
Keesokan harinya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membawa Anan yang sedang menikmati udara pagi di balkon kamarnya menuju ke arah pintu.
Belum sempat Anan meraih gagang pintu, terdengar suara seseorang yang berdiri di depan pintu.
"Ini Tante, Nan. Boleh Tante masuk?" minta tante Yani.
"Masuklah, Tante," sahut Anan begitu pintu sudah terbuka.
"Sini, Nak! Ada yang ingin Tante bicarakan." Tante Yani menuntun Anan duduk di tepi tempat tidur.
"Ada apa, Tante?" tanya Anan.
"Nan, Tante sayang sama kamu, Nak. Tante tidak mau kamu kenapa-kenapa. Jujur, Tante sedang mengkhawatirkanmu."
"Maksud, Tante?" tanya Anan, mengernyit.
"Bagaimana bekas operasi ginjal kamu? Apa masih terasa sakit?"
"Anan baik-baik saja, Tante. Tante tidak usah khawatir." Anan mencoba menyembunyikan sakitnya.
"Kamu jangan menyembunyikannya, Nak. Tante tahu, semenjak kejadian kemarin, kamu sering Tante lihat memegang bagian perutmu. Bahkan di saat makan malam, kamu lagi-lagi meringis sambil memegang perutmu. Apa kamu masih merasa sakit? Kalau memang kamu merasa kurang nyaman atau nyeri, kita sebaiknya ke rumah sakit. Agar rasa sakitnya tidak bertambah parah."
Tanpa mereka sadari, mamah Yati yang hendak pamit ke toko kue mendengar seluruh pembicaraan mereka.
Mamah Yati tersentak ketika mendengar tentang 'operasi ginjal'.
Ia pun menunggu dan tak mau mengganggu Anan dan tante Yani. Bukan maksud menguping. Akan tetapi ingin memperjelas apa yang barusan didengarnya. Sebab, jika ia menampakkan diri di depan keduanya, bukan tidak mungkin mereka malah mengalihkan pembicaraan.
"Apa operasi ginjal yang mereka bicarakan ada hubungannya dengan operasi ginjalku?" tanya mamah Yati dalam hati.
Untuk sesaat, mamah Yati membayangkan jika benar hal tersebut ada kaitannya dengan operasi ginjalnya. Seketika ia menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau jika itu sungguh terjadi.
Dengan langkah pasti, mamah Yati hendak masuk ke kamar putrinya untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaannya itu. Namun, kedatangan Rasmi menghentikan langkahnya.
"Mah!" panggil Rasmi setengah berteriak dari ujung tangga bawah.
Tentu saja bukan hanya mamah Yati yang mendengarnya, tante Yani pun mampu mendengarnya, meski samar. Begitupun dengan Anan.
Tante Yani dan Anan keluar kamar. Dan mendapati mamah Yati yang masih berdiri di tempatnya semula.
"Eh, Mbak!" seru tante Yani, membuat mamah Yati yang tadinya menoleh ke Rasmi beralih kepadanya.
"Em, Mbak cuma mau pamit ke toko bersama Rasmi." Mamah Yati sedikit gugup, seolah dirinya telah dipergoki melakukan kesalahan.
"Oh, kalau gitu hati-hati di jalan, Mbak," ucap tante Yani. Sedangkan Anan menjabat tangan mamahnya lalu menciumnya.
__ADS_1
Dari ekspresi wajah mamah Yati, tante Yani menangkap sesuatu yang janggal. Meski ia sendiri tidak jelas, namun ia bisa menerka-nerka.
"Ada apa dengan mbak Yati, kok aku merasa aneh? Apa mungkin mbak Yati mendengar pembicaraanku dengan Anan tadi, ya?" Tante Yani menggumam dalam hati sambil menatap mamah Yati menuruni tangga.
"Tante!"
Panggilan Anan membuat tante Yani tersentak dan menoleh kepada Anan.
"Eh, maaf. Ya sudah, Tante ke bawah dulu, ya."
Padahal Anan ingin memastikan sesuatu ke tante Yani. Tapi tante Yani keburu pergi meninggalkannya.
"Semoga saja mamah tidak mendengar pembicaraan tadi," harapnya. Kemudian kembali masuk ke kamarnya.
🍒🍒🍒
Dalam perjalanan menuju toko kue, mamah Yati tak henti memikirkan operasi ginjal yang dibicarakan adik dan putrinya tadi. Bahkan sudah sampai di depan toko pun mamah Yati masih bergeming. Tak beranjak sedikit pun dari duduknya di atas motor yang dikemudikan oleh Rasmi.
Rasmi menoleh dan mendapati mamah Yati tengah melamun.
"Sudah sampai, Mah."
Mamah Yati tetap pada posisinya. Rasmi pun menggerakkan tangannya dan berhasil menyentuh lutut mamah Yati.
"Mah, kita sudah sampai di toko."
Barulah mamah Yati tersentak dan menyadari keberadaan dirinya saat ini.
"Tidak biasanya mamah Yati seperti ini." Rasmi menghela nafas panjang kemudian memarkirkan motornya.
🍒🍒🍒
"Mamah sakit?" tanya Rasmi disela ia menghiasi kue tart pesanan pelanggan.
