Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 14


__ADS_3

Anan telah sampai di rumah sakit tempat mamahnya dirawat. Ia memarkirkan kendaraannya di tempat khusus parkiran roda dua. Ia kemudian berjalan masuk ke gedung rumah sakit tersebut sambil menenteng nasi bungkus untuk makan malamnya, yang ia beli di warung pinggir jalan langganannya. Ia melalui lobi, lalu masuk ke dalam lift dan menekan angka 5 untuk tiba di ruang VVIP. Lift telah sampai di tempat tujuan dan membuka. Anan segera keluar dan melangkah dengan tujuan ruangan mamahnya.


"Eh... ada si cewek bar-bar nih!" teriak Septy yang berada beberapa meter di belakang Anan. Ia melihat Anan keluar dari lift tadi.


Sedang yang diteriaki tetap melangkah santai karena merasa bukan dirinya yang disinggung.


Septy geram karena tak dihiraukan dan melangkah mendekati Anan. Begitu ia berada tepat di belakang Anan, ia mengarahkan tangannya ke punggung Anan kalu menghentakkannya.


"Aduh...!" pekik Anan yang tersungkur akibat didorong Septy. Nasi bungkus yang di tangannya terlepas, lutut dan tangannya sakit. Beruntung, nasi bungkusnya tidak berserakan karena terbungkus kuat.


Anan langsung menoleh dan melihat siapa yang telah mendorongnya.


"Septy! Apa-apaan kamu?!" protes Anan atas kelakuan Septy.


"Apa-apaan?, kamu yang apa-apaan. Tampang aja yang alim, tapi kelakuan bar-bar. Ho..ho.. apa jangan-jangan, itu yang diajarkan mamahmu, huh?" oceh Septy dengan bersedekap dan senyum mencibir.


Anan yang mendengar ocehan Septy tak terima. Ia mengepalkan tangannya ingin memukul Septy, tapi ia sadar, dirinya saat ini berada dimana.


Anan berdiri, berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Ia memutar badan hendak meninggalkan orang yang mencibirnya karena tak mau meladeni. Namun langkahnya terhenti.


"Oh.. enak banget hidupmu ya, punya sugar daddy yang bisa menopangmu. Pantas saja mamahmu berada di perawatan bergengsi ini. Ternyata kamu ada yang pelihara rupanya" tuduh Septy. Septy juga mengetahui kalo mamah Anan dirawat di rumah saki saat ini.


Anan kembali memutar badannya. Ia masih berusaha menahan diri. Ia benar-benar tak mau ada keributan.


"Sudah diapain aja tuh sama sugar daddymu?" Septy kembali mencibir.


"Cukup! Aku tidak membalas perkataanmu bukan berarti semua yang kamu katakan itu adalah benar. Bukan juga berarti aku tidak bisa membalas dan berbuat kasar padamu. Tolong.. kita berada di rumah sakit, hargai orang-orang yang ada di sini. Mereka butuh ketenangan, jadi hentikan ocehanmu" tutur Anan kemudian meraih nasi bungkusnya yang tergeletak di lantai.


Septy maju hendak menampar Anan.


"Septy hentikan!" seru mamah Santi, mamahnya.


Mamah Santi kemudian menghampiri anaknya yang ingin menyerang Anan.


"Eh, kamu. Kalo mau cari gara-gara jangan di sini dong. Ini rumah sakit" ketusnya.


"Tapi tante, anak tante yang duluan. Aku bahkan tidak ngapa-ngapain dia" ungkap Anan.


"Halah... sudahlah. Gadis kampung emang seperti ini kelakuannya, sukanya melawan sama yang lebih tua" cibir mamah Santi.


"Ada apa ini?" tanya dokter Sandra setelah menghampiri mereka.


"Ehh... jeng Sandra. Ini loh jeng, biasa gadis kampung mau pansos cari masalah sama orang kota. Hati-hati loh jeng" sindir mamah Santi.


"Maaf tante, dokter Sandra, saya permisi" izin Anan meninggalkan mereka karena malas meladeni ibu dan anak itu.

__ADS_1


Dokter Sandra tersenyum lalu mengangguk sedangkan Septy dan mamahnya menatapnya sinis.


"Oh iya jeng, kenalin ini anak aku, namanya Septyana Anggie biasa dipanggil Septy" ucap mamah Santi memperkenalkan anaknya. Ia berencana menjodohkan anaknya dengan anak dokter Sandra, Zidan.


"Septy tante" ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


"Panggil tante Sandra."


Dokter Sandra menyambut uluran tangan Septy. Kemudian ia pamit meninggalkan mereka.


"Kamu itu harus sopan sama tante Sandra. Dia punya anak cowok, ganteeeng banget. Udah cakep, tajir, calon dokter lagi. Dan dia calon penerus rumah sakit Sandra Hospital" tutur mamah Santi setelah berada di dalam mobil miliknya.


"Masih lebih cakep dan tajir gebetanku" cicit Septy.


