Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 67


__ADS_3

"Arrgggghhh...! Sialan kamu Septy. Aku tidak bersalah, kamu yang salah! Harusnya kamu yang ada di sini!" teriak Lexa dari balik jeruji besi.


"Eh, berisik! Bisa diam, tidak?!" Lexa menatap tajam tahanan yang baru saja menegurnya, yang juga berada di sel tahanan yang sama dengannya.


"Kalo kamu merasa terganggu, tutup telinga kamu yang lebar itu!" timpal Lexa, sengak.


"Mbak, kita di sini semua sama. Jadi jangan merasa lebih baik," kata tahanan lainnya, mengingatkan.


Lexa menoleh, "Tapi aku tidak mau ada di sini. Tempat ini bau, sempit, dan menjijikkan. Aku mau keluar!" ujarnya.


"Ya, mau bagaimana lagi?! Tapi inilah tempat yang cocok buat kita, pelaku kriminal," ucap tahanan wanita itu.


"Lebih baik kamu terima takdirmu. Bukankah ini yang kamu mau?" Tahanan itu tersenyum sinis.


"Kau tau kenapa tempat seperti ini ada? Selain untuk mengamankan kita dari kebrutalan keluarga korban, tempat ini ada juga untuk menyadarkan kita, agar kita introspeksi diri dan tidak mengulanginya lagi."


"Diam kamu! Aku muak mendengar ceramahmu. Tidak berguna sama sekali. Arrggghhh... !" Lexa tersungkur sambil tetap memegangi jeruji besi di depannya. Kepalanya tertunduk, rahangnya mengeras, dan tangannya mengepal.


"Aku tidak akan tinggal diam. Anan dan Septy harus membayar mahal semua ini. Aku tidak akan melepaskan kalian," geram Lexa, membatin.


🌸🌸🌸


Di tempat terpisah.


"Jadi, bu Jum tadi mau ngomong apa?" desak Zidan.


"Sabar dulu, Tuan. Biarkan Jum menghabiskan makanan Jum." Bu Jum mengunyah dengan antusias nasi goreng yang dipesannya di kantin yang ada rumah sakit itu.


Zidan hanya menggeleng-geleng menyaksikan cara makan bu Jum yang jauh dari kata anggun.


"Aahhhh...!" Bu Jum telah meneguk sisa jus alpukat dalam gelasnya, puas.


"Nah, sekarang ceritakan semua yang bu Jum tau!" Bu Jum mengusap mulutnya dengan tisu, lalu nampak berpikir.


"Mm... Jum tadi mau ngomong apa ya, Tuan?" tanyanya, mengetuk-ngetuk pipinya dengan jari telunjuknya.


Zidan menghela nafas seraya mengembungkan pipinya.


"Bu Jum.... ." Manik Zidan melotot.


"Hehehehe... iya-iya, Jum ingat sekarang."


Zidan mengarahkan pandangannya ke sekeliling dengan kedua tangannya di atas meja. Kemudian kembali menatap bu Jum.


"Jadi begini, Tuan." Bu Jum mulai memasang wajah serius.


"Tadi, Jum tidak sengaja mendengar asisten tuan besar berbicara dengan seseorang di telepon. Jum sendiri tidak begitu jelas semua percakapan mereka, Tuan. Tapi telinga Jum menangkap bahwa tuan Raka di suruh oleh Tuan besar untuk mencari seorang gadis. Dan katanya ini sangat penting. Gitu, Tuan."


Zidan mengernyit menatap wanita paruh baya di hadapannya itu.


"Apa bu Jum yakin?" tanyanya, selidik.


"Ya yakin lah , Tuan." Semangat sekali bu Jum. Sangking semangatnya, orang-orang yang duduk tak jauh darinya, terkaget dibuatnya.


"Ups! Yakin, Tuan," ulangnya dengan suara pelan.


Zidan mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.


"Kalo gitu, mulai sekarang bu Jum aku kasi misi."


"Misi apa, Tuan?" tanya bu Jum, sedikit memajukan wajahnya.


"Kalo bu Jum melihat papah, atau orang-orang papah berkeliaran di rumah sakit ini. Bu Jum harus laporkan ke aku. Dan ingat, jangan sampai ketahuan orang lain!"


"Siap, Tuan!" sahut bu Jum seraya mengangkat tangan kanannya di depan jidatnya.


