
"Mamah akan selalu mendukung apapun keputusanmu nak. Kamu ngomong dari awal atau sekarang pun, tiada bedanya bagi mamah. Asal kamu bahagia, mamah juga ikut bahagia. Karena mamah tau, kamu anak yang baik," tutur mamah Yati, menyeka bulir air matanya.
"Seperih apapun goresan luka di hatimu saat ini, kamu harus selalu ingat, tak selamanya hujan turun menyirami bumi dan tak seterusnya makhluk muka bumi merasakan hangatnya sinar mentari. Semua miliki masanya masing-masing. Jadi kamu tidak perlu cemas sayang. Akan ada pagi setelah malam," ujar mamah Yati, masih menenangkan Anan yang masih terisak.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang mah?" tanya Anan dengan sesekali terisak dan berangsur tenang.
"Mintalah petunjuk Allah, berserah dirilah padanya sayang. Dia-lah sebaik-baiknya tempat kita meminta," saran mamah Yati, lalu kembali mendekap Anan.
Malam semakin larut. Anan duduk menyamping dengan melipat kedua kakinya dan menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Ia tak dapat tidur malam ini, matanya enggan terpejam, walau badannya remuk dan lelah.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, namun pikirannya melayang, hingga membuatnya tak tenang.
Hatinya benar-benar hancur setiap kali ia mengingat perkataan tuan Wijaya, juga sikap kasar Arya padanya. Ia sungguh tak berdaya.
Pertama kali ia membuka hati, tulus mencintai seorang pria, namun hanya kekecewaan dan sakit hati yang jadi balasan. Dan lagi-lagi, kristal bening meleleh membasahi pipi putih mulusnya.
Gadis bermata indah dengan rambut lurus sepinggang itu menghela nafas kasar dan menghapus air matanya.
"Mungkin lebih baik aku shalat sunnah," gumamnya berusaha kuat, kemudian beranjak dari sofa ke kamar mandi.
Setelah melaksanakan shalat sunnah taubat, iapun beriztigfar sebanyak-banyaknya, lalu berdoa memohon ampunan kepada sang pemilik Arsy.
Dilanjutkan dengan shalat sunnah witir tiga rakaat. Tak lupa ia kembali berdoa agar hatinya lebih tenang.
"Ya Allah.. Disaat hamba kehilangan asa dan rencana, yakinkan hamba, bahwa kasih sayangmu jauh lebih besar dari kekecewaanku. Dan rencanamu, jauh lebih indah dari impianku, amin."
Rasmi yang sayup-sayup mendengar untaian doa Anan, ikut mengaminkan. Ia terjaga ketika lantunan halus istigfar Anan lafazkan. Iapun tidak tidur kembali. Ia terus memperhatikan kegiatan Anan dari jarak hanya 2 meter dari tempatnya berbaring.
Setelah dengan kegiatannya bermunajat kepada Allah, ia merapikan peralatan shalatnya, kemudian kembali duduk di tempat semula. Kini hati, jiwa, dan pikirannya pun jauh lebih tenang, meski matanya masih setia terjaga.
Waktu subuh telah tiba, Rasmi terbangun ketika mendengan suara adzan dari ponselnya. Ia lagi-lagi mendapati Anan dalam balutan mukenah menutupi bagian tubuh selain wajahnya.
"Kamu sudah bangun? Ambil wudhu gih!" tanya Anan sekaligus memerintah Rasmi.
Rasmi mengangguk dan beranjak dari tempat tidurnya, menuju kamar mandi. Belum sempat ia menyentuh pintu kamar mandi, Anan kembali bersuara.
"Oya, tolong jangan bangunkan aku. Aku ngantuk. Bilang juga ke mamah ya!" minta Anan dan Rasmi kembali mengangguk untuk yang kedua kalinya dipagi buta itu.
Pukul 7.30 pagi, Anan belum juga terbangun. Mamah Yati yang mengetahui alasan mengapa anaknya itu belum bangun juga, untuk pertama kalinya, tak mempersoalkannya.
"Assalamualaikum."
