Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 16


__ADS_3

Anan menghela nafas, "Jadi bapak percaya dengan omongan mereka?!" tanya Anan menoleh ke arah Arya lalu memalingkan muka ke arah jendela sambil menyangganya dengan tangannya. "Bagaimana bisa bapak menyukai orang yang tidak bapak percaya" gumamnya pelan, namun masih terdengar jelas di telinga Arya.


Ciiittt!!! Mendadak Arya menginjak pedal rem.


"Bapak hobi banget sih berhenti tiba-tiba" pekik Anan yang terkaget lalu menoleh ke arah Arya. Disaat yang sama Arya pun menatapnya. Tatapan mereka terkunci.


Deg!!! Jantung Arya berdegup kuat.


"Tapi aku benar-benar menyukaimu" tutur Arya lembut. Ada perasaan aneh yang bergelayut di hati Arya. "Sial! Kenapa perasaanku jadi aneh begini? Seolah-olah, aku bersungguh-sungguh mengucapkannya. Tidak..tidak..tujuanku mendekatinya hanya untuk membalasnya, tidak ada yang lain" batin Arya.


Anan mengernyit melihat Arya yang termenung lalu menggeleng. "Nih dosen kok jadi aneh gini.." batin Anan


"Pak.. pak!" panggil Anan yang melihat Arya terdiam dengan melambaikan tangan kanannya tepat di wajah Arya.


"Eh, iya.. kenapa?" ucap Arya tersadar.


"Bapak kok jadi aneh" heran Anan.


"Tidak.. Aku tidak..." perkataan Arya terpotong karena ponselnya berdering tanda panggilan masuk.


Arya : "Hallo pih"


Tuan Wijaya : "Papih tunggu di kantor"


Arya : "Baik pih"


Lalu Arya meletakkan kembali ponselnya dan melajukan kendaraannya menuju apartemennya.


"Kamu tunggu di apartemen. Aku akan segera kembali" ucap Arya yang memberikan kunci akses apartemennya.


"Lalu bagaimana dengan materi saya pak?" tanya Anan seraya meraih kunci tersebut dari tangan Arya.


"Kita bahas setelah aku kembali" jawab Arya.


Anan membuka safety belt dan membuka pintu mobil. Belum sempat Anan menurunkan kaki kirinya, "Orangku akan membawa motor kamu kemari" beritahu Arya. Anan mengangguk lalu keluar dari mobil Arya.


Arya pun menancap gas, meninggalkan gedung apartemen M menuju gedung Wima Group.


Anan melangkah memasuki gedung apartemen tersebut dan di sambut oleh security yang ada di sana.


"Bukankah nona yang minggu lalu ya?" tanya security yang bernama Hasan.


"Betul pak" jawab Anan.

__ADS_1


"Jadi benar, tuan Arya itu juga seorang dosen?" tanya pak Hasan lagi.


Anan mengernyit, "Bapak kenal pak Arya juga?" bukannya menjawab, Anan malah bertanya.


"Non ini gimana sih, saya ini sekurity di sini, mestilah saya kenal. Lagian, gedung apartemen ini kan, milik tuan Arya. Saya pasti kenallah" tuturnya bangga.


"Oiya, nona adalah perempuan pertama yang berkunjung ke apartemen tuan Arya selain bi Imah" ucap pak Hasan menambahkan.


"Ya udah pak, saya ke atas dulu" pamit Anan ke security tersebut. Pak Hasan mengangguk, mempersilakan Anan.


Anan meraih kunci akses apartemen, lalu menempelkannya pada platform magnet yang terletak di sebelah pintu. Pintu pun membuka. Anan masuk lalu menutup pintu tersebut.


Anan menyimpan tas dan ponselnya di atas meja. Tak sengaja indera penciumannya menangkap aroma wangi masakan. "Apa ada orang ya di sini?" gumamnya sambil berjalan ke arah dapur.


Dan ternyata benar. Bi Imah sedang sibuk memasak di sana.


"Bi Imah ya?" tanyanya sekaligus menyapa ART Arya.


Bi Imah pun menoleh ke arah Anan dan tersenyum. "Iya non" sahut bi Imah. "Non...pacarnya tuan Arya ya?" tanya bi Imah penasaran.


"Bukan..bukan bi. Aku mahasiswanya pak Arya" jawab Anan sambil menggeleng.


