
Baru saja ibu Yani dan bu Jum hendak duduk, Zidan muncul mencari Anan.
"Anan mana, Tante?" tanyanya.
"Di dalam," jawab ibu Yani, menunjuk pintu ruang ICU dengan telunjuk tangan kirinya. Sedang tangan kanannya masih memegang tangan bu Jum.
Zidan pun berbalik hendak masuk ke ruang ICU, namun langkahnya terhenti.
"Bu Jum kenal dengan tante Yani?" tanyanya setelah berbalik menghadap ibu Yani dan bu Jum yang menyadari kedekatan di antara keduanya. Dan melihat ibu Yani dan bu Jum telah duduk di kursi panjang yang ada di sana.
"Iya, Tuan." Bu Jum menjawab dengan cengengesan, membuat Zidan mengernyit.
"Apa Tuan masih ingat ketika bu Jum menceritakan tentang majikan bu Jum waktu itu?" Zidan semakin mengerutkan keningnya.
"Ibu Yani inilah majikan yang saya maksud, Tuan." Zidan pun mengangkat kedua alisnya sambil mengangguk-angguk.
"Kalau begitu, silakan dilanjutkan obrolannya. Aku masuk dulu," pamit Zidan, ramah.
Zidan menyembulkan badannya ke dalam ruangan tempat mamah Yati saat ini terbaring.
Setelah menutup pintu, pandangannya langsung tertuju pada Anan yang duduk di samping tempat tidur mamah Yati seraya menggenggam tangan mamah Yati dengan tersedu-sedu.
Zidan mulai mengayunkan langkahnya. Dari jarak ini juga, Zidan dapat menyaksikan tubuh Anan yang bergetar akibat menangis terisak. Hati Zidan ngilu melihat pemandangan ini.
Begitu tiba di belakang Anan, Zidan mengulurkan tangannya dan menyentuh punggung Anan.
"Anan," panggilnya, pelan.
Seketika Anan berdiri dan membalikkan tubuhnya, lalu mendekap Zidan dengan air mata yang membanjiri wajahnya. Ini kali kedua Anan memeluk Zidan. Entah mengapa, Anan merasa seolah memeluk saudara sendiri.
"Zidan, mamah butuh pertolongan," ujarnya ditengah isakannya.
Zidan bergeming dan hanya menatap mamah Yati yang terbaring lemah di atas brankar.
Menyadari Zidan tidak meresponnya, Anan pun melonggarkan pelukannya kemudian menjulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Zidan.
"Apa kamu juga menolak keputusan aku, Dan?" tanyanya.
Zidan meraih kedua tangan Anan yang menyentuh pipinya.
"Apa kamu sudah yakin?" tanyanya. Zidan sungguh berharap ada keajaiban yang mampu membuat Anan membatalkan keputusannya.
"Aku sangat yakin dengan keputusanku, Dan." Anan lalu duduk kembali di kursinya semula.
Sedang Zidan mengusap kasar wajahnya penuh frustrasi. Kemudian berkacak pinggang sembari mengedarkan pandangannya tak tentu arah. Dan berakhir menatap lekat Anan dengan perasaan campur aduk.
"Mungkin cuma itu satu-satunya harapanku. Semoga saja hasil uji kecocokannya nihil. Sehingga Anan tidak perlu mengorbankan dirinya. Maaf, Nan. Kali ini saja, biarkan aku egois. Aku tidak mau lagi kamu kenapa-kenapa," gumamnya membatin.
🍁🍁🍁
Beberapa hari berlalu.
Hari ini, tibalah dimana mamah Yati akan menjalani prosedur bedah transplantasi ginjal dengan Anan sebagai donor setelah sebelumnya berpuasa selama delapan jam. Tentunya, hal ini dirahasiakan dari mamah Yati. Sebab, jika mamah Yati mengetahuinya, sudah dipastikan ia tak akan mau menerima donor ginjal dari Anan.
__ADS_1
Lalu, bagaimana dengan Zidan?
