Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 63


__ADS_3

Adji memarkir kendaraannya di samping kendaraan Zidan di depan restoran, tempat mereka janjian.


Adji keluar dari mobilnya dan berjalan cepat memasuki restoran yang menyajikan menu western itu.


Begitu tiba di pintu masuk, seorang pelayan pria menyambut kedatangannya.


"Maaf, Tuan. Silakan ikut saya," ucap pelayan pria tersebut sedikit membungkuk lalu berjalan mendahului Adji.


Tanpa berpikir panjang, Adji pun mengikuti pelayan pria itu menuju ke sebuah ruangan di bagian dalam bangunan tersebut.


Setelah sampai di depan pintu bertuliskan 'Owner' itu, Adji melirik sang pelayan. Bermaksud menanyakan untuk apa ia dibawa bertemu dengan pemilik restoran itu. Namun belum sempat Adji bertanya, Zidan yang dapat melihat kebingungan Adji dari balik dinding kaca yang hanya dapat terlihat dari dalam ruangannya, bergegas menghampiri lalu membuka pintu.


"Ngapain cuma di sini? Ayo masuk!" tanya Zidan lalu mempersilakan Adji masuk ke dalam ruang kerjanya.


Mereka pun menjatuhkan bobot tubuh mereka pada sofa empuk di ruangan itu, di mana Abhizar telah duduk nyaman di tengah-tengah mereka.


Adji memperhatikan setiap sudut ruangan itu. Sampai akhirnya, maniknya tertuju pada papan kayu ukir dengan jejeran huruf bertuliskan nama lengkap dari Zidan. Ia pun mengerti dan mengetahui bahwa restoran yang ia kunjungi saat ini adalah milik Zidan.


"Sekarang katakan, ngapain kamu pingin ketemu sama Abhi?" tanya Zidan memecah kesunyian, menatap Adji.


Adji melirik Zidan sekilas kemudian beralih ke Abhizar.


"Ok, aku kira, aku tidak perlu memperkenalkan diri lagi." Adji mendehem sekali.


"Ini berkaitan dengan Septy. Kamu mengenalnya 'kan?" tanyanya ke Abhizar. Dan diangguki oleh Abhizar.


"Tidak usah lama. To the point aja!" sungut Zidan yang tidak sabar.


"Iya-iya. Sabar sedikit bisa 'kan?!" Zidan menatap Adji dengan ujung matanya lalu melempar tatapannya ke yang lain, seperti gadis yang sedang ngambek. Membuat Adji menghela nafas sembari memutar bola matanya.


"Aku baru saja dari kantor polisi. Septy sudah dibawa ke sana."


"Apa?!" pekik Abhizar, kaget.


"Kok reaksi kamu seperti itu?" tanya Zidan.


"Septy tidak bersalah!" seru Abhizar.


"Percaya diri sekali kamu ngomongnya!" timpal Zidan, memicingkan maniknya menatap Abhizar.


"Makanya aku mengajak Abhi ketemuan, kata Septy, dia sudah ceritakan semuanya ke Abhi."


"Kenapa tidak nanya langsung aja ke dia?" tanya Zidan, sewot.


"Maunya sih gitu. Tapi waktuku terbatas," sahut Adji, tenang.

__ADS_1


"Jadi apa yang disampaikan Septy padamu?" tanya Zidan mendahului Adji ke Abhizar.


Abhizar pun mulai menceritakan apa yang didengarnya dari Septy, tanpa menambah apalagi mengurangi.


"Dasar laki-laki berengsek! Kurang ajar! Apa belum cukup dia menyakiti Anan, sebelumnya?! Sayang sekali aku terlambat ke pesta itu." Emosi Zidan membuncah setelah Abhizar menceritakan semuanya. Ia pun tidak menyangka jika ternyata Anan masih memiliki hubungan dengan Arya.


Sudah lama Zidan membuat perhitungan dengan Arya. Hanya saja Zidan tidak pernah mempunyai kesempatan untuk bertemu Arya. Kalau boleh jujur, ada perasaan kecewa juga di hati Zidan terhadap Anan. Andai ia tahu hubungan antar Anan dan Arya masih berlanjut. Pastilah Zidan akan mengingatkan Anan, bagaimana pria yang dicintainya itu menyakiti dan mengecewakannya. Dan dia adalah orang pertama yang menantang hubungan mereka itu.


"Tunggu dulu! Jadi, kamu sudah tau kalo Anan dan pak Arya mempunyai hubungan?" desak Adji ke Zidan bertanya.


"Iya, aku tau dari Rasmi," sahutnya pelan.


"Apa jangan-jangan cuma aku yang tidak tau hal ini?" Zidan mengangkat kedua bahunya, merespon pertanyaan Adji.


"Sahabat macam apa kamu ini? Hal sebesar ini tidak memberi tahuku. Aku ini sahabat kamu bukan, sih?" kesal Adji.


"Aku pikir kamu sudah tau. Secara 'kan Anan sekampus dengan kamu." Zidan pun tidak mau dipersalahkan.


Abhizar yang berada di tengah-tengah mereka, bingung melihat tingkah kedua pria dewasa di sampingnya itu. Sungguh seperti bocah yang mengoceh memperebutkan sesuatu.


"Sudah-sudah! Kalian ini seperti anak kecil saja." Abhizar mencoba meredam suasana.


