Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 89


__ADS_3

Hari berganti, tak terasa seminggu sudah berlalu sejak pertemuan mamah Yati dengan ayah kandung Anan, putrinya.


Meski tak sesuai harapan, paling tidak tuan Kemal telah menyampaikan maksud baiknya bertemu dengan mamah Yati.


Entah ini sudah takdir, ketika tuan Kemal ngobrol dengan mamah Yati, disaat itu juga Anan dan dokter Sandra tiba di rumah.


Dokter Sandra yang menuntun Anan, tiba-tiba diam terpaku di teras rumah, ketika indera pendengarnya menangkap suara yang sangat ia kenal.


Karena penasaran, ia pun berjalan selangkah demi selangkah meninggalkan Anan yang berdiri sendiri, mendekati pintu rumah yang terbuka.


πŸ‚ Flashback on


"Ternyata benar Papah!" seru dokter Sandra yang kaget melihat suaminya.


"Mamah... ."Zidan menyebut pelan, yang juga tidak menyangka mamahnya akan datang ke rumah itu.


"Kamu juga di sini, Zidan?!" Dokter Sandra kembali berseru begitu maniknya menangkap sosok putranya.


Berbeda dengan tuan Kemal dan Zidan yang diselimuti rasa panik, mamah Yati dan tante Yani malah kebingungan.


"Ada urusan apa Papah kemari?" tanya dokter Sandra yang masih berdiri di ambang pintu.


"Dan tadi... Mamah dengar pembicaraan Papah. 'Demi kebaikan putri kita'? Putri yang mana maksud Papah?!" desaknya ke tuan Kemal.


Suasana mulai menegang. Tante Yani berdiri dan mempersilakan dokter Sandra untuk duduk agar tetangga mereka tidak mendengar. Namun dokter Sandra menolak. Ia tetap mendesak dan menuntut penjelasan dari suaminya.


"Tidak baik bertindak tidak sopan di rumah orang, Mah. Lebih baik Mamah duduk dulu," bujuk tuan Kemal, lembut.


Dokter Sandra tampak berpikir seraya menatap tuan Kemal dan mamah Yati, bergantian.


"Oh... Mamah mengerti sekarang. Jadi, ibu Yati adalah wanita yang telah Papah nikahi sebelum menikah dengan Mamah, begitu? Yang berarti Anan adalah putri kandung Papah bersama ibu Yati, putri yang Papah maksud tadi, iya, Pah?"


Dokter Sandra tersenyum kecut lalu kembali berucap, "Ternyata Papah tega terhadap Mamah. Sampai hati Papah membodohi Mamah. Di belakang Mamah, Papah sering bertemu dengan ibu Yati. Papah jahat! Papah sudah menyakiti perasaan Mamah."


Kemudian dokter Sandra memutar arah dan melangkah meninggalkan tuan Kemal dan yang lainnya, tanpa menghiraukan panggilan Zidan dan suaminya.


"Tunggu, Mah!"


Walau meraba, Anan berhasil menangkap pergelangan tangan dokter Sandra yang hendak berlalu di sampingnya.


"Meskipun Anan belum memahami situasi yang terjadi, bukankah tidak baik untuk kita semua jika Mamah pergi begitu saja? Anan yakin, Mamah pasti hanya salah paham."


"Mamah harus pergi," ucap dokter Sandra dengan manik berkaca-kaca dan tidak perduli dengan perkataan Anan.


"Tidak, Mah."


Sekuat apapun Anan menahan dokter Sandra, tetap saja dokter Sandra berhasil melepaskan diri. Dan Anan pun berusaha menyusul.


Bruggh!


Anan terjatuh setelah beberapa langkah dokter Sandra meninggalkan Anan.


Dokter Sandra menoleh dan melihat Anan tersungkur di anak tangga sembari berteriak ke arahnya.


"Mamah...!" teriak Anan.


Deg!!!


Detak jantung dokter Sandra semakin memburu. Ingin rasanya ia berjalan menghampiri Anan, namun rasa sakit hati lebih kuat menyelimuti.


Ia pun melanjutkan langkah menuju mobilnya, dan melajukannya tanpa menoleh lagi.


Segera, Zidan berlari keluar rumah, lalu meraih tubuh Anan, dan memapahnya ke dalam rumah. Kepergian dokter Sandra, tak luput dari pandangan Zidan.

__ADS_1


Tak ada lagi kata yang lolos dari mulut Anan. Ia hanya diam, namun dengan manik yang seolah mencari tahu sesuatu.


