Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 41


__ADS_3

Di sebuah rumah mewah tak jauh dari rumah Salma yang saat ini telah diadakan acara lamaran, seorang pria keturunan Chines sedang bersiap keluar rumah dengan mendorong koper miliknya.


Ya, Adji. Hari ini, tepat dihari lamaran Salma yang notabenenya adalah sahabatnya. Dilamar oleh Idham yang merupakan kakak kandungnya. Ia malah akan bepergian ke suatu tempat tanpa berpamitan kepada ketiga sahabatnya.


Adji akan pergi membawa rasa sakit hati dan kecewa yang ditorehkan oleh seorang gadis yang telah beberapa tahun ini mengisi hati dan pikirannya, yang sudah seperti hantu yang bergentayangan. Luka... sungguh luka, namun tak berdarah.


Sudah lama Adji menaruh hati pada Rara, sahabatnya. Adji juga ingin mengungkapkan isi hatinya secara formal dan romantis, namun tak pernah punya kesempatan. Sehingga Adji hanya bisa mengutarakannya disetiap pertemuan. Tapi sayang, ungkapan demi ungkapan perasaan yang diberikan Adji, hanya dianggap guyonan dan tidak bermakna sama sekali oleh Rara.


Adji sebenarnya juga mengerti. Mungkin bagi Rara, Adji hanyalah seorang playboy seperti yang disebutkan orang-orang. Dalam hal ini, Adji cuma mampu menepuk jidat. Sedih dan marah, sebab cap playboy telah tersemat bahkan sebelum ia menjatuhkan hatinya pada orang yang dicintai.


Sunggu miris. Dikatakan pemain wanita padahal ia sama sekalu tidak sedekat itu dengan wanita.


Bagaimana bisa pacaran?! Baru saja ia akan mencoba membuka hati untuk gadis lain, Salma selalu memperingatinya dengan firman Allah. Membuat ia semakin tak mampu berpaling dari Rara.


Tapi biarlah. Kini Adji pasrah. Walau bagaimana pun, ia tetap memilih mempertahankan persahabatannya daripada egonya.


Biarlah ia mencintai tanpa harus dicintai.


Tidak apa jika perasaannya tidak terbalas.


Dan kini saatnya ia pergi, mencoba untuk berdamai dengan hati dan pikirannya, serta keadaan yang sulit ia kendalikan.


"Apa tidak ada lagi yang tertinggal Den?" tanya mang Karsa yang membantu memasukkan koper ke bagasi mobil.


"Tidak ada lagi mang." Adji menutup bagasi kemudian menyelinapkan tubuhnya duduk di kursi bagian belakang mobil tersebut.


Mang Karsa pun mausk ke dalam mobil, duduk di belakang kemudi. Dengan tujuan bandara, mang Karsa pun melajukan kendaraannya.


Adji menumpu wajahnya dengan tangan kirinya yang ia letakkan di jendela pintu mobil. Maniknya memang melihat ke segala apa yang dilalui roda empat itu, namun pikirannya hanya tertuju pada pembicaraannya dengan sang kakak, dan segala yang memicu kepergiannya hari ini. Meskipun sebenarnya ini sulit baginya.


Flashback on.


Setelah makan malam, Adji mengungkapkan keinginannya untuk melanjutkan pendidikannya di Amerika. Keterkejutan bukan hanya ditunjukkan oleh Idham, namun juga kedua orangtuanya.


"Kok tiba-tiba nak? Kamu kan tau, besok mas mu akan melamar Salma" tanya mama Meylin.


"Aku mau secepatnya mengurus persiapanku lanjut S2, Mah," jawab Adji.


Idham hanya diam memandangi Adji penuh selidik.


"Ya sudah. Kalo itu sudah menjadi keputusanmu. Papa dukung apapun keputusanmu. Papa doakan, semoga kamu menjadi orang sukses, jauh lebih sukses dari Papa."


"Terima kasih Pah, doanya," sahut Adji tersenyum tipis.


"Apa kamu yakin dengan keputusanmu ini Dji?" tanya Idham yang menyusul adiknya masuk ke kamar milik adiknya itu.


