
Anan yang bingung dengan sikap Arya yang bak patung, mencoba memanggil-manggil namanya seraya melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Arya.
Aryapun tersadar, namun terlihat linglung.
"Bapak baik-baik saja?" tanya Anan yang heran dengan sikap Arya.
"A-aku baik-baik saja," jawab Arya menoleh ke arah Anan.
"Lalu sampai kapan kita berada di sini?" tanya Anan lagi karena Arya tak kunjung melajukan mobilnya.
Arya terkesiap. Ternyata sikap linglungnya membuatnya gugup. Iapun segera menyalakan mesin mobilnya, menekan pedal kopling, memasukkan personelin 1, kemudian menginjak pedal gas dengan kaki kanannya.
Pesona yang dipancarkan Anan benar-benar telah mengalihkan fokus Arya saat ini. Aura kecantikannya bak wangi jutaan bunga yang disemburkan. Sungguh menghipnotis.
Mobil telah melaju membelah jalanan kota. Tidak ada percakapan diantara mereka. Anan yang hanyut dalam diamnya, masih bertanya-tanya mengapa sikap Arya mendadak aneh.
Tak terasa, kendaraan mereka telah memasuki halaman rumah yang begitu luas. Arya lalu mematikan mesin mobilnya begitu berada tepat di depan teras setinggi satu meter yang memiliki beberapa anak tangga untuk dapat menapakinya.
"Kamu jangan gugup ya, santai saja. Mamih, papihku baik kok," tutur Arya lembut sebelum keluar dari roda empatnya itu.
Arya sengaja tidak memberitahukan orangtuanya, perihal kunjungannya ke rumah utama dengan membawa Anan. Dalam pikirannya, biarlah Anan merasakan bagaimana rasanya direndahkan.
"Iya pak," sahut Anan dengan mengangguk pelan.
"Bagus! Itu baru gadisku," ucap Arya membuat pipi Anan merona.
Keduanya lalu berjalan menapaki tiap anak tangga teras tersebut. Lalu Arya menekan bel yang terletak di sisi kanan pintu berwarna cokelat itu.
Pintupun terbuka, menampakkan salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di sana.
"Eh, tuan muda, silahkan masuk tuan," ucap bi Esih ramah, setelah tahu siapa yang datang.
"Siapa bi?" tanya Clara yang sedang menata menu makan malam di atas meja, begitu bi Esih tiba di ruang makan.
Mamih Arya juga mendengar suara bel berbunyi, lalu memerintahkan bi Esih untuk membuka pintu.
"Itu nyonya, tuan muda datang, tapi tidak sendiri. Tuan muda bersama dengan seorang gadis cantik," jawab bi Esih detail.
Clara mengernyit, ia tahu betul dengan putranya, yang belum mau berurusan dengan wanita.
Karena ingin menuntaskan rasa penasarannya, iapun beranjak dari tempatnya berdiri hendak ke ruang tamu.
Baru beberapa meter Clara melangkah, ia terhenti oleh suara sang suami yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.
__ADS_1
"Mamih mau ke ruang tamu pih. Kata bi Esih, Arya datang membawa seorang gadis. Mamih penasaran, gadis mana yang telah menaklukkan hati putra mamih itu," papar Clara menjawab pertanyaan tuan Wijaya, suaminya.
"Ya udah, kita liat bareng-bareng," ajak tuan Wijaya, lalu berjalan menuju ruangan dimana Anan dan Arya berada.
"Malam mih, pih. Kenalkan, ini Anan," sapa Arya ke kedua orangtuanya sambil mengenalkan Anan.
Clara yang melihat Anan, terkejut akan kedatangannya. Bagaimana tidak, sejak bertemu dengan Anan di toko perhiasan terbesar di kota itu, ia mulai berharap Anan bisa menjadi menantunya. Pikirnya, Anan adalah anak dari pengusaha kaya yang selevel dengannya.
"Hai sayang.. kita ketemu lagi. Emang ya kalo udah jodoh, pasti bertemu," sambut Clara ramah dengan mendekap Anan.
Arya dan papihnya yang menyaksikan, heran dengan sikapnya Clara. Clara tidak gampang dekat dengan orang baru. Apalagi Arya yang mengetahui mamihnya hanya akan dekat dengan orang yang setara dengannya saja.
Sedangkan Anan yang didekap Clara, bertanya-tanya dimana ia pernah bertemu dengan orang yang mendekapnya saat ini.
Clara melonggarkan dekapannya. Ia memperhatikan penampilan Anan. Namun, ada satu hal yang tak ia temukan.
"Sayang, kok diamondnya tidak dipakai?" tanya Clara masih memegang kedua bahu Anan.
Mendengar kata diamond, Ananpun mengingat siapa wanita yang ada di hadapannya itu.
"Aku tidak terlalu suka pakai perhiasan tante," jawab Anan tersenyum.
Lain dengan Arya, ia mengernyit mendengar pertanyaan yang dilontarkan mamihnya ke Anan.
"Apa sebelumnya mamih sudah mengenal Anan ya? Kelihatannya mamih sangat suka sama Anan. Kalo begini, gagal deh pertunjukan yang kuharapkan terjadi malam ini. Aku harus memikirkan rencana B," gumamnya dalam hati.
"Iya pih," sahut Clara, tersenyum.
Kemudian mempersilahkan Anan duduk.
Mereka berempat kini telah duduk, bi Esih datang dengan membawa empat cangkir teh hangat, lalu meletakkannya di atas meja.
"Lalu, gadis ini siapanya kamu?" tanya tuan Wijaya ke Arya, yang mencurigai Anan dan putranya ada hubungan.
