Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 18


__ADS_3

Setelah keluar dari lift, posisi tangan Zidan masih sama sebelum memasuki lift. Walaupun Anan meronta berusaha lepas, namun sama sekali tidak dipedulikan Zidan.


Sampailah mereka di depan pintu ruang perawatan mamah Yati, barulah Zidan melepaskan genggamannya.


"Awas kalo kamu ulangi lagi!" ancam Anan ke Zidan lalu membuka pintu.


Sedang yang diberi ancaman hanya terkekeh, gemas melihat wajah kesal Anan. Lalu mengikutinya.


"Dia siapa sayang?" tanya mamah Yati begitu melihat kedatangan Zidan.


Belum sempat Anan menjawab, Zidan maju mendekati mamah Yati, meraih serta mencium punggung tangannya.


"Aku Zidan bu, temannya Anan," sahut Zidan memperkenalkan diri tanpa melepas tangan mamah Yati.


Mamah Yati menatap lekat Zidan dan meraba sebagian wajahnya. Entah mengapa, melihat wajah Zidan, mengingatkannya pada suaminya beberapa tahun silam.


"Jangan panggil ibu, panggil mamah saja," ucapnya, membuat Anan melongo.


Tapi tidak dengan Zidan yang justru senang dengan ucapan mamah Yati, yang entahlah, Zidan sayang kepada mamah Yati sejak pertama bertemu.


"Hah..! Sahabat aku aja udah kenal mamah bertahun-tahun cuma panggil tante. Lah, dia baru kenal beberapa menit sudah diizinin panggil mamah. Hebat sekali dia!" batin Anan.


"Mulai sekarang aku punya dua mamah," celetuk Zidan lalu berbalik menghadap Anan. "Dan kamu, saudara perempuanku. Jadi kamu harus nurut apa kata aku.


"Hah? Ya kali kalo situ kakak, tapi kalo adik, siap-siap aja terima perintah dari aku," celetuk Anan tak mau kalah.


"Aku seorang kakak ataupun adik, aku akan tetap melindungimu," timpal Zidan membuat Anan terdiam dan menatap lekat Zidan dengan tatapan menyelidik.


Mamah Yati yang mendengar ucapan Zidan merasa bahagia. Melihat kedekatan mereka, seolah menyaksikan dua orang bersaudara kandung yang saling menyayangi. Dalam hati mamah Yati bersyukur, ada yang bersedia melindungi putri semata wayangnya.


"Maksud kamu apa, ngomong seperti itu?" tanya Anan dengan bersedekap.


Bukannya menjawab, Zidan malah berjalan mendekati Anan, lalu mengarahkan kepala Anan ke kiri dan ke kanan seolah mencari sesuatu di sana. Zidan yang memiliki tinggi 186 cm, sungguh tidak kesulitan dalam menjangkau kepala Anan yang hanya memiliki tinggi 165 cm.


Anan menepis tangan Zidan dengan kesal. "Kamu cari apaan sih?" tanyanya sambil merapikan rambutnya yang teracak akibat ulah Zidan.


"Aku mencari sesuatu yang biasa digunakan untuk berfikir di kepalamu, tapi sepertinya aku tidak menemukannya," jawabnya dengan terkekeh dan santai.


"Otak itu di dalam tengkorak kepala, bukannya di luar. Dasar resek!" celetuk Anan benar-benar kesal lalu melangkah menuju sofa yang ada di sana kemudian duduk dengan bersila dan meraih remote tv kemudian menyalakannya.

__ADS_1


Zidan pun ikut duduk di samping Anan. "Lagian, bukannya sudah jelas ya, mamahmu aku panggil mamah juga. Itu artinya secara tidak langsung, kamu jadi saudaraku. Dan sebagai saudara, wajib saling melindungi. Iya kan mah?" Zidan menjabarkan lalu bertanya ke mamah Yati.


"Iya nak. Malah mamah liatnya, kalian berdua itu sudah seperti saudara kandung. Dan mamah sangat senang melihat kedekatan kalian," sahut mamah Yati yang sejak tadi tak henti tersenyum menyaksikan tingkah mereka. Sedangkan Anan diam saja dan terkesan cuek dengan penuturan Zidan.


"Ini rantang apaan?" tanya Zidan sambil meraih dan membuka rantang yang ada di atas meja di depannya, tanpa mendengar ada jawaban dari Anan.


"Wahh..makanan enak nih, sayang kalo tidak dihabiskan," celetuk Zidan mencoba meraih perhatian Anan yang sedari tadi tidak meresponnya.


Berhasil! Anan menoleh dan berdiri lalu menepuk punggung tangan Zidan yang hendak menyentuh makanan di salah satu rantang tersebut.


"Pelit amat sih!"


"Sana, ambil peralatan makan!" titah Anan.


"Oke," sahut Zidan lalu bergegas mengambil peralatan makan untuknya juga untuk Anan.


Mereka pun makan dan sesekali diselingi dengan obrolan serta cadaan ringan. Tentu pemandangan itu tak lepas dari tatapan mamah Yati yang teduh. Hatinya terenyuh, manik matanya mengeluarkan cairan bening. Bukan karena sedih, tapi karena bahagia.


