
[ Biar makin banyak pahala, jangan lupa vote ya ]
Di perjalanan, dokter Sandra sesekali melirik ponsel yang dipegang Anan. Ia tahu betul itu milik siapa.
Sepulang dari bandara kemarin, Zidan meminjamkan ponsel miliknya, sebab Anan dengan gigih menolak dibelikan ponsel baru.
Namun sayang, baru saja Anan memindahkan sim card nya, ponsel itu mati karena kehabisan baterai. Dan Anan baru mengaktifkannya pagi hari ini.
"Ponsel kamu kenapa?" tanya dokter Sandra.
"Rusak, Mah. Sekarang lagi diperbaiki tukang servis handphone."
"Kalo gitu, kita ke counter hp, ya?"
Sama seperti Zidan, dokter Sandra pun mendapat penolakan dari Anan.
"Tapi ponsel kamu kan rusak. Lagian, diperbaiki pun butuh waktu," ucap dokter Sandra lembut.
"Tidak usah, Mah. Sementara aku pakai ponsel ini aja dulu," tolak Anan tersenyum seraya menunjukkan ponsel yang dipegangnya.
"Tapi itu kan bekas, Sayang. Masak iya anak gadis Mamah pakainya yang second?"
"Tidak apa, Mah. Kan cuma sementara."
"Ya udah, kalo itu mau kamu. Mamah tidak bisa paksa."
Lalu keduanya saling melempar senyum.
Sesampainya mereka di tempat tujuan, Anan dan dokter Sandra disambut oleh tante Eliz. Mereka melakukan perawatan seperti biasa. Walaupun Anan adalah gadis yang berasal dari kampung dan juga sederhana, namun wajahnya sama sekali tidak tampak seperti itu.
Memiliki wajah oriental serta kulit putih bersih, membuat Anan layaknya gadis kota yang sederhana.
Disela Anan melakukan perawatan, ia mendengar dua orang gadis yang juga melakukan perawatan yang sama dengannya sedang asyik berbicara tentang perusahaan Wima Group yang akan merayakan pesta ulang tahun ke 30 tahun.
Rupanya mereka berdua adalah karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut.
"Gimana dengan gaun yang aku beli tadi?" tanya salah satu di antara mereka ke temannya yang duduk di sebelahnya.
"Bagus. Kalo gaunku?" tanyanya balik.
"Udah pas banget. Top pokoknya," sahut temannya sambil mengacungkan jari jempolnya.
"Eh, dengar-dengar pas acara nanti, pak Arya akan mengumumkan pertunangannya, loh."
"Masak sih."
"Iya."
"Wah... hari patah hati seperusahaan dong."
"Iya. Padahal, kalo boleh jujur, aku tuh jatuh cinta banget sama pak Arya."
"Mimpi kamu tuh ketinggian. Tapi, kamu tau tidak siapa calon tunangan pak Arya?"
"Tidak jelas, sih. Pak Arya kan jarang terlihat bersama cewek."
"Ya, siapa pun dia, pastinya cewek itu berasal dari keluarga terpandang, cantik, lulusan luar negeri, dan kaya. Pokoknya high class deh."
"Ya iyalah. Masak iya pak Arya disandingkan dengan cewek kampung yang kere. Tidak mungkinlah."
"Iya. Kalo harus dapat yang seperti itu sih, mending pilih aku."
"Betul banget. Kasihan pak Arya kalo sampai dapat yang tidak selevel yang noraknya minta disiram air cucian beras ha..ha..ha..ha."
"Dan aku yakin. Kalo pak Arya sampai nemu cewek yang seperti itu, pak Arya pasti tidak serius. Dia hanya jadi bahan mainannya pak Arya saja. Percaya deh."
Kedua karyawan itu asyik tertawa.
Anan menyimak obrolan mereka. Membuat perasaan aneh menyusup ke relung hatinya. Jujur saja, Anan sakit hati mendengar perkataan mereka. Dan mendadak ia merasa tidak percaya diri.
