Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 66


__ADS_3

Sore hari waktunya semua karyawan pulang, termasuk Anindira.


"Haah, aku lupa aku tidak membawa kendaraan."


"Ada apa Ra?" Tanya Dean.


"Kamu gak bawa mobil?" Tanya Claira.


Anindira menggelengkan kepala, sambil memijat keningnya.


"Kalau gitu kamu pulang bareng aku aja." Kata Dean.


Anindira melirik Claira.


"Iya, kamu pulang bareng Dean aja."


"Tapi kamu.."


"Aku bawa mobil sendiri kok Ra."


"Ya udah yuk jalan," Ucap Dean.


"Sampai jumpa besok Clair," Kata Anindira.


"Sampai jumpa besok untuk kalian berdua."


Di perjalanan,


"Dean,"


"Ya,"


"Kamu ngerasa gak sih tatapan Claira ke kamu itu berbeda?"


"Ah, masa?! beda gimana?"


"Masa kamu gak peka sedikitpun sih."


"Ya maksudnya apa aku gak ngerti."


Anindira mencubit tangannya Dean.


"Aw, sakit,"


"Kamu itu emang gak tau apa pura-pura gak tau sih, jadi cowok peka dikit napa."


"Hahaha,"


"Malah ketawa,"


"Ya mau gimana lagi, aku tidak tau harus bilang apa."


"Kamu tau kan kalau Claira menyukaimu?"


"Memangnya kalau dia menyukaiku aku harus apa."


"Kamu ini, bersikaplah seperti pria sejati jangan seperti itu. Kamu pernah berkata pada Rendra kalau kamu sedang mengencani seseorang, dan selama ini Rendra mengira seseorang yang sedang kamu kencani itu adalah Clair jika Rendra tau kamu berbohong, bagaimana reaksinya nanti."


"Makanya jangan sampai dia tau"


"Hah, cape ya ngomong sama kamu."


"Sama aku juga cape ngomong sama kamu, hehehe."


"Dasar," Anindira mencubit tangan Dean berkali-berkali.


"Hei, sakit, hentikan itu, aku sedang mengemudi, bahaya."


"Kasian Clair, dia begitu menyukaimu, dia sangat tidak beruntung."


"Akan lebih menyakitkan, kalau dia bersamaku."


"Kalau begitu aku akan berdo'a semoga suatu saat kamu diberikan hidayah."


"Hahaha,"

__ADS_1


"Jangan tertawa, gak sopan."


"Iya bu direktur,"


Buk, Anindira memukul bahu Leon.


Sampai di rumah Anindira, Rajendra menunggu di depan rumah.


"Rendra, kamu sudah pulang?"


"Iya, aku lagi nunggu mama."


"Halo boy,"


"Halo Paman, apa kabar?"


"Kabar baik dong," sambil tersenyum.


"Mama gak bawa mobil?"


"Iya, makanya mama di antar Paman Dean."


"Kok tumben mama gak bawa mobil?"


"Mama lagi males nyetir Nak,"


"Oh ya, Rendra, gimana dengan kuliahmu?" Dean mengalihkan pembicaraan.


"Baik-baik aja kok Paman, aku betah di sana, aku sudah memutuskan untuk masuk ke UNIV itu, UNIV itu adalah UNIV terbaik di sini."


"Baguslah kalau begitu, selamat ya, kamu sudah kuliah sekarang, sudah semakin dewasa."


Rajendra tersenyum, "Masuk dulu yuk Paman, kita sudah lama gak battle game kan."


"Ayo, ayo, sudah lama sekali ya, kapan terakhir kita battle game."


"Enam bulan yang lalu kalau gak salah."


Keduanya mengobrol sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


Sementara Dean, dan Rajendra sibuk dengan Gamenya, Anindira pergi ke dapur untuk membuatkan camilan.


"Kalian ini kalau sudah ketemu pasti lupa segalanya."


"Mumpung Paman kesini ma, akhir-akhir ini kan Paman jarang main ke rumah."


"Itu karna aku sibuk."


"Sibuk dating sama Tante Clair?"


"Hahaha, iyain aja deh." Ucap Dean


"Serah,"


"Udah, udah, makan dulu camilannya." Kata Anindira


"Woah, ubi rebus sama kentang goreng." Ucap Dean.


"Jangan banyak-banyak makannya, itu camilan kesukaanku."


"Memangnya kenapa? aku juga suka."


"Gak boleh pokoknya, Paman ambil sedikit saja." Rebutan Camilan.


