Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 27


__ADS_3

"Sebenarnya, tujuan bapak memperkenalkan saya pada kedua orangtua bapak, apa?" tanya Anan hati-hati.


Arya yang mendapat pertanyaan, mengernyit, lalu menoleh sekilas ke arah Anan, kemudian kembali menatap jalan di hadapannya. Tanpa berniat sedikit pun untuk menjawab.


"Kenapa bapak diam?" tanya Anan karena Arya hanya diam seribu bahasa.


"Kalo emang bapak telah dijodohkan oleh orangtua bapak, kenapa bapak menawarkan pertunangan kepada saya?" tanya Anan lagi mulai emosi.


"Apa bapak sengaja ingin mempermainkan saya? Lalu apa kata bapak tadi, bekerja? Di perusahaan bapak? Bagaimana bisa bapak punya pikiran ke sana? Sejak kapan saya meminta pekerjaan ke bapak? Kalo bapak belum siap untuk memperkanalkan saya kepada orangtua bapak, untuk apa bapak mengajak saya menemui mereka?" cecar Anan penuh penekanan.


Ciiitttthh!


"DIAAMMM!" teriak Arya bersamaan ia menghentikan laju kendaraannya dengan paksa.


Anan terperanjat, jantungnya berdetak kencang, nafasnya memburu, saking terkejutnya. Ini pertama kalinya ia dikasari. Ia tidak menyangka, orang yang tulus ia cintai, meneriakinya begitu lantang. Padahal, sebelumnya Arya selalu lembut semenjak dekat dengannya.


"Keluar!" perintah Arya dengan suara khas beratnya tanpa menoleh sedikit pun.


Anan yang masih berada dalam keterkejutannya menoleh ke Arya dengan mulut menganga.


"Aku bilang keluar!" pekik Arya, membuat Anan seketika berbalik ke arah pintu dan membukanya.


Begitu Anan berada di luar mobil, Arya langsung menancap gas meninggalkannya. Ia melajukan kendaraannya dengan sangat kencang. Rupanya, emosi yang menguasai, membuat Arya sama sekali tidak mempedulikan keselamatannya. Dan tentu, tidak menghiraukan Anan yang ditinggalkannya.


Sementara Anan yang ditinggal seorang diri di pinggir jalan, terperangah. Ia masih tidak percaya Arya tega menurunkannya di tengah jalan. Di jalan yang sepi.


Anan masih mengarahkan pandangannya di jalan yang dilintasi mobil Arya. Bulir air matanya jatuh tanpa permisi. Ia sungguh tak mengerti jalan pikiran Arya saat ini.


Ia menengadahkan kepalanya, menangis dan menjerit histeris. Sedang di langit, petir dan guntur saling bersahutan. Alam seolah tau apa yang dirasakannya saat ini. Hujan pun turun membasahi jalan, membadahi sukujur tubuhnya, menyapu linangan air matanya.


Ia mulai berjalan kecil, menyusuri jalan yang hanya diterangi lampu jalan. Berteman air mata dan air hujan, mencoba menguatkan diri. Dengan kedua tangannya, ia memeluk tas dan tubuhnya yang menggigil, menapaki jalan yang basah dan sunyi.


Ia tidak peduli dengan dinginnya udara yang menusuk sampai ke tulang. Semua seolah memanas oleh gejolak yang ada dalam dadanya. Sesak, benar-benar sesak.


Beberapa menit ia berjalan, tak sengaja tubuhnya tersorot oleh cahaya dari kendaraan yang hendak berlalu.


Mobil itu menepi dan berhenti. Si empunya turun dari kendaraannya dengan menggunakan payung untuk melindungi tubuhnya dari terpaan air hujan, kemudian menghampiri Anan, lalu berbagi payung dengannya.


"Mbak ngapain malam-malam sendiri di sini? Mana hujan lagi," tanyanya ke Anan dengan suara yang agak keras agar tak terhalau oleh derasnya air hujan yang jatuh. Namun Anan hanya menunduk, tidak menjawab sama sekali.