Suara Zidan membuat Rasmi dan mamah Yati menoleh ke arah pintu, lalu menjawab salam dari Zidan.
"Ckckck..dasar gadis pem..."
"Huussttt!" Rasmi dan mamah Yati menghentikan kalimat yang akan dilontarkan oleh Zidan bersamaan dengan meletakkan jari telunjuk di depan mulut mereka.
Zidan mengkerutkan keningnya, lalu berjalan mendekati keduanya.
__ADS_1
"Ada apa sih?" tanyanya setengah berbisik.
"Samalam kak Anan tidak tidur, kak," jawab Rasmi dengan suara pelan. Zidan pun mengangguk lalu menyerahkan kantong berisi bekal untuk sarapan.
"Bekalnya kok dua?" tanya Rasmi setelah melihat isi kantongan yang berlogo restoran Ananda tersebut.
Sebenarnya, Zidan ingin sarapan bersama Anan. Ia tak tahu Rasmi juga ada di sana. Kalau saja ia tahu, pastilah ia membawa tiga bekal sarapan, agar ia bisa sarapan bertiga.
"Kan untuk kamu juga," jawab Zidan yang saat ini duduk di tempat tidur mamah Yati, sebab sofa dipenuhi oleh tubuh Anan yang berselimut.
Dari tempatnya duduk saat ini, Zidan dapat melihat wajah Anan yang sembab dan matanya yang bengkak.
"Oiya, kakak tau dari mana kalo aku ada di sini?" tanya Rasmi setelah menaruh makanannya dalam piring.
"Feeling!" jawab Zidan singkat. Membuat Rasmi mengernyit lalu mengalihkan pandangannya pada piring yang dipegangnya.
"Kamu sarapan saja dulu. Sebentar lagi jam 8. Bukankah kamu ada pengantaran jam 10?" tanya mamah Yati lembut, mengingatkan Rasmi.
"Mamah udah sarapan belum?" tanya Zidan menatap mamah Yati. Dari sorot mata mamah Yati, Zidan dapat merasakan ada kesedihan yang mendalam.
"Udah, tadi mamah sarapan jam 7. Dan sebentar lagi suster Mira akan datang menjemput mamah untuh berolahraga," jawab mamah Yati yang juga menerangkan aktivitas selanjutnya.
Selama dirawat di rumah sakit, mamah Yati rutin berolahraga 3 kali seminggu. Tentu dengan jenis olahraga yang sesuai dengan usia dan penyakitnya.
Beberapa menit berlalu. Rasmi telah selesai dengan sarapannya. Disaat yang sama, suster Mira datang dengan membawa kursi roda untuk mamah Yati. Suster Mira akan membawa mamah Yati ke taman rumah sakit untuk berolahraga bersama dengan pasien lainnya.
"Kalo begitu Rasmi pamit mah," ucap Rasmi ke mamah Yati.
Sengaja Zidan menawarkan diri mengantar Rasmi. Selain ingin bersama dengan Rasmi, Zidan juga ingin menanyakan kondisi yang ia tangkap pagi ini di ruang perawatan mamah Yati.
Rasmi yang ditinggal buru-buru mencium punggung tangan mamah Yati, dan segera menyusul.
"Gimana sih, katanya mau ngantar, eh malah ditinggal," gerutu Rasmi sambil berlari kecil.
Karena fokus mengejar Zidan, iapun kurang memperhatikan jalan. Dan...
Brukkk!
Rasmi terjatuh setelah menabrak brankar yang tiba-tiba muncul dari arah samping yang didorong oleh perawat yang bekerja di sana.
Perawat itupun terkejut dan segera menolong Rasmi. Seorang dokter yang berada tak jauh dari mereka, juga ikut membantu Rasmi berdiri.
"Lho, kamu!" seru Idham begitu melihat Rasmi dari dekat.
Rasmi menoleh namun tidak berkata apapun.
Idham pun mendudukkan Rasmi di salah satu kursi panjang yang ada di sana.
"Sus, tolong ambilkan kotak P3K!" titahnya ke perawat yang mendorong brankar tadi.
__ADS_1
"Ini pertemuan kita yang kedua, nama kamu siapa?" tanya Idham sambil memeriksa luka Rasmi.