Zidan pun beranjak meninggalkan bu Jum. Tak dipungkiri, ia tak bisa untuk tidak memikirkan perkataan bu Jum. Apalagi hari ini ia melihat tuan Kemal di depan pintu ruang ICU.


"Untuk apa papah memerintahkan Raka mencari seorang gadis? Apa gadis yang dimaksud papah adalah Anan? Tapi, apa hubungan papah dengan Anan?" Zidan bermonolog di setiap langkahnya. Ia sungguh bingung dengan apa yang dilihat dan didengarnya.

__ADS_1


"Kalo aku tanyakan langsung ini ke papah, aku yakin papah pasti akan menutupinya dari aku." Lanjut Zidan membatin.


Begitu tiba di depan pintu ruang ICU, tiba-tiba ia dikagetkan oleh panggilan mamahnya.


"Eh, Mamah. Mamah mau masuk juga?" Zidan menunjuk pintu di hadapannya.


"Iya. Tadi perawat yang berjaga bilang, Anan menggerakkan jarinya tadi. Dan menurut Mamah ini adalah pertanda baik," terang dokter Sandra.


"Semoga aja ya, Mah," harap Zidan dan disambut anggukan serta senyum oleh dokter Sandra.


Kemudian mereka pun masuk. Dokter Sandra dan Zidan berdiri berseberangan. Anan berbaring di tengah-tengah mereka. Tak ada senyum hangat yang biasanya menyambut mereka dari wajah Anan. Hanya jarum infus dan selang oksigen yang terpasang di hidung mancung pasien saat ini.


Sudah 5 hari Anan terbaring lemah di atas brankar rumah sakit. Dan dinyatakan koma oleh dokter yang menanganinya. Tentu saja semua berharap Anan bisa segera siuman. Terutama mamah Yati.


Semenjak kabar kecelakaan putrinya, kesehatan mamah Yati benar-benar menurun drastis. Sehingga membuat tante Ranti dan yang lainnya cemas.


Berbagai upaya pun dilakukan, termasuk mencari donor ginjal yang cocok. Namun hasilnya masih nihil. Walaupun demikian, mereka tetap berusaha dan berharap secepatnya mendapatkan pendonornya.


Zidan duduk di kursi yang ada di sana lalu meraih tangan Anan.


"Anan... walau kamu tidak bisa apa-apa saat ini, tapi aku yakin kamu bisa mendengar aku." Zidan beralih menatap mamahnya yang juga menatapnya.


Dokter Sandra sangat mengenal putranya. Meskipun Zidan tidak mengatakannya, melalui sorot matanya, dokter Sandra dapat mengetahui jika Zidan sangat merindukan gadis yang ada di hadapan mereka saat ini.


"Kau tau Anan? Aku baru mengetahui kalo ternyata kamu ini tukang tidur." Dokter Sandra mengusap-usap lengan Zidan. Ia paham, walaupun kedengaran bercanda, tapi ada kesedihan yang tersirat di dalamnya.


"Bangulah Anan! Kamu sudah tidur lama. Apa kamu tidak rindu padaku? Atau, apa kamu tidak merindukan mamah Yati? Aku mau kamu segera bangun, Nan. Aku janji tidak akan jahil lagi. Aku akan jadi saudara yang baik buat kamu. Yang akan selalu menjagamu, melindungimu, juga menyayangimu. Jadi, aku mohon... bangunlah."


Zidan menghela nafas.


"Kau tau? Meskipun aku sudah bosan meminta kamu bangun, tapi aku tidak akan berhenti melakukannya. Biarlah kamu yang ikutan bosan mendengarnya. Berharap, dengan begitu kamu segera membuka mata dan kembali menatap luasnya dunia."


"Sudah, Sayang. Mungkin Anan masih ngantuk. Kita biarkan saja dia tertidur sampai puas. Jika sudah saatnya, Anan pasti akan terbangun dengan sendirinya."


Zidan mengangguk lalu berdiri dari duduknya. Ia membungkukkan badannya dan mendaratkan satu kecupan di kening Anan. Kemudian mengusap rambut Anan dengan penuh kasih sayang.


Dokter Sandra kembali tersenyum menyaksikan tingkah putranya itu. Ia pun tahu, betapa besar rasa sayang putranya itu ke Anan.


"Ya sudah. Lebih baik kita keluar. Besok kita kembali lagi," ajak dokter Sandra.


Setelah Zidan menutup pintu, ia pun teringat sesuatu.


