Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 8


__ADS_3

Leon berusaha membuka pintunya, tapi tidak bisa.


"Heiii.. buka pintunya! siapa yang berani mengunciku di kamar? sialan." Hardik leon


Anindira sangat kaget, dia hanya diam saja melihat leon marah-marah.


Leon berusaha menelpon bram, tapi bram sengaja tidak mengangkat telpon nya karna perintah dari aluna.


Anindira pergi ke kamar mandi karna dia merasa takut melihat leon begitu marah, wajahnya terlihat sangat menyeramkan ketika sedang marah.


Dia mencoba beberapa kali menelpon aluna, tapi tidak di angkat juga.


Aluna sengaja tidak mengangkat telpon.


Setelah amarah leon mereda baru anindira keluar dari kamar mandi.


"Dari mana saja kamu?" tanya leon dengan


sinis.


"Dari kamar mandi." jawab anindira dengan gugup.


"Ngapain aja kamu di kamar mandi, lama banget. ambilkan aku handuk ! aku mau mandi." perintah leon.


Anindira memberikan handuk bersih yang belum di pakai, pada leon .


Leonpun pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih, badannya terasa lengket oleh keringat.


Beberapa menit kemudian leon keluar dari kamar mandi dan meminta baju ganti pada anindira," Ambilkan aku baju ganti!"


Anindira tidak menjawab dia hanya duduk diam di ranjang sambil memeluk guling, karna masih terkejut dengan sikap nya leon yang begitu pemarah.


"Kenapa diam saja? apa kamu tidak mendengarku?"


"Di sini tidak ada pakaian ganti untuk mu, bukankah pakaianmu semuanya ada di kamar mba aluna?"


Leon menghela nafas, "Hhaaahh.. jadi apakah aku harus tidur dengan memakai handuk seperti ini?" ( Yang leon kenakan adalah handuk kimono ).


"Mau bagaimana lagi, aku tidak punya pakaian laki-laki."


Tiba-tiba perut leon bunyi, karna dia belum sempat makan malam.


"Apa kamu lapar?" tanya anindira.


"Menurutmu?" jawab leon.


Anindira membuka laci yang ada di sampingnya, dia mengambil satu bungkus roti dan biskuit lalu diberikannya pada leon, "makanlah ini, setidaknya itu bisa mengganjal rasa laparmu."


Leon hanya menatap roti dan biskuit itu.


"Tenang saja, ini tidak ada racunnya ko. Aku membelinya saat pulang dari kantor tadi."


Leon mengambil roti dan biskuit itu lalu memakannya.


Anindira memberikan sebotol air mineral pada leon, leon kembali menatap air itu.


"Ini masih baru belum aku minum, aku juga membelinya bersamaan dengan roti dan biskuit itu."


Leon mengambil dan meminumnya lalu bertanya pada anindira, "Kenapa kamu setuju menikah denganku?"


Nisa terdiam.


"Bisakah kamu langsung menjawabku di saat aku bertanya padamu !" leon merasa jengkel dengan sikap nya anindira.


Karna kesal leon memegang ke dua bahu anindira dan menidurkannya di ranjang dengan posisi leon berada di atasnya. Leon menatap wajah anindira dan berkata, "katakan..! apa kamu melakukannya karna uang?"


Anindira tidak sanggup menatap leon, dia memalingkan wajahnya.


"I..iya.."Jawab anindira dengan gemetar.


"Apa kamu segitunya membutuhkan uang, sehingga kamu bersedia menjadi orang ke tiga diantara cinta kami?"


"I..iya.." Anindira hanya mengiyakan semua pertanyaan leon dan tidak berusaha menjelaskan apapun.

__ADS_1


Leon sangat marah dengan jawaban anindira. dia mengira anindira melakukannya karna gila harta.


Dalam kemarahannya malam itu dia melakukannya pada anindira. (hubungan suami-istri)


Skip...


Jam 4 pagi anindira sudah terbangun, dia mengirim chat pada aluna meminta tolong untuk membukakan pintu kamarnya, lalu dia pergi ke kamar mandi untuk mandi.


Tubuhnya masih gemetaran, karna ulah leon semalam.


Dia menangis di kamar mandi karna merasa syok, dia tidak menyangka leon akan melakukannya dalam keadaan marah.


Aluna membukakan pintu kamar anindira, dia melihat suaminya sedang tertidur nyenyak dengan hanya mengenakan selimut saja.


Adzan subuh sudah berkumandang.


Saat anindira keluar dari kamar mandi, dia melihat aluna yang sedang membangunkan leon.


Leon pun bangun, dia mengambil handuk kimono yang dia kenakan semalam dan memakainya kembali, dia langsung pergi dari kamar anindira dan masuk ke kamarnya aluna untuk mandi dan berganti pakaian.


Anindira menunduk dan berkata pada aluna, "Maaf mba, aku merasa sudah menghianati mba." Sambil menangis terisak.


"Tidak, kamu tidak salah. kamu juga adalah istrinya mas leon, aku hanya ingin memberikan hak yang sama padamu dira."


"Mba, jangan memaksa nya untuk melakukan hal yang tidak dia sukai."


"Maaf.. maafkan aku dira, apa kamu takut? hari ini kamu tidak usah pergi ke kantor dan beristirahatlah."


Aluna keluar dari kamarnya anindira, kemudian pergi ke dapur mengambil makanan untuk di bawa ke kamarnya anindira.


Nenek nya leon bertanya pada aluna, "Kamu mau bawa makanan itu kemana?"