***


Tiga minggupun telah berlalu. Dan sudah tiga minggu pula Arya mendekati serta menaruh perhatian lebih ke Anan. Sebut saja misalnya, Arya menjadi intens menanyakan kabar dan keberadaan Anan, mengirimi atau bahkan membawakan bunga lili putih kesukaan Anan, menanyakan keadaan mamahnya, serta mengantar ataupun menjemput Anan, meskipun sebenarnya Anan merasa risih dengan perlakuan Arya yang menurutnya berlebihan terhadapnya, namun Anan tak mau mengatakannya karena tak ingin membuat Arya kecewa.


Mamah Yati pun rutin melakukan prosedur cuci darah, walaupun ada sedikit rasa jenuh dan lelah yang menghinggapi dirinya, tapi ia selalu berusaha semangat demi putri kecilnya, Anan. Ya, meskipun Anan telah dewasa, namun tetaplah putri kecil bagi mamah Yati.


Mamah Yati sering minta untuk rawat jalan saja. Selain bosan, juga karena takut tidak mampu membayar biaya rumah sakit. Tapi tidak di izinkan oleh Anan dan Zidan. Menurut Zidan, mamah Yati tidak perlu memikirkan soal biaya, apalagi Anan sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan tugas dan mempersiapkan diri menghadapi ujian meja. Tentu tidak akan ada yang bisa menjaga dan merawat mamah Yati jika berada di rumah. Dan Anan pun setuju dengan itu.


Lalu hubungan Anan dengan Arya?


Mereka semakin dekat namun dalam batas yang wajar. Mengingat, Arya adalah dosen Anan. Dan sebutan mereka berduapun tidak berubah. Anan tetap memanggil Arya dengan sebutan 'pak'. Walaupun sebenarnya Anan mulai menyukai Arya dan membuka hatinya untuk Arya. Dan Arya pun dapat melihat hal itu. Hingga membuat Arya semakin puas atas usahanya meluluhkan Anan. Dengan demikian, rencananya untuk membalas semakin mudah.


Dan akhirnya, tiba juga hari yang sangat di nanti-nantikan oleh Anan dan sahabat-sahabatnya. Dimana hari ini adalah hari acara wisuda bagi mereka yang dinyatakan lulus.


Ponsel Anan berdering ditengah kesibukannya menata rambut dan make up di wajahnya. Iapun segera meraih gawainya itu, dan panggilanpun tersambung.


"Assalamualaikum." ~Anan.


"Waalaikumsalam. Kamu butuh aku jemput tidak Nan?" ~Rara.


"Tidak, tidak perlu. Kami diantar Zidan kok." ~Anan.

__ADS_1


"Oh..begitu. Ya udah, kita ketemu di hotel Shantika. Assalamualaikum." ~Rara.


"Waalaikusalam." ~Anan.


Rara dan sahabat Anan lainnya telah mengenal Zidan. Jadi, Rara tidak akan bertanya lagi siapa itu Zidan.


Zidan telah tiba di ruang perawatan mamah Yati. Dan hanya mendapati mamah Yati dan juga Rasmi yang sedang membantu mamah Yati memasang kerudung.


"Anan mana mah?" tanyanya ke mamah.


"Lagi dandan di kamar mandi," jawab mamah ramah yang telah siap untuk berangkat.


"Udah lama?" tanyanya lagi.


"Lumayan. Biasalah, anak gadis," sahut mamah.


Zidan pun berjalan mendekati pintu kamar mandi dan menggedor-gedornya. Biasa, jiwa jailnya muncul lagi.


"Ngapain dandan lama-lama, tidak bakalan berubah tuh muka. Atau jangan-jangan kamu mirip topeng monyet ya, makanya tidak mau keluar, malu soalnya!" usil Zidan sambil terkekeh.


Tidak lama kemudian, pintu kamar mandi pun terbuka. Seketika kekehan Zidan menghilang, terganti oleh decakan kagum di bibirnya.


"Wah..bidadari keluar dari kamar mandi..ckckck." Zidan tak henti menatap kagum ke Anan.


"Awas, itu mata offside. Auto suka lagi. Ih..tidak banget!" ledek Anan seraya berlari kecil ke arah mamah Yati.


"Iddih..siapa juga yang suka sama kamu, kamu itu bukan tipe aku," sergah Zidan sambil menghapiri Anan.


"Eh, jangan salah ya Mr. Resek yang teramit-amit. Gini-gini juga ada yang suka," balas Anan. Benar-benar dah, mereka berdua ini udah kayak Tom dan Jerry di film kartun.


"Ada yang suka? Siapa coba?" tanya Zidan dengan ekspresi meledek.


"Itu, dosen ak... ," sahut Anan terpotong karena buru-buru menutup mulutnya setelah menyadari sesuatu.


Zidan mengernyit dan memicingkan matanya menatap Anan penuh selidik. Sedangkan mamah dan Rasmi hanya terdiam dengan pemikiran mereka masing-masing.


"Kita berangkat sekarang yuk, soalnya aku tak mau datang terlambat," ucap Anan segera mengalihkan. Zidan pun mengangguk di ikuti mamah Yati.


Zidan mendorong kursi roda mamah Yati. Disaat mereka berada di lobi, mereka berpapasan dengan dokter Sandra yang baru saja tiba.

__ADS_1


"Loh, pasien mamah mau dibawa kemana sayang?" tanya dokter Sandra ke Zidan.


Anan dan mamah Yati yang mendengar pertanyaan dokter Sandra terkejut dan saling bertukar pandang. Bukan karena maksud pertanyaannya, melainkan adanya kata 'mamah' yang terselip dalam pertanyaan itu.


__ADS_2