
Anindira terkejut melihat foto-foto itu, itu memang foto dirinya bersama seorang lelaki.
lelaki itu adalah orang yang berbicara dengannya waktu itu di depan gerbang rumah, tapi dia tidak mengenalnya.
"Aku tidak tau siapa lelaki yang ada di foto ini."
"Apakah kamu juga tidak mengenali dirimu sendiri? yang ada di foto itu jelas-jelas adalah kamu." Bentak leon.
"Aku bilang aku tidak mengenalinya."
Leon semakin marah, dia hampir menampar anindira tapi dia masih bisa menahannya, dia tidak jadi menamparnya, karna walau bagaimanapun dia adalah wanita yang sedang hamil.
Dalam keadaan marah, leon masuk ke kamarnya anindira dan mengeluarkan semua baju dan barang-barang anindira dari lemarinya dan memasukkannya ke dalam koper.
leon melempar koper itu ke luar, dan mengusir anindira dari rumah.
"Pergi kamu dari sini! jangan pernah kamu menginjakan kaki lagi di rumah ini."
"Ada apa ini mas kenapa ribut-ribut?" tanya aluna.
"Aku ingin wanita itu pergi dari rumah ini!"
"Tapi kenapa mas?"
"Lihat ini, dia jelas-jelas seorang penipu." Leon memperlihatkan foto-foto itu pada aluna.
"Ini.. tidak mungkin?! bisa saja foto ini adalah editan."
"Editan? by, sadarlah. otakmu sudah di cuci oleh wanita itu. (sambil menunjuk ke arah anindira). Kenapa kamu masih diam saja di sana, cepat pergi dari sini."
Leon menyeret anindira ke luar rumah dan mendorongny sampai dia terjatuh.
"Tidak?! jangan mas, dia sedang hamil. Bagaimana kalau dia kenapa-kenapa!"
"Bram suruh dia pergi dari rumah ini." Perintah leon pada bram asisten pribadinya.
Bram terlihat kebingungan dia tidak bisa menolak perintah leon, tapi juga tidak tega untuk menyuruh anindira segera pergi dari sana.
"Maaf nona, sebaiknya nona segera pergi dari sini! amarah tuan leon sedang meledak, akan lebih baik jika nona pergi dari sini untuk sementara waktu." Ucap bram sambil membantu anindira berdiri dan mengambilkan kopernya.
Anindira tidak bicara sepatah katapun, dia syok dengan apa yang telah menimpanya.
"Anindira, tolong jangan pergi. Hentikan dia mas, aku mohon." Aluna bicara dengan nafas tersenggal-senggal, kejadian itu memicu kambuhnya penyakit aluna.
Penglihatan anindira kabur, dia berjalan dengan setengah tidak sadar langkahnya tidak karuan, dia sudah tidak bisa mendengar suara di sekitarnya, kemudian dia pingsan.
"Nona muda.." Teriak ana, anaknya bi sri yang bekerja sebagai pelayan di rumah pradana.
Diapun reflek berlari menghampiri anindira yang sedang terkapar pingsan di tanah.
Papanya leon mendengar keributan itu, lalu pergi keluar untuk melihat, "Apa yang terjadi?"
__ADS_1
Bram menjawab, "nona muda pingsan tuan besar."
"Lalu kenapa kalian diam saja bawa dia ke rumah sakit."
"Baik tuan." Bram menggendong anindira ke dalam mobil.
Aluna semakin terkejut ketika melihat anindira pingsan.
Sehingga memicu penyakitnya semakin parah. Dia sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya lagi kemudian diapun tak sadarkan diri.
"By, by, ada apa denganmu? bangun sayang."
Leon memanggil-manggil aluna dengan perasaan cemas, dan mencoba membuat dia sadar.
"Ada ribut-ribut apa ini? Aluna?! apa yang terjadi padanya? kenapa dia pingsan."
"Aku gak tau ma, tiba-tiba saja aluna tak sadarkan diri."
"Kita harus segera membawanya ke rumah sakit, jangan sampai terlambat." Ucap mamanya leon.
"Cepat angkat dia dan bawa ke dalam mobil." Suruh papanya leon.
leon cepat-cepat membawa aluna ke dalam mobil.
Anindira dan aluna dilarikan ke rumah sakit bersamaan. Mereka di rawat di kamar yang bersebelahan.
Yang menangani mereka adalah dokter andri dokter keluarga pradana.
Ketika dokter andri ke luar dari ruang rawat yang di tempati aluna, leon langsung menanyakan keadaanya pada dokter itu.
"Dokter, bagaimana dengan keadaan istri saya?"
"Dia masih belum sadarkan diri, leon ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Datanglah ke ruanganku setelah aku memeriksa keadaan anindira." Ucap dokter andri sambil menepuk pundak leon dan beranjak ke ruang rawat anindira.