"Aku Rasmi kak.."
"Mas Idham, panggil aku mas Idham!" serunya, menyela Rasmi.
Zidan telah sampai di perkiran sekitar 10 menit lalu. Ia berdiri di samping mobilnya dan mengarahkan pandangannya ke pintu utama rumah sakit, namun ia belum melihat tanda-tanda kedatangan Rasmi.
"Nih cewek kemana sih, lama!" gumamnya, kemudian beranjak meninggalkan kendaraannya. Iapun kembali menuju lift dengan maksud menjemput Rasmi.
Begitu keluar dari lift, tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat Rasmi yang sedang diobati oleh seorang dokter yang berperawakan tinggi dan masih muda.
Ia mengernyit dan kedua tangannya mengepal menyaksikan mereka saling melempar senyuman. Dengan langkah cepat, dan tatapan yang tajam, ia mendekati keduanya.
Dan ia semakin mengeratkan kepalan tangannya, ketika ia mengetahui dokter yang bersama Rasmi saat ini adalah orang yang mendekap Rasmi minggu lalu waktu berbelanja di AA Mart.
"Kau apakan pacarku?" tanya Zidan seraya mendorong Idham yang tengah berjongkok membalut lutut Rasmi yang luka. Sehingga Idham terjatuh ke belakang. Untung saja ia sigap, dan langsung menahan bobot tubuhnya dengan kedua tangannya.
"Kak Zidan, kakak apa-apaan sih?!" tanya Rasmi dan hendak meraih Idham untuk membantunya berdiri, namun tangan Rasmi langsung ditarik oleh Zidan.
"Jangan coba-coba dekati pacarku!" ancam Zidan ke Idham yang telah berdiri sambil membenarkan snellinya.
"Ayo!" serunya ke Rasmi seraya menariknya pelan.
"Maaf," ucap Rasmi setengah teriak ke Idham.
"Pelan-pelan dong!" seru Rasmi yang dipaksa masuk ke mobil oleh Zidan. Tanpa sadar Zidan telah menyakiti Rasmi.
Zidan pun masuk ke dalam mobilnya, dan duduk di belakang kemudi, kemudian melajukannya.
"Kakak apa-apaan sih?" tanya Rasmi yang memegang pergelangan tangannya yang tadi ditarik Zidan.
"Kamu yang apa-apaan?" tanya balik Zidan.
"Emang aku kenapa?" balas Rasmi bertanya dengan suara meninggi .
Ciiitttthh!
Zidan tiba-tiba menghentikan mobilnya. Rasmi yang terkaget kemudian menoleh ke arah Zidan. Manik mereka saling mengunci. Mereka beradu pandang. Sampai akhirnya Rasmi yang lebih dahulu melepaskan kuncian pandangan mereka.
"Lebih baik aku naik bus saja, sepertinya kakak kurang sehat hari ini," ucap Rasmi lembut, namun tidak ditanggapi oleh Zidan.
Ia pun keluar dari kendaran milik Zidan dan berjalan pincang menuju tempat pemberhentian bus.
Rupanya, Zidan hanyut dalam pikirannya. Sampai-sampai, Rasmi yang keluar dari mobilnya, dan berjalan di trotoar menuju halte bus pun tidak disadarinya.
Zidan tersadar ketika suara klakson motor yang melintas di sampingnya berbunyi. Iapun mencari keberadaan Rasmi di mobilnya, namun nihil.
Kemudian ia mengedarkan pandangannya mencari sosok Rasmi, namun hanya sebuah bus yang berjarak beberapa meter dari mobilnya, yang terlihat oleh maniknya. Ia lalu melepaskan sabuk pengamannya, kemudian keluar dari kendaraannya.
__ADS_1
Ia terkesiap ketika pandangannya melihat Rasmi berada di kerumunan orang yang hendak masuk ke dalam bus.
Dengan langkah panjang, ia menghampiri kerumunan itu. Dan dengan tangannya yang kuat, ia berhasil menarik Rasmi keluar dari kumpulan orang yang berdesak-desakan tersebut.