"Ke kamarnya anindira nek."


"Anindira?! apa dia sakit?"


"Sepertinya dia agak kurang enak badan hari ini, jadi aku bawakan sarapan pagi untuknya."


"Nenek sarapan saja dulu, nanti setelah sarapan baru nenek temui anindira. Nenek jangan hawatir aku akan menemaninya."


"Baiklah."


Aluna membuka pintu kamarnya anindira, dan memberikan sarapan paginya.


"Makanlah!" ucap aluna


"Nanti saja." Sambil mengambil makanan yang aluna bawa kemudian menaruhnya di atas meja yang berada di samping tempat tidurnya.


"Apa kamu marah padaku?"


"Gak ko mba."


Setelah kejadian malam itu, anindira menjadi lebih pendiam, dia juga jarang bicara pada aluna.


Bahkan ketika kakek dan neneknya leon mengajaknya mengobrol, dia sering bengong.


Beberapa hari kemudian anindira benar-benar sakit, dia juga sering muntah-muntah, tapi dia tetap memaksakan diri untuk pergi ke kantor.


Setiap kali pulang dari kantor anindira langsung masuk ke kamarnya dan berbaring di ranjang sampai pagi hari.


Aluna selalu datang ke kamarnya anindira untuk menemaninya.


"Kenapa akhir-akhir ini anindira sering mengurung diri di kamarnya?" tanya mamanya leon pada aluna.


"Anindira sakit ma."


"Sakit apa?"


"Katanya sih meriang ma, dira bilang dia merasa mual, pusing, dan badannya panas dingin."


"Kenapa gak di periksa ke dokter?"


"Aku sudah coba membujuknya ma, tapi dia selalu menolak."

__ADS_1


"Yaampun, kalau begitu kamu telpon dokter andri dan suruh dia datang ke rumah, untuk memeriksa keadaan dira.


"Iya ma."


Setelah di telpon, dokter andri dengan secepat kilat datang ke kediaman pradana.


Dokter itu langsung memeriksa keadaan anindira, "Selamat ya! " ucap dokter andri sambil tersenyum.


"Ko selamat sih dok?! dira sakit apa?" tanya aluna penasaran.


"Bukan apa-apa, ini wajar di alami ibu hamil di saat dia sedang mengandung."


"Mengandung?!" Ucap aluna dan mamanya leon serempak.


"Iya, anindira sedang mengandung."


Mereka kaget sekaligus senang karna akhirnya anindira hamil juga.


Anindira sendiri terkejut, karna dia tidak menyangka kejadian satu malam itu bisa langsung membuatnya hamil.


Aluna langsung memeluk anindira.


Kemudian aluna memberitau leon kalau anindira hamil.


Leon terkejut, "Hamil?!"


"Iya, dia hamil anaknya mas."


Perasaan leon jadi campur aduk mendengar kabar itu. Dia tidak tau harus marah atau bahagia.


Di satu sisi leon juga menginginkan seorang anak, tapi di sisi lain leon menginginkan anak dari rahim aluna istri yang sangat dia cintai, bukan dari perempuan lain.


Tapi, setelah tau anindira mengandung anaknya rasa benci di hati leon terhadapnya jadi sedikit berkurang.


Kadang-kadang dia juga bertanya pada anindira, "Apa kamu menginginkan sesuatu?"


"Aku tidak menginginkan apapun!"


"Kamu jangan keras kepala, cepat katakan kamu mau di belikan camilan apa?"


"Aku bilang gak mau."


"Hei.. kamu pikir aku melakukannya untukmu? Aku bersikap baik padamu karna kamu sedang mengandung anakku." Leon merasa sangat jengkel


"Mas.. sabar, ibu hamil memang seperti itu, kalau dia mau sesuatu nanti juga dia minta sendiri. jangan di paksa, nanti malah akan mempengaruhi bayinya."


Leon pun mengalah, aluna begitu memperhatikan anindira dan bayi dalam kandungannya, mulai dari hal-hal kecil seperti makanan, baju yang dia pakai sampai tempat tidur pun dia perhatikan apakah nyaman atau tidak untuk ibu hamil.


Tapi dibalik kebahagiaan keluarga pradana ada seseorang yang ingin menghancurkannya dan mencoba untuk memeras keluarga pradana dengan memanfaatkan anindira.


Suatu hari , ketika anindira pulang dari kantor ada seorang laki-laki semuran leon yang mengajak dia berbicara.


Ketika anindira masuk ke dalam rumah. Leon menghampiri laki-laki itu dan bertanya padanya, "Apa yang Kamu lakukan di depan rumahku?"


"Aku kesini hanya untuk melihat keadaan kekasihku."


"Siapa kekasihmu?"


"Istrimu, dia adalah kekasih ku. dan yang ada dalam kandungannya itu adalah buah cinta kami."


Amarah leon meledak, mendengar perkataan laki-laki itu.


Dia langsung menjambak bajunya dan memukuli laki-laki itu. kemudian bram datang menghentikan leon dan membawanya ke dalam rumah.


Leon sangat marah, "Anindira, dimana dia?"


"Ada apa mas, dimana perempuan itu?"


"Ada apa ini leon?" tanya mamanya.


"Perempuan itu sudah menipu kita semua, anak yang ada dalam kandungan nya bukan darah dagingku, melainkan anak dari laki-laki lain."


Mamanya leon sangat terkejut, dia pun langsung terbawa emosi.

__ADS_1


__ADS_2