"Aku akan antar mbak pulang. Mbak jangan khawatir, aku bukan orang jahat. Aku dokter di rumah sakit Sandra Hospital."


Mendengar 'rumah sakit Sandra Hospital' dari mulut orang yang hendak menolongnya itu, seketika Anan mengangkat kepalanya dan menoleh ke orang tersebut.


Menatap mata indah yang bergelimang air mata bercampur air hujan itu, membuatnya ikut merasakan kesedihan yang terpancar dari raut wajah gadis berparas cantik yang ada di hadapannya kini.


"Aku bukan orang jahat. Aku akan mengantar mbak sampai tujuan," ucap orang itu, mengulang.

__ADS_1


Anan pun mengangguk lalu berjalan menuju mobil bersama dengan si empunya.


"Oiya, nama aku Idham," ucapnya memperkenalkan diri seraya menyodorkan selembar jaket untuk dipakai Anan agar tidak kedinginan, setelah berada dalam mobil.


Anan pun melebarkan jaket itu di badannya.


"Aku Anan, antar ke rumah sakit Sandra Hospital saja."


Setelah menyebutkan nama dan alamat tujuannya, Anan memalingkan wajahnya, menatap tiap benda yang dilalui oleh kendaraan yang membawanya.


Idham yang melihatnya, merasa iba. Ingin sekali ia menanyakan mengapa ia berada di jalan yang sepi, sendirian ditengah derasnya hujan. Ia sungguh penasaran, apa yang telah terjadi kepada gadis cantik yang ia tolong saat ini. Mendengar isakannya seakan menyilet lapisan kulitnya. Idham sungguh tak ingin menyaksikan seorang gadis menangis sesegukan di hadapannya.


Mobil Idham telah terparkir di pelataran rumah sakit.


"Maaf pak, karena melihatku seperti ini," ucap Anan seraya memperbaiki rambutnya dan menyerahkan jaket yang dipinjamkan Idham padanya.


"Panggil mas Idham saja. It's ok. Apa pun yang kamu alami malam ini, semoga tidak membuatmu larut di dalamnya," ujar Idham tanpa menyentuh jaket yang disodorkan Anan.


"Jaketnya dipakai saja," imbuhnya.


"Terimakasih mas, sudah mengantar aku," ucap Anan lalu keluar dari mobil Idham.


Idham masih terpaku, manatap nanar ke arah Anan. Ia juga penasaran, mengapa ia harus mengantar Anan ke rumah sakit, bukan ke rumah saja. Tapi segera ia tepis rasa ingin tahunya itu, toh ia juga kerja di sana. Kalau Tuhan berkehendak, ia pasti bertemu lagi dengan Anan.


***


Ia berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih, lalu meneguknya kasar. Setelah menyimpan gelas bekas minumnya di meja makan, iapun melangkah menuju kamarnya, agar dapat segera mendinginkan kepalanya yang terasa menididih karena emosi, dengan berendam dalam bathtub.


Namun, baru beberapa langkah ia bergerak, terdengar suara bel yang berbunyi, tanda ada orang di depan unitnya.


Iapun berbalik, melangkah menuju pintu.


"Ngapain kamu kesini?" tanyanya setelah membuka pintu dan mendapati Lexa berdiri di sana.


"Bukannya disuruh masuk, malah ditanya untuk apa," balas Lexa, lalu menerobos masuk tanpa menghiraukan Arya yang jengkel dengan kedatangannya.


"Dari mana kamu tau tempatku?" tanya Arya yang masih kesal, setelah melihat Lexa duduk di kursi ruang tamu, kemudian ikut duduk di salah satu kursi yang ada di sana.


"Kamu lupa, kalo aku calon tunanganmu," ucap Lexa dengan bersedekap.


"Tapi itu hanya pura-pura!" sanggah Arya dengan penekanan.


"Jadi kamu maunya bertunangan dengan si kampung Anan itu? Silahkan! Lalu untuk apa kamu mengatur rencana untuk mempermalukan dia, kalo emang kamu serius padanya?! Itu berarti kamu laki-laki lemah yang tidak punya harga diri."