"Tidak. Mamah baik-baik saja." Mamah Yati menjawab tanpa menoleh Rasmi. Saat ini, ia pun sibuk dengan adonan kue di depannya.
Namun jawaban yang diberikan oleh mamah Yati sama sekali tidak sesuai dengan keadaan yang terlihat oleh manik Rasmi.
Rasmi mengerutkan keningnya. Menatap dalam mamah Yati.
"Sudah, Mamah tidak apa-apa. Lanjutkan pekerjaanmu saja." Mamah Yati menyadari tatapan Rasmi setelah menoleh sekilas.
Jarum jam menunjukkan pukul 12 siang. Atika yang hendak keluar untuk membeli makan siang, terhalang oleh kedatangan Zidan dengan dua kantong kresek di tangannya.
"Itu pasti makan siang untuk kami," tebaknya senyam-senyum, dengan mata berbinar-binar.
"Kamu ini, giliran makanan saja tebakanmu selalu benar. Ini!"
Atika nyengir sambil meraih kantong plastik berwarna putih itu dari tangan Zidan, dan membawanya ke pantry.
__ADS_1
"Kamu belum berangkat, ya?!" tanya Rasmi begitu Atika menyembul di ambang pintu pemisah antara ruang etalase dengan dapur.
"Tidak jadi." Atika berjalan melewati Rasmi tanpa menoleh.
"Lalu itu, apa?" tanya Rasmi yang menyaksikan sepupunya itu sibuk dengan kantong kresek yang diletakkannya di atas meja.
"Makan siang kita." Lagi-lagi Atika menjawab tanpa menoleh sebab tengah bahagia menyiapkan menu makan siang di atas piring.
Rasmi masih ingin bertanya, tapi urung karena kedatangan Zidan.
"Aku yang bawa." Seolah tahu pertanyaan apa yang ada di kepala Rasmi.
"Oo... pantas saja anak itu bahagia," sindir Rasmi, melirik Atika dengan ekor matanya.
Rasmi tahu betul bahwa semua menu yang disajikan di restoran milik Zidan adalah kesukaan Atika. Makanya Atika sangat senang begitu tahu Zidan datang dengan membawa makanan. Sudah bisa ia pastikan bahwa itu dari restoran 'Ananda'. Sesuai dengan tulisan yang tertera pada kantong plastiknya.
Seketika Atika menoleh kakak sepupunya. "Jadi ceritanya kak Rasmi tidak bahagia, gitu? Padahal harusnya kan kak Rasmi yang paling bahagia di antara kita. Apalah arti makanan ini dibandingkan dengan kehadiran pujaan hati," ledek Atika.
"Tidak seperti diriku, yang hanya mampu mencintai dalam diam tanpa dicintai. Sungguh kasihan diriku," lanjut Atika yang berakting sedih di hadapan Zidan dan Rasmi. Namun siapa yang mengira bahwa itu merupakan curahan isi hatinya.
Ya, Atika mencintai Abhizar dalam diam. Walau usianya terpaut jauh, tapi itu bukan masalah baginya. Meski tidak dianggap, ia tidak surut sedikitpun.
"Kenapa? Salah, ya?" Atika membalas pelototan Rasmi, membuat Rasmi kesal namun wajahnya bersemu merah menahan rasa malu.
"Mamah ke mana?" tanya Zidan, menghentikan olokan Atika terhadap Rasmi. Lalu duduk di hadapan Rasmi yang sedang mengemas kue pesanan pelanggan.
"Mamah Yati sedang shalat dzuhur di lantai atas." Rasmi menjawab tanpa melirik Zidan. Namun sedetik kemudian ia menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah Zidan.
Zidan mengernyit ditatap tiba-tiba.
"Kenapa?" tanyanya.
"Itu... mamah Yati hari ini agak aneh. Maaf, Kak, maksud aku... aku melihat mamah Yati termenung tadi. Seolah mamah Yati kepikiran sesuatu. Aku sudah mencoba bertanya keadaannya, tapi mamah Yati bilang tidak apa-apa. Tapi, aku yakin mamah Yati menyembunyikan sesuatu."
Zidan mendengar kata demi kata yang diucapkan oleh Rasmi sembari memikirkan sekiranya apa saja yang bisa menjadi beban pikiran mamah Yati saat ini.
"Cobalah bicara dengan mamah Yati, Kak. Mungkin saja kepada Kakak, mamah Yati mau menceritakan semua keluhannya."
Zidan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Baiklah, nanti aku coba. Tapi, di luar dari itu semoga mamah benar baik-baik saja."
"Iya, Kak. Aku pun berharap begitu," timpal Rasmi.
🍒🍒🍒🍒🍒
Aduh.... author benar-benar Minta maaf karena up nya lamaaaa banget. Tolong dimaklumi ya readers kesayangannya author. Sungguh, author pun tidak mengharapkan ini. Tapi, mau gimana lagi, author juga manusia biasa yang punya segudang urusan dan permasalahan. Eh, jadi curhat. Xixixi.... Pokoknya begitulah.
Lagi-lagi author berharap, semoga para pembaca BKM senantiasa setia dan sabar menanti update terbaru kisah Anan.
__ADS_1
Ingat selalu untuk like, komen, dan share kisah Anan ini ke teman2 medsos kalian ya. Terima kasih. 🙏
Salam sayang author dan salam sehat selalu.