"Mah, apa hari ini Mamah meminta papah menjemput Mamah?" tanyanya.


Dokter Sandra mengkerutkan keningnya.


"Tidak. Tumben kamu nanya. Ada apa?" Dokter Sandra menatap selidik.


"Tidak. Tidak ada apa-apa," sahut Zidan, cepat.


Dokter Sandra mengangkat alisnya.


"Kalo gitu, Mamah ke ruangan Mamah dulu."


Sepeninggal dokter Sandra, Zidan semakin dalam berpikir.


"Itu artinya, mamah tidak tau kalo tadi papah ada di sini. Ini ada yang tidak beres. Aku harus mengusutnya," batinnya.


🌸🌸🌸


Tiga hari kemudian.


Hari ini, Atika yang menunggui Anan mengabarkan bahwa Anan telah siuman. Semua sangat senang mendengarnya. Termasuk Septy.


Septy yang kemarin sudah diperbolehkan dokter untuk pulang, kini kembali ke rumah sakit untuk melihat kondisi Anan bersama dengan kedua orangtuanya.


Namun ada yang tidak terduga terjadi pada Anan.


Dua jam yang lalu.

__ADS_1


Atika duduk di samping tempat tidur Anan. Ia yang berjaga sambil memainkan game pada ponselnya, sesekali melirik Anan.


Dan alangkah terkejutnya ia ketika mendapati kedua mata Anan terbuka. Hampir saja ponsel yang ditangannya terjatuh sangking tidak percayanya dengan apa yang ia liat.


Buru-buru ia menaruh ponselnya ke dalam saku celananya. Lalu menekan alat untuk memanggil perawat.


Tak lama, dokter dan dua orang perawat pun masuk. Atika keluar dari ruangan tersebut agar dokter dan perawat lebih leluasa memeriksa keadaan Anan.


Dari arah lift, Zidan muncul bersama dengan Adji, Rara, Salma, dan Rasmi.


Rasmi juga telah sembuh dari sakitnya beberapa hari yang lalu. Dan hari ini ia ingin menjenguk Anan. Entah itu kebetulan atau bukan, mereka semua bertemu di parkiran rumah sakit.


"Ngapain kamu berdiri di sini?" tanya Zidan yang melirik Atika dan pintu ruang ICU itu bergantian.


Atika menoleh, "Itu... dokter dan perawat sedang memeriksa kak Anan," jawabnya.


"Oo... ." Zidan hanya ber o ria.


"Memang, ada apa dengan Anan?" tanya Adji, mengernyit.


Seketika Atika menepuk jidatnya, menyadari sesuatu.


"Astaga!!!" serunya. Membuat yang menatap heran.


"Kamu kenapa?" tanya Rasmi.


"Itu... kak Anan."


Zidan dan lainnya semakin mengernyit dalam.


"Kak Anan... kak Anan sudah siuman."


"Apa?!" tanya mereka berbarengan.


Tanpa membuang waktu, mereka menerobos masuk ke ruang ICU dan menyisakan Atika yang termangu menatap mereka hingga hilang di balik pintu.


"Bagaimana kondisi Anan, Dokter?" tanya Zidan.


"Kondisi nona Anan berangsur pulih dan sebentar lagi akan sembuh total." Dokter menjawab dengan percaya diri.


Namun, kepercayaan diri dokter tersebut tidak berlangsung lama.


"Dokter... ," panggil Anan, pelan.


"Ya, Nona."


"Apa sekarang sedang malam dan mati lampu?" tanya Anan.


Sontak saja mereka yang ada di sana saling pandang karena bingung dengan pertanyaan Anan barusan.


Zidan melangkah lebih dekat dan melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Anan. Namun, tak ada sedikit pun respon yang diberikan oleh Anan.


Zidan menoleh ke dokter yang memeriksa Anan tadi. Dokter yang memimpin operasi Anan. Dan juga yang pernah Zidan sandera.


Sedang Salma, Rara, dan Rasmi saling berpegangan tangan. Takut jika apa yang mereka pikirkan terjadi.


🌸🌸🌸


Maaf, nunggu lama πŸ™


Author sibuk ngirim dunia nyata author.


Jangan lupa tuk selalu dukung author dengan cara vote, like, dan komen.πŸ€—πŸ˜Š


Terima kasih πŸ™


Salam sehat selalu.


Author menyayangi kalian 😘. Kalian luar biasa, sungguh! 😊

__ADS_1


__ADS_2