Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 23


__ADS_3

Anindira mengusap air matanya lalu keluar dari kamar Aluna.


Hari sudah malam, Anindira beranjak ke kamarnya dan memindahkan Rajendra ke ranjang lalu menidurkan dia di sampingnya,


Anindira pun terlelap.


Leon menghampiri Anindira dan anaknya yang tengah terlelap, dia menyelimuti Anindira dengan selimut dan ikut tidur di samping Rajendra kecil.


Tengah malam Leon terbangun dan pindah ke kamarnya Aluna, "By, bukalah matamu! Dira dan Rajendra sekarang ada di sini kamu harus sembuh! kamu tau kan aku sangat mencintaimu dan tidak bisa hidup tanpa kamu."


"Kamu selalu bilang padaku, jika Dira dan anaknya bersedia kembali ke rumah ini, kamu akan memperlakukan dia seperti ratu dan kalau anaknya laki-laki kamu akan memperlakukannya seperti pangeran, dan kalau perempuan seperti tuan putri."


"Sekarang Mereka di sini ayo kita wujudkan keinginanmu itu sama-sama! kita akan mengurus Rajendra sama-sama, kita bertiga yang akan mengurusnya seperti yang kamu mau." Ucap Leon sambil menangis lalu tertidur di samping Aluna.


Pagi hari, Anindira pergi ke kamarnya Aluna untuk melihat keadaannya, Anindira melihat Leon tertidur di samping Aluna dia memanggil Bram dan menyuruhnya untuk membangunkan dia.


Bram membangunkan Leon dan mengingatkannya kalau hari ini dia ada meeting penting dengan klien, Leon bergegas untuk mempersiapkan diri.


Anindira membawa wadah kecil yang berisi air hangat dan handuk kecil yang halus untuk membersihkan badan Aluna.


"Mba, hari ini aku akan ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA Leon dan Rajendra, Mba tau kan aku tidak bersalah! tapi hari ini aku akan mengikuti keinginannya supaya dia puas, supaya aku tidak selalu di curigai."


"Mba harus cepat sembuh."


Anindira keluar dari kamar Aluna, lalu mengurus Rajendra, memandikannya, dan menyusuinya.


"Maafkan mama ya Nak, mama akan memotong rambutmu sedikit." Kata Anindira pada anaknya yang masih bayi.


Setelah Anindira selesai memotong rambutnya dia memanggil Ana untuk menitipkan Rajendra padanya.


"Ana, aku minta tolong titip Rajendra sebentar! nanti kalau dia lapar aku sudah menyediakan stok susu di kulkas."


"Iya nona, nona tidak usah hawatir saya akan menjaga tuan kecil dengan baik." Kata ana.


"Terimakasih," Anindira pergi ke kamarnya Leon, dia masuk tanpa mengetuk pintu dan langsung menghampirinya, "Ayo kita pergi!"


waktu itu Leon baru selesai mandi, dia masih mengenakan handuk kimono, Leon terkejut melihat Anindira tiba-tiba datang ke kamarnya.


"Apa yang kamu lakukan?"


"Aku bilang ayo kita pergi!"


"Pergi kemana?!"


"Ke rumah sakit."


"Mau apa?!"


"Untuk menghilangkan rasa penasaranmu!"


"Apa maksudmu?!"

__ADS_1


"Bukannya kamu ingin tes DNA? ayo pergi sekarang! aku akan menunggumu di luar pintu."


Leon merasa kebingungan, dia mengganti pakaiannya dan membuka pintu kamar, "Kamu masih di sini?"


"Iya, aku kan sudah bilang akan menunggu di luar pintu, sekarang aku minta rambutmu!"


"Apa?!"


"Berikan rambutmu!"


"Untuk apa?"


"Kamu itu seorang CEO yang jenius, masa untuk tes DNA saja tidak tau apa yang harus di lakukan." Kata anindira sambil pergi.


"Apa yang dilakukan wanita itu? Bram, Bram,"


"Iya, tuan muda!"


"Ayo pergi!"


Ketika Leon baru saja mau melangkahkan kakinya, Anindira datang dengan membawa gunting, "Kamu mau kemana?"


"Aku mau pergi ke kantor, Apa yang kamu lakukan dengan gunting itu?"


"Hari ini kamu tidak boleh pergi ke kantor! kamu harus ikut aku ke rumah sakit!"


"Kenapa jadi kamu yang memaksa?"