Zidan harus menelan kekecewaan, sebab dari seluruh rangkaian pemeriksaan, tak ada satu tes pun yang menunjukkan ketidaklayakan Anan sebagai donor. Mulai dari cek golongan darah, cek jaringan, dan yang terakhir tes kecocokan darah.
Dua jam telah berlalu, semua tampak harap-harap cemas menanti hasil dari operasi transplantasi ginjal mamah Yati dan Anan yang dipimpin langsung oleh dokter Sandra.
Di tengah kepanikan mereka, tiba-tiba ponsel Zidan bergetar tanda pesan chat masuk. Ia lalu membuka dan membaca isi dari pesan chat tersebut. Matanya melotot menatap layar ponselnya.
Ia pun pamit. Dengan berlari kecil, ia semakin menjauh dari orang-orang yang sejak tadi bersamanya.
Dengan tergesa-gesa, ia masuk ke dalam mobilnya, kemudian mengendarainya dengan kecepatan di atas rata-rata. Di sepanjang perjalanan ia terus saja mengingat perkataan bu Jum beberapa hari yang lalu.
Tepatnya, ketika ia dan Anan berada di taman, bu Jum menelponnya dan memintanya segera bertemu. Rupanya, bu Jum membeberkan perihal tuan Kemal yang dilihatnya datang menemui dokter Heru yang merupakan dokter forensik di rumah sakit Sandra Hospital.
Tak banyak informasi yang diberikan bu Jum waktu itu. Karena bu Jum sendiri hanya seorang petugas kebersihan biasa. Dan lagi, di saat yang sama, Zidan juga mendapat kabar tentang kondisi mamah Yati yang memburuk. Sehingga Zidan bergegas menemui dokter Sandra, mengurungkan maksudnya untuk menemui dokter Heru.
Setelah 15 menit berkendara, ia pun tiba di perusahaan Grissham Company. Tujuannya untuk menanyakan langsung terkait isi pesan chat yang baru saja diterimanya dari dokter Heru.
Sebenarnya, meski Zidan adalah anak dari pemilik rumah sakit, namun bukan berarti Zidan dapat dengan mudah memiliki informasi apapun yang ia inginkan. Tapi karena beberapa pertimbangan dari dokter Heru, barulah Zidan menerima informasi yang ia minta beberapa hari lalu dihari ini.
Setiap karyawan dan karyawati membungkukkan badannya begitu melihat Zidan.
"Apa langit akan runtuh?" tanya salah satu karyawan kepada temannya.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu. Setelah sekian tahun, ini pertama kalinya tuan muda Zidan menginjakkan kakinya di gedung ini."
Begitulah seterusnya. Setiap ada karyawan yang dilewati Zidan, mereka pasti dengan spontan berbisik ke teman sesama karyawan mereka.
Kini Zidan telah berdiri di hadapan sekretaris papahnya di depan ruangan presdir.
"Ada, Tuan muda," jawab sekretaris itu, cepat.
"Tapi, Tuan mu... ." Kalimat sekretaris itu tidak ia lanjutkan karena Zidan telah beranjak dari tempatnya dan masuk ke ruangan tuan Kemal.
Zidan yang membuka pintu dengan kasar. Mengagetkan tuan Kemal, Raka, dan kedua rekan bisnis tuan Kemal yang berada di ruangan itu.
Zidan yang berdiri di ambang pintu, menatap tajam pada tuan Kemal.
"Tampaknya Tuan ada hal yang lebih mendesak. Kalau begitu, kami permisi dulu." Kedua rekan bisnis tuan Kemal pun beranjak meninggalkan ruangan presdir.
"Ada apa, Nak?" tanya tuan Kemal, lembut.
Zidan mengikis jarak dengan papahnya.
"Bisa Papah jelaskan, untuk apa Papah menemui dokter Heru?" tanyanya.
Tuan Kemal terperanjat mendengar pertanyaan putranya.
"Dari mana kamu mendapatkan informasi itu?" tanyanya, mengernyit.
