
[ Vote ya man teman ]
Tanpa menunggu Lexa, Septy menuju parkiran di mana mobilnya berada, dan mengendarainya pulang ke rumah.
Flashback off.
"Jangan bilang kalo kamu menyesal lagi mengantar Mamah!" Mamah Santi membuka suara melihat Septy yang tampak galau tingkat dewi.
Karena tidak dihiraukan, mamah Santi meneriaki putrinya.
"Septy!"
"Apaan sih Mah, berisik tau."
"Siapa suruh, Mamah ngomong kamu tidak perdulikan. Apa jangan-jangan kamu beneran nyesel lagi ngantar Mamah?"
"Mamah ada-ada aja deh. Siapa juga yang nyesal?!" Septy mengerucutkan bibirnya.
"Lahh... tuh bibir kamu manyung gitu, kayak pantat bebek."
"Ihhh... Mamah apa-apaan sih, kualat Mamah ngatain anak sendiri pantat bebek."
"What?! Yang ada tuh ya, kamu yang kualat sama Mamah."
"Aduh Mamah, sekarang udah zaman millenial bukan lagi zaman batu. Jadi, orangtua juga bisa durhaka sama anaknya."
"Ajaran sesat dari mana tuh?! Mamah baru dengar."
"Nah, itulah bedanya anak zam dulu dengan anak zaman sekarang. Zaman sekarang selalu ada pembaharuan, Mah. Mamah Ngaku sosialita, tapi yang kayak gitu aja tidak tau."
"Apa hubungannya sosialita sama ajaran sesatmu itu?"
"Ahh... udahlah Mah. Mamah tidak bakal ngerti."
"Ya udah. Siapa juga yang mau dengar ajaran sesat kamu yang unfaedah itu."
Septy menghela nafas berat.
Tak terasa mereka sampai di tempat tujuan. Septy yang bermaksud memutar kendaraannya meninggalkan tempat, dihalangi oleh mamahnya.
"Tidak baik kamu sudah ada di sini tapi tidak menyapa tante Riska."
Septy pun mengikuti ucapan mamahnya. Ia berjalan beriringan dengan mamahnya ke tempat acara berlangsung.
"Septy tidak bisa lama ya Mah," bisik Septy ke telinga mamahnya begitu tiba di ambang pintu utama rumah berarsitektur kontemporer itu. Mamah Santi pun mengangguk pelan seraya tersenyum tipis.
"Hai, Kakak," sapa tante Riska ke mamah Santi dengan menempelkan sekilas kedua pipi masing-masing.
__ADS_1
"Septy, calon mantu Tante juga datang. Makasih Sayang udah mau hadir," ucap tante Riska mendekap Septy. Sedang Septy hanya mengkerutkan keningnya menoleh mamahnya.
"Jangan-jangan mamah sengaja bawa aku kemari karena mau jodohin aku. OMG... mamah sungguh kunonya dikau." Septy membatin tanpa melepaskan tatapannya dari mamahnya.
Mamah Santi yang mengerti dengan tatapan putrinya juga membantin, "Aduh! Aku udah ketahuan." Mamah Santi tersenyum kecut ke arah Septy.
Mamah Santi memang berencana menjodohkan Septy dengan anak tante Riska yang seorang arsitek bernama Ammar. Tante Riska sendiri adalah adik sepupu dari papah Septy.
Sejak Septy berusia sepuluh tahun, dia tidak pernah lagi bertemu dengan Ammar karena sepupunya itu melanjutkan sekolah di Jerman dan tinggal di sana bersama dengan kakak kandung tante Riska.
"Ayo, ikut tante, Sayang," ajak tante Riska sambil merangkul lengan Septy.
Mereka duduk bertiga sampai pada akhirnya anak dari tante Riska ikut duduk diantara mereka.
"Apa aku mengganggu?" tanya Ammar.
"Tentu saja tidak." Mamah Santi menyenggol lengan Septy yang sedari tadi menatap Ammar tak berkedip.
Septy bukannya jatuh cinta begitu melihat Ammar. Namun ia merasa takjub dan tidak percaya. Ammar yang dulunya memiliki badan tambung alias gemuk, berubah menjadi altetis.
"Ihh... Mamah," lirih Septy yang tidak suka disenggol oleh mamahnya.
Mereka mengobrol sampai tak terasa waktu menunjukkan pukul 12 tengah malam. Dan Septy pun gagal menemui Anan.