__ADS_1
"Aku ini gadis kampung. Dan aku juga tidak kaya dan terpandang. Apa benar pak Arya hanya mempermainkanku? Tapi, pak Arya sendiri yang mengundangku. Di depan mamah pak Arya juga menyampaikan keseriusannya bertunangan denganku. Tidak mungkin pak Arya bercanda. Aku yakin, pak Arya pasti tidak akan mempermainkanku walaupun aku ini seorang gadis kampung yang tidak punya apa-apa," gumam Anan membatin meyakinkan dirinya.
"Nona, nona!" panggil karyawan salon yang melayani Anan.
"Eh-iya," sahut Anan tersadar dari lamunannya.
"Udah selesai, Nona."
"Oh-iya. Terima kasih."
Anan bangkit dari duduknya. Disaat yang sama dokter Sandra datang menghampiri.
"Udah?"
"Udah, Mah."
Anan dan dokter Sandra pun melangkah menuju pintu utama salon tersebut. Saat berpapasan dengan kedua karyawan Wima Group tadi, Anan dan keduanya saling menatap selama beberapa detik. Kemudian Anan melanjutkan langkahnya.
"Kamu kenal dengan cewek itu?" tanya karyawan yang berambut panjang tergerai ke temannya.
"Tidak. Tapi... seperti pernah lihat. Di mana ya?" sahut karyawan lainnya berusaha mengingat
"Ah... sudahlah. Yuk!"
Kedua karyawan itu pun beranjak dari sana.
***
Malam pun tiba. Acara perayaan ulang tahun Wima Group sebentar lagi akan dimulai. Ruangan telah didekorasi sedemikian indahnya. Semuanya sesuai dengan tema malam ini. Tak ketinggalan menu hidangan yang menggugah selera dan musik sebagai pemanis dan pelengkap acara ini.
Area parkir dipenuhi kendaraan. Para tamu undangan kian memadati tempat acara yang semuanya tergolong kalangan menengah ke atas. Para petinggi perusahaan dan beberapa pemegang saham juga telah hadir berikut dengan pasangan mereka masing-masing.
Di tempat terpisah.
"Kamu berangkat sendiri saja. Aku mau menjemput Anan dulu," ucap Arya ke Dimas.
"Baiklah, aku duluan. Segeralah tiba, jangan buat om dan tante, juga yang lainnya menunggu lama."
Di rumah sakit Sandra Hospital.
"Wah... kak Anan benar-benar cantik. Seperti dimake-up oleh MUA," puji Atika seraya berdecak kagum.
"Kamu bisa aja, Tik."
"Aku serius, Kak. Aku benar kan, Tante?" tanya Atika ke mamah Yati.
"MasyaAllah... yang dikatakan Atika memang benar, Nan. Putri Mamah sungguh cantik."
"Terima kasih, Mah," ucap Anan seraya tersenyum.
Anan termasuk cewek yang jarang berdandan. Namun, untuk urusan poles memoles wajah, Anan tergolong lihai. Terbukti, siapapun yang melihat pasti akan berdecak kagum. Apalagi Anan pada dasarnya sudah cantik. Pastilah semakin terlihat cantik.
Setelah memakai segala pelengkap penampilannya malam ini, Anan menghampiri mamahnya dan duduk di hadapannya.
Anan memegang tangan mamah Yati.
"Mah, Anan minta doa restunya ya. Semoga semuanya berjalan lancar."
"Amin. Doa dan restu Mamah selalu menyertaimu, Sayang. Dan semoga kamu selalu bahagia."
Mamah Yati mengelus pipi Anan. Rasa khawatir yang menghinggapi beberapa hari terakhir ini, belum juga enyah. Ia selalu terbayang akan mimpi-mimpi buruk yang membumbui tidurnya sejak beberapa hari yang lalu. Ia sungguh mencemaskan putri semata wayangnya. Ia takut sesuatu yang buruk akan menimpanya.
Namun ia berusaha tawakkal. Ia sadar, ia hanyalah manusia biasa. Semua sudah ada yang mengatur.
"Mamah kenapa menatap Anan seperti itu?" tanya Anan yang melihat tatapan mamahnya sendu.
