
Setelah tiba di pekarangan rumah berlantai dua itu, manik Adji pun dapat menyaksikan gadis yang hendak ditemuinya tengah digiring oleh dua orang polisi wanita dengan tangan yang telah terborgol keluar dari rumah gedongan itu.
"Bu polisi, tolong jangan bawa anak saya. Anak saya tidak bersalah, Bu. Saya mohon, lepaskan anak saya," minta mamah Santi yang berlinang air mata. Merengek seperti anak kecil kepada polisi yang menjemput putrinya.
Adji termagu di tempatnya. Ia pun tidak menyangka akan secepat ini polisi bertindak. Niatnya menyambangi Septy di rumahnya untuk mempertanyakan hubungan antara rekaman audio yang didapatnya dari kepolisian dengan kecelakaan yang dialami Anan.
Tak dapat ia pungkiri, ia sangat berharap Septy tidak terlibat dengan kejadian nahas yang menimpa Anan kali ini. Bukan apa-apa, Adji hanya menyayangkan jika gadis seperti Septy membuang-buang masa mudanya dan hanya mengisinya dengan hal-hal yang sia-sia saja.
Pak Bagas yang memegang kedua bahu mamah Santi, sibuk menenangkan istrinya yang masih syok.
"Bu polisi, sebenarnya apa kesalahan putri kami? Kami yakin putri kami tidak bertindak diluar aturan. Lalu kenapa dia harus dijemput paksa begini?" tanya pak Bagas, papah Septy, yang juga terkejut akan kedatangan beberapa orang polisi ke rumahnya.
"Kalo yang itu, biar putri bapak jelaskan di kantor. Kami hanya menjalankan tugas, Pak. Mohon kerja samanya," kata polisi yang berdiri di samping Septy.
"Sudah, Mah, Pah. Septy tidak apa-apa. Mamah dan Papah harus percaya, Septy tidak bersalah. Izinkan Septy ikut mereka."
Septy benar-benar tegar menghadapi masalah yang menimpanya kali ini. Berbeda 180Β° bila dibandingkan saat pertama kali ia dibawa ke kantor polisi oleh polisi yang bertugas waktu itu.
Bahkan sesekali ia menampilkan senyumnya kepada kedua orangtuanya. Tak ada air mata di paras cantiknya. Walau wajahnya sedikit kusam karena kurang tidur, ia tetap manis dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Justru mamahnyalah yang sibuk mengeluarkan cairan bening dari pelupuk matanya itu.
"Aku jadi yakin, kali ini Septy benar-benar tidak bersalah," gumam Adji dalam hati.
Ia lalu melangkah menghampiri Septy dan orang-orang yang ada di sana.
"Maaf mengganggu. Aku temannya Septy. Apa boleh aku ikut ke kantor polisi?" minta Adji, melirik sepintas ke arah Septy. Sedang Septy hanya menundukkan kepalanya. Bukan karena malu dilihat Adji, tapi ia tidak mau Adji semakin benci kepadanya, sama seperti Zidan membenci dirinya.
Polisi itu pun mengangguk, mengizinkan Adji mengikuti mereka ke kantor polisi.
"Tante ikut ya, Nak," minta mamah Santi ke Adji.
Septy mengangkat kepalanya, menghadap mamahnya.
"Tidak, Mah. Lebih baik Mamah di rumah saja." Septy mendekati mamahnya yang dibanjiri air mata. Lalu mengusap pelan air mata di pipi wanita yang telah melahirkannya itu.
__ADS_1
"Percayalah, putri Mamah pasti segera pulang." Septy meraih tangan mamahnya seraya tersenyum, lalu mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
"Septy hanya minta doa Mamah." Kemudian beralih menatap polisi wanita tadi.
"Ayo, Bu," ucapnya.
Air mata mamah Santi semakin deras. Meski tak mengeluarkan suara tangis, namun isakan yang sesekali terdengar dapat memberi tahu pendengarnya bahwa mamah Santi tengah bersedih.
"Sudah, Mah. Papah yakin, putri kita tidak bersalah." Pak Bagas memeluk tubuh istrinya guna menenangkannya.
"Lihat putri kita. Ia sama sekali tidak terlihat sedih atau bahkan takut. Karena apa? Karena putri kita tidak bersalah. Percayalah, putri Mamah tidak salah apa-apa." Pak Bagas melonggarkan pelukannya.
"Mamah percaya 'kan sama Septy?" Mamah Santi mengangguk yang juga sesegukan.
