
"Tolong... kasihani saya. Saya mau pulang. Saya tidak ada salah kepada kalian. Kenapa kalian mau membunuhku? Tolong, lepaskan saya. Saya mohon." Lirih Anan memohon dengan mengatupkan kedua tangannya yang terikat.
Namun, tak satu pun dari mereka yang menanggapi permintaan Anan. Mereka malah menyeret Anan menuju ujung dari dermaga itu.
Begitu tiba di penghujung, tanpa menunggu waktu, mereka langsung melempar Anan masuk ke dalam laut.
Anan yang tidak bisa berenang, apalagi kedua tangan dan kakinya yang terikat kuat, tak mampu mengelak.
"Apakah aku akan mati di sini? Ya Allah... aku tidak bisa berenang. Walau kedua tangan dan kakiku bebas, aku tetap tenggelam. Aku pasrah padamu. Mungkin hidupku hanya sampai di sini. Mamah... maafkan Anan... ."
🍁🍁🍁
Di tempat terpisah.
Zidan yang terlebih dahulu ditelepon oleh tuan Kemal, telah membeberkan perihal yang menimpa Anan.
Tuan Kemal tiba-tiba menelpon putranya karena mencemaskan keadaan putrinya. Dan kecemasannya ini sama persis ketika Anan diculik dan berakhir dengan tertabraknya Anan kala itu.
Geram, begitu sambungan teleponnya dengan Zidan terputus, tuan Kemal langsung menghubungi tuan Kendra.
Mengapa tuan Kendra?
Sebab ia yakin, dalang di balik ini masih orang yang sama dengan yang mencuri berkas hasil tes DNA antara dirinya dengan Anan.
Sementara itu, Jojon yang memegang ponsel tuan Kendra seketika menatap android itu.
"Telepon dari siapa?" tanya tuan Kendra yang sedikit risih dengan dering ponselnya yang tak kunjung diangkat oleh orang kepercayaannya itu.
"Tu-tuan Kemal, Tuan," jawab Jojon, gugup.
"Angkat!" titah tuan Kendra.
"Aku perlu bicara dengan tuanmu," tegas tuan Kemal begitu panggilannya tersambung.
Dari dulu tuan Kemal sudah mengetahui kalau papihnya menyerahkan ponselnya ke Jojon untuk dipegangnya.
Dengan isyarat dari tuannya, Jojon pun menyerahkan telepon genggam itu ke tuan Kendra.
"Ada apa?" tanya tuan Kendra, datar.
"Papih tidak usah berpura-pura tidak tahu. Di mana dia?"
"Dia, siapa maksudmu?"
"Papih jangan berkelit. Aku tahu Papih yang menculiknya." Tuan Kendra tak membantah lagi.
"Sebenci-bencinya Papih terhadap ibunya, bukan berarti Papih juga harus tidak suka dengan anaknya. Tolong, Pih, kembalikan dia. Mungkin aku salah di mata Papih. Karena telah mengalirkan darah Papih kepadanya. Dan aku minta maaf untuk hal itu. Tapi to... ."
"Apa katamu tadi?" Buru-buru tuan Kendra memotong kalimat putranya.
"Maksudmu, dia itu putrimu?" lanjutnya.
"Bukankah Papih sudah tahu?"
"Apa maksudmu?" Tuan Kendra balik bertanya.
"Bukankah Papih telah menyuruh seseorang untuk mencuri dokumen hasil tes DNA aku dengan Anan? Dan dari tes itu, dipastikan antara aku dengan dia adalah ayah dan anak."
Seketika tubuh tuan Kendra melemas, seperti tak bertulang mendengar ucapan putranya. Ia tidak lagi mempedulikan tuan Kemal yang memanggil-manggil dirinya disambungan telepon yang akhirnya terputus begitu saja.
__ADS_1
Tak terasa bulir air matanya menetes.
"Ya Allah... apa yang telah aku lakukan? Jadi dia cucuku? Dan dengan kejamnya, aku malah berencana untuk membunuhnya." sesalnya.
Jojon yang menyaksikan tuannya berurai air mata, mengerutkan keningnya. Ia mengalihkan pandangannya ke ponsel yang masih di genggaman tuannya. Dengan memberanikan diri, "Apa Tuan baik-baik saja?" tanyanya.
"Segera hubungi mereka! Perintahkan agar jangan melakukan apapun."
Tuan Kendra sama sekali tidak menanggapi pertanyaan Jojon. Tapi malah menyuruhnya menghubungi orang-orang bayarannya.
Setelah beberapa kali Jojon mencoba menghubungi nomor yang dimaksud, namun tak ada jawaban.
"Maaf, Tuan. Nomornya tidak aktif."
"Bodoh! Apa kamu tidak bisa menghubungi yang lainnya?" geram, tuan Kendra memelototi Jojon yang duduk di samping sopir.
"Maaf, Tuan. Saya cuma punya nomor salah satu dari mereka." Jojon sungguh takut kali ini.
"Sial kamu, Jon! Lalu, ke mana mereka membawanya?"
"Ke pelabuhan, tak jauh dari villa, Tuan."
"Kita ke sana!"
Baik Jojon maupun si pengemudi, benar-benar dalam keadaan gemetaran saat ini. Sangking takutnya, mereka hanya fokus ke jalan di hadapan mereka.
