji manatap iba pada Septy yang duduk memeluk kedua lututnya dan membenamkan wajahnya di sana.


"Septy," sapa Adji yang memegang ponsel di tangan kirinya.


Septy mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Adji. Beberapa detik kemudian, ia lalu memalingkan wajahnya menatap lurus tembok berwarna putih di depannya.


"Kalo kamu datang cuma untuk mengasihaniku, lebih baik kamu pulang saja," tutur Septy tanpa melirik Adji sedikit pun.


Adji tersentak dengan penuturan gadis di balik jeruji besi itu. Meski tebakan Septy benar, namun Adji sama sekali tidak berniat untuk pulang sebelum mendapatkan apa yang menjadi tujuannya.


"Aku minta maaf kalo kehadiranku membuatmu tidak nyaman. Waktuku cuma 7 menit. Aku harap kamu bisa bekerja sama."


"Katakan!" Septy tidak merubah gestur tubuhnya.


Adji mendehem ringan, kemudian mengutak-atik sesuatu pada ponselnya. Tak lama, Septy pun dapat mendengar apa yang Adji buka pada ponsel milik pria yang berdiri di luar ruangan tempat ia duduk melantai.


Matanya membola mengetahui di ponsel Adji terdapat rekaman suara miliknya. Seketika ia pun menoleh ke arah Adji.


"Dari mana kamu mendapatkan rekaman itu?" tanyanya, selidik.


Adji menghentikan rekaman suara Septy yang sebenarnya masih berdurasi beberapa detik lagi.


"Rekaman ini dikirim pihak polisi tadi pagi." Adji lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


Septy mengalihkan pandangannya. "Ternyata Lexa benar-benar membuktikan kata-katanya." Adji mengkerutkan keningnya mendengar ucapan lirih Septy.


"Maksud kamu?"


Septy menghela nafas panjang.


"Sebelumnya aku juga sudah menerima rekaman yang sama. Rekaman itu dikirim oleh Lexa."


"Lexa? Siapa Lexa?" tanya Adji.


"Lexa adalah seorang model. Belum genap setahun juga dia balik ke Indonesia. Dan dia merupakan calon tunangan pak Arya," beber Septy.

__ADS_1


"Pak Arya, dosen kita?" Septy mengangguk.


"Lalu, bagaimana dia bisa mendapatkan rekaman suaramu itu?"


"Persisnya, aku juga tidak tau. Yang aku ingat, waktu itu dia datang untuk menjengukku di sini. Sebagai teman, katanya dia ingin menunjukkan kepeduliannya terhadap temannya yang tengah tertimpa masalah. Saat itu aku benar-benar emosi. Dan tak kusangka dia memanfaatkan kelabilanku. Dia merekam semua ucapanku diam-diam. Dan ketika aku tidak lagi berpihak padanya, dia pun menjadikan rekaman itu sebagai alat untuk menyerangku."


"Dan kaitannya dengan Anan?" tanya Adji, lagi.


"Kamu tidak tau, ya. Kalo Anan dekat dengan pak Arya?" Adji mengangkat kedua alisnya, tak percaya, lalu menggeleng pelan.


"Karena merasa Anan adalah rival, Lexa pun berencana untuk menyingkirkan Anan. Ya, meskipun pak Arya sebenarnya tidak bersungguh-sungguh mencintai Anan. Pak Arya cuma mempermainkan Anan saja agar bisa balas dendam."


"Apa maksudmu?" desak Adji. Namun sayang, polisi yang berjaga menghentikan obrolan mereka karena waktu yang diberikan telah habis.


"Maaf, Pak. Waktu Bapak sudah habis. Jika masih ada yang perlu dibicarakan, silakan datang lagi dilain waktu."


"Tolong, sedikit lagi ya, Pak," minta Adji, namun tidak ditanggapi. Pak polisi hanya berdiri di samping Adji.


"Jadi, intinya apa kamu terlibat dalam kasus kecelakaan Anan?" tanya Adji, gamblang.


"Tidak. Aku sama sekali tidak terlibat. Kalo kamu mau tau kronologi kejadiannya, kamu bisa tanyakan pada Abhizar. Aku sudah cerita semua padanya."


"Abhizar orang yang mengantarkanku pulang dini hari tadi. Dia juga sahabat Zidan."


"Baiklah. Terima kasih."


