Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 55


__ADS_3

[ Vote lagi ya ]


Selamat membaca


🌸🌸🌸


"Aku sama sekali tidak menyangka bahwa aku memiliki sahabat yang tidak memiliki hati nurani. Aku pikir kamu serius ingin bertunangan dengan Anan. Tidak kuduga kamu malah mempermainkan dan mempermalukannya. Beginikah seorang calon CEO memperlakukan tamu yang diundangnya secara khusus?"


Dimas meluapkan kekesalannya di dalam kamar hotel tempat acar berlangsung.


Setelah kepergian Anan, Arya pun meninggalkan tempat acara menuju kamar yang dipesan khusus oleh Dimas untuknya tanpa memperdulikan panggilan mamahnya dan orang-orang yang membahas tentang dirinya. Terlebih tidak menghiraukan Lexa yang berulang kali mencegat langkahnya.


Tanpa menyia-nyiakan waktu, Dimas pun menyusul dan mengikuti langkah Arya.


Luapan kekesalan Dimas tak membuat Arya bereaksi apapun. Arya hanya terdiam dan bergeming.


"Kalo hanya masalah Anan memukulmu di depan mahasiswamu, apa pantas kamu membalasnya dengan keji seperti ini?" lanjut Dimas dengan suara sedikit lantang.


"Mungkin aku harus mengingatkanmu kembali. Kamu ingat apa yang kamu katakan padanya di apartemen sehari sebelum Anan memukulmu di kampus? Bukankah waktu itu kamu sendiri yang memintanya datang ke kampus jam 9 pagi? Tapi entah kerasukan jin apa, hingga kamu datang beberapa jam lebih awal," terang Dimas yang menatap Arya tajam.


"Apa jangan-jangan kamu memang sengaja?" tanya Dimas memicingkan maniknya.


Dimas menghela nafas panjang.


"Tapi apapun itu, aku sungguh kecewa padamu Arya. Kita ini manusia biasa. Tidak menutup kemungkinan suatu hari nanti kamu bertemu kembali dengannya. Dan saat itu tiba, aku harap kamu tidak menyesal apalagi mengingat hari ini."


Hening beberapa detik.


"Oh iya, besok surat pengunduran diriku aku taruh di mejamu."


Belum sempat Dimas berbalik.


"Apa maksudmu dengan surat pengunduran diri?" tanya Arya, kaget.


"Bukankah aku sudah pernah memperingatkamu untuk tidak menguji persahabatan kita lagi?" tukas Dimas bertanya.


Dimas pun berlalu meninggalkan Arya yang terbengong sendiri di kamar.


Setelah Dimas berlalu tanpa pamit, Arya berjalan mendekati jendela berukuran besar di salah satu sisi ruangan itu. Ia melayangkan pandangnya ke keramaian jalan kota di malam hari. Sesekali ia menghela nafas berat.


Ingatannya kembali pada apa yang telah ia lakukan terhadap Anan malam ini. Dan hal yang sangat membekas di ingatannya, ketika ia melihat air mata Anan menetes di paras cantiknya seraya tersenyum manis. Seolah menyiratkan gadis itu baik-baik saja.


Arya memegang dadanya sebab jantungnya berdebar hebat.


"Ada apa ini?" tanyanya, bingung atas apa yang dirasakannya.


( Huftt )


Lagi-lagi ia menghebuskan nafas berat, mencoba menetralkan perasaannya.


***

__ADS_1


Zidan melangkahkan kakinya keluar dari ruang istirahat mamahnya. Ia melirik pintu kamar rawat mamah Yati sesaat sebelum ia masuk ke dalam lift.


Di dalam lift, ia menyandarkan tubuhnya pada dinding. Ia kembali mengingat saat pertama kali ia bertemu dengan Anan di taman. Betapa senangnya Zidan waktu itu bisa mengenal Anan.


Baginya, Anan adalah sosok yang tidak akan pernah bisa ia jumpai pada diri siapapun. Meskipun ia sering menjahili Anan, Anan tidak akan bereaksi berlebihan. Dan malah terkesan sabar menghadapi dirinya.


"Anan... ," lirihnya dan tak terasa bulir bening jatuh dari pelupuk matanya.


Zidan segera menghapus air matanya saat pintu lift mulai membuka.


Ketika Zidan hendak ke ruang IGD, ia berpapasan dengan mamahnya yang beriringan dengan Atika.


"Mah, bagaimana kondisi Anan?" tanyanya cemas.


Dokter Sandra menghelas nafas.


"Anan harus menjalani operasi."


Mendengar ucapan mamahnya, tubuh Zidan bagai mati rasa.


"Akibat benturan yang keras, organ vital Anan mengalami masalah," lanjut dokter Sandra.


"Lalu, berapa persen kemungkinan operasi ini akan berhasil?" tanya Zidan.


"Lebih baik kita lakukan ini daripada tidak sama sekali. Mamah percaya kebesaran Allah. Semoga Anan mampu melewati masa kritisnya," sahut dokter Sandra, pasrah.