Ucapan Lexa sontak membuat Arya berpikir keras.


"Benar juga ucapan Lexa, aku tidak boleh jadi laki-laki yang payah. Bodohnya aku jika aku membiarkan harga diriku diinjak-injak, apalagi oleh gadis kampung seperti Anan," gumamnya membatin.

__ADS_1


"Tapi saat ini, dia pasti marah padaku," ungkapnya.


"Marah gimana maksudnya?" tanya Lexa mengernyit.


"Ah..kamu tidak perlu tau. Yang aku bingung sekarang, bagaimana cara aku berbaikan dengannya lagi, agar aku tetap bisa menjalankan rencanaku itu."


Selang beberapa detik kemudian.


"Gampang! Kamu kasi aja apa yang dia mau," saran Lexa dengan senyum mencibir. Dalam pikirannya, gadis kampung pasti seperti Anan akan sangat senang jika diberi hadiah banyak dan mahal.


"Yang dia mau," lirih Arya berpikir.


"Jangan bilang kamu tidak tau apa yang diinginkan si kampung itu!" seru Lexa memicingkan matanya, menatap Arya.


Seketika ide pun muncul di otak Arya.


"Aku tau, apa yang dia mau!" serunya menyeringai.


***


Anan telah tiba di ruang perawatan mamahnya. Ia segera masuk ke kamar mandi setelah menyimpan tasnya di atas meja.


Mamah Yati yang menyaksikan kedatangan anaknya yang basah kuyup, hendak bertanya, namun dia urungkan. Dia membiarkan Anan membersihkan diri dan berganti pakaian terlebih dahulu.


Sebagai seorang ibu, tentu ada firasat buruk yang ia rasakan. Apalagi, ia sempat melihat mata Anan yang sembab, pertanda Anan baru saja telah menangis.


Hatinya nyeri, mengingat Anan pamit untuk menemui orangtua Arya. Ia pun menduga-duga, apakah anaknya dipermalukan dan diusir dari rumah mewah mereka?


Pintu kamar mandi terbuka. Anan berdiri menatap mamahnya yang duduk di atas tempat tidurnya, yang juga menatap kepadanya. Tatapan sendu mamah Yati membuat Anan tak kuasa menahan tangisnya.


Anan berlari menghampiri ibu yang telah melahirkannya dan memeluknya. Ia menangis sesegukan seperti anak kecil di pelukan mamahnya.


Mamah Yati pun turut meneteskan air mata meski tak bersuara. Ia mengusap lembut penuh kasih sayang rambut dan bahu anak gadisnya sambil sesekali mencium puncak kepala dan kening putrinya itu.


Menyaksikan ibu dan anak yang saling merangkul diiringi tangis, Rasmi pun tak mampu membendung kesedihannya. Cairan bening di pelupuk matanya jatuh dan semakin menetes. Ia juga dapat merasakan kesedihan yang dirasakan oleh keduanya.


"Maafkan Anan mah...hikss," ucap Anan disela tangisnya yang begitu pilu.


"Sudah sayang, tidak ada yang perlu dimaafkan. Kamu tidak salah," tutur mamahnya menenangkan.


"Harusnya Anan jujur dari awal dan meminta persetujuan mamah," ucap Anan lagi masih di pelukan mamahnya.


"Bukankah mamah sudah pernah berkata, bahwa segala yang terjadi di muka bumi ini, sudah kehendak dari sang Pencipta. Kita hanya manusia biasa, tidak tau apa yang akan terjadi besok, lusa, dan seterusnya."


Mamah Yati mencoba menyemangati putrinya.


"Ternyata, pak Arya telah dijodohkan mah...hikss. Pak Arya bilang..dia menyukaiku..tapi dia tega mempermain perasaanku mah..hikss," adu Anan setelah melepaskan rangkulannya.

__ADS_1


Semenjak kuliah, Anan tidak lagi mengadukan apapun permasalahan yang ditemuinya, kepada mamahnya. Ini pertama kali bagi mamah Yati mendengar aduan putrinya, yang justru setelah lulus kuliah.


__ADS_2