"Entahlah, mas," sahut Adji seraya mendudukkan badannya di kursi dekat tempat tidurnya.


"Apa ini ada hubungannya dengan Rara?" selidik Idham yang duduk di tempat tidur Adji.


Adji terdiam tak menanggapi pertanyaan Idham kali ini.


"Kalo emang Rara yang menjadi alasan kepergianmu, apa menurutmu ini sudah adil untuk kalian berdua? Takutnya, apa yang kamu putuskan hari ini, mendatangkan penyesalan keesokan harinya. Mas hanya tidak mau kamu menyesal. Jadi pikirkanlah baik-baik."


Idham menghela nafas pelan.

__ADS_1


"Saran mas, cobalah bicarakan hal ini dengan Rara. Empat mata, dari hati ke hati." Idham menepuk pundak Adji dua kali kemudian berlalu meninggalkan Adji yang termenung memikirkan kata-kata kakaknya.


Adji tak menampik, ia malah mengamini ucapan Idham. Ibarat api yang berkobar, setelah mendengar saran dari kakaknya, dengan penuh semangat, Adji pun meraih ponselnya, mencoba menghubungi Rara.


Ia berharap, ada satu alasan yang membuatnya tetap tinggal di kota ini.


Panggilan pertama, tidak ada jawaban. Tetap semangat, Adji kembali menghubungi Rara. Alhasil, panggilan pun terhubung.


"Halo." Ternyata yang menjawab telepon Adji bukan Rara, tapi seorang pria.


"Raranya ada?" Adji mencoba tenang, tak mempermasalahkan siapa pun yang menjawab panggilannya.


"Maaf, ini siapanya Rara."


"Aku sahabatnya," sahut Adji.


"Oo... cuma sahabat," balas pria tersebut, membuat kedua alis Adji hampir menyatu.


"Oiya mas, Raranya mana ya? Dan kalo boleh tau, mas siapanya Rara?" tanya Adji mulai penasaran.


"Rara sedang di kamar mandi. Aku kebetulan tunangannya, calon suaminya Rara."


Bagai menelan pil pahit, Adji tak kuasa menahan rasa sakit hatinya. Ia pun menyudahi panggilan teleponnya dengan pria yang mengaku sebagai calon suami Rara tersebut dengan kekecewaan.


Tadinya ia bermaksud mengajak Rara untuk bertemu dan mengutarakan perasaannya secara serius. Namun, semua tinggallah ekspektasi yang tidak mungkin jadi kenyataan.


Adji menjatuhkan ponselnya ke tempat tidur. Tak lama kemudian, ia pun duduk di samping ponselnya dengan kedua tangannya menutupi wajahnya lalu mengusap kasar rambutnya.


Ia pun menghela nafas kasar menenangkan diri. "Mungkin kita memang tidak berjodoh, Ra," gumamnya yang kemudian merebahkan kepalanya ke atas bantal.


Di rumah Salma.


"Iya, aku juga belum melihatnya sedari tadi. Biar aku hubungi dia." Rara meninggalkan kedua sahabatnya menuju teras depan.


Ia pun membuka log panggilan pada androidnya. Namun, tiba-tiba ia mengernyit melihat panggilan masuk dari Adji. Ia segera membuka detail panggilan tersebut untuk mengetahui waktu dan durasi panggilan itu.


Ia mencoba mengingat-ingat apa yang ia lakukan dijam tersebut.


"Mungkin waktu itu aku sedang makan, atau aku ke kamar mandi. Ah sudahlah, lebih baik aku hubungi orangnya saja. Biar aku tanya langsung," gumamnya yang kemudian menghubungi nomor Adji.


Namun sayang, nomor yang dituju dijawab oleh operator. Begitu seterusnya hingga tiga kali.


Rara pun beralih menghubungi telepon rumah Adji, namun kali ini tidak ada yang menjawab.


"Nomor Adji kok tidak bisa dihubungi. Ini juga, ART nya tidur kali ya, kok tidak ada yang jawab telpon sih," gerutu Rara kepada ponselnya.


"Terus aja omeli tuh handphone. Ntar tiba-tiba mati disaat lagi dibutuhin, baru tau rasa kamu." Anan yang juga penasaran Adji kemana, menyusul Rara ke teras.


