Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 79


__ADS_3

Rajendra berpikir sejenak, "Sebaiknya aku bicara dulu sama Paman Dean baru nanti bicara sama ibu." Katanya dalam hati.


"Rendra,"


"Iya ma, ada hal penting yang ingin Rendra bicarakan dengan Paman Dean, nanti akan Rendra beritahu, Rendra pergi dulu."


"Hhah, anak itu."


"Rendra,"


"Paman Dean,"


"Baru saja aku akan pergi ke rumahmu, kamu mau kemana?"


"Aku mau bicara dengan paman,"


"Sebaiknya kita ke rumah pamanku dulu?"


"Tidak paman, kita bicara di sana saja." Rajendra menunjuk ke sebuah bangku panjang yang ada di bawah pohon dekat masjid.


"Baiklah, ayo,"


Merekapun duduk di bangku itu.


"Ada apa, apa yang ingin kamu bicarakan?"


Rajendra memperlihatkan kotak cincin yang Leon wasiatkan Untuk Dean dan Dira.


"Apa ini?"


"Ini, wasiat dari papa."


"Wasiat?!"


"Iya, sebelum papa pulang kesini, dia memberikan ini padaku, papa menyuruhku untuk memberikannya padamu paman."


"Apa yang harus aku lakukan dengan ini?!"


"Sepertinya itu adalah cincin pasangan, mungkin papa ingin paman memakaikan cincin yang satunya untuk mama, dan satunya lagi untuk paman."


Dean teringat dengan ucapan Leon sebelum dia menghembuskan napas terakhirnya.


"Baiklah, ini adalah keinginan papamu, tapi mamamu pasti butuh waktu, papamu baru saja di makamkan, kita cari waktu yang tepat untuk membicarakan ini ya."


"Iya,"


"Hei, sudahlah jangan bersedih lagi, papamu tidak akan suka melihat anak laki-lakinya menjadi cengeng seperti ini."


"Iya, aku tau,"


"Ayo kita beli jajanan,"


"Tidak paman, aku sedang tidak ingin."


"Aku juga sedang tidak ingin makan, tapi aku lapar, aku harus makan sesuatu."


"Kalau begitu paman saja yang pergi."


"Tidak, tidak, aku tidak mau pergi sendiri, tidak akan seru, ayo pergi bersama,"


"Tapi paman,"


"Sudahlah, kita beli jajanan sambil jalan-jalan oke."


Dean merangkul bahu Rajendra dan membawanya pergi membeli jajanan di pinggir jalan.

__ADS_1


"Lihat ada jajanan yang sering kamu beli sewaktu masih kecil, apa kamu mau?"


Rajendra tersenyum kecil,


"Aku akan belikan untukmu."


"Aku bukan anak kecil lagi paman, gulali itu hanya di makan oleh anak-anak saja."


"Siapa bilang? orang dewasa juga memakannya, ini, ayo makan."


"Tidak paman,"


"Ayolah, orang bilang jika kita makan yang manis-manis mood kita akan membaik, perasaan sedih juga akan berkurang."


Rajendra mengambil gulali yang di berikan Dean dan memakannya.


"Bagaimana, apa perasaanmu lebih baik?"


"Iya, sedikit."


"Ayo kita cari jajanan lain untuk membuat sedikit itu menjadi banyak."


Dean membawanya membeli kuah ketupat, "Ayo makanlah,"


Rajendra hanya menatap dan mengaduk-aduk makanannya."


"Rendra, jangan lampiaskan kesedihanmu pada makanan, makanlah, jangan sampai kamu sakit karna tidak makan seharian."


"Baik paman,"


"Aku mengerti perasaanmu Rendra, kalau aku ada di posisimu aku juga pasti sangat terpuruk, tapi kamu dan ibumu harus melanjutkan hidup, tidak baik terus-terusan tenggelam dalam kesedihan, aku yakin Leon juga tidak akan suka melihatnya."


"Aku tau, tapi ini sangat sulit bagiku, paman, tetaplah bersama kami jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku dan mama, aku sudah kehilangan papa, aku tidak mau kehilanganmu juga."


"Aku tidak akan pernah meninggalkan kalian, aku bisa meninggalkan semuanya kecuali kamu dan mamamu, aku tidak akan pernah melakukannya."


"Memangnya kamu pikir kenapa selama ini aku tidak pernah mau mengencani satu wanita pun, itu karna kalian, aku tidak mau kalian merasa canggung padaku jika aku memiliki hubungan dengan wanita lain, kalau aku berhubungan dengan wanita lain sedikit demi sedikit masalah pasti akan bermunculan, aku tidak ingin memberi kalian beban itu."


"Lalu, Bibi Clair?"


"Aku tau perasaan Clair terhadapku, tapi aku tidak mau menyakiti perasaannya."


"Maksud paman?"


"Kami tidak pernah berkencan, dan kami bukan pasangan."


"Jadi selama ini paman dan Bibi Clair tidak punya hubungan apa-apa?"


"Kami hanya sebatas teman dan rekan kerja."


"Maaf paman,"


"Untuk apa?"


"Maaf karna kami selalu membebani paman dengan urusan ku, urusan mama, dan urusan keluarga kami, terimakasih untuk semua yang telah paman lakukan untukku dan mama."


"Kenapa kamu mengatakan itu, seperti mau berpisah saja."


"Bukan begitu, aku merasa tidak enak pada paman."


"Tidak apa-apa, aku dan mamamu bersahabat sejak dari kami masih kecil, kami berjanji akan selalu bersama untuk selamanya, dan aku berusaha untuk menepati janji itu."


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan paman ketika melihat aku, mama dan papa bersama, dan selama itu paman tidak pernah sekalipun melepaskan cinta paman terhadap mama, banyak hal yang terjadi pada kalian bertiga, apa paman tidak merasa sesak?."


"Tidak, aku merasa senang hanya dengan berada di dekat kalian."

__ADS_1


Rajendra tersenyum.


"Ayo habiskan makanannya, setelah ini aku akan mengantarmu pulang."


Rajendra mengangguk.


Setelah selesai makan, Dean mengantar Rajendra pulang


Malam hari, Dean termenung di kamarnya sambil menatap sebuah kotak kecil berwarna merah berbentuk hati.


Dia membuka kotak kecil itu.


Di kotak kecil itu terdapat sepasang cincin yang sangat indah, yang satunya cincin berhiaskan berlian dan satunya lagi cincin yang di desain khusus untuk mempelai laki-laki.


"Dasar bodoh, kamu pikir aku tidak mampu membeli cincin yang sama persis seperti ini untuknya, kenapa kamu repot-repot menyiapkan cincin ini untuk aku dan Dia? tidak, tidak, ini pasti cincin yang kamu persiapkan untuk melamarnya bukan," Gumamnya.


"Pada akhirnya