
Hari ini tuan Kemal sangat sibuk. Raka yang biasa membantunya, telah berada dan tinggal untuk waktu yang tidak ditentukan di villa tuan Kemal di daerah Depok.
Hal ini membuat tuan Kemal melupakan sesuatu yang sangat penting. Padahal, ia telah menantikan hari ini, berhari-hari yang lalu.
Dering ponsel mengalihkan konsentrasinya. Ia pun meraih ponselnya dan melihat nama Zidan di sana. Tak menunggu lama, ia segera menggeser ikon berwarna hijau dan panggilan pun tersambung.
"Assalamualaikum, Nak?"
"Waalaikumsalam, Pah.
"Ada apa?" tanya tuan Kemal.
"Loh, bukankah hari ini tes DNA Papah keluar? Makanya Zidan nelpon. Zidan mau tahu hasilnya."
"Astagfirullah! Papah lupa. Papah terlalu sibuk beberapa hari ini."
"Jadi Papah belum mengambil hasil tesnya?" tanya Zidan.
"Belum."
"Apa boleh Zidan yang mengambilnya, Pah?" tanya Zidan, menawarkan diri.
"Boleh, boleh, Nak. Segeralah ke kantor begitu kamu selesai mengambilnya."
"Baik, Pah. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab tuan Kemal dan sambungan pun terputus.
"Kenapa bisa aku sampai lupa dengan hasil tes itu? Apapun hasilnya, aku dengan lapang dada akan menerimanya. Walau sejujurnya aku sangat berharap Anan adalah putriku. Tapi, jika bukan itu kenyataannya, aku hanya bisa merelakan."
Tuan Kemal menghela nafas panjang setelah bergumam.
🍁
🍁
🍁
Di rumah sakit Sandra Hospital.
Zidan berjalan sedikit cepat memasuki gedung rumah sakit. Di lobbi ia bertemu dengan Abhizar yang juga baru tiba dan hendak menemui Anan.
"Buru-buru banget, Bro. Apa terjadi sesuatu dengan Anan?" tanya Abhizar yang menenteng kantong kresek berisi makanan.
"Tidak. Aku hanya ada urusan sedikit yang mendesak," jawab Zidan.
Sambil berbincang ringan, mereka berjalan memasuki lift. Setelah tiba di lantai tujuan Zidan, lift pun membuka dan Zidan keluar dari sana. Sedangkan Abhizar melanjutkan perjalanannya ke lantai berikutnya.
Disaat Zidan tengah berjalan, tak sengaja ia menyenggol seorang pria berjas hitam sehingga ia dan pria tersebut sedikit terpental.
"Maaf, maaf. Aku tidak sengaja. Aku terburu-buru," kata Zidan, ramah.
"Tidak, tidak apa-apa. Kalau begitu, aku permisi," sahut pria itu kemudian melangkah meninggalkan Zidan yang masih memperhatikannya.
"Seperti pernah bertemu. Siapa ya?" gumam Zidan, membatin.
Tak lama ia pun tersadar akan tujuan utamanya. Ia pun melanjutkan langkahnya menuju ruangan dokter Heru.
Zidan mengetuk pintu ruang kerja dokter Heru tiga kali. Seorang perawat membuka pintu dan mempersilakannya masuk.
__ADS_1
"Maaf, Tuan muda. Dokter Heru sedang ada urusan," beber perawat tersebut.
"Aku datang untuk mengambil hasil tes DNA antara tuan Kemal dengan seseorang berinisial AL," tutur Zidan dan membuat perawat itu mengerutkan keningnya.
"Maaf, Tuan muda. Tapi, bukankah tuan besar telah memerintahkan seseorang untuk mengambilnya? Atas izin dokter Heru, aku sudah menyerahkannya ke orang tersebut."
"Apa?!" pekik Zidan, membuat si perawat bergidik.
"Aku yang disuruh langsung oleh papah untuk mengambilnya. Kenapa kalian begitu teledor? Harusnya kalian menelpon ke papah terlebih dahulu."
Zidan mengusap wajahnya frustrasi.
"Rahasiakan ini dari siapapun! Jangan sampai ada yang tahu."
Lalu menatap perawat yang tertunduk ketakutan itu.
"Kamu masih ingat dengan ciri-ciri orang yang mengambil hasil tes itu?" tanyanya.
Si perawat mengangkat wajahnya.
"Masih, Tuan muda. Dia memakai setelan jas hitam dan tingginya tidak jauh beda dengan Tuan," jawabnya.
Zidan pun kembali teringat dengan sosok pria yang tidak sengaja bersenggolan dengannya tadi.
"Pasti dia," ucapnya, kemudian segera berlari mengejar sosok pria berjas tadi.
Buru-buru ia masuk lift dan menekan nomor lantai tujuannya. Begitu lift terbuka, ia kembali berlari dan tujuannya kali ini adalah tempat parkir.
Sesampainya di sana, ia tak menemukan secuil pun batang hidung pria tersebut. Ia mengedarkan pandangannya ke mana-mana, namun ia sama sekali tidak melihat sosok pria yang dicarinya.
