
Keesokan harinya di kediaman tuan Wijaya.
Saat ini Lexa berada di rumah utama tuan Wijaya. Lexa berkunjung ke sana setelah mendapat telepon dari nyonya Clara.
Sengaja nyonya Clara mengajaknya bertemu karena masih belum yakin dengan mata dan telinganya. Di mana kemarin ia sempat melihat Anan berpanas-panasan dengan motor matiknya ditambah ocehan Lexa ketika menyebut nama Anan di telpon.
Jujur saja, nyonya Clara masih berharap Anan adalah gadis kaya yang akan berjodoh dengan putranya. Bukan seperti yang dikatakan Lexa ditelepon kemarin.
"Oo... jadi seperti itu?" tanya nyonya Clara, geram setelah mendengar cerita Lexa tentang Anan. Tentu saja, Lexa menambahkan hal yang tidak benar alias kebohongan sebagai penyedap ghibahannya terhadap Anan. Dan agar nyonya Clara semakin yakin dengan perkataannya.
"Iya Tante. Dan parahnya, dia mendesak Arya agar segera menikahinya. Yaa... meskipun bertunangan dulu. Itu kan dalihnya dia Tan, agar nanti dia bisa lebih leluasa terhadap Arya, sehingga rencananya untuk menguasai harta Tante semakin mudah." Sungguh kebohongan Lexa semakin membuat nyonya Clara tersulut emosi.
"Dasar cewek kampung tidak tau diri! Mana mau aku punya menantu jalang seperti dia. Apa dia pikir aku sama dia selevel, gitu? Mimpi! Aku kira dia memang anak orang kaya, tau-taunya hanya cewek gembel yang ingin jadi Cinderella. Sok pamer punya uang banyak beli berlian, ternyata hasil jual tubuhnya ke laki-laki tua berduit. Untung aku tau duluan."
Lexa menyeringai mendengar cibiran yang diucapkan maminya Arya itu kepada Anan. Ia sangat senang, senyumnya mengembang karena nyonya Clara kembali mendukungnya, dan membenci Anan.
"Makanya Tante, Tante jangan mau tertipu dengan penampilan luarnya dia. Tampangnya aja yang polos, tapi hatinya busuk."
Dari arah pintu, akses dari ruang keluarga ke taman samping dekat kolam renang, Dimas berdiri mematung seraya menatap nyonya Clara dan Lexa yang duduk menikmati teh hangat sambil berbincang-bincang.
Langkahnya yang hendak menemui nyonya Clara terhenti, karena tidak sengaja rungunya menangkap pembicaraan mereka. Meskipun tidak mendengar keseluruhan obrolan keduanya, namun Dimas dapat memahami dan mengetahui siapa yang menjadi topik dalam perbincangan antara nyonya Clara dan Lexa.
Karena tak ingin berlama-lama mendengar pembicaraan mereka yang tidak bermanfaat, Dimas kembali mengayunkan langkahnya menghampiri ibu dari sahabat sekaligus atasannya itu.
Dimas mendehem, membuat percakapan nyonya Clara dan Lexa terhenti dan keduanya menoleh ke arah Dimas.
"Maaf Tante, saya mengganggu waktu Tante. Saya ke sini disuruh om Wijaya mengambil berkas yang om simpan di laci nakas di kamar Tante," ucap Dimas menyapa nyonya Clara dan menyampaikan maksud kedatangannya.
"Kenapa papinya Arya tidak nelpon ke Tante?"
"Maaf Tante. Tadi om Wijaya sudah nelpon Tante berulang kali, tapi Tante tidak menjawab telponnya," sahut Dimas sopan.
"Oo... ya udah, Tante ambilkan dulu."
"Kalo gitu saya tunggu di dalam saja Tante."
Nyonya Clara mengangguk lalu berjalan menuju kamar tidurnya.
Dimas menatap tajam Lexa sebelum melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.
"Orang itu kenapa sih? Natap aku kayak maling aja. Kita liat aja, nanti setelah aku jadi Nyonya Arya, pemilik dari Wima Group, apa kamu masih bisa menatapku seperti itu? Aku akan membuatmu bersujud di kakiku. Huh!" gumam Lexa sepeninggal Dimas.
Setelah mendapatkan berkas yang dimaksud, Dimas pun bergegas kembali ke perusahaan Wima Group.
"Maaf ya Lexa, Tante Tinggal sebentar tadi," Kata Nyonya Clara.
"Tidak apa-apa Tante, lagian aku juga udah mau pulang," sahutnya Lexa, tersenyum.
"Loh, kok buru-buru."
"Biasa Tan, hari ini aku ada pemotretan."
"Ya udah, hati-hati di jalan."
"Iya Tan, bye." Lexa pun melenggang meninggalkan kediaman orangtua Arya.
Lexa mengemudikan kendaraannya menuju lokasi pemotretan. Dering ponselnya mengalihkan fokusnya. Ia pun segera meraih androidnya itu kemudian menjawabnya.
"Iya?"
