
Hanya berselang sehari, Lexa pun berhasil diringkus oleh pihak berwajib. Dan itu semua tak lepas dari serangkaian drama yang panjang. Sebab Lexa berencana keluar negeri begitu ia tahu dirinya telah ditetapkan sebagai tersangka.
Tentunya, semua itu tidak lepas juga dari bukti dan kesaksian dari pak Dani. Salah satu dari enam orang suruhan Lexa untuk menculik Anan.
Pak Dani lah mengemudikan mobil yang menabrak Anan. Namun, secara teknis insiden tersebut tidak ada dalam rencana. Itu murni tidak sengaja.
Waktu itu pak Dani yang melajukan kendaraannya di atas rata-rata guna mengejar kendaraan yang dikemudikan oleh Zidan, tidak melihat Anan yang tiba-tiba memotong jalan. Pak Dani tak mampu menghindar, dan tabrakan pun tak terelakkan.
Dengan tertangkapnya Lexa, maka secara otomatis membuktikan bahwa Septy tidak bersalah dan dinyatakan bebas dari segala tuduhan.
Mamah Santi dan pak Bagas yang mendengar kabar baik tersebut pun sangat senang dan merasa lega. Dan segera menyampaikan kabar bahagia itu kepada putrinya.
Namun sayang, sepertinya Septy tidak begitu tertarik dengan kabar baik untuk dirinya itu. Sehingga membuat mamah Santi dan pak Bagas cemas serta khawatir dengan kondisi Septy saat ini.
Zidan yang mengetahui berita nihilnya kaitan antara Septy dengan kasus penculikan yang berujung penabrakan Anan ini pun merasa sangat bersalah dan menyesal. Ia segera beranjak meninggalkan ruang kerjanya setelah mendapat telepon dari Adji, dengan maksud menemui Septy untuk meminta maaf.
πΈπΈπΈ
Di rumah sakit Sandra Hospital.
Zidan menghampiri Septy yang terduduk di atas tempat tidurnya. Sebelumnya, mamah Santi sudah membeberkan kondisi psikis Septy kepadanya yang mengalami guncangan dan traumatik. Dan ia pun semakin merasa bersalah atas keadaan Septy yang rapuh saat ini.
"Septy... aku datang untuk meminta maaf. Aku benar-benar minta maaf karena telah salah menilaimu. Apalagi perlakuan aku beberapa hari yang lalu." Zidan berdiri di samping tempat tidur Septy.
Septy yang ditatap Zidan, bergeming. Ia sama sekali tidak merespon perkataan Zidan. Tatapannya hanya lurus ke depan, namun sangat hampa.
Zidan menghela nafas. Ia sungguh menyesal dan merutuki kekhilafannya. Ia juga tidak menyangka akan sebesar ini dampak dari perundungan yang dialami Septy selama di sel tahanan.
"Septy... mungkin ini terdengar naif, kalo kamu tidak bersedia memaafkan aku, itu terserah kamu saja. Tapi kamu jangan mengira aku tidak akan datang menemuimu lagi untuk meminta maaf. Apalagi sampai tidak memperdulikanmu. Kamu tau? Kalo sampai Anan tau masalah ini, aku pasti habis diomeli sama dia," terang Zidan seraya terkekeh kecil.
Septy tiba-tiba menoleh ke arah Zidan dengan tatapan sendu. Membuat Zidan sedikit lebih tenang, karena setelah beberapa menit barulah Septy mau menatapnya.
"Kamu tidak bersalah. Aku yang salah. Karena kecerobohanku, Anan sampai diculik." Manik Septy yang sedari tadi berkaca-kaca, kini telah meneteskan air mata.
"Anan juga temanku. Dan bahkan aku telah menganggapnya saudara. Aku tidak mungkin mencelakainya. Aku akui, dulu aku sering jahat padanya. Tapi itu dulu. Sekarang aku sudah sadar. Apa kamu percaya padaku? Aku bukan pembunuh... ." Septy menunduk dengan terisak.
Melihat keadaan Septy yang rapuh, menggugah Zidan untuk menenangkannya. Ia pun mendekati Septy dan merengkuhnya.
