Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 36


__ADS_3

Leon sangat bahagia bisa menghabiskan waktu bersama anaknya, tak terasa hari pun sudah semakin sore.


"Rendra, sudah sore ayo kita mandi!"


"Iya pa."


Leon pergi mandi bersama Rajendra.


Ketika mereka selesai mandi mereka melihat Aira masih ada di rumahnya, dia sedang menyiapkan makanan untuk makan malam.


Leon dan Rajendra saling menatap, lalu Leon menghampiri Aira.


"Aira, kamu sedang apa?"


"Eh kalian, aku sedang menyiapkan hidangan untuk makan malam nanti."


"Emh, kamu mau makan malam di sini?"


"Iya, tante mengajakku untuk makan malam bersama."


"Begitu ya."


Rajendra menarik tangan papanya, dan berbisik.


"Pa, Lendla gak mau makan malam belsama tante itu."


"Oke, nanti kita makan di kamar kamu aja ya."


"Oke."


"Kalian bisik-bisik membicarakan apa?"


"Gapapa, Rajendra bilang dia mau pipis kami ke toilet dulu ya."


Leon menggendong dan membawa Ranjendra pergi ke halaman belakang rumah.


Tiba-tiba Leon teringat Anindira, setiap kali Anindira memberi ASI pada Rajendra dia selalu membawanya ke sana.


Leon menghampiri kursi panjang yang ada di sana dan menyentuhnya, dia teringat kembali saat Anindira sedang memberi ASI pada Rajendra, dia hampir saja melihatnya Leon merasa malu saat itu.


Dia tersenyum mengingat itu, Rajendra terheran-heran melihat papanya senyum-senyum sendiri.


"Pa, papa kenapa senyum-senyum sendili?"


"Ah, gapapa, papa hanya teringat sesuatu."


"Apa itu?"


"Rendra mau tau?"


"Iya,"


"Dulu, waktu kamu masih bayi mamamu sering duduk menyendiri di sini sambil menggendong kamu."


"Oh, begitu ya! belalti tadi papa senyum-senyum itu telingat sama mama ya?"


"Emh, iya." Ucap Leon tersipu malu.


"Wajah papa memelah."


"Hmm, masa! enggak ah, emangnya kelihatan ya wajah papa merah."


"Iya kelihatan, melah kaya telbakal api."


"Terbakar?! hahaha, kamu ada-ada aja."


Aira mendengarkan pembicaraan mereka, dia merasa kesal karna Leon masih saja memikirkan Anindira.


Dia pergi dengan raut wajah yang terlihat jengkel.

__ADS_1


"Aira, kenapa kamu terlihat kesal?"


"Enggak kok tan, gak ada apa-apa." Sambil tersenyum miring.


"Ya udah, ayo gabung sama yang lain di ruang tengah!"


"Iya, tan."


Makan malam pun tiba, Aira makan malam bersama keluarga Leon.


"Bi Sri, tolong ambilkan dua piring nasi dan lauknya! antarkan ke kamar Rajendra ya! katanya Rajendra mau makan di kamarnya." Kata Leon.


"Kenapa Rendra gak mau makan di sini?"


"Katanya dia mau makan sambil memainkan mainannya di kamar ma."


"Oh, ya udah gapapa kamu temani dia makan di kamarnya ya!"


"Iya ma," kata Leon sambil beranjak ke kamar Rajendra.


"Bi Sri tolong bikinin susu juga buat Rendra ya!"


"Baik nyonya."


"Tante, biar aku saja yang mengantarkan makanannya! aku juga perlu mengenal Rendra lebih dekat, siapa tau setelah ini akan membuat Rajendra semakin dekat denganku."


"Baiklah, Bi Sri berikan makanannya pada Aira! biar Aira yang mengantarkannya ke kamar Rajendra."


"Iya nyonya."


Bi Sri memberikan nampan yang berisi makanan untuk Leon dan Rajendra pada Aira, lalu Aira membawanya ke kamar Rajendra.


Tok..tok..tok..Dia mengetuk pintu kamar Rajendra.


"Itu pasti Bi Sri, papa buka pintunya dulu ya." Ucap Leon.


Leon membuka pintu, "Aira?! kenapa kamu yang mengantarkan makanannya?"


"Gapapa kok, aku membawakan makanan ini khusus untuk kalian! boleh aku masuk?"


Leon belum sempat menjawabnya, Aira sudah nyelonong masuk ke kamar.