"Nih anak dibilangin, bukannya nurut. Pokoknya, kamu harus bisa ngambil hati tante Sandra agar dia mau jodohin kamu dengan anaknya, titik" ucap mamah Santi tak mau dibantah. Merekapun menuju rumah tanpa obrolan lagi.


Anan melangkah pelan. Ia merasakan lututnya perih dan nyeri, sedangkan tangannya sedikit mengeluarkan darah akibat gesekan waktu terjatuh tadi. Dan ternyata, itu semua tak lepas dan pandangan dokter Sandra. Dokter Sandra memang tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, tapi melihat keadaan Anan, ia bisa menarik kesimpulan bahwa Anan adalah korban. Apalagi ia tau bagaimana teman sosialitanya yang bernama Santi itu berperangai, bisa jadi kelakuannya tidak jauh beda dengan ibunya.


"Anan!" panggil dokter Sandra.


Anan menoleh ke sumber suara.


"Dokter Sandra"


"Ikut ke ruangan saya" titah dokter Sandra.


Mereka pun tiba di ruang yang dimaksud. Dokter Sandra mengambil kotak P3K yang tersedia di sana.


"Duduklah dan gulung celanamu, biarkan saya melihat lututmu" titah dokter Sandra.


Anan pun duduk di sofa lalu menggulung celana kain panjangnya.Sedangkan dokter Sandra duduk di kursi kecil tanpa sandaran di depan Anan.


Dokter Sandra mengoleskan anti septik ke lulut Anan.


"Perih ya?" tanya dokter Sandra mendengar ringisan Anan.


"Kamu tidak perlu memasukkan ke dalam hati apapun perkataan mereka. Tante Santi memang seperti itu" tutur dokter Sandra yang sudah mengolesi obat merah juga menutup luka di kedua lutut Anan dengan plester obat.


Anan mengangguk. Perkataan dokter Sandra sungguh membuat hatinya menghangat. Sejurus kemudian dokter Sandra meraih tangan Anan juga untuk ia obati agar tidak infeksi.


"Sudah" ucap dokter Sandra setelah selesai mengobati luka-luka Anan.


"Terima kasih dokter"


"Panggil tante saja sayang" ucap dokter Sandra lembut sambil membelai rambut Anan.

__ADS_1


Anan benar-benar merasakan kasih sayang dari dokter Sandra. Semua perlakuan dokter Sandra terhadapnya, seperti perlakuan seorang ibu kepada anaknya.


Anan tersenyum, "Iya tante."


Dan mendapat pelukan hangat dari dokter Sandra.


"Mulai sekarang, jangan pernah merasa sendiri ya sayang" ucap dokter Sandra lalu melonggarkan pelukannya.


"Selain kamu punya mamahmu, kamu juga punya tante. Jadi, kalo kamu punya masalah, jangan sungkan. Ngomong sama tante, tante pasti membantumu" tutur dokter Sandra dengan senyum mengembang.


"Iya tante, terimaksih" ucap Anan juga tersenyum.


Anan keluar dari ruangan dokter Sandra setelah berpamitan. Ia berjalan menuju ruang perawatan mamahnya.


"Assalamualaikum" salam Anan setelah membuka pintu.


Ia meletakkan tas dan nasi bungkusnya di atas meja, lalu menghampiri mamahnya yang sudah tersenyum sejak kedatangannya.


"Maaf mah, Anan lama" ucap sambil mencium punggung tangan mamahnya.


"Tidak apa kok sayang, lagian di sini sudah ada perawat. Mereka semua merawat mamah dengan baik" jelas mamah.


"Ya udah, Anan shalat magrib dulu ya mah"


"Shalat asar sudah kan sayang?" tanya mamah.


"Udah mah, tadi di rumah" jawab Anan yang sudah hampir setengah jalan antara tempat tidur mamahnya dengan kamar mandi.


"Kamu tadi dari rumah ya sayang?" tanya mamah lagi.


"Iya, ambil motor Anan. Supaya tidak telat lagi ke kampus dan gampang kalo mau kemana-mana" jawab Anan.


"Kamu ketemu Rasmi tidak?"


"Ketemu mah"


"Bagaimana keadaan toko kue?" tanya mamah lesu.


Anan mendekati mamahnya dan memegang tangannya. "Mah... urusan toko, biar jadi urusan Anan dan Rasmi. Mamah tidak udah khawatir. Jadi mamah bisa fokus sama kesembuhan mamah, ya mah" tutur Anan menenangkan.


"Terimakasih ya sayang, sampaikan juga terima kasih mamah ke Rasmi" ucap mamah yang senang dengan penuturan Anan.


"Ya udah, Anan shalat dulu". Anan pun berlalu menuju kamar mandi untuk berwudhu lalu mengerjakan ibadah shalat magrib.


…………………………………………………………………………

__ADS_1


Jangan lupa dukung author dengan vote, like dan komen.


Terimakasih😘


__ADS_2