"Mungkin kamu sudah dengar tadi. Benar, saya adalah ayah kandung kamu, Nak. Dan kalian berdua adalah saudara," tutur tuan Kemal, di mana Anan masih berdiri di samping Zidan yang juga sedang berdiri sambil memegang kedua pundak Anan dari arah belakang.


Mendengar penuturan tuan Kemal, tidak membuat Anan bereaksi.


Mamah Yati pun dirasuki kekhawatiran. Ia khawatir jika Anan menolak kehadiran tuan Kemal yang merupakan ayah kandungnya.


Ia tahu betul bagaimana putrinya. Betapa Anan tak pernah lagi mengharapkan figur seorang ayah semenjak Anan menginjak usia remaja. Anan sudah terbiasa tanpa sosok ayah. Bahkan sudah merasa nyaman walau hanya dengan seorang ibu.


"Nak, katakanlah sesuatu!" tutur mamah Yati, lembut.


Hening...


"Mah, Anan capek. Anan mau istirahat."


Anan pun mulai berjalan sambil meraba menuju kamar tidurnya diikuti tante Yani.


Zidan dan tuan Kemal hanya menatap sedih. Keduanya terhanyut dalam pikiran masing-masing. Sampai akhirnya mamah Yati menyadarkan mereka.


"Mungkin Anan butuh waktu untuk mencerna situasi ini," ucapnya.


Tuan Kemal menghela nafas berat lalu berkata, "Baiklah. Berikan dia waktu sebanyak yang dia butuhkan. Biar bagaimana pun, Mas yang salah karena baru menemukan kalian. Mas senantiasa akan sabar menunggu. Mas akui, selama 22 tahun ke belakang, Mas tidak hadir sebagai tempatnya bersandar dan berlindung. Tapi, Mas berjanji akan membahagiakannya mulai detik ini sampai seterusnya. Percayalah."


"Tolong bantu Mas membujuk Anan. Semoga Anan segera membuka hati dan bersedia menerima ayahnya yang banyak kekurangan ini," imbuhnya, kemudian pamit.


Flashback off πŸ‚


🍁


🍁


🍁


"Sampai kapan kamu berniat menghindari putra Papih. Kamu sudah satu minggu berada di villa sunyi ini. Apa kamu tidak kangen dengan putramu, Zidan? Walau hampir setiap hari dia ke sini, tapi kamu malah enggan menemuinya," tutur tuan Kendra.


Sejak meninggalkan rumah Anan, dokter Sandra tidak pulang ke kediamannya. Ia malah bertolak ke villa tempat tinggal tuan Kendra, mertuanya.


Tuan Kendra berulang kali menanyakan kedatangannya yang tiba-tiba dengan wajah yang dipenuhi dengan linangan air mata itu. Namun dokter Sandra tak mau menjawab. Malah buru-buru meninggalkan tuan Kendra dan masuk ke dalam kamar.


Tak tinggal diam. Tuan Kendra segera menghubungi tuan Kemal untuk mendapatkan jawabannya.


Setelah dijelaskan oleh tuan Kemal, ia pun mengerti, bahkan bersyukur. Meskipun dengan kondisi seperti itu, paling tidak, apa yang tertahan dan membelenggu benak dan pikiran selama ini, telah terutarakan.


Tuan Kendra juga yakin, cepat atau lambat, dokter Sandra pasti mengerti dan mau menerima keadaan yang ada.


"Apa Papih sudah bosan melihat Sandra di sini?" tanya dokter Sandra, cuek, sambil sesekali mengaduk-aduk makanan yang menjadi sarapannya pagi ini.


"Mana ada Papih bosan. Justru Papih senang, sebab villa bertambah penghuninya," sanggah tuan Kendra, lalu menatap lurus ke depan.


"Andai cucu-cucuku juga ada di sini," lirihnya, membuat dokter Sandra mengkerutkan keningnya, tapi tak mau menanggapinya.


"Oh iya, Pih. Kalau anak itu datang lagi, suruh saja pulang," minta dokter Sandra.


Dokter Sandra menyimpan sendok dan garpu yang ia pakai di atas piring.


"Aku sudah kenyang. Aku ke kamar dulu," ucapnya, lalu berjalan menuju kamarnya.


Tuan Kendra hanya menatap punggung menantunya itu.


"Semoga hatimu segera luluh, Sandra. Dan ikhlas menerima kenyataan," gumamnya, berharap.


Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, tuan Kendra sangat merindukan cucu-cucunya, terutama Anan yang juga merupakan sahabatnya, sejak awal bertemu.