"Kamu jangan lagi menyalahkan dirimu sendiri. Semua telah terjadi. Kita berdoa semoga Anan segera siuman. Dan kamu juga tidak perlu mencemaskan Anan. Cukup kamu memperhatikan dirimu saat ini. Kasihan tante dan om. Mereka sangat mengkhawatirkanmu. Jadi, jangan biarkan mereka terbebani. Kamu mengerti?"
Septy mengangguk dalam dekapan Zidan.
"Jadi... kamu mau 'kan melupakan mereka yang telah jahat padamu? Menata kembali hidupmu dan kembali menjadi Septy yang ceria dan energik?"
Lagi-lagi Septy mengangguk, menuruti perkataan Zidan.
"Aku akan membawakan psikiater terbaik untuk kamu."
Pintu kamar rawat Septy terbuka. Di ambang pintu berdiri seorang pria dengan tatapan tidak suka.
"Ada apa ini? Ngapain kamu meluk-meluk dia?"
Zidan menoleh ke arah pintu sembari mengernyit. Lalu melepaskan rengkuhannya. Ia berusaha mengingat-ingat siapa pria yang dengan tajam menatapnya saat ini. Namun ia sama sekali tidak mengingat apa-apa, sebab ini adalah pertemuan perdana mereka.
__ADS_1
Septy menghapus air matanya lalu mengarahkan pandangannya ke Ammar yang bergerak maju mendekatinya.
"Kenapa kamu memeluknya?"
Zidan menatap Septy untuk mencari jawaban siapa pria yang bertanya padanya saat ini dan apa hubungan dia dengan Septy.
"Mm... Zidan, kenalkan dia Ammar, sepupu aku. Ammar, ini Zidan, teman aku."
Tatapan tajam Ammar ke Zidan tak lepas dari pantauan Septy.
"Ammar...?" tegur Septy yang tidak suka sepupunya itu bertingkah aneh.
Ammar pun mengulurkan tangannya dan disambut oleh Zidan.
"Ammar, calon suami Septy."
Ingin rasanya Zidan tertawa saat ini juga melihat ekspresi wajah Ammar yang tidak karuan. Ia pun menyadari kalau pria di hadapannya ini sedang cemburu.
"Dasar bucin. Coba aja yang duduk di atas brankar ini Anan, pasti aku kerjain habis-habisan cowok yang menyukainya." Zidan membatin.
"Ya udah, karena calon suami kamu udah datang, aku balik dulu. Ingat pesan aku!" Zidan mengacak halus rambut Septy kemudian berlalu dengan senyum mengejek ke Ammar. Ammar yang tidak terima dengan sigap ingin menyusul Zidan keluar ruangan.
"Ammar!!!" pekik Septy.
Ammar pun menghentikan langkahnya lalu menoleh.
"Jika kamu keluar selangkah saja, lebih baik kamu tidak usah datang lagi!" Ancaman Septy benar-benar manjur. Ammar memutar badannya dan melangkah menghampiri Septy.
πΈπΈπΈ
Namun senyum Zidan memudar ketika ia keluar dari lift dan hampir tiba di depan pintu ruang ICU. Ia berdiri mematung dengan sorot mata selidik. Netranya mengawasi setiap gerakan yang diciptakan orang yang ditatapnya saat ini.
Zidan mengkerutkan keningnya melihat gerak-gerik orang itu. Orang itu nampak bimbang. Antara ingin masuk atau tidak ke dalam ruangan itu.
Untuk yang ke tiga kalinya dari pantauan Zidan, orang itu kembali mengangkat tangannya hendak menekan gagang pintu. Tak lama, lagi-lagi diurungkannya.
Karena telah membulatkan tekad, orang itu pun membatalkan niatnya untuk masuk ke dalam ruang ICU tersebut.
Orang itu berbalik dan akan meninggalkan tempatnya berdiri. Membuat Zidan bergegas mencari tempat untuk bersembunyi agar tidak ketahuan. Ia pun bingung harus bersembunyi di mana.
Beruntung, ia melihat seorang petugas kebersihan yang datang dengan mendorong bak sampah berukuran besar lengkap dengan peralatan kebersihannya.
Ia pun berlari kecil ke arah petugas kebersihan tersebut lalu menghentikannya. Sebelum terlihat, ia segera berjongkok di balik bak sampah dan mengisyaratkan agar jangan ribut ke petugas kebersihan yang akrab disapa ibu Jum itu.
