Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 52


__ADS_3

[ Vote, Vote, Vote ]


"Pak Arya benar. Mana pantas aku yang seorang gadis kampung ini disandingkan dengan Bapak yang seorang pewaris sebuah perusahaan besar."


Lagi, bulir kristal dari pelupuk mata Anan lolos begitu saja membasahi pipinya. Anan mengusap jejak cairan bening itu dengan punggung tangannya.


"Yang aku sesalkan hanya satu. Aku terlanjur jatuh hati ke Bapak. Ya, aku telanjur mencintai Bapak."


Anan menghela nafas dalam yang seakan terputus.


"Bapak tau? Dari Bapak aku merasakan cinta dan kasih sayang seorang pria. Tapi aku tidak pernah mengira, jika semua itu hanyalah sandiwara belaka. Aku tidak pernah berpikir kalo semua itu palsu."


Mereka yang hadir seakan terhipnotis menyaksikan Anan dan Arya. Dan sebagian dari mereka merasa prihatin dengan keadaan Anan.


Anan lagi-lagi menghapus tetesan air matanya. Anan maju selangkah lebih dekat ke Arya yang meskipun terasa berat baginya untuk melangkah.


"Bapak harus selalu ingat! Dari awal aku sama sekali tidak berniat dekat dengan Bapak. Tapi Bapak yang selalu mendekati aku. Dan sekarang... setelah aku menaruh harapan dan impian yang besar ke Bapak, Bapak malah memfitnah aku. Dan bukan cuma itu, di hadapan semua orang Bapak bahkan menghina aku."


Dimas yang sejak tadi menyaksikan perlakuan Arya, mengepalkan tangannya. Ia marah atas tindakan yang dilakukan sahabat sekaligus atasannya itu terhadap Anan. Ia juga tidak menduga jika rencana yang pernah disampaikan Arya padanya, telah dijalankan Arya jauh hari sebelum hari ini.


Dimas sebenarnya sempat curiga akan gelagat Arya. Arya yang biasanya cuek dengan acara yang diadakan sekali setahun ini, mendadak antusias. Dan bahkan ia turun tangan langsung dalam persiapan acara ini.


"Jadi ini yang membuat kamu bersemangat menyambut acara ini? Rupanya kamu sama sekali tidak perduli lagi dengan persahabatan kita," gumamnya mengingat perkataannya kepada Arya beberapa minggu lalu seraya menatap tajam Arya.


"Mungkin bagi Bapak ini tidaklah seberapa. Tapi buatku... ini sangat menyakitkan," ujar Anan penuh penekanan seraya mencengkram gaun yang ia pakai tepat di bagian jantung.


Sakit, sungguh sakit hati Anan menerima fitnah dan hinaan yang dilontarkan Arya kepadanya. Ia terluka, namun tidak berdarah.


"Apa Bapak tau, bagaimana rasanya mencintai namun tidak dicintai, bahkan dengan sengaja Bapak menghancurkan perasaan itu?"


Tawa kecil dan halus keluar dari bibir Anan mengingat kembali kalimat yang baru saja ia ucapkan.


"Oh... aku salah. Bapak 'kan belum pernah merasakannya. Jadi bagaimana mungkin Bapak tau."


Arya hanya bengong menatap dan mendengar setiap kalimat yang keluar dari bibir Anan. Ia pun tidak mengerti kenapa ia tidak memiliki kemampuan menyanggah setiap ucapan Anan.


Air mata Anan kembali menetes. Kali ini bukan karena fitnah dan hinaan Arya, melainkan karena mengingat mamahnya.


Apa yang akan mamahnya katakan jika mamahnya tahu kebenaran hubungan Anan dan Arya yang hanya sebatas balas dendam.


Rasanya Anan sungguh tidak sanggup membayangkan kesedihan yang akan dirasakan mamahnya.


Ingin rasanya Anan menyudahi semua ini dan berlalu pergi dari sana segera mungkin. Namun sebelum itu ia lakukan, ia kembali membuka suara.


"Tadinya aku berpikir, Bapak adalah seseorang yang mampu mengubah persepsiku tentang laki-laki. Tapi ternyata aku salah. Biarlah... biarlah perasaan ini aku kubur dalam-dalam."


Anan mulai sesegukan. Mencoba tersenyum walau dalam tangis.

__ADS_1


"Hiks... Mungkin akan sulit untukku melupakan Bapak. Tapi, aku akan tetap menanti hari itu datang. Di mana tidak ada lagi cinta dan nama Bapak yang merajai hati dan pikiranku."


Deg!


Arya mencelos mendengar ucapan Anan.


"Diwaktu yang bersamaan, Bapak bukan hanya memberiku harapan tapi juga kekecewaan. Aku berharap, aku tidak akan bertemu dengan pria seperti Bapak. Dan... ."


Anan kembali mengatur ritme nafasnya. Dengan mata yang berkaca-kaca dan sisa air mata yang masih membekas di pipi, Anan menatap tajam Arya.


"Dan semoga kita tidak akan bertemu lagi," imbuhnya kemudian berbalik dan berlari menjauh dari Arya dan semua yang ada di sana.