__ADS_1


🌿🌿🌿


Anan duduk di atas tempat tidur di dalam kamarnya. Ia tak henti meremas syal yang minggu lalu dibeli oleh dokter Sandra untuknya. Dalam benak, ia mencoba memahami perasaan dokter Sandra yang ternyata ibu tirinya.


Ia mencoba memposisikan diri di tempat dokter Sandra. Siapapun pasti merasa terkhianati, jika itu dilihat dari sudut pandangnya. Namun, seketika hati Anan mencelos tatkala ia membayangkan perasaan mamahnya.


"Mamah pasti lebih sakit hati," gumamnya, lirih.


Pikirannya semakin kalut begitu ia teringat akan hubungannya dengan dokter Sandra. Akankah masih sama seperti sebelumnya, atau dokter Sandra akan menjaga jarak dengannya, atau bahkan tak mau kenal lagi?


Hufft...


Anan menghela nafas panjang, merilekskan pikirannya.


"Kamu baik-baik saja, Sayang?" Mamah Yati yang baru saja masuk kamar menyaksikan putrinya menghela nafas.


"Eh... Mamah. Anan tidak apa-apa, Mah. Anan baik-baik saja."


Mamah Yati mengikis jarak dan duduk di sebelah Anan.


"Jangan terlalu memikirkannya, Nak. Biarlah ini jadi permasalahan kami, para orang tua. Jangan membebani dirimu, Nak. Mamah akan merasa bersalah kalau kamu sampai seperti itu," tuturnya lembut dan hati-hati sambil merapikan anak rambut Anan.


Anan ingin membantah perkataan mamahnya guna menenangkan. Tapi mamah Yati mendahului.


"Kamu tidak perlu mengelak, Nak. Mungkin kamu lupa, kalau Mamah adalah orang yang paling tahu kamu."


"Mamah...!" seru Anan seraya menghamburkan diri ke pelukan mamahnya.


"Apa Mamah tidak marah pada tuan Kemal?" tanya Anan tiba-tiba, setelah melepaskan pelukannya.


Mamah Yati tersenyum, lalu berkata, "Apa jika Mamah marah keadaan akan berubah? Tidak, kan? Malah masalah tidak akan selesai."


"Apa itu artinya Mamah memaafkan tuan Kemal?" tanya Anan, lagi.


"Allah saja memaafkan hambanya, apalah Mamah ini yang hanya manusia biasa... Mamah tidak pernah membencinya sedikitpun."


"Oh iya, Sayang. Zidan menunggu kamu di depan," beber mamah Yati.


"Apa tidak bosan, tuh anak datang terus?" gerutu Anan, sebab hampir tiap hari Zidan datang dengan segala bujuk rayunya agar Anan bersedia tidak dipanggil 'kakak' olehnya.


"Jangan begitu, Sayang. Biar bagaimanapun dia itu saudara kamu," tegur mamah Yati, lembut.


"Baiklah, Mah. Aku pergi menemui putra Mamah dulu."


Anan berdiri dan berjalan menuju ruang tamu. Namun baru saja Anan berada di ambang pintu, langkah kakinya terhenti.


"Nan...!" panggil mamah Yati, membuat Anan menoleh.


"Iya, Mah," sahutnya.


"Papah Zidan adalah papah kamu juga, Nak. Jadi jangan menyebutnya sebagai orang asing," tutur mamah Yati, pelan.


Anan hanya berpikir sejenak, lalu berpaling meninggalkan mamah Yati yang menatapnya dengan tatapan sedih.


🍁🍁🍁🍁🍁


Terima kasih untuk kesetiaan para pembaca yang budiman. Author mengucapkan beribu maaf atas keterlambatan memperbaharui episode. Sungguh, itu diluar kendali author. Namun, disetiap kesempatan, author selalu berusaha untuk selalu menulis.


Untuk pembacaku yang tak pernah bosan meminta chapter terbaru, author juga ucapkan banyak terima kasih. Percaya atau tidak, komen kalian merupakan mood booster bagi author. Malah author sangat terharu karena merasa diperhatikan dan disayangi πŸ˜₯πŸ€—πŸ˜ŠπŸ˜


Jangan bosan untuk selalu dukung author dengan cara vote sebanyak-banyaknya, like setiap episodenya, dan komen positif biar author semakin semangat.


Terima kasih, salam sehat selalu.

__ADS_1


Author juga menyayangi kalian 😘😊


__ADS_2