"Itu tidak penting, Pah. Yang ingin Zidan tahu, untuk apa Papah ingin melakukan tes itu dan siapa inisial AL itu?" desak Zidan.
"Itu... ."
__ADS_1
"Jawab, Pah!" pekik Zidan.
"Tenanglah, Tuan muda," sela Raka.
"Aku tidak ada urusan dengan kamu." Zidan melirik tajam pada Raka yang berdiri di sampingnya.
"Sudah-sudah. Baiklah, Papah akan jelaskan. Duduklah, Nak!" Zidan pun berjalan menuju sofa dan duduk di sana. Disusul tuan Kemal yang meninggalkan kursi kebesarannya dan duduk berhadapan dengan Zidan.
Sebelum memulai ucapannya, tuan Kemal berulang kali menarik nafas panjang. Dan Zidan hanya menatap papahnya lekat. Tak lama, tuan Kemal pun mulai menceritakan masa lalunya.
"Jadi, inisial AL itu Ananda Larasathi?" tanya Zidan, setelah mendengar semua cerita lengkap dari tuan Kemal.
Tuan Kemal yang tertunduk, mengangguk mengiyakan.
"Dari mana Papah menarik kesimpulan bahwa kemungkinan besar Anan adalah anak Papah?" tanya Zidan, lagi.
"Seperti yang Papah katakan tadi, Papah sendiri tidak tahu. Tapi perasaan Papah berkata demikian. Dan untuk memastikannya, Papah pun menghubungi dokter Heru untuk melakukan tes DNA dengan menggunakan sampel rambut Papah dan rambut Anan."
"Apa Anan mengetahui tes ini?"
"Tidak," jawab tuan Kemal.
"Lalu bagaimana Papah mendapatkan rambut Anan?" tanya Zidan, memicingkan maniknya.
"Itu... Papah mengambilnya dua hari setelah dia siuman. Papah mengambilnya diam-diam," ungkap tuan Kemal.
"Maafkan Papah. Karena telah bertindak ilegal. Tapi itu Papah lakukan semata-mata hanya ingin membuktikan sesuatu."
"Tapi Papah bisa meminta Zidan untuk melakukannya, Pah. Kalau untuk membuktikan Anan saudari Zidan atau bukan, Zidan pasti akan mendukung Papah."
Ada rona bahagia yang terpancar dari raut wajah tuan Kemal.
"Bukankah Papah tahu, kalau aku dan Anan dekat. Bahkan sudah seperti saudara, kata orang-orang. Dan jujur saja, dibandingkan dengan Papah, mungkin akulah yang lebih berharap Anan adalah saudari kandungku."
Zidan berdiri dan berjalan menghampiri foto yang terpajang di atas bufet di belakang kursi tuan Kemal.
"Apa Papah sudah pernah menemui mamah Yati?" tanyanya yang memegang bingkai foto mamah Yati yang saat itu masih sangat muda.
"Belum. Papah belum punya keberanian untuk menemuinya. Mungkin, di benaknya Papah ini pria berengsek dan pengecut. Bukan cuma itu. Papah dengar mamahmu dan mamah Yati berhubungan baik. Papah tidak mau karena kenyataan ini, hubungan mereka merenggang atau bahkan terputus."
"Tapi, bukankah akan lebih baik jika mereka mengetahui kebenarannya dari Papah, bukan dari orang lain?!"
"Soal itu, biar Papah pikirkan." Zidan meletakkan bingkai foto yang dipegangnya, kemudian kembali duduk di sofa.
"Oiya, bagaimana keadaan mamah Yati dan Anan?" tanya tuan Kemal.
"Astagfirullah!" seru Zidan dengan menepuk jidatnya. Karena rasa ingin tahunya yang tinggi, membuatnya melupakan operasi mamah Yati dan Anan.
"Ada apa?" tanya tuan Kemal, cemas.
Zidan mengerutkan keningnya.
"Apa Papah tidak tahu kalau hari ini mamah Yati melakukan operasi transplantasi ginjal? Dan donornya adalah Anan."
__ADS_1
"Apa?" pekik tuan Kemal, terkejut.