Setelah dokter selesai memeriksa keadaan anindira dan keluar dari ruang rawat.
Tidak ada yang menanyakan keadaannya.
Lalu neneknya leon menghampiri dokter andri dan dia yang menanyakan keadaan anindira, "Dok, bagaimana dengan keadaan anindira?"
"Keadaannya lemah karna mengalami syok dan setres yang berlebihan, untungnya itu tidak terlalu berpengaruh pada janin di dalam kandungannya."
"Kalian harus lebih memperhatikannya, tidak boleh membuatnya setres. dan perhatikan juga pola makannya, dia kekurangan banyak asupan gizi dan nutrisi."
"Baiklah dokter, terimakasih." Ucap neneknya leon.
Leon tidak memperdulikan tentang keadaan anindira, dia hanya menghawatirkan aluna istri pertamanya.
Leon memperhatikan aluna dari balik kaca, dia tidak tega melihat istrinya terbaring lemah seperti itu, dan tak terasa air matanya pun menetes.
Dokter andri melihat ke arah leon lalu pergi ke ruangannya.
__ADS_1
Leon mengusap air matanya dan menyusul dokter andri.
"Apa dokter menyuruhku ke sini untuk memberitau keadaan aluna?"
"Iya, ini adalah laporan diagnosis tentang penyakit yang di derita aluna selama ini."
"Laporan diagnosis penyakit aluna?! apa maksud semua ini?!"
"Bacalah terlebih dahulu."
Alangkah terkejutnya leon ketika dia mengetahui kalau istrinya di vonis mengidap penyakit jantung stadium4.
"Apa ini dok?! sejak kapan istriku punya penyakit jantung?"
"Sebenarnya, dia tidak memperbolehkan aku untuk memberitau semua anggota keluarga. tapi aku rasa kamu perlu tau tentang ini, dia sudah lama mengidap penyakit itu."
"Kenapa dia tidak memberitauku?"
"Aluna tidak mau membuatmu hawatir dan bersedih, Karna dengan keadaannya yang seperti itu, dia tidak bisa hamil. Resikonya akan sangat tinggi jika dia memaksakan diri untuk mempunyai anak, bahkan sampai bisa menyebabkan..."
Dokter andri tidak kuasa meneruskan perkataannya, apalagi dia melihat leon menangis dihadapannya.
Leon menangis membaca laporan diagnosis itu, "Aluna di vonis memiliki penyakit seperti itu dari 1 tahun yang lalu?! jadi selama ini dia menahan rasa sakitnya sendirian? dia pasti sangat menderita selama ini."
"Itulah kenapa dia ingin kamu menikahi anindira, dia mengatakan padaku ingin mempunyai seorang anak, tapi aku memberinya obat pencegah kehamilan, atas suruhan ibumu."
"Apa?!"
"Tenanglah leon, obat itu aman untuk penyakit jantungnya."
"Jadi, ibuku juga sudah tau kalau selama ini aluna sakit? kenapa tidak ada yang memberitauku?" bentak leon.
"Ibumu tau sendiri tentang penyakit aluna, waktu itu ibumu menemukan sample obat yang tidak sengaja di jatuhkan aluna di halaman rumahmu, ibumu membawanya padaku dan menanyakan itu sample obat apa."
"Karna sudah terlanjur, aku memberitau ibumu, tapi ibumu belum mengatakannya pada aluna, alasan ibumu mendesak kamu supaya mau menikah lagi, adalah karna dia takut aluna memaksakan diri untuk hamil. Ibumu begitu menyayangi menantunya, dia melakukan semua itu untuk kalian."
"Tapi kenapa harus wanita itu?"
"Memangnya kenapa dengan anindira?! dia wanita yang baik. dan lagi, bagaimana kamu mau menikah dengan wanita lain kalau wanita yang baik seperti dia saja kamu menolaknya."
"Wanita yang baik?! asal dokter tau saja, dia wanita munafik, penipu. anak yang ada dalam kandungannya bukan anakku."
"Dari mana kamu tau kalau itu bukan anakmu?"
"Aku sudah membuktikannya."
"Leon bukannya kamu pernah menghabiskan malam bersamanya? kalau dia mengandung anak dari lelaki lain, seharusnya waktu itu dia sudah mengandung. lalu kenapa dia hamil setelah menghabiskan malam bersamamu bukan sebelumnya?"
Leon melotot mendengar perkataan dokter andri.
"Maaf leon, kamu tidak perlu merasa heran ataupun marah karna aku mengetahui semuanya. aku adalah dokter keluargamu aku pasti tau semua yang terjadi."
__ADS_1
Leon mengepalkan tangannya perasaannya jadi campur aduk. antara sedih, kesal, dan marah.