"Tidak, aku tidak pernah menunduk di hadapan seorang wanita selain Aluna dan ibuku."


"Aku tidak memintamu untuk menunduk padaku, aku hanya akan memotong sedikit rambutmu, kalau kamu tidak menunduk bagaimana aku memotongnya."


"Memotong rambut?!"


"Iya," Anindira baru akan menyentuh rambutnya Leon tapi leon menepisnya.


"Jangan sentuh!"


"Apa kamu begitu sayangnya pada rambutmu itu? hanya sehelai saja! kamu mau semuanya cepat selesai kan?"


"Biar aku saja yang memotongnya sendiri, Bram bawakan aku cermin!"


"Baik tuan," bram mengambil cermin dan memberikannya pada Leon.


"Kamu bodoh ya? bagaimana caranya aku memotong rambut sambil memegang cermin? tanganku kan cuma dua, pegangi cerminnya!" ucap Leon mengomel


"Maafkan saya tuan." Ucap Bram sambil memegangi cerminnya.


Leon memotong rambut dengan tangannya sendiri. Anindira langsung mengambil rambut Leon dan memasukannya ke dalam kantong plastik kecil.


"Kak Bram, antarkan kami ke rumah sakit!"

__ADS_1


"Baik nona,"


Leon mengikuti Anindira masuk ke dalam mobil dan merekapun pergi ke rumah sakit.


Setelah mereka sampai di rumah sakit, mereka langsung melakukan tes DNA.


"Tes DNA-nya Sudah selesai, hasilnya baru akan keluar dalam waktu satu minggu lagi." Kata dokter pada mereka.


"Baiklah dok, terimakasih banyak." Ucap leon.


Dari rumah sakit, Leon langsung berangkat ke kantor, "Bram, antarkan nona pulang ke rumah!"


"Baik tuan muda."


Bram mengantarkan Dira pulang kembali ke kediaman Pradana, sesampainya di kediaman pradana dia terkejut melihat ayah dan ibunya ada di sana.


"Ayah, ibu kenapa kalian ada di sini?"


"Kami datang untuk menjemputmu dan Rajendra." Kata ayahnya.


"Ayah, bolehkah aku tinggal di sini sampai Mba Aluna sembuh?"


"Tapi Nak, ayah ingin kamu dan Rajendra ikut bersama kami! dia telah berjanji akan memulangkanmu pada ayah setelah satu hari, apa yang dia lakukan padamu sehingga membuat kamu berubah pikiran seperti ini?"


"Ayah, kondisi kesehatan Mba Aluna benar- benar sedang tidak baik aku tidak bisa meninggalkannya."


"Besan, kami mohon padamu izinkan Dira dan Rajendra tinggal di sini untuk sementara waktu, hanya sampai Aluna sembuh! Anindira masih menantu rumah ini, dan Rajendra adalah cucu kandung kami, kami harap besan mau berbesar hati mengizinkan mereka tinggal bersama kami!" ucap mamanya Leon sambil menempelkan ke dua telapak tangannya.


"Kenapa harus anak kami yang selalu berkorban? ini urusan keluarga kalian! sebentar lagi Aninidira akan menggugat cerai Leon."


"Cerai?! besan tolong jangan lakukan ini! Rajendra masih bayi, dia membutuhkan figur seorang ayah."


"Kami mampu memberikan apa yang tidak di miliki oleh cucu kami."


"Ayah, ini adalah keputusanku! kita bicarakan lagi nanti setelah aku pulang ke rumah."


"Apa yang kamu pikirkan Nak? untuk apa kamu melakukan ini? kamu sudah melakukan banyak hal untuk mereka! sekarang waktunya kamu memilih hidupmu sendiri, kamu juga berhak untuk bahagia."


"Ayah, tolong untuk kali ini saja!" kata Anindira sambil memegang kedua tangan ayahnya.


"Apa kamu yakin Nak?" kata ibunya sambil mengusap lembut pipi Anindira.


"Iya bu, aku akan baik-baik saja di sini! aku akan menghubungi kalian nanti."


"Ayah, biarkan saja dulu! ayo kita pulang!" Ucap ibunya Dira kepada suaminya.


"Hhaahh, kamu selalu saja seperti ini! lebih mementingkan kepentingan orang lain di banding dirimu sendiri."


"Ayah," ucap Anindira memelas.


"Baiklah, tapi kamu harus menghubungi kami nanti! kamu tidak boleh memendam kesusahanmu sendiri!"

__ADS_1


__ADS_2