Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 78


__ADS_3

Zidan dan bu Jum kini berada di kantin. Tadinya, Zidan ingin mengajak bu Jum ke restoran, namun bu Jum menolak dengan alasan tidak mau meninggalkan rumah sakit.


"Jadi, bu Jum juga melihatnya?" tanya Zidan, setelah mendengar sedikit cerita bu Jum.


"Iya, Tuan. Malah Jum sempat mendengar orang itu menelpon seseorang sambil jalan terburu-buru," beber bu Jum.


"Apa bu Jum tahu, atau mendengar jelas percakapan orang itu?" tanya Zidan, serius.


Bu Jum tampak berpikir.


"Mm... tidak terlalu jelas juga sih, Tuan. Tapi, Jum sempat mendengar dia menyebut 'Tuan Besar'," ungkap bu Jum.


Dengan mengerutkan keningnya, Zidan menerka-nerka.


"Tuan besar yang mana, ya? Apa jangan-jangan opa? Setahuku, hubungan opa dan papah tidak terlalu baik. Ah... nanti aku coba tanyakan ke papah," monolognya.


Seminggu pun berlalu. Kesehatan Anan berangsur pulih. Dan ia tidak lagi tercatat sebagai pasien.


Selama menjalani perawatan pasca operasi, mamah Yati sering mempertanyakan keberadaan putrinya. Baik Zidan, dokter Sandra, maupun tante Yani, berusaha sebisa mungkin memberikan jawaban yang menyenangkan, yang bisa mamah Yati terima.


Namun, meskipun demikian, dalam hati mamah Yati selalu merasa tidak puas. Mamah Yati merasa ada yang disembunyikan darinya. Tapi, ia tetap bersabar menunggu kapanpun putrinya itu datang. Yang terpenting baginya adalah dimanapun Anan berada, Anan selalu baik-baik saja


"Bagaimana keadaan mamah?" tanya Anan ke Zidan, di ruang rawatnya sambil membereskan pakaiannya, walau dengan meraba.


"Alhamdulillah, kesehatan mamah berangsur pulih. Sebentar lagi, mamah tidak harus cuci darah. Mamah hanya perlu menjaga agar ginjal pemberianmu aman bersamanya," jelas Zidan kemudian meraih tas di hadapan Anan lalu memasukkan pakaian Anan ke dalamnya.


Ketika hendak menutup tas tersebut, tak sengaja ia melihat sulaman Anan pada shal berwarna abu-abu tua yang dibelinya atas permintaan Anan tiga hari yang lalu. Ia ingin menanyakan sulaman berwarna merah muda itu, namun ia urungkan. Ia tidak mau terlalu mencampuri privasi Anan.


"Bagaimana denganmu?" tanyanya.


"Alhamdulillah, aku baik-baik saja," jawab Anan, tersenyum.


"Oh iya, mamah pasti sering mencariku. Memang, apa yang kalian katakan padanya sebagai jawaban?"


Zidan menggeser tas pakaian Anan, lalu duduk disampingnya.


"Kami sepakat, bahwa Abhizar menemanimu bertamasya untuk menenangkan pikiranmu."


"Alasan macam apa itu?" tanya Anan, mengernyit.


"Ya... yang penting 'kan mamah senang, tidak kepikiran lagi," sahut Zidan.


"Selama seminggu?" tanya Anan, lagi.


"Tidak, hanya lima hari. Mamah tahunya kamu berangkat setelah operasinya," jawab Zidan.


"Apa sudah siap?" tanya Abhizar yang muncul di ambang pintu.


"Sudah," sahut Zidan.


Zidan lalu menggenggamkan sapu tangan di tangan Anan. Dan menuntunnya ke kamar rawat mamah Yati. Sementara Abhizar berjalan di belakang mereka membawa tas pakaian Anan.


Zidan mendorong pintu dan tampaklah mereka semua yang sedang menantikan kedatangan Anan.


Mereka yang berada di kamar rawat mamah Yati telah membuat janji sebelumnya. Dan sepakat berakting seolah Anan benar-benar telah melakukan perjalanan tamasya bersama Abhizar.


"Kalian sudah pulang?!" seru dokter Sandra, menghampiri Anan.


"Iya, Mah," sahut Anan yang berjalan bersama dokter Sandra ke tempat tidur mamah Yati.