Ibarat berada di subuah padang pasir yang tandus dan tengah kehausan. Arya tak mampu mengangkat kakinya untuk melangkah. Ia hanya tinggal mematung menatap kepergian Anan yang berurai air mata.


Septy ikut berlari mengikuti Anan. Sebagai wanita, Septy pun dapat merasakan apa yang dirasakan Anan.


"Anan, tunggu!" teriaknya mengejar Anan.


Anan terus berlari melewati para tamu undangan yang sejak tadi memperhatikannya. Sampai akhirnya ia tiba di koridor hotel menuju lift. Lift terbuka lalu Anan masuk ke dalamnya. Ia terperosok di lantai lift, menumpahkan tangis yang sejak tadi memaksa ingin dikeluarkan.


"Kenapa ya Allah... apa salahku?" lirih Anan sesegukan.


"Haruskah aku mengatakan ini ke mamah? Apa yang harus aku katakan ke mamah? Bagaimana dengan perasaan mamah? Mamah pasti sedih mengetahui semua ini."


Anan menengadahkan wajahnya menatap langit-langit lift yang akan membawanya menuju lantai dasar.


"Hiks... tidak! Mamah tidak boleh tau. Mamah sudah cukup terbebani. Aku tidak mau menambah penderitaan mamah."


Namun tiba-tiba langkah Anan terhenti. Sebuah mobil berwarna hitam menghalangi jalan Anan. Seketika beberapa pria bertubuh besar dengan penutup wajah, mencegat dan memaksa Anan untuk masuk ke dalam mobil tersebut lalu membawanya pergi dari sana.


Septy yang dari tadi mengejar Anan melihat aksi penculikan terhadap Anan dari kejauhan. Septy berlari sekuat tenaga agar dapat mencapai mobil bermerk Toyota Fortuner itu. Namun sayang, langkah kaki Septy kalah cepat dengan kendaraan baja itu.


"Anaaannn!" teriak Septy memanggil Anan.


Disaat yang sama, Zidan dan Abhizar tiba tepat di belakang Septy.


Zidan hendak memasuki area pelataran gedung hotel, namun ia urungkan ketika maniknya melihat Septy berdiri di pinggir jalan.


"Septy, kamu kenapa?" tanya Zidan begitu keluar dari kendaraannya.


Septy berbalik, "Zidan, Anan... Anan."


Septy yang panik dengan nafas memburu seakan tak mampu berkata.


"Anan kenapa? Di mana Anan?" Zidan celingak-celinguk mencari keberadaan Anan.


Sedang Septy masih berusaha mengatur nafasnya.

__ADS_1


"Anan di mana, Septy?" tanya Zidan menggoncang pelan kedua pundak Septy.


Abhizar yang juga berada di sana penasaran dengan apa yang telah terjadi. Ia hanya diam dan mengkerutkan keningnya menunggu jawaban dari Septy.


Namun dari raut wajah yang diperlihatkan Septy, Abhizar dapat menebak bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi.


"Jawab, Septy!" desak Zidan yang enggan menunggu lama.


"Anan.... ."


"Iya, Anan kenapa?" Zidan semakin tidak sabar untuk mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Mereka menculik Anan!" seru Septy seraya memejamkan matanya sangking paniknya kemudian membukanya kembali.


"APA???" pekik Zidan terkejut.


"Anan diculik siapa? Dan kemana mereka membawanya?" tanya Zidan, cemas.


Septy menunjuk ke arah di mana mobil yang membawa Anan bertolak.


"Ayo!"


Zidan mengajak Septy dan Abhizar naik ke mobilnya guna mengejar si pelaku penculikan.


Zidan melajukan kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dalam hatinya tak henti berdoa untuk keselamatan Anan.


Abhi yang duduk di samping kursi kemudi sesekali melirik Zidan yang fokus menyetir. Jujur saja, lidahnya terasa gatal ingin bertanya 'siapa Anan dan apa hubungannya dengan Zidan'.


Namun melihat kepanikan di wajah Zidan, ia pun mengurungkannya. Dan memastikan bahwa Anan adalah seseorang yang penting bagi sahabatnya itu.


Sekitar 15 menit mengejar, Abhi merasa ada yang janggal.


"Sepertinya kita juga dikejar."


Zidan mencoba melihat kendaraan yang berada tepat di belakang kendaraannya.


"Mobil itu sudah mengikuti kita sejak 10 menit yang lalu," lanjut Abhizar.


Zidan mengikuti arah telunjuk Abhi melalui kaca tengah mobilnya. Ia pun semakin memperdalam tekanan kakinya pada pedal gas kendaraannya. Dan itu berlangsung selama beberapa menit.


Sampai akhirnya...


"Zidan berhenti!" pekik Septy yang melihat mobil yang membawa Anan berhenti dan terlewati.


Zidan pun menginjak pedal rem dan menepikan kendaraannya. Sehingga mobil Zidan saat ini berada beberapa meter di depan mobil pelaku.


"Itu mobil yang menculik Anan," ujar Septy seraya menunjuk mobil yang dimaksud.

__ADS_1


Diwaktu yang bersamaan mereka melihat Anan keluar dari mobil tersebut dan berlari menyeberangi jalan.


Dan...


__ADS_2