Mamah Yati menghela nafas dan berusaha tenang.
"Tidak, Sayang. Tidak kenapa-napa."
__ADS_1
Mamah Yati menoleh ke arah pintu lalu kembali menoleh putrinya.
"Jam berapa Arya menjemputmu?"
Disaat yang sama pintu terketuk oleh seseorang.
"Biar aku saja, Kak."
Atika beranjak dari duduknya untuk membuka pintu.
Setelah pintu terbuka, Arya pun muncul dari balik pintu. Anan dan mamah Yati menoleh ke arah Arya. Sungguh Anan terpesona dengan penampilan Arya malam ini.
Dengan balutan Tuxedo dan rambut yang tertata rapi ke belakang. Tidak seperti biasanya yang tertata ke samping dan bahkan kadang dibiarkan acak. Namun tidak mengurangi kadar ketampanannya.
"MasyaAllah... sungguh tampan calon suamiku," gumam Anan dalam hati. Anan benar-benar mengagumi Arya malam ini.
"Aztagfirullah... belum mahrom," gumam Anan tersadar.
Tidak berbeda dengan Anan, Arya pun takjub melihat penampilan Anan. Ada desiran aneh menggelayut di hatinya. Hati Arya menghangat tatkala Anan tersenyum menyambutnya.
"Gila, nih cewek kok makin cantik saja. Dan kenapa juga aku sangat senang melihat senyumnya itu. Tidak! Aku tidak mungkin menyukai senyum itu. Dan secantik apapun dirinya, aku tidak akan pernah jatuh cinta padanya. Kalo sampai itu terjadi, aku akan bertekuk lutut di hadapannya dan aku rela menjadi budak cintanya," batin Arya.
Arya hanya tidak menyadari bahwa sesungguhnya ia telah menaruh hati pada Anan. Atau mungkin, Arya sebenarnya sudah jatuh cinta kepada Anan.
Terbukti, setiap Dimas, asisten sekaligus sahabat Arya berbicara tentang Anan, Arya seolah tidak terima Dimas lebih tahu tentang Anan dibanding dirinya. Terlebih jika Dimas menceritakan ia dari toko kue Anan dan bertemu dengan Anan. Seketika rasa cemburu menggerogoti hati dan pikirannya.
Namun bagaimana lagi. Ego telah mengalahkan logika dan perasaan Arya.
"Ternyata pasangan kak Anan babang tamvan," celetuk Atika tak henti menatap Arya.
"Kamu sudah siap?" tanya Arya ke Anan.
Anan mengangguk dan bangkit dari duduknya.
"Mah, Anan pergi dulu ya."
Ucapan Anan langsung disanggah oleh mamah Yati.
"Tidak, Sayang. Jangan bilang 'pergi', tapi 'berangkat'."
Anan menghela nafas ringan lalu tersenyum.
"Baiklah, Mah. Anan berangkat dulu."
Anan meraih tangan kanan mamah Yati dan menciumnya. Tak lupa Anan juga mencium kening mamahnya.
"Anan... ," panggil mamah Yati saat Anan hendak berbalik.
"Iya, Mah?"
"Mamah ingin memelukmu, Sayang."
Tanpa menunggu lama Anan langsung menghambur memeluk mamahnya. Ibu dan anak itu saling berpelukan.
Setelah beberapa saat.
"Sudah?" tanya Anan yang masih mendekap mamahnya.
"Sudah," sahut mamah Yati melonggarkan pelukannya.
Mamah Yati menoleh ke Arya.
"Jaga putri Tante baik-baik ya," pinta mamah Yati ke Arya.
"Tante jangan khawatir. Aku pasti menjaganya."
Anan dan Arya keluar dari kamar rawat mamah Yati.
Mamah Yati tak melepaskan sedikit pun pandangannya sampai pintu ditutup kembali oleh Atika.
__ADS_1
Meskipun Arya telah berkata akan menjaga Anan, namun kekhawatiran mamah Yati tidak berkurang secuil pun. Ia sungguh takut dan merasa terhantui oleh firasatnya sendiri.
Tbc...