Rupanya pria itu telah berhasil kabur dengan membawa hasil tes DNA yang seharusnya Zidan dan tuan Kemal ketahui hari ini. Dan ini menjadikan Zidan emosi dan semakin frustrasi.
Dari kejauhan dokter Sandra menyaksikan tingkah putranya. Ia yang bermaksud memasuki lobbi, tak sengaja melihat Zidan yang mondar-mandir di parkiran. Karena ingin tahu apa yang dicari oleh putranya itu, ia pun memutuskan untuk menanyakannya.
Zidan yang tengah serius dengan kegiatannya, tersentak kaget akan kedatangan mamahnya.
"Gawat. Apa mamah telah melihatku sejak tadi?" batin Zidan yang belum juga berbalik.
"Dan? Zidan?!" panggil dokter Sandra sembari menepuk punggung Zidan.
"Eh, iya, Mah." Akhirnya Zidan menghadap mamahnya.
"Kamu ngapain di sini? Apa kamu menunggu seseorang?" tanya dokter Sandra.
"Mm... iya, Mah. Itu, aku menunggu Abhizar," jawab Zidan, asal.
"Kenapa tidak menunggu di dalam saja? Daripada di sini, panas," saran dokter Sandra.
"Ya sudah, Mah. Aku tunggu Abhi di dalam saja."
"Semoga mamah tidak bertemu Abhi hari ini," gumam Zidan yang berjalan beriringan dengan dokter Sandra ke arah lift.
Tapi, sayang seribu kali sayang. Rupanya keberuntungan belum berpihak padanya hari ini. Disaat ia menunggu pintu lift terbuka, di lift yang berbeda, Abhizar muncul dan menyapa dirinya dan juga mamahnya.
"Hai, Dan. Bagaimana urusan kamu, sudah kelar?"
"Dasar Abhi cerewet. Aku sumpahin kamu gaulnya sama emak-emak," batin Zidan.
"Kamu ngomong apa, sih?" elak Zidan seraya mengisyaratkan kode.
__ADS_1
"Tadi kan, kamu sendiri yang bilang kalau kamu ada urusan mendesak," beber Abhizar tanpa berdosa.
Dokter Sandra menatap keduanya bergantian.
"Ini sebenarnya ada apa? Tadi, kata Zidan, dia menunggu kamu. Dan sekarang begitu ketemu, seolah kalian sudah bertemu baru-baru ini. Apa jangan-jangan kalian menyembunyikan sesuatu?"
"Itu, Tante. Sebenarnya... ."
Zidan segera menutup mulut Abhizar sebelum Abhizar berkata panjang lebar.
"Biasa, Mah. Urusan anak muda. Assalamualaikum."
Zidan pun menyeret Abhizar menjauh dari mamahnya.
"Waalaikumsalam."
Dokter Sandra mengeleng-geleng pelan.
"Ada apa dengan Zidan hari ini? Dia terlihat aneh. Pasti ada yang disembunyikannya."
Setibanya di parkiran, Zidan merampas kunci mobil Abhizar lalu menekan salah satu tombol kecil di sana. Kemudian membuka pintu dan menyelinapkan tubuh Abhizar ke dalamnya.
"Kamu ini kenapa, sih?" tanya Abhizar yang belum menutup pintu.
"Sudah. Kamu sudah mau pulang 'kan? Sudah sana, pulang!"
"Kamu lagi PMS, ya. Sensi amat kamu hari ini," ejek Abhizar.
"Sudah, pulang sana!" Zidan menutup pintu mobil Abhizar.
"Dasar, sahabat tidak ada akhlak. Hubungi aku nanti!" Abhizar pun melajukan kendaraannya meninggalkan Zidan.
Zidan kemudian meraih ponselnya dan segera menelpon tuan Kemal untuk membeberkan perihal adanya seseorang yang secara diam-diam mengambil hasil tesnya.
"Siapa ya, kira-kira orang yang tertarik dengan hasil tes itu? Untuk apa dia mencurinya?" gumam Zidan setelah menutup sambungan teleponnya.
Tiba-tiba...
Seseorang menepuk punggungnya.
"Apa aku ketahuan mamah?" batinnya. Ia mengira orang yang menepuk punggungnya adalah dokter Sandra.
"Apa sebaiknya aku jujur saja ya, ke mamah?" batinnya lagi. Lalu membalikkan tubuhnya.
"Mah sebe... ."
Kalimat Zidan terpotong begitu tahu siapa yang berada di belakangnya tadi.
"Bu Jum!" pekiknya sambil melotot.
Sedang yang dipelototin cengengesan tidak karuan.
"Hehe... iya, Tuan. Ini bu Jum. Tuan kenapa melotot gitu? Kayak lihat hantu saja."
"Iya, bu Jum hantunya!"
"Iihh... Tuan tambah cakep deh, kalau lagi ngambek," ujar bu Jum, terkekeh. Dan mendapat lirikan tajam dari Zidan.
"Sudah, Tuan. Ngambeknya jangan lama-lama. Bu Jum cuma mau laporan, Tuan."
__ADS_1
"Katakan!" titah Zidan, malas.
"Jangan di sini dong, Tuan. Otak bu Jum tidak berfungsi dengan baik kalau kurang asupan nutrisi," celetuk bu Jum, tersenyum.