"Bagaimana piknikmu, Nak? Apa menyenangkan?" tanya mamah Yati, tersenyum dan mengelus punggung tangan Anan.


"Me-menyenangkan, Mah," jawab Anan, gagap. Ia sejujurnya tidak tega membohongi mamahnya.


"Apa kamu baik-baik saja, Nak?" tanya mamah Yati, khawatir. Sebab melihat kegugupan di raut wajah putrinya.


"Anan baik, Mah."

__ADS_1


Anan yang hendak duduk di kursi tak sengaja membentur bagian sandaran kursi tersebut. Akibatnya, Anan merasakan sakit di area perut yang telah dibedah.


"Auchh...!"


"Anan!"


"Anan!"


"Anan!"


Zidan, Abhizar, dan dokter Sandra, memekik cemas. Sedangkan ibu Yani dan tante Ranti menatap Anan, panik.


Zidan dan Abhizar segera menghampiri Anan dan membawanya duduk di sofa. Semuanya tampak khawatir. Hal ini membuat mamah Yati heran.


"Apa yang mereka sembunyikan dariku?" gumamnya membatin.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Zidan, cemas, berjongkok di hadapan Anan.


"Apa masih sakit?" tanya tante Yani seraya menyentuh bagian perut Anan.


"Apa maksudmu, Yani?" tanya mamah Yati, mengernyit.


Semua menoleh ke arah mamah Yati dengan air muka khawatir dan panik.


"Bukankah Anan baru saja membentur kursi? Itu pasti sakit. Betul 'kan bu Yani?"


Dokter Sandra buru-buru mencairkan suasana.


"Be-betul, Dokter," sahut ibu Yani, menatap dokter Sandra kemudian beralih ke mamah Yati.


Mamah Yati mengangguk pelan dua kali.


"Bagaimana, Nak? Apa masih sakit?" tanyanya, memastikan.


"Tidak apa-apa, Mah. Cuma tersenggol sedikit, tidak sakit. Mamah jangan khawatir," sahut Anan, tersenyum.


Namun, jawaban Anan tidak lantas membuat mamah Yati tenang. Rasa ingin tahu dan cemas masih menyelimuti. Ia tahu persis, seperti apa putrinya itu. Namun, ia mencoba untuk mempercayai perkataan gadis yang disayanginya itu.


Di sisi lain, diwaktu yang sama.


Di Bandara Internasional Halim Perdanakusuma.


Seorang pria berpenampilan kasual dan berkaca mata hitam, berjalan beriringan dengan asistennya yang sama-sama mendorong koper.


Apa dia Arya?


Yup!


Arya kembali setelah berminggu-minggu tinggal di Jerman mengurus anak perusahaan Wima Group di sana.


Dan rupanya ia tidak sendiri. Begitu mengetahui kabar pengunduran diri Dimas, dengan tegas tuan Wijaya menolak. Dan surat pengunduran diri yang diajukan oleh Dimas, disobeknya. Serta memerintahkan Dimas segera menyusul Arya.


Dimas benar-benar tidak berdaya di hadapan tuan Wijaya. Karena rasa hormat dan berhutang budi, mau tidak mau, suka tidak suka, ia tetap harus berangkat ke Jerman dan bertemu dengan Arya. Meskipun ia sebenarnya enggan bertemu dengan orang yang telah membuatnya kecewa itu.


*Flashback on.


Di sebuah apartemen, seseorang membunyikan bel. Dengan malas, penghuni apartemen tersebut bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati pintu.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Arya setelah tahu siapa yang datang mengunjunginya dengan manik memicing.


Dimas yang masih kecewa dengan sahabatnya itu, menerobos masuk tanpa berniat sedikit pun untuk menjawab.


"Hei! Aku bertanya padamu. Untuk apa kamu datang kemari?" desak Arya, berdiri di ambang pintu kamar tamu.


Dimas lagi-lagi tak merespon Arya. Ia hanya sibuk membongkar kopernya dan mengeluarkan isinya.


"Lalu, bagaimana aku bisa tahu kabar Anan kalau kamu juga ada di sini?"

__ADS_1


Dimas yang tadinya sibuk, seketika menghentikan kegiatannya dan menoleh ke Arya dengan tatapan tajam.


Dimas berdiri, lalu mengikis jarak dengan Arya.


"Masih ingat kamu sama dia?" tanyanya dengan senyum mencibir. Sedang Arya hanya terdiam, tak bisa menyanggah.