Dari balik bak sampah, Zidan dapat melihat orang yang dihindarinya berlalu melewatinya, kemudian masuk ke dalam lift.
"Memang benar papah. Tapi... mau ngapain papah tadi? Siapa yang hendak ditemuinya di ruang ICU? Setahuku, di dalam sana hanya ada satu pasien. Dan pasien itu, Anan. Apa mungkin mamah ada di dalam sana dan hendak menemuinya? Kalo memang papah mau nemui mamah, kenapa papah terlihat ragu-ragu? Lebih baik aku temui mamah dan menanyakan hal ini." Zidan bermonolog dalam hati.
"Tuan!" Zidan terkejut karena tiba-tiba dipanggil oleh ibu Jum yang juga berjongkok bersamanya.
Zidan menatap wanita paruh baya itu.
"Apa acara ngumpet-ngumpetnya udah selesai, Tuan?" tanya ibu Jum.
__ADS_1
Namun Zidan hanya melotot. Membuat ibu Jum yang kenalnya sejak setahun yang lalu itu, melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Zidan.
"Tuan! Saya ini manusia, Tuan. Bukan hantu. Ngapain Tuan melotot seperti itu. Ibu 'kan jadi serem, Tuan," ucapnya, bergidik.
Zidan menangkap tangan wanita yang sudah dianggap teman ngobrolnya itu dikala senggang dengan tangan kirinya.
"Husttt!" Zidan menempelkan jari telunjuknya di depan bibir ibu Jum. Membuat ibu Jum mengangguk tanda ia mengerti.
Ternyata Zidan baru saja melihat asisten papahnya yang juga berjalan masuk ke dalam lift, namun dari arah berlawanan.
"Tuan, mau sampai kapan jari telunjuk Tuan menempel di bibir Jum? Kalo Jum sih, selamanya juga Jum ridho kok, Tuan. Ikhlas banget malah," cicit janda beranak satu itu, tersipu.
Zidan menyadari telunjuknya masih di tempat yang sama, segera menariknya.
"Hedehhh... ibu Jum kebanyakan nonton drakor deh kayanya. Jadi ngehalu 'kan?"
"Hehehehe... Tuan tamvan tau aja," sahut ibu Jum, memukul pelan pundak Zidan.
"Eh! BTW... ini kita ngumpetnya sampai kapan, Tuan?"
Zidan mengernyit. "Kita? Yang ngumpet itu cuma aku bu Jum. Ibu Jum aja yang mau ikut-ikutan," sanggah Zidan.
"Hehehehe... 'kan bu Jum setia, Tuan. Tuan aja tidak sadar." Zidan memutar bola matanya. Ada-ada saja jawaban dari bu Jum.
"Mm... Tuan, itu... ."
"Itu, apa?" tanya Zidan sambil mengangkat bobot tubuhnya untuk berdiri.
"Anu, Tuan."
"Anu, apa?" Zidan benar-benar dibuat bingung oleh ibu genit namun baik hati ini.
"Ya udah, jongkok lagi deh, Tuan." Ibu Jum menarik Zidan, sehingga Zidan kembali berjongkok.
"Tadi, Jum tidak sengaja... ." Ibu Jum tampak berpikir.
"Tidak sengaja ngapain?" desak Zidan.
"Itu, Tuan... ."
"Aduh bu Jum. Kalo gini terus, ya tidak kelar-kelar nih urusan," protes Zidan.
"Hehehehe... ." Bu Jum hanya cengengesan.
"Ibu Jum yang cantik, secantik ratu kerokan... ."
"Korea, Tuan. Bukan kerokan," ralat bu Jum dengan mengerucutkan bibirnya.
"Iya-iya, itu dah pokoknya. Sekarang ceritakan, ada apa?" tanya Zidan, lembut.
"Karena Tuan sudah ngatain Jum cantik, kita ke kantin yuk! Kebetulan Jum lapar. Tuan traktir, ya!" ajak bu Jum dengan tersenyum lebar, menampilkan deretan giginya. Sedangkan Zidan mendengus kesal, namun menuruti juga keinginan bu Jum.
πΈπΈπΈ
__ADS_1
Vote, vote, vote... man teman...
ππππππ