"Tidak! Aku yang berterima kasih. Karena kamu tidak serta merta menyimpulkan apa yang kamu dengar dari rekaman itu. Walaupun sebenarnya kamu sulit untuk mengubah mainset kamu terhadap aku. Paling tidak, kamu tidak menuduhku kali ini."


"Maaf, Pak. Waktu berkunjung Bapak telah habis." Lagi-lagi pak polisi mengingatkan Adji.


"Baiklah. Aku pulang dulu." Adji pun meninggalkan Septy sendiri di dalam sel tahanan tersebut. Meski sebenarnya masih banyak yang ingin ia ketahui dari Septy.


Kini Adji telah berada dalam mobilnya. Ia meraih gadgetnya kemudian membuka log panggilan terakhir. Begitu nampak nama Zidan di sana, ia pun segera menghubunginya.


"Apa kamu punya nomor Abhizar? Kirim lewat chat sekarang juga!"


"Tunggu dulu! Untuk apa kamu mencari Abhizar?" tanya Zidan, sewot.


"Untuk mencari kebenaran."


"Maksudmu?"

__ADS_1


"Sudah, kirimkan saja!" desak Adji, mengabaikan pertanyaan Zidan.


Sambungan telepon telah terputus, namun Zidan tidak langsung mengirimkan nomor yang diminta Adji. Justru ia malah menghubungi nomor tersebut untuk mengetahui keberadaan pemiliknya dan membuat janji temu.


Setelah janjian bertemu dengan Abhizar di restoran miliknya, Zidan barulah mengirimkan nomor Abhizar ke Adji.


Satu notifikasi masuk, Adji pun membukanya. Dan tanpa menunggu lama, ia pun menghubungi nomor Abhizar.


"Iya, halo," sahut Abhizar di seberang sana.


"Maaf mengganggu. Aku Adji, sahabat Zidan. Boleh kita ketemu? Ada yang ingin aku tanyakan."


"Kebetulan Zidan baru saja menelponku. Dia mengajakku bertemu di restoran yang tak jauh dari rumah sakit mamahnya. Kita ketemu di sana saja."


"Baiklah. Kita ketemu di sana."


"Dasar Zidan baperan! Bisa-bisanya dia menelpon Abhizar lebih dulu. Mentang-mentang dia lebih dulu punya nomor Abhizar. Tapi yang lebih dulu pingin ketemuan 'kan aku. Sekarang malah terkesan aku orang ketiga di antara mereka," sungut Adji begitu sambungan teleponnya terputus.


"Eh, aku ngomong apa sih." Adji tertawa kecil menertawakan dirinya yang menyebut orang ketiga.


"Tapi bagus juga kalo kami bertemu bertiga. Jadi aku tidak perlu repot-repot lagi menjelaskan ke Zidan yang baperannya minta disuntik anti tetanus itu. Dia bisa mendengar langsung apa yang sudah disampaikan Septy kepada Abhizar sebentar."


***


Di perusahaan Wima Group.


Dimas membawa surat pengunduran dirinya ke ruangan Arya, bermaksud ingin memberikan langsung sekaligus berpamitan.


Namun sayang, sekretaris tuan Wijaya yang ditemuinya secara tidak sengaja di depan lift mengatakan bahwa Arya pagi-pagi sekali telah berangkat ke Jerman untuk mengurus anak perusahaan yang ada di sana. Dan ini perintah langsung dari tuan Wijaya.


Arya ditugaskan oleh tuan Wijaya ke Jerman sebenarnya hanya bentuk dari kekesalan tuan Wijaya terhadap putranya yang secara terang-terangan membuatnya malu di pesta semalam.


"Berapa lama tuan Arya di sana?" tanya Dimas.


"Kalo itu, saya juga tidak tau, Pak. Saya kira pak Dimas juga ke Jerman ikut tuan Arya."


"Tidak. Malah aku ke sini ingin menyerahkan surat pengunduran diri aku. Kali gitu, aku ke bagian HRD dulu."


Sekretaris itu pun terperanjat mendengar Dimas akan mengundurkan diri dari perusahaan Wima Group. Ia masih mematung di depan lift memandangi Dimas yang berjalan semakin menjauh.


"Kenapa pak Dimas mengundurkan diri? Ini juga pertama kalinya saya melihat pak Dimas dan tuan Arya tidak bepergian bersama. Biasanya mereka selalu bersama. Apalagi kalo ke luar negeri. Ada apa ya?" gumamnya, lirih.

__ADS_1


__ADS_2