"Apa kamu sudah menyadari sesuatu?" tanya Dimas, sesaat sebelum melanjutkan kegiatannya.


Arya yang ditanya masih termangu di tempatnya. Ia sendiri bingung dengan perasaannya saat ini.


Tak lama, Arya pun meninggalkan Dimas yang sibuk sendiri.


"Ada apa denganmu sebenarnya, Arya?" gumam Dimas, melirik Arya.


Dua minggu pun berlalu. Arya dibantu Dimas menjalankan rutinitas mereka di perusahaan seperti biasa. Dimas yang setiap harinya bersama dengan Arya, berangsur melupakan kekecewaannya terhada sahabatnya itu. Namun, ada yang tak biasa dari sikap Arya.


Arya kadang kala termenung, memikirkan sesuatu. Terlalu nampak beban di raut wajahnya. Bahkan, tidur pun Arya tidak pernah lelap. Dimalam hari, Arya selalu terbangun karena mimpi buruk dan terkadang mengingau. Sebagai orang yang dekat dengannya, hal ini membuat Dimas risau.


Seperti malam ini. Lagi-lagi Arya terbangun karena mimpi yang sama. Dimas yang mendengar Arya memanggil-manggil nama 'Anan', segera memasuki kamar tidur Arya, dan membangunkannya.


"Mimpi buruk lagi?" tanyanya yang menyodorkan segelas air putih yang selalu tersedia di atas nakas.


Arya mengangguk pelan dengan peluh membasahi jidatnya. Dimas hanya menghela nafas panjang, menanggapi.


"Dimas... aku ingin bertemu Anan. Aku ingin meminta maaf padanya. Aku benar-benar tersiksa. Jujur... aku merindukannya."


Penuturan Arya seketika membuat Dimas terperangah. Ia tidak menyangka, sahabatnya itu akan berkata seperti itu. Ia yang sejak tadi duduk di sisi ranjang, bangkit, lalu berkacak pinggang membelakangi Arya sembari menghela nafas berat dan menatap langit-langit kamar.


Tanpa berbalik, "Apa kamu yakin? Aku tidak mau kamu menyakitinya lagi," tanyanya.


"Walaupun aku belum yakin dengan perasaanku padanya, tapi aku yakin ingin meminta maaf padanya," sahut Arya.


"Tapi, apa Anan bersedia memaafkan kamu?" tanya Dimas, berbalik.


"Aku tidak tahu. Tapi aku akan terus berusaha untuk mendapatkan maaf darinya. Apapun caranya," tegas Arya.


"Terserah padamu saja. Aku mendukungmu."


Dimas berjalan menuju sofa. Lalu menjatuhkan bobot tubuhnya pada sofa tersebut.


"Tidurlah, aku akan di sini sampai subuh," ujarnya.


"Hei, aku bukan anak kecil. Kamu kembali saja ke kamarmu," tolak Arya.


"Baiklah." Dimas bangkit dan melangkah mendekati pintu.


"Maka jangan membangunkanku dengan suaramu yang cempreng itu," ucapnya, kemudian menutup pintu.


"Sial!" Arya melemparkan guling ke arah Dimas, namun hanya mengenai daun pintu yang telah ditutup oleh Dimas.


"Apa Anan masih sudi bertemu denganmu, Arya?" lirih Dimas yang masih berdiri di depan pintu kamar Arya.


Hari-hari berlalu. Setiap malamnya, Arya pun selalu memimpikan hal serupa. Sehingga membuatnya semakin merasa bersalah dan menyesal.


Ingin rasanya ia segera terbang kembali ke Indonesia, agar dapat bertemu dengan Anan dan meminta maaf. Namun, karena tugas yang diemban belum kelar, ia pun harus bersabar dan berusaha menyelesaikan secepatnya.


*Flashback off.


Author minta maaf, karena update terbaru kisah Anan, lama. Berharap kalian memaklumi author.


Author juga berterima kasih karena masih setia menunggu kisah terbaru Anan dan Arya.


Author berharap kisah Anan Arya dapat menghibur pembaca sekalian.


Jangan lupa untuk selalu dukung author dengan cara vote sebanyak-banyaknya, like setiap babnya, dan komen positif yang banyak, agar author semakin semangat melanjutkan ceritanya.


Salam sehat selalu.

__ADS_1


Author menyayangi kalian.


Terima kasih 🙏😊


__ADS_2