"Ya sudah. Lebih baik kita berdoa, semoga anak kita diberi kekuatan dan jalan keluar. Sehingga anak kita yang tidak bersalah dapat segera dibebaskan," saran pak Bagas, menghapus jejak air mata di wajah mamah Santi.
Di perjalanan menuju kantor polisi, Adji yang masih memikirkan nasib Septy selanjutnya, tersentak begitu ponsel yang di simpannya di saku celananya berdering.
Ia lalu merogoh benda pipih itu dan melirik sekilas nama yang tertera pada layarnya. Detik berikutnya, ia menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponselnya ke atas.
Belum sempat Adji menjawab, Zidan kembali bertanya. "Ngapain kamu ketemu Septy? Apa sekarang kamu memutar haluan mendukung dia?" Zidan menuduh Adji.
"Heduuhhh... aku belum sempat berguru cara menghadapi pemuda yang baperan. Aku harus gimana? Ah... ngomong apa adanya aja," gumam Adji membatin yang terheran-heran dengan sifat baru Zidan itu.
"Sekarang aku menuju ke kantor polisi. Aku menemani Septy. Aku... ."
"Ngapain kamu menemani penjahat seperti dia? Apa kamu sudah lupa apa yang terjadi dengan sahabatmu?" Zidan memotong kalimat Adji dengan meluap-luap. Sungguh Zidan marah mengetahui dari Idham bahwa Adji pergi menemui Septy.
"Dan, tenanglah. Aku hanya ingin mencari tau kebenarannya saja. Lagian, kita tidak bisa serta merta langsung menjadikan Septy sebagai tersangka. Belum tentu juga Septy bersalah. Iya 'kan?"
"Ah... sudahlah. Terserah kamu aja!" Zidan yang tidak terima perkataan Adji, langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
"Zidan! Zidan!" panggil Adji di hadapan ponselnya.
__ADS_1
Karena tidak mendapat sahutan, Adji lalu meletakkan asal ponselnya di kursi yang ada di sampingnya.
"Dasar Zidan! Udah baperan, emosian pula. Haduhh... untung kamu anaknya tante Sandra, coba kalo bukan, udah aku jitak tuh kepala kamu pake pentungan hansip kompleks." Sepanjang jalan Adji terus mengoceh tentang sifat Zidan. Dan kadang diselingi kekehan kecil karena merasa lucu sendiri.
***
Di tempat terpisah.
"Hahahaha... ." Tawa bahagia Lexa membahana memenuhi ruang kamarnya. Ia puas dengan cara kerja orang-orang suruhannya.
"Dasar orang-orang bodoh! Diiming-iming sedikit aja, udah hilang aja tuh otak. Mereka pikir, mereka siapa? Ya kali, aku akan menanggung semua biaya hidup keluarga kalian. Bisa habis dong, aku. Busuk, busuk deh kalian di penjara."
Lexa menggigit potongan buah apel seraya duduk bersandar di sofa dalam kamarnya. Setelah buah apel dalam mulutnya habis, ia meraih gelas beisikan air mineral lalu meminumnya.
"Dan untuk kamu, Septy. Jangan salahkan aku yang tidak punya hati. Tapi salahkan saja nasibmu yang kurang beruntung," ucapnya dengan gelas yang masih di tangannya.
"Nikmatilah kesombonganmu di penjara. Ini akibatnya jika membangkang padaku." Lexa pun menghabiskan air dalam gelas yang dipegangnya kemudian meletakkannya di atas meja.
Tak berselang lama, ponsel yang ia simpan di atas tempat tidur mendapat satu notifikasi. Ia pun beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati ponselnya.
[Bersiaplah! 15 menit lagi aku tiba. Hari ini sampai dua hari ke depan, kita akan melakukan pemotretan di Bali]
Isi pesan chat yang diterima Lexa pada smart phone nya.
Ia lalu menatap pantulan dirinya pada cermin.
"Lihatlah! Betapa beruntungnya diriku. Tidak seperti kalian. Kamu Anan, terbaring lemah di rumah sakit. Dan kamu Septy, mungkin berbaring aja kamu akan kesulitan. Kasihan banget sih hidup kalian!"
Setelah puas menatap cermin, ia pun masuk ke kamar mandi dan segera bersiap-siap.
Tbc...
πΈπΈπΈ
__ADS_1
Jangan pernah bosan tuk vote, like, dan komen ya... π€π
Sungguh kalian rruuaaarrr biasa... ππ