"Rendra ayo makan! kamu mau tante suapin gak? katanya ini makanan kesukaan kamu ya! ayo makan selagi masih hangat." Ucap Aira.


Ketika Aira mau menyuapi Rajendra, dia menolaknya.


"Maaf tante, Lendla sudah besal Lendla udah bisa makan sendili, di lumah mama juga Lendla suka makan sendili kok."


"Eh, bagaimana bisa mamamu membiarkan kamu makan sendiri! kamu masih harus di suapin nanti makannya gak kenyang dan berantakan."


"Enggak kok Lendla makannya gak belantakan, Lendla juga suka habisin makanannya sampai belsih! bahkan Lendla selalu nambah sampai dua piling loh tante."


"Benarkah?"


"Iya, tante gak usah kawatil sini bial Lendla makan sendili." Rajendra mengambil nampan itu, dia mengambil sepiring nasi dan lauknya lalu memakannya dengan lahap di hadapan Aira.


Leon tertawa cekikikan sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya dan menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan anaknya.


Aira nyengir lalu menatap Leon, Leon berhenti tertawa.


"Ya udah deh, kalau gitu tante pergi dulu ya! selamat makan Rendra dan Mas Leon."


"Iya silahkan, terimakasih ya Aira!"


"Sama-sama mas,"


Leon dan Rajendra tersenyum, lalu melakukan tos untuk keberhasilan mereka menjauhkan Aira dari mereka sendiri.


"Anak papa pintar banget sih, siapa yang ngajarin?"

__ADS_1


"Paman Dean, Paman Dean bilang kalau kita gak suka sama seseolang jangan di kelasin halus di usil dengan cala halus."


Leon terdiam.


"Telus Paman Dean juga bilang kita halus punya tlik atau taktik untuk menghadapi olang sepelti tante Aila."


"Memangnya Rendra tau trik dan taktik itu apa?"


"Enggak, Lendla cuma di kasih tau itu aja sama Paman Dean."


"Ternyata dia benar-benar berusaha keras untuk menjadi ayah sambung yang baik ya!" Ucap Leon dalam hati.


"Kenapa papa diam? ayo makan! nanti makanannya habis sama Lendla loh."


Leon tersenyum dan mengambil makanan bagiannya, lalu memakannya dengan lahap juga.


"Rendra, papa boleh tanya sesuatu sama kamu."


"Jangan kasih peltanyaan yang Lendla gak ngelti ya pa."


"Hahaha, kamu benar-benar mirip dengan mamamu."


"Iya dong pa, Lendla kan anaknya mama."


"Hahaha, anak papa juga kan?"


"Iya campulan dali mama dan papa."


"Hahaha, dari mana kamu mempelajari kata-kata itu?"


"Lendla enggak tau, tiba-tiba aja kelual sendili dali mulut Lendla."


Leon tidak bisa berhenti tertawa mendengar perkataan anaknya itu.


"Papa katanya mau tanya sesuatu sama Lendla kok malah ketawa mulu sih."


"Oke, oke, papa minta maaf ya! papa mau tanya apa kamu sangat menyukai Paman Dean?"


"Iya Lendla suka."


"Emh, lebih suka sama papa atau Paman Dean?"


"Dua-duanya."


"Sialan si Dean, sudah mengambil hati Anindira, sekarang mau mengambil hati anakku juga." Ucap Leon dalam hati.


"Gak bisa gitu dong Rendra, kamu harus pilih salah satu, papa atau Paman Dean?" Leon bersikeras mendapatkan pengakuan dari anaknya.


"Dua-duanya! Lendla suka papa, suka sama Paman Dean juga."


Leon menghela nafas, "Hhaahh, jadi kalau Rendra kasih nilai papa sama Paman Dean dari satu sampai seratus, Rendra mau kasih papa sama Paman Dean nilai berapa?"


"Papa 99, Paman Dean 98."


"Kok bedanya cuma satu angka aja?!"


"So'alnya papa sama Paman Dean sama-sama baik dan paling Lendla sukai."


"Terus yang satu angkanya lagi kemana? nilai seratusnya buat siapa?"


"Udah di ambil mama, nilai selatusnya buat mama."


Leon tersenyum haru, "Kenapa buat mama?"


"Kalna mama yang udah ngelahilin Lendla dan membesalkan Lendla dengan penuh kasih sayang, Lendla ada karna mama."


"Karna papa juga."


"Bukan! kalau mama gak mau ngelahilin Lendla Lendla gak akan ada di dunia ini."

__ADS_1


__ADS_2