Anindira tersenyum sambil geleng-geleng kepala, lalu dia membayangkan yang rebutan camilan, dan main game bersama Rajendra itu adalah Leon betapa bahagianya mereka, tapi kembali lagi ke kenyataan bahwa Leon adalah orang yang telah menyakitinya berkali-kali.


"Aku salah sudah percaya padanya dulu." Gumam Anindira.


Setelah makan Camilan mereka lanjut main game lagi.


"Dean, apa kamu mau makan malam di sini?" Tanya Anindira.


"Makan malamlah di sini Paman, Kita kan sudah lama gak makan malam bersama."


"Oke," kata Dean seraya mengacak-acak rambut Rajendra.

__ADS_1


Mereka pun makan malam bersama.


Setelah selesai Dean, dan Rajendra membantu Anindira beres-beres, dan cuci piring.


"Terimakasih untuk makan malamnya Dira, aku pulang dulu, selamat malam, dan selamat tidur untuk kalian berdua."


"Iya, Paman juga," Rajendra menggumam sambil pergi, "Andai saja Papa yang mengatakan itu."


Kemudian Dia balik lagi menghampiri anindira, dan mengucapkan selamat malam padanya.


"Bagaimana jika Rajendra tau kalau Leon sudah merampas perusahaan butik milikku." Berkata dalam hati.


...


Dean sampai di rumahnya, sejak keluar dari pintu gerbang rumah Anindira dia merasa ada yang mengikutinya, ketika dia hendak membuka pintu rumah, seseorang berdiri di belakangnya.


"Mau apa kamu mengikutiku sampai ke rumah?"


"Tidak ada,"


"Ada apa denganmu?! apa sekarang kamu tidak suka kalau aku dekat dengan anak dan mantan istrimu, sampai-sampai kamu membuntutiku untuk memberi peringatan?"


"Aku ke sini ingin bicara denganmu bukan untuk memberi peringatan."


"Baguslah, aku juga, banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan padamu."


"Oke, persilahkan aku masuk terlebih dahulu, di luar dingin."


"Heuh, masuklah, ajak Bram juga."


"Bram, ayo masuk,"


Kebetulan malam itu cuaca sangat dingin.


Dean membuatkan teh hangat untuk Leon, dan Bram.


"Dean, dalam waktu dekat ini aku akan kembali ke indonesia."


"Cih, apa urusannya denganku."


"Itu adalah urusanmu, karna aku kesini untuk menitipkan Anindira dan putraku lagi padamu."


"Hah, lagi-lagi seperti itu, setelah kamu menghancurkan hatinya, lalu kamu menyerah? sampai saat ini juga masih sama, menyerah dan pergi begitu saja, heuh dasar pecundang."


"Aku tidak mengerti apa maksudmu, menyerah apa, aku pulang ke indonesia karna aku sudah mendapatkan apa yang aku mau."


"Merebut perusahaan butik milik mantan istrimu? jangan gila kamu, aku tau kamu masih mencintainya."


"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?"


"Ya, jawabannya simple karna aku juga pria yang mencintai wanita beranak satu itu, aku tau kamu merencanakan sesuatu untuknya tapi bukan rencana jahat."


"Dari mana kamu tau itu rencana jahat atau bukan?"


"Karna aku tidak yakin kamu bisa menyakiti putramu sendiri, kalau kamu menyakiti Ibunya, itu berarti kamu juga menyakiti putranya, apakah aku benar?"


Leon terdiam, sebenarnya Dean tidak tau motif Leon seperti apa dia hanya menebak-nebak.


"Katakan, untuk apa kamu melakukan itu semua?"


"Aku tidak akan menjawab pertanyaanmu yang tidak penting itu, aku hanya ingin mengatakan itu, dan berikan ini pada Anindira jika sudah sampai pada waktunya."


Dean mengambil berkas-berkas yang Leon taruh di atas meja, ketika Dean akan membukanya Leon melarang.


"Jangan sembarangan buka-buka." Leon menutup map yang Dean buka.


"Hah, aku harus tau isi dari berkas-berkas ini."


"Tidak bisa, hanya yang bersangkutan yang boleh membukanya."


"Cih, merepotkan,"


"Hobyku memang merepotkan orang, aku sudah selesai, sampai jumpa, ingat jangan coba-coba kamu membuka berkas-berkas itu." Ucap Leon sambil pergi.


"Cih," Dean merasa kesal.

__ADS_1


__ADS_2