***
Pagi pun menyapa. Tetesan embun seakan menyambut terpaan sinar mentari. Dedaunan seolah mengalun indah tertiup udara yang menerpa. Setiap insan sibuk dengan rutinitasnya masing-masing dipagi ini. Tak terkecuali Anan.
Pukul 7.30 Anan meninggalkan rumah sakit menuju toko kuenya dengan mengendarai motor matiknya.
Hari ini adalah hari sabtu. Meski demikian, kemacetan masih mewarnai jalanan kota.
"Bukankah dia gadis yang di bandara waktu itu?" tanya Abhizar pada dirinya sendiri ketika tanpa sengaja melihat Anan tepat di samping kendaraannya menunggu lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau.
"Dia mau pergi kemana?" gumamnya memperhatikan dari balik jendela mobilnya.
"Benar-benar cantik," puji Abhizar kepada Anan.
Disaat yang sama, tiba-tiba Anan menurunkan standar samping motornya dan berlari meninggalkannya.
"Mau kemana dia?" Abhizar heran karena di tengah padatnya kendaraan, Anan malah meninggalkan kendaraannya.
Ia terus memperhatikan kemana Anan pergi. Sampai akhirnya ia melihat Anan memghampiri seorang nenek yang berdiri di pinggir jalan hendak menyeberang. Anan memapah nenek tersebut dan membawakan keranjang dagangannya.
Setelah berhasil menolong nenek tersebut menyeberang, Abhizar juga sempat melihat Anan berbincang sebentar dengan nenek itu sebelum kembali ke kendaraannya.
Lampu lalu lintas telah berwarna hijau. Anan terlebih dahulu melajukan kendaraannya disusul kendaraan milik Abhi. Namun Anan menepikan kendaraannya tidak lama setelahnya.
__ADS_1
Abhi pun turut menepikan mobilnya. Rupanya Anan kembali menemui nenek yang ditolongnya tadi. Anan hendak memberi uang pada nenek itu, namun ditolak. Anan pun berinisiatif membeli beberapa jajanan yang dijual nenek itu agar uang yang dipegang Anan diterima oleh nenek tersebut. Dan itu semua tak lepas dari pantauan Abhi.
"Bukan hanya cantik fisik, tapi juga cantik hati." Abhi lagi-lagi memuji Anan.
"I really like you, girl."
Ponsel Abhi berdering. Dan setelah berbicara singkat, ia pun melajukan kendaraannya menuju tempat janji temunya dengan seseorang yang baru saja menelponnya.
"Semoga Tuhan kembali mempertemukan kita," ucap Abhi seraya menatap Anan melalui kaca tengah mobilnya yang bergerak menjauh dari posisi Anan.
***
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 15.00. Anan yang masih berada di toko kue bersama dengan Atika, bersiap untuk pulang.
Ia merentangkan tangan dan meregangkan otot-ototnya yang kaku setelah seharian disibukkan dengan para pembeli dan pesan antar.
"Atika, Kakak pulang duluan ya?"
"Iya, Kak. Hati-hati di jalan."
Ketika hendak melajukan motornya, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia pun menjawab panggilan telepon terlebih dahulu.
"Assalamualaikum, Mah." Anan menjawab telepon dari dokter Sandra.
"Waalaikumsalam. Kamu di mana, Sayang?"
"Anan masih di toko Mah, tapi udah mau berangkat ke rumah sakit. Ada apa, Mah?"
"Tidak ada apa-apa. Mamah cuma minta kamu temani Mamah ke salon tante Eliz, bisa?"
Anan berpikir sejenak.
"Ok, Mah. Bisa."
"Ya udah. Mamah jemput kamu di rumah sakit. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Anan pun bergerak menuju rumah sakit.
Sejujurnya, Anan menyanggupi permintaan dokter Sandra karena ia berpikir ia memang butuh perawatan. Sebab nanti malam ia akan menghadiri acara perayaan ulang tahun perusahaan Wima Group. Ia tidak ingin membuat Arya malu dengan menampilannya yang biasa. Maka dari itu, ia harus melakukan beberapa rangkaian perawatan agar ia cukup bisa bersanding dengan Arya.
Kalau bukan karena itu, ia tidak akan mau. Ia tidak mau memanfaatkan kebaikan dokter Sandra yang sudah sangat membantunya selama ini.
Sesampainya di rumah sakit. Dokter Sandra telah menunggunya di lobi.
"Aku ke atas dulu, izin sama mamah."
__ADS_1
"Tidak usah, Sayang. Mamah sudah izin ke mamah Yati," cegah dokter Sandra lalu menuntun Anan menuju mobilnya.
TBC...