Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 74


__ADS_3

Anindira menatap Leon dan berkata, "Jika kamu berbohong dengan ucapanmu maka kamu akan merasakan akibatnya, seorang ibu bisa saja membunuh seseorang jika ada yang berusaha merenggut anaknya darinya." Gertak Anindira sambil menatapnya dengan tajam.


"Pria sejati tidak akan bicara omong kosong." jawab Leon.


Saat ini hati Anindira berkecamuk banyak pertanyaan-pertanyaan dalam benaknya yang ingin dia tanyakan pada Leon.


"Pria aneh," Gumamnya.


"Siapa yang kamu bilang aneh?"


"Siapa lagi kalau bukan pria yang sedang duduk, dan makan dengan lahapnya di sampingku."


"Kenapa, apa kamu tidak bisa makan dengan tenang karnaku?"


"Sudah tau nanya," Jawab Anindira dengan ketus.


"Jika ada yang ingin kamu tanyakan padaku, tanyakan saja?"


"Tanya apa?"


"Terserah,"


"Oke, aku akan bertanya,"


"Ya,"


"Kenapa kamu mau aja nurutin permintaan Rendra?"


"Jelas karna dia anakku, aku gak bisa menolak permintaannya."


"Aku tau itu, meskipun aku tidak suka mengakuinya."


"Lalu kenapa kamu masih bertanya?"


"Lah, kan kamu yang suruh nanya gimana sih."


"Yang lain ke nanyanya, kamu jangan nanya yang udah pasti tau jawabannya dong."


"Ya aku gak habis pikir aja."


"Kenapa harus di pikirkan, santai saja."


"Menyebalkan,"


"Jangan ngomel begitu di depan makanan."


"Oke, setelah ini kita mau ngapain?" Dengan nada malas.


"Terserah kamu,"


"Kalo gitu habis ini pulang aja."


"Gak bisa,"


"Ish," Anindira merasa kesal.


"Kenapa kamu kesal? gak baik makan sambil marah-marah."


"Siapa yang marah-marah."


"Kalo begitu nikmati saja, habiskan makanannya."


Anindira mendelikan mata, dia memainkan sendok di atas makanannya.


Leon mengambil piring yang berisi makanan milik Anindira.


"Pantas saja badan kamu kurus gitu, makannya aja gak bener, kalo makan tuh di habisin kasian makanannya nanti nangis."


Leon berusaha menyuapinya.


"Aku bukan anak kecil, lagian biasanya nafsu makanku selalu bagus, dan, aku itu gak kurus ya berat badanku normal."


"Oke, kalo begitu ayo habiskan, jangan buang-buang makanan."


Dengan malas Anindira memakan makanannya.


Setelah beberapa saat, Leon mencoba mengajaknya berbicara untuk mencairkan suasana.


"Apa aku boleh bertanya?"


"Di larang berbicara ketika sedang makan."


"Aku sudah selesai makan," Leon mengelap mulutnya dengan saputangan, dia menengok ke arah Anindira, "Hei, makanmu lambat sekali, sini biar aku bantu." Leon mengambil tempat makan Anindira, dan memaksa menyuapinya.


"Hei, apa yang kamu lakukan!"


Leon terus menyuapinya.


"Kamu gila ya, mulutku sudah penuh masih kamu jejelin juga."

__ADS_1


"Ayo cepat habiskan nanti makanannya keburu dingin."


"Sudah cukup,"


"Iya, iya, ini yang terakhir."


"Aku mau minum,"


"Ini, pelan-pelan." Leon memberikan segelas jus.


"Bukan, aku mau air putih,"


"O oke,"


"Hah, kamu sengaja mau mencelakaiku ya."


"Ish, diamlah, aku hanya membantumu."


"Ini sebenarnya kita ngapain sih, kenapa kamu gak nolak aja keinginan Rendra."


"Aku bingung nolaknya kayak gimana, Rendra baru saja mau bicara padaku mana mungkin aku mematahkan hatinya lagi."


"Itu urusan kamu, kamu yang mulai ya kamu yang akhiri lah, kamu tau bagaimana Rendra meyakinkan dirinya sendiri untuk bisa menerima kamu kembali?"


Leon membisu, seketika suasana jadi hening kembali.


"Sudahlah, lupakan, ini sangat melelahkan untukku."


"Sebentar lagi, tunggu sebentar lagi."


"Apanya yang sebentar lagi?"


"Ah, sebentar lagi kayaknya mau turun hujan, langitnya mendung, bintang pun sudah tak terlihat lagi." Leon menatap langit, dia merasakan rasa sakit di hatinya.