"Ya udah, Mamah temui mamah Yati dulu. Biar bagaimanapun mamah Yati harus tau kondisi putrinya."


"Nyonya!" Seorang perawat berlari kecil ke arah dokter Sandra.


"Ada apa?" tanyanya.


"Nona Anan perlu transfusi darah, tapi stok darah di rumah sakit kita tidak cukup, Nyonya," beber perawat tersebut.


"Nona Anan bergolongan darah O negatif, Nyonya," imbuhnya.


Dokter Sandra mengkerutkan keningnya.


"Apa ini perasaanku saja? Apa ini hanya kebetulan? Tapi kebetulan ini terlalu nyata. Aneh," gumamnya membatin.


Kemudian dokter Sandra menatap Zidan yang juga menatapnya.


Tak lama kemudian Zidan menoleh perawat tadi.


"Ambil darahku saja, Suster."


Zidan pun mengikuti kemana langkah kaki perawat tersebut. Sedangkan dokter Sandra dan juga Atika masuk ke dalam lift untuk tiba di kamar rawat mamah Yati.


Saat ini dokter Sandra tengah berdiri di depan pintu ruang perawatan mamah Yati. Ia mengatur nafasnya sebelum menekan gagang pintu.


"Bismillah," ucapnya pelan.

__ADS_1


Ia pun masuk di susul Atika di belakangnya.


Di dalam kamar rawat mamah Yati, dokter Sandra kembali mengkerutkan keningnya melihat mamah Yati mengusap jejak air matanya ditemani tante Ranti yang menenangkannya.


Hati dokter Sandra semakin berdesir. Ia kehilangan kata-kata yang akan diucapkannya kepada mamah Yati. Ia sedih menyaksikan keadaan mamah Yati saat ini. Ia pun bimbang untuk mengungkapkan insiden yang menimpa Anan.


Meskipun begitu, Ia tetap harus memberitahukan kondisi Anan saat ini. Sebab mamah Yati berhak tahu apa yang tengah terjadi terhadap putrinya. Ia pun berjalan mendekati tempat tidur mamah Yati.


"Ibu kenapa?" tanya dokter Sandra.


"Entahlah, Dok. Akhir-akhir ini aku sering bermimpi buruk tentang Anan. Dan malam ini aku memimpikannya sedang bersedih kemudian... hiks... kemudian dia mau pergi begitu saja. Jujur aku takut, Dok. Sampai sekarang, aku belum mengetahui keadaan Anan semenjak pergi tadi. Ini benar-benar membuatku khawatir."


Mamah Yati menceritakan apa yang membelenggu hatinya saat ini. Di hadapan dokter Sandra, ia kembali terisak pilu.


Dokter Sandra meraih tangan mamah Yati, mencoba menyalurkan energi positif.


"Bu... Ibu yang sabar ya. Kita semua sedih dan sakit atas apa yang terjadi saat ini. Tapi kita harus ikhlas. Ini semua sudah kehendak-Nya," tutur dokter Sandra hati-hati.


"Apa maksud Dokter?" tanya mamah Yati bingung.


"Sebenarnya... Anan mengalami kecelakaan. Dan sekarang harus segera menjalani operasi," ungkap dokter Sandra.


Bagai tersambar petir mamah Yati mendengar kabar tentang putrinya.


"Ap-apa, Dok. Putriku kecelakaan?"


Seketika mamah Yati berusaha bangkit dari tempat tidurnya.


"Aku harus melihat keadaan putriku. Tolong antarkan aku menemuinya." Mamah Yati mendesak.


"Tenang, Mbak. Mbak harus sabar." Tante Ranti berusaha menghentikan mamah Yati.


"Tapi aku harus tau keadaan putriku. To-long... ."


Kalimat mamah Yati terpotong. Tubuhnya ambruk tak sadarkan diri.


Tante Ranti segera menekan alat yang biasa ia gunakan untuk memanggil perawat. Tak lama perawat pun tiba.


"Suntikkan obat penenang, Sus!" titah dokter Sandra seraya membenarkan letak selimut mamah Yati.


"Baik, Nyonya," sahut suster Mira.


Dokter Sandra membiarkan beberapa perawat memeriksa dan merawat mamah Yati. Kini ia duduk di sofa seraya memijit pelan pangkal hidungnya.


Tante Ranti mendekati dokter Sandra.


"Dokter baik-baik saja?" tanyanya, lalu duduk di samping dokter Sandra.


"Aku tidak apa-apa. Hanya saja, kondisi Anan membuatku kepikiran."


"Ini, Tante." Atika menyodorkan segelas air mineral kepada dokter Sandra. Dokter Sandra pun meminum beberapa teguk lalu meletakkannya di atas meja.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Anan bisa mengalami kecelakaan?" tanya tante Ranti penasaran yang juga sedih.


"Aku sendiri belum tau kronologi kejadiannya. Tapi kita akan segera tau," ucap dokter Sandra.


__ADS_2