"Lebih baik kita pikirkan, bagaimana caranya agar kita bisa mengeluarkan Septy," lanjutnya.


"Bukankah Septy tidak bersalah?" tanya Adji menimpali.


"Bukti mana yang mengatakan kalo dia tidak bersalah? Apa kamu punya buktinya?!" tanya Zidan, mendesak.


"Lalu, bagaimana jika dari awal memang Septy bekerja sama dengan temannya itu? Tapi karena sudah terdesak, dia pun menceritakan sebuah kisah yang tidak dikuatkan oleh bukti-bukti hanya untuk mengelabui kita. Dan bahkan terkesan dia adalah korban." Zidan benar-benar menolak jika Septy dikatakan tidak bersalah.


"Ayolah! Kalian ini orang-orang terpelajar. Apa kalian senang dibodohi olehnya?" lanjutnya.


Hening...


"Baiklah. Berhubung kita juga tidak bisa memvonis Septy tidak bersalah. Meski dia belum tentu salah. Alangkah baiknya kalo kita bersama-sama mencari bukti. Entah dia benar atau salah, biar bukti yang berbicara," tegas Abhizar.


Adji dan Zidan pun menyetujui usulan Abhizar.


***


Tiga hari telah berlalu. Hari-hari yang dilalui Septy di penjara cukup sulit. Bukan hanya karena ia tak dapat tidur nyenyak. Tapi juga adanya perlakuan tidak mengenakkan yang diperolehnya dari sesamanya tahanan.


Kedua orangtua dan teman-teman Septy, silih berganti datang berkunjung. Tidak hanya membawakan makanan kesukaannya, tapi juga memberi dukungan moril.


Tak terkecuali Zidan, Adji, dan Abhizar. Ketiganya sering datang walau cuma sekedar menyapa dan bertanya kabar. Sebab mereka memang belum mempunyai bukti yang dapat membebaskan Septy dari segala tuduhan.

__ADS_1


Dan saat ini, seperti biasa Zidan, Adji, dan Abhizar segera meninggalkan ruangan khusus tahanan dan pengunjung bertemu jika dirasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.


Ketika Adji akan melewati seorang tahanan pria dan pengunjung wanita yang jika diperhatikan dapat dipastikan mereka adalah pasangan suami istri, tak sengaja ia mendengar sedikit dari obrolan mereka. Dan ia terkesiap tatkala nama dari orang yang dicarinya disebut-sebut oleh tahanan tersebut.


Ia pun menoleh dan menatap selidik pada pria di hadapan wanita paruh baya yang datang bersama seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun itu.


Setelah beberapa saat, ia pun melanjutkan langkahnya menyusul Zidan dan Abhizar.


"Dari mana aja kamu?" tanya Zidan yang menyandarkan tubuhnya di samping pintu kemudi seraya bersedekap.


"Mm... aku hanya mengangkat telepon dari Rara." Tentu saja Adji sedang membohongi Zidan.


"Akan lebih baik kalo Zidan tidak mengetahui rencanaku. Kalo dia sampai tau, yang ada malah ambyar," batin Adji.


"Ya udah, kita jalan yuk!" ajak Abhizar.


Di perjalanan, Zidan yang sedang menyetir sesekali melirik Abhizar yang duduk di sampingnya. Ia mengkerutkan keningnya melihat raut wajah Abhizar yang sedang melamun seolah tengah berpikir keras.


"Kamu lagi mikirin apa?" Adji menoleh ke Zidan. Sedang Abhizar yang ditanya, bergeming.


"Abhi! Abhizar!" pekik Zidan.


Abhizar tersentak dan tersadar dari lamunannya. Dan segera menoleh ke arah Zidan.


"Kamu kenapa sih? Kayak berat banget beban hidupmu." Abhizar beralih menoleh Adji yang duduk di kursi belakang. Kemudian memperbaiki posisi duduknya.


"Apa kalian tidak merasa ada yang aneh dengan tampilan dan cara bicara Septy? Aku merasa ada yang tidak beres di dalam sana. Dan jujur saja, aku khawatir. Aku khawatir kalo Septy mendapatkan perlakuan buruk dari sesamanya tahanan."


Adji manggut-manggut mendengar ucapan Abhizar. Sedang Zidan semakin mengernyit dalam. Ia pun sempat berpikir seperti itu ketika melihat keadaan Septy tadi. Namun ia kembali berpikir mungkin karena sudah beberapa hari ditahan, makanya terlihat lesu dan tidak bersemangat.


"Sudah waktunya makan siang. Lebih baik kita mengisi kampung tengah dulu. Habis itu kita ke rumah sakit," ajak Zidan, membanting setir ke arah kanan menuju rumah makan Ananda.


Jarum jam menunjukkan pukul 12.55. Setelah makan dan melaksanakan ibadah shalat dzuhur, mereka pun lanjut ke rumah sakit tempat mamah Yati dan Anan dirawat.


Zidan telah memarkirkan mobilnya. Ketika mereka hendak melewati ruang IGD, alangkah terkejutnya Zidan dan Adji melihat mamah Santi dan pak Bagas berdiri dengan raut wajah sedih. Bahkan, paras mamah Santi telah banjir dengan air mata.


Ada apa?...


Tbc...


🌸🌸🌸


Tinggalkan vote dan like ya... 😘😘😘


Terima kasih πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2