"Apa masih ada yang harus kita lakukan?"


"Tidak ada, kita langsung pulang saja."


Sementara Leon menyelesaikan pembayaran, Anindira Menunggu di luar restoran, ternyata malam itu memang turun hujan.


Anindira menadahkan tangannya ke langit, dan setetes demi setetes air hujan berjatuhan di telapak tangannya.


Dengan cepat Leon menutupi tubuh anindira dengan jasnya.


"Mau menunggu sampai hujan reda?"


Anindira menengok kanan, kiri.


"Tidak apa-apa, aku ingin pulang sekarang."


"Hujannya cukup deras, tunggu sebentar lagi oke,"


"Kenapa aku harus mendengarkanmu."


"Jangan banyak bicara, duduklah dulu di sini, Rendra akan hawatir kalau kita pulang dengan keadaan basah kuyup."


"Aku akan menelponnya,"


"Biar aku saja," Kata Leon sambil mengambil Handphone di saku celananya.


Anindira menggeleng-gelengkan kepala, dia semakin bingung dengan sikap Leon.


"Rendra ingin bicara denganmu."


"Iya Nak,"


Anindira mengobrol dengan Rajendra.


"Oke, mama tau, see you honey."


Anindira mengembalikan Handphone Leon, dia menggigil kedinginan.


"Sampai kapan kita di sini? kalau nunggu hujan reda sepertinya akan lama."


"Sebentar, aku akan cari payung dulu."


Leon bertanya pada kasir restoran, dan kasir restoran itu dengan senang hati meminjamkan payungnya pada Leon.


"Aku udah dapat payungnya, kita bisa pergi sekarang."


Merekapun berjalan sepayung berdua sampai tempat parkir.


Leon membukakan pintu mobil untuk Anindira, Leon menutup payungnya dan cepat masuk ke dalam mobil.


Setelah sampai di halaman rumah, ketika Leon melihat Anindira keluar dari mobilnya dia merenung.


Anindira berbalik, dan mengetuk kaca mobilnya, Leon menurunkan kaca mobil.


"Apa kamu mau mampir dulu untuk mengatakan selamat malam pada Rendra?"

__ADS_1


"Ah, iya, tentu."


Anindira membuka pintu rumah, dan di sambut oleh Rajendra.


"Papa, Mama, kenapa kalian pulang cepat? bukannya di luar lagi hujan deras."


"Iya, makanya kami pulang cepat."


"Kalian kan bisa memesan tempat untuk bermalam, kenapa memaksa untuk pulang."


"Rendra, hujannya memang deras, tapi kan mama sama papa naik mobil jadi gak ada masalah."


"Iya sih,"


"Kamu sudah makan?"


"Udah ma,"


"Ya sudah, mama ke kamar dulu ya, kamu temani papa."


"Oke,"


"Apa papa mau menginap di sini?"


"Enggak, papa cuma mampir sebentar untuk ketemu kamu."


"Oke, ayo duduk dulu pa,"


Leon duduk di sofa.


"Jadi gimana pa?"


"Apanya?"


"Acara makan malamnya,"


"Oh, makanannya enak, minumannya juga."


"Terus,"


"Kami makan sampai habis,"


"Cuma itu aja?"


"Iya, tempatnya bagus mamamu suka, karna di sana dia bisa melihat bintang-bintang yang bertebaran di langit."


"Setelah itu?"


"Setelah itu, hujan turun akhirnya kami memutuskan untuk pulang."


"Jadi, hadiahnya gak jadi papa kasih ke mama?"


"Ah, iya, itu.. nanti papa akan cari waktu lagi untuk memberikan hadiah itu ke mamamu."


"Haah,"


"Jangan kecewa gitu dong, kan masih banyak waktu, hari ini gagal, lain kali bisa di coba lagi."


"Kalau gitu gak fr dong."


"Namanya juga darurat, maafin papa ya."


"Oke deh gapapa, tapi papa udah mastiin buat bikin mama senang kan?"


"Ah, iya tanyakan saja pada mamamu apa papa sudah cukup membuat dia senang."


"Aku beneran akan menanyakan itu sama mama loh pa."


"Iya, tanyakan saja."


"Serius?"


"Iya,"


"Mau camilan?"


"Enggak, papa udah kenyang."


"Pa,"


"Iya,"


"Emm, bukan apa-apa."


"Ada apa?"


"Enggak,"


"Yakin gak ada yang ingin kamu omongin sama papa."

__ADS_1


"Iya,"


"Oke, kalau gitu papa pulang dulu besok papa harus.." Leon tidak meneruskan ucapannya.


__ADS_2