Berbeda dengan Jojon dan si sopir, tuan Kendra justru merasakan sesuatu yang sulit ia kendalikan. Perasaannya bercampur aduk. Antara sedih, menyesal, dan takut, semua jadi satu.
"Aku belum sempat membaca hasil tes itu. Aku juga tidak tahu di mana berkas itu. Apa jangan-jangan berkas itu tercecer? Andai aku tahu dari awal." Tuan Kendra membatin di sepanjang jalan.
"Jadi, namanya Anan? Lalu, siapa Laras?" Tuan Kendra kembali mengingat-ingat perkataan tuan Kemal.
"Tunggu dulu. Aku merasa tidak asing dengan nama itu. Astaga! Nama gadis ceria itu juga Anan."
Sekujur tubuh tuan Kendra seakan dihujani beberapa anak panah.
"Aku akan sangat menyesal jika itu kamu, nak. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri. Ya Allah, aku berharap mereka bukan orang yang sama." Lanjutnya, bermonolog dalam hati.
🍁
🍁
🍁
Meski tidak mendapat jawaban apa-apa. Tapi, tuan Kemal tahu ke mana ia harus pergi. Ia pun memberitahukan lokasi yang hendak ia tuju kepada Zidan.
Zidan yang memang tahu tempat itu, bersama Adji dan Abhizar serta tak ketinggalan Dimas, segera menuju ke lokasi.
Di sisi lain.
Arya mengendarai mobilnya sambil mengedarkan pandangannya ke sana ke mari, berharap ia bisa menemukan kendaraan yang diyakininya membawa Anan.
Dan benar saja.
Meski air hujan jatuh begitu deras, Arya mampu melihat mobil tersebut keluar dari persimpangan jalan yang ada di depannya.
Arya ingin kembali mengikuti mobil itu, namun hatinya ragu. Dengan mantap, Arya memutar kemudi mobilnya ke arah jalan yang ditinggalkan kendaraan itu.
"Bukankah ini pelabuhan? Untuk apa mereka ke sini?" gumamnya setelah memberhentikan laju kendaraannya.
__ADS_1
"Jangan-jangan... . Tidak! Anan tidak boleh kenapa-kenapa."
Arya bergegas turun dari mobilnya dan berlari menuju dermaga itu. Begitu tiba di ujung dari bangunan tersebut, ia mendapati syal milik Anan.
Tanpa ragu sedikit pun, ia lalu terjun ke laut untuk menemukan Anan.
Disaat yang sama.
Dari arah berlawanan, secara kebetulan, tuan Kemal melihat kendaraan milik tuan Kendra berbelok ke arah jalan yang menuju ke villa tuan Kendra. Sehingga tuan Kemal langsung mengikuti mobil itu.
Di tengah ia mengekori mobil tuan Kendra, ia meraih ponselnya dan menghubungi Zidan.
"Kamu sudah ada di mana?" tanyanya begitu panggilannya terhubung.
"Aku ada di belakang Papah," jawab Zidan seraya memberi kode lampu pada tuan Kemal. Tuan Kemal melirik kaca tengah dan mengerti dengan kode dari putranya itu.
Tak lama berselang, ponsel milik Zidan bergetar tanda adanya panggilan masuk. Dan itu dari mamahnya.
Zidan bingung. Tapi Zidan lebih memilih untuk tidak menjawabnya.
Beberapa saat kemudian, ponselnya kembali bergetar. Kali ini dari mamah Yati. Namun, Zidan tetap memilih untuk tidak menjawabnya.
Bukan Zidan membangkang, ia hanya tak mau membuat kedua mamahnya itu khawatir.
Beberapa menit berkendara, ketiga kendaraan beroda empat itu berbelok memasuki pelabuhan.
"Tuan, kita diikuti," ujar Jojon yang baru menyadari keberadaan kendaraan tuan Kemal dan Zidan.
"Aku tahu," sahut tuan Kendra.
Di mobil Zidan.
"Itu mobil Arya!" seru Dimas menunjuk mobil Arya.
Lalu Zidan memakirkan kendaraannya di samping mobil yang ditunjuk oleh Dimas.
Semua bergegas turun dari kendaraan yang ditumpangi masing-masing. Mereka langsung mencari keberadaan Anan dan Arya.
Tuan Kendra yang lebih dulu sampai di dermaga itu, menemukan sebuah syal yang tergeletak di tepi tempat tersebut. Ia kemudian memungut syal yang basah oleh guyuran air hujan itu.
Dan alangkah terkejutnya ia ketika ia melihat salah satu sisi syal itu tersulam dengan indahnya 'Opa Ken & Anan'.
Ia pun tersungkur. Ia tahu siapa pemilik dari syal yang dipegangnya itu. Ia menangis dengan wajah tertunduk. Guyuran air hujan yang semakin lebat tidak ia hiraukan.
"Aku terlambat," ucapnya, terisak.
"Lebih baik Papih tunggu di mobil saja. Aku tidak mau Papih sakit," kata tuan Kemal, khawatir.
"Maafkan Papih, Nak. Papih menyesal."
"Apa maksud Opa?" desak Zidan yang muncul di belakang mereka.
"Maafkan Opa, Zidan. Opa telah membunuh saudaramu, cucu Opa sendiri."
🍁🍁🍁🍁🍁
Wahai pembacaku yang setia, baik hati, dan tidak sombong. Jangan lupa untuk selalu vote, like, share, dan komen.
Terima kasih.
__ADS_1
Semoga kita semua sehat selalu, amin.