Bagai mendapat angin segar, Aryapun tahu apa rencana B yang harus ia jalankan.
"Anan salah satu mahasiswaku pih. Baru minggu kemarin ia diwisuda. Rencananya, Arya ingin menempatkan Anan di perusahaan sebagai staf," jawab Arya tanpa menyinggung soal kedekatannya dengan Anan.
Tentu saja, jawaban Arya sangat jauh dari ekspektasi Anan. Ia mengira, kedatangannya ke rumah orangtua Arya, untuk diperkenalkan sebagai seseorang yang istimewah dimata Arya. Ia melirik Arya yang duduk di samping kanannya, berharap mendapat kejelasan dari pernyataan Arya tadi.
Sayang, Arya tak bergeming. Hal ini membuat Anan berpikir sejenak, kemudian mulai membuka suara.
"Maaf om, tante. Saya adalah calon tunangan pak Arya. Dan maksud kedatangan kami kemari, ingin membicarakan rencana pertunangan kami. Mengenai bekerja di perusahaan, saya sendiri tidak tau akan hal itu. Mungkin pak Arya gugup, sehingga hanya memikirkan pekerjaan," tutur Anan menjelaskan dengan lembut dan sesekali melirik Arya.
__ADS_1
Penuturan Anan membuat Arya kesal sampai ke tulang-tulang. Rahangnya mengeras. Ia mengepalkan tangan kanannya yang terbalut oleh tangan dikirinya.
"Berani-beraninya si Kampung ini ngomong seperti itu di hadapan papih mamihku. Percaya diri sekali dia," gumamnya dalam hati.
"Kamu harus menentukan sikap Arya! Ingat, kamu belum menolak untuk bertunangan dengan anak teman papih, Lexa," ujar papih Arya mengingatkan.
Anan sontak menoleh ke Arya, ingin melihat dan mendengar dengan jelas balasan apa yang akan diucapkan oleh orang yang telah membuatnya menautkan hati padanya, terkait peringatan yang dilayangkan tuan Wijaya.
"Papih tenang saja, aku tidak lupa itu," ucap Arya santai tanpa memikirkan perasaan Anan. Sengaja, karena kesal terhadap Anan.
Sungguh, Anan sangat kecewa dengan ucapan Arya. Ingin rasanya ia menangis dan menjerit saat ini juga. Lagi-lagi ia berusaha tenang. Ia tidak mau kekecewaannya terbaca oleh orangtua Arya, terutama tuan Wijaya.
"Yang namanya jodoh udah ada yang ngatur pih. Untuk pilihan, kita serahkan saja pada Arya, iya kan Arya?" tutur Clara lalu bertanya ke putranya.
"Iya mih," sahut Arya.
Sedangkan Anan hanya tersenyum kecut mendengar penuturan mamih Arya.
"Lalu bagaimana dengan rencana pertunangan Arya dengan Lexa, mih?" tanya tuan Wijaya ke istrinya. Ia yakin, Arya menyembunyikan sesuatu yang bersangkutan dengan Anan.
"Itu bisa dibicarakan nanti pih," jawab Clara merayu suaminya.
Sebenarnya, tuan Wijaya orangnya baik. Ia tidak memandang seseorang dari harta bendanya. Hanya saja, ia terikat janji dengan rekan bisnisnya. Sehingga ia harus tegas mengenai perjodohan Arya dengan Lexa.
Berbeda dengan istrinya, Clara. Yang memandang seseorang dari fisik, penampilan, dan kekayaan. Sehingga siapa saja yang nenurutnya berharta alias kaya, pasti akan didekatinya.
"Kalo begitu, kamu pikirkan baik-baik sebelum memutuskan. Sebab, apapun keputusanmu, akan berpengaruh pada perusahaan nantinya," tukas tuan Wijaya ke putranya.
Anan pamit, ia merasa gerah dengan keadaan yang mengelilinginya. Seketika Clara menoleh ke arahnya.
"Loh, sayang.. Kok cepat sekali pulangnya. Tehnya aja belum kesentuh. Lagian, tante dan om tidak keberatan, kalo kamu mau ikut makan malam bersama kami. Iya kan pih?" tawar Clara ke Anan sekaligus bertanya ke suaminya.
Tuan Wijaya mengangguk dan tersenyum tipis ke Anan tanda menyetujui tawaran istrinya.
Sedang Arya, ia menarik salah satu sudut bibirnya, puas dengan reaksi Anan. Ia tahu, Anan mulai risih, tak nyaman dengan suasana yang ada.
"Ya udah mih, pih. Arya juga pamit."
Merekapun bersalaman sebelum meninggalkan rumah tuan Wijaya dan nyonya Clara. Anan meninggalkan rumah mewah nan megah itu tanpa mencicipi teh hangat yang disajikan karena kecewa terhadap sikap Arya.
Kendaraan yang dikemudikan Arya telah melaju sejak beberapa menit yang lalu. Namun mereka enggan memulai obrolan.
Anan ragu untuk mulai membuka pembicaraan. Ia benar-benar tak mau semakin kecewa dengan jawaban yang akan diberikan Arya. Namun, jika ia diam saja, ia tidak akan tau apa sebenarnya tujuan Arya.
__ADS_1
Seperti yang dikatakan Anan pada mamahnya, apapun yang terjadi, ia berusaha ikhlas menerima. Berbekal itulah Anan tegar untuk bertanya.
"Sebenarnya, tujuan bapak memperkenalkan saya dengan kedua orangtua bapak, apa?" tanya Anan hati-hati.