Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 71


__ADS_3

"Kenapa? Kenapa kalian tega membohongiku? Apa aku selemah itu di mata kalian?"


Air mata Anan bagai aliran anak sungai yang entah akan bermuara di mana. Isak tangis pilu menggema di ruangan itu.


Sejujurnya, sebagai manusia biasa, Anan pun ingin protes dengan situasi dan kondisinya saat ini. Baru saja dirinya ditipu dan dipermalukan di depan umum oleh orang yang dicintainya, kali ini ia pun harus menerima kenyataan pahit dirinya tidak dapat melihat.


Seketika ucapan Adji terngian-ngiang di telinganya. Membuatnya semakin sedih dan tersedu-sedu.


"Adji benar. Mamah pasti sedih melihat keadaanku. Mah... maafkan Anan, Anan tidak pernah sekalipun menginginkan mamah sedih. Anan selalu ingin mamah bahagia. Tapi Anan tidak berdaya, mah," ucapnya diselingi suara tangis.


Tanpa Anan sadari, Zidan telah berdiri di belakangnya, menatap punggung Anan yang bergetar karena terisak dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Anan," panggilnya.


Anan menghapus kasar air matanya kemudian memutar badannya menghadap ke sumber suara.


Belum sempat Anan berucap apapun, sekelebat Zidan menarik badan Anan masuk ke dalam rengkuhannya.


"Maafkan aku, Nan. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuatmu kecewa, apalagi menganggap kamu lemah." Bulir kristal yang telah menumpuk di kedua mata Zidan akhirnya jatuh membasahi pipinya.


Tidak berbeda dengan Anan. Anan semakin terisak dan menumpahkan segala kesedihannya dalam pelukan Zidan.


"Apalagi yang bisa aku lakukan, Dan? Sekarang aku hanyalah seorang gadis buta yang tidak bisa berbuat apa-apa," ucap Anan disela tangisnya yang terdengar pilu.


"Aku yang akan menjadi penglihatan untuk kamu, Nan. Izinkan aku melakukannya," ucap Abhizar tiba-tiba yang masih berdiri di ambang pintu.


Zidan melepaskan rengkuhannya.


"Apa maksudmu?" tanyanya, menatap bingung.


"Aku akan menikahi Anan!"


Pernyataan Abhizar sungguh membuat Anan dan Zidan terkejut.


"Apa kamu serius?" tanya Zidan, selidik.


"Apa aku terlihat sedang bercanda?" tanya Abhizar, balik sambil berjalan mendekati keduanya.


Sebenarnya, tidak masalah bagi Zidan jika memang sahabatnya itu berniat menikahi Anan. Lagi pula, Zidan sudah mengenal Abhizar sejak lama. Meskipun mereka baru bertemu kembali, namun Abhizar sering bertukar kabar dan pengalaman dengan Zidan selama Abhizar tinggal di luar negeri. Jadi, Zidan yakin Abhizar akan berusaha untuk membahagiakan Anan. Dan lagi, Abhizar memiliki sifat yang penyayang dan tulus.


Tapi yang jadi permasalahan saat ini adalah, apa Anan mau menikah dengan Abhizar yang belum dikenalnya? Apalagi, Anan baru saja dikecewakan oleh seorang pria.


"Keputusan ada di tangan kamu, Nak. Tak ada satu pun yang akan memaksa kamu dalam mengambil keputusan." Mamah Yati tiba-tiba hadir bersama dengan dokter Sandra, ibu Yani, dan tak ketinggalan Adji yang memang hanya berjaga di depan ruangan Anan.


"Mamah," lirih Anan memanggil.


Ibu Yani mendorong kursi roda mamah Yati mendekati Anan.


"Tidak apa-apa, Sayang. Mamah sudah tau. Kamu jangan khawatir, putri kesayangan Mamah sudah bangun saja Mamah sudah sangat senang," tutur mamah Yati, tersenyum kecil, berusaha tegar menghadapi kenyataan.


"Lalu, siapa pria itu, Mah?" tanya Anan yang memang tidak mengenal Abhizar.