"Gimana, udah ada kabar?" tanya Anan.


"Boro-boro, ponselnya aja tidak aktif. Aku coba telpon ke rumahnya, tapi tidak ada yang angkat," jelas Rara.


"Kalo gitu kita ke rumahnya saja," saran Anan.


Karena rasa penasaran yang terpental ke atas langit, sampai-sampai mereka lupa akan sesuatu.

__ADS_1


Meskipun jarak antara rumah Salma dan rumah Adji terbilang dekat, namun jika ditempuh dengan berjalan kaki, akan memakan waktu beberapa menit, karena berjarak sekitar 300 meter dan berada di blok yang berbeda. Paling tidak, mereka bisa menggunakan motor matik milik Anan untuk menghemat waktu dan tenaga.


Dengan langkah cepat untuk mempersingkat waktu, akhirnya mereka pun tiba di tempat tujuan dengan hasil ngos-ngosan.


Rara segera menekan bel yang terpasang di samping daun pintu berwarna cokelat itu.


"Tau begini, aku pasti pakai motor ke sini," ucap Anan lalu duduk di kursi yang ada di sana.


"Iya juga, lupa aku," sahut Rara menepuk jidatnya dan masih setia di depan pintu, menunggu ada yang membuka.


"Pencet lagi Ra, belnya," titah Anan.


Rara kembali menekan bel rumah Adji. Dan tak lama pintu rumah itu pun terbuka.


"Maaf Non, Bibi tadi di kamar mandi. Ada apa ya Non? Bukankah harusnya Non-Non, pada di rumahnya non Salma?"


"Iya Bi, kami udah dari sana. Kami ke sini nyari Adji, Adji nya ada?" tanya Rara lembut.


"Anu Non, itu ... ."


"Ada apa Bi?" tanya Anan mendesak, beranjak dari duduknya.


"Den Adji udah berangkat Non."


"Berangkat ke mana Bi?" Kali ini Rara yang mendesak.


"Ke bandara Non. Den Adji mau ke Amerika."


"APAA?" pekik Anan dan Rara bersamaan.


"Jam berapa Adji berangkat tadi Bi?" tanya Rara cemas.


"Sekitar setengah jam yang lalu Non."


"Ya udah Bi, terima kasih." Tanpa menunggu balasan ART Adji, Rara langsung meninggalkan kediaman keluarga Adji menuju rumah Salma.


"Rara tunggu!" teriak Anan di belakang Rara. Namun sama sekali tidak direspon oleh Rara.


Dengan berlari, Rara ingin segera tiba di rumah Salma. Tujuannya kali ini ingin secepatnya sampai di tempat di mana kendaraannya terparkir.


Disaat yang sama, Zidan yang datang terlambat ke acara lamaran Salma, hendak turun dari kendaraannya. Namun digagalkan oleh Rara yang tiba-tiba berlari ke arahnya.


Rara yang tadinya bermaksud menghampiri mobilnya, batal ketika ia melihat mobil Zidan yang baru saja tiba.


"Kita ke bandara sekarang!" titahnya ke Zidan, kemudian masuk ke mobil Zidan disusul Anan yang juga masuk ke dalam kendaraan yang sama.


Tanpa berkata apapun, Zidan mengikuti perintah Rara. Zidan pun melajukan kendaraannya menuju bandara.


Jalan yang padat dan banyaknya lampu merah yang menghalangi, membuat Rara semakin gelisah.


"Kamu mau ke mana?" tanya Zidan ketika Rara hendak membuka pintu mobil.


"Yang sabar dong Ra. Ini juga udah lampu merah terakhir," ucap Anan mengingatkan.


Berulang kali Rara menarik nafas panjang guna merilakskan diri. Pikirannya saat ini penuh dengan Adji.

__ADS_1


Zidan yang tidak tahu pokok permasalahan hanya menatap Rara dan Anan bergantian. Walau sejujurnya sejak tadi lidahnya sudah gatal ingin bertanya, tapi ia mencoba untuk bersabar. Ia tetap tenang mengikuti alur yang diciptakan kedua gadis tersebut.


__ADS_2