"Tapi ingat, jangan sampai kalian meninggalkan jejak. Aku tidak mau karena kebodohan kalian, semua usahaku sia-sia. Satu lagi, jika sampai terjadi sesuatu akibat misi ini, kalian tau kan, apa yang harus kalian lakukan?"
__ADS_1
"Bagus!"
"Tentang saja, sisanya aku transfer setelah kalian menyelesaikan misinya."
Dan sambungan pun terputus.
\*\*\*
Di tempat terpisah.
Dua insan manusia tengah berbahagia. Sebab, dua bulan ke depan, mereka akan resmi menjadi pasangan suami istri. Mereka adalah Idham dan Salma.
Ya, ternyata selama ini, Idham dan Salma saling memendam rasa cinta dan sayang yang sama. Hanya saja, diantara keduanya tidak ada yang mau mengungkapkannya.
Kalau Salma jelas, sebagai seorang gadis pastilah malu untuk menyatakan perasaannya terhadap lawan jenisnya.
Hal inilah yang menjadikan Idham betah berlama-lama di negeri orang. Memikirkan Salma membuat rasa cintanya semakin bersemi memenuhi rongga hatinya. Lalu bagaimana jika setiap hari harus melihatnya?
Sulit dipungkiri. Mereka adalah tetangga. Yang ketika Idham melihat Salma, maka rasa kagum serta merta menyusup masuk ke dalam relung hatinya. Segala apa yang ada pada diri Salma adalah sesuatu yang diidam-idamkannya. Hal inilah yang membuat Idham mendamba dan semakin jatuh cinta kepada Salma.
Tak ayal, ia kerap meminta tolong kepada sang adik, Adji, untuk mengirimkan foto Salma sebagai pembunuh rindu. Dan foto inilah yang dilihat Salma di layar ponsel Idham beberapa hari lalu.
Namun, karena dorongan dari dalam hati, menjadikan Idham berani menghadapi apapun yang akan terjadi. Ia pun bertolak ke Indonesia dan memantapkan diri untuk menetap, demi sang pujaan hati.
Tanpa diketahui oleh keluarganya, Idham sering menyempatkan diri ke pondok pesantren bertemu dengan Kiai Abid Abdullah, abah dari Salma sekaligus pemilik dari pondok pesantren untuk mempelajari agama Islam.
Karena sering bertemu, Idham menjadi dekat dengan abah Salma. Ia juga tahu sedikit banyaknya tentang sifat dan katakter yang dimiliki Kiai tersebut. Dari pendekatan inilah, ibadah Idham semakin baik dan sempurna sehingga Idham optimis bisa mendapatkan Salma.
Namun begitu, bukan karena Salma ia ingin mempelajari agama Islam, tapi tekad kuat dan keyakinannya kepada sang Khalid, membuat Idham bersungguh-sungguh memperdalam pengetahuannya tentang agama Islam. Salma dan abahnya adalah jalan yang membuatnya lebih dekat dengan sang Pencipta.
Dan tepat dihari ini, Idham resmi melamar Salma. Idham yang melamarnya dadakan, tidak hanya membuat Salma kesal, tapi juga Anan dan Rara. Betapa tidak, tanpa pemberitahuan sebelumnya, tiba-tiba Idham dan kedua orangtuanya datang dengan maksud meminang Salma. Sehingga dari pihak Salma tidak mimiliki persiapan apapun untuk menyambut lamaran tersebut.
__ADS_1
Walapun hanya alakadarnya dan terkesan sederhana, namun acara lamaran tetap berlangsung khidmat dan lancar.
"Cieee... akhirnya jadi juga calon emak-emak," celetuk Rara setelah acara selesai dan kedua belah pihak tengah menikmati makanan yang dipesan dadakan pada salah catering yang ada di kompleks serta aneka kue yang berasal dari toko kue Anan.
Mendengar celetuk Rara, Salma hanya menunduk tersipu malu. Sedangkan Idham menatapnya dengan tersenyum tipis.
"*Lucunya... calon istriku*," gumam Idham membatin.
"Alhamdulillah, itu artinya tidak lama lagi akan ada yang memanggil kita berdua tante," tutur Anan dengan senyum mengembang.
"Kalian berdua ini ngomong apa sih. Aku malu tau," ucap Salma setengah berbisik.
"Tunggu deh, kok perasaan ada yang kurang ya?" Anan celingak-celinguk mencari keberadaan Adji.
Tadinya ia berpikir mungkin Adji akan datang telat, namun sudah lebih dari sejam Adji belum juga menunjukkan batang hidungnya.
Kemana Adji?
Di mana ia kini berada?
Mengapa acara lamaran dari kakak kandungnya ia tidak hadiri?
Ada apa sebenarnya?
πΈπΈπΈπΈπΈ
Terima kasih telah membaca bab ini. Semoga para pembaca budiman terhibur.
Baca juga karya author lainnya.
~ Jiwaku bukan Jiwaku
Jangan lupa untuk selalu duku author ya...
Love uπππ
__ADS_1