"Iya juga tidak apa-apa kok non. Bibi malah senang, akhirnya tuan Arya dekat dengan perempuan" celetuk bi Imah sambil menaruh menu ketiga yang ia masak siang ini ke dalam mangkuk.


"Kalo yang mau dekat dengan tuan sih banyak non, hanya saja..tuan Arya orangnya dingin, susah didekati perempuan" ungkap bi Imah.


Mereka menata meja makan sambil berbincang dan sesekali diiringi tawa ringan. Dalam sehari mereka langsung akrab seperti sudah kenal berbulan-bulan. Mereka juga menceritakan kehidupan masing-masing meskipun tidak semuanya. Mungkin karena mereka sama-sama berasal dari kampung meskipun tak sama, mereka merasa seperti keluarga.


"Oiya bi, bibi masak banyak gini, siapa yang mau makan?" tanya Anan setelah menata meja makan.


"Tuan Arya biasanya pulang untuk makan siang non" sahut bibi.


"Tapi bi, aku sama pak Arya tadi udah makan di luar" ucap Anan.


"Wah..wah..wah..ternyata tuan Arya suka sama non Anan" celetuk bibi dengan tersenyum lebar.


"Kok bibi ngomong gitu?".


"Sejak bibi kerja di sini, tidak ada satupun perempuan yang diajak makan bareng dengan tuan, apalagi sampai membawanya kemari. Itu belum pernah terjadi non. Jadi, kalopun ada, berarti tuan Arya benar-benar menyukai perempuan itu" tutur bibi.


"Katanya sih, gitu bi. Tapi aku ragu" ucap Anan pelan. "


"Loh..apa tuan Arya jahat sama non?" tanya bibi disambut gelengan kepala oleh Anan.

__ADS_1


"Lalu?"


"Anan juga tidak tau bi" jawab Anan.


"Ikuti kata hati non. Ini menyangkut hati, jadi jangan gegabah. Bibi doakan, semoga non selalu bahagia"


"Amin.. terima kasih bi doanya".


Dua jam kemudian, Arya telah tiba di unit apartemennya. Ia menekan sandi unitnya pada platform lalu masuk setelah pintu membuka.


Setelah berada di dalam, ia melirik meja yang ada pada ruang tamu dan mendapati tas serta ponsel milik Anan tergeletak di sana.


"Maaf tuan, saya mau izin berbelanja ke mini market dulu" ucap bibi meminta izin ke Arya.


Arya lalu mengambil dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratusan.


"Maaf tuan, uang yang tuan berikan kemarin masih ada. Saya akan pakai itu saja" tolak bibi.


Arya pun memasukkan kembali beberapa lembar uang tersebut ke dalam dompetnya.


"Kalo gitu, saya permisi tuan" pamit bibi dan diangguki oleh Arya.


Arya kemudian melangkah hendak masuk ke dalam kamarnya, namun ia menghentikan langkahnya katika manik matanya menangkap sosok Anan yang tengah tertidur di sofa ruang tv. Ia pun menghampiri Anan yang tengah tertidur di sana.


Arya memperhatikan Anan, "Ternyata kamu sangat cantik kalo tidak pakai kacamata" gumamnya. Ia merapikan selimut yang dipakai Anan lalu berjalan menuju kamarnya.


Anan menggeliat, setengah sadar, ia tadi melihat sosok Arya merapikan selimutnya. Anan mengucek matanya kemudian meraih kacamatanya yang ada di atas meja.


Ia mendudukkan tubuhnya dan menatap sekelilingnya. "Aku kan di apartemannya pak Arya" gumamnya lalu tersenyum ringan.


Anan bergerak menuju dapur untuk mengambil air minum. Setelah minum, iapun menyadari sesuatu. "Bukankah tadi aku nonton bareng bi Imah ya, lalu sekarang bi Imah kemana? Apa mungkin bi Imah ada di kamar?" gumamnya lagi.


Ia pun berlalu meninggalkan dapur dan berjalan menuju kamar yang terletak tak jauh dari dapur. Ia menekan gagang pintu lalu mendorongnya.


"Aaaaa....!!!" pekiknya setelah melihat Arya yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.


Arya sontak mendekati Anan dan menutup mulutnya agar teriakannya terhenti.


…………………………………………………………………………………


Jangan lupa tuk selalu dukung author dengan cara vote, like dan komen.


Terima kasih😘

__ADS_1


__ADS_2