"Dia Abhizar, sahabatnya Zidan," sahut mamah Yati sambil menoleh Abhizar.


"Nan, aku tau kita tidak akrab. Bahkan namaku pun belum sempat kamu tau." Abhizar menatap Zidan lalu beralih ke Anan.


"Apa kamu masih ingat dengan pria yang kamu tabrak di bandara beberapa waktu lalu? Yang membuat ponselmu jatuh dan rusak. Apa kamu masih ingat?" Masih segar diingatan Abhizar ketika pertama kali ia bertemu dengan Anan. Ia sungguh merasakan yang namanya cinta pada pandangan pertama.


"Iya, aku ingat," jawab Anan seraya mengangguk pelan.

__ADS_1


"Tapi, maaf. Aku... ."


"Kamu tidak harus menjawabnya sekarang, Nan. Aku tau ini terlalu cepat untuk kamu. Mereka yang hadir di sini jadi saksi bahwa aku benar-benar tulus padamu. Perasaanku nyata dan tidak main-main. Aku harap kamu mau memberikanku kesempatan. Izinkan aku dekat denganmu," jelas Abhizar, memotong kalimat Anan.


"Tapi maaf, aku tidak bisa menjanjikan apapun," ucap Anan, sendu.


Sungguh Anan tidak tega mengatakannya. Tapi Anan juga tidak mau membohongi dirinya. Ia tidak mau mengambil resiko sakit hati untuk yang kesekian kalinya hanya karena mencintai seseorang. Anggap saja hati Anan telah membatu. Dan entah sampai kapan, hanya waktu yang mampu menjawabnya.


Kecewa pasti dirasakan oleh Abhizar. Namun ia tidak akan mundur. Sekali ia mengucapkannya, ia tak akan menyerah walau sedikit pun. Ia akan berupaya agar dapat meluluhkan hati Anan. Karena ia benar-benar mencintai dan menyayangi Anan.


"Maaf, bolehkah aku bicara dengan mamah Yati dan tante Yani saja?" minta Anan yang menyadari dokter Sandra dan ibu Yani di sekitarnya.


"Baiklah, Sayang. Kalau begitu kami keluar dulu."


Dokter Sandra meraih tubuh Anan dan mendekapnya penuh kasih sayang.


"Jangan pernah merasa sendiri ya, Sayang."


"Iya, Mah," sahut Anan.


🌸


🌸


🌸


"Oh iya, Mamah pulang dulu ya, Dan. Abhi, Adji, Tante pulang ya. Kalian ngobrollah." Dokter Sandra lalu menyelinapkan tubuhnya pada kendaraan roda empat yang telah menunggunya sedari tadi di depan lobby.


Ketika Zidan, Adji, dan Abhizar hendak masuk ke dalam mobil Abhizar, Salma, Rara, dan Septy meneriaki mereka.


"Kalian mau kemana?" tanya Salma.


"Ya udah, kami ikut," cicit Rara.


"Maaf ya, aku tidak bisa ikut. Sebentar lagi papah, mamahku datang menjemput," tolak Septy. Sejurus kemudian kendaraan pak Bagas bergerak mendekati mereka.


"Nah, itu jemputan kamu datang, Sep," kata Salma, menunjuk mobil papah Septy.


"Ya udah, semuanya aku balik duluan ya," pamit Septy sambil melambaikan tangannya.


"Emm... Salma, Rasmi mana?" tanya Zidan.


Sembari mengedarkan pandangannya, "Rasmi... Itu dia, sama Atika." Salma menunjuk Rasmi dan Atika yang berjalan hendak keluar dari pelataran rumah sakit.


Buru-buru Zidan merogoh ponselnya lalu menelpon Rasmi. Ia meminta agar Rasmi menunggu di tempatnya berdiri saat ini.


Adji yang tadinya ingin ikut di mobil Abhizar, kini membawa kendaraannya sendiri karena ada Rara dan Salma bersamanya.


Mobil Abhizar dan Adji pun kini melaju menuju restoran Ananda.


"Kamu serius mau nikahi Anan?" tanya Zidan yang masih tidak percaya. Membuat Rara yang sedang meminum jus jeruknya menyemburkan minumannya ke arah Adji yang duduk di samping kanannya.


Sontak saja Adji berdiri dan menarik kecil bajunya yang terkena jus jeruk.


"Rara, apa-apaan sih!"


"Maaf-maaf, aku tidak sengaja," bela Rara.


Bukan cuma Rara yang terkejut dengan ucapan Zidan, Salma pun sama kagetnya dengan Rara.

__ADS_1


"Abhi, apa betul yang dikatakan Zidan barusan?" tanya Rara, mengabaikan keluhan Adji yang bajunya basah dan bernoda.


"Betul. Aku jatuh cinta padanya. Dan aku ingin segera menikahnya. Tapi... sepertinya dia menolakku," sahut Abhizar yang tersirat ungkapan kecewa di akhir kalimatnya.


"Apa kata mamah Yati?" tanya Zidan.


"Selama Anan setuju, tante Yati pun setuju," jawab Abhizar yang terlebih dahulu telah berbicara langsung dengan mamah Yati dan meminta restu untuk menikahi Anan.


"Kalau memang kamu serius, kamu harus berjuang dong. Jangan malah ngeluh," cerocos Rara.


"Ra, ini masalah hati, tidak sama ketika kamu belanja online. Yang jika kamu suka, asal ada uang, semuanya kelar. Jadi, itu mulut direm dikit, ya?!" tutur Salma, menegur Rara.


"Hehehe... maaf. Aku hanya menyemangati Abhi saja kok," cicit Rara, cengengesan.


"Memang tidak mudah bagi Anan untuk jatuh cinta. Tapi, jika dia sudah mencintai seseorang, maka sulit baginya untuk menghindar." Salma menghela nafas ringan.


"Aku kira kamu tidak lupa, siapa yang telah membuat Anan sakit hati dan kecewa. Dan mungkin karena hal ini, akan sulit bagi Anan untuk membuka hati dan menerima cinta yang lain. Bukan apa-apa. Anan hanya menjaga hatinya agar tidak terluka lagi," terang Salma.


"Tapi, aku sudah terlanjur mencintai Anan. Dan aku tidak akan mundur sedikit pun," tegas Abhizar.


"Baiklah. Itu terserah padamu saja. Selama itu baik, kami pasti akan mendukungmu," ujar Adji, menepuk pundak Abhizar yang duduk disampingnya.


"Aku kira... kamu sukanya sama Septy," celetuk Rara. Membuat Abhizar tersedak makanan yang dikunyahnya.


Zidan pun menyodorkan segelas air mineral ke Abhizar.


"Kenapa kamu berpikir begitu?" tanya Zidan ke Rara.


"Hei! Apa kamu tidak lihat, bagaimana Abhi membela Septy waktu itu? Jelaslah aku berpikir kalau Abhi menyukai Septy," sahut Rara antusias.


"Andai kata kamu yang berada di posisi Septy waktu itu, aku pun akan berbuat yang sama. Karena aku paling tidak menyukai penindasan, perundungan, atau apapun namanya."


"Jadi, kamu pikir aku membully Septy?" tanya Rara, geram.


"Menurutmu?" Abhizar menatap Rara seraya mengangkat kedua alisnya.


Seketika Rara cemberut dan bersedekap. Namun Adji langsung menenangkannya.


"Sudah-sudah. Kalian ini bukan anak kecil lagi. Malu dilihat Atika."


Atika yang sedang asyik menikmati makanannya refleks mendongak, dan menatap Zidan.


"Kak Zidan jangan salah ya. Aku bukan anak kecil lagi. Sebentar lagi KTP aku jadi, jadi berhenti ngatain aku masih kecil," sanggah Atika yang melotot ke Zidan.


"Cihh! Kurcacinya ngamuk," celetuk Zidan.


Mereka pun bersantap sambil sesekali iseng terhadap Atika. Karena di antara mereka, Atika lah yang paling muda.


🌸🌸🌸


Author cuma mau bilang...


*


*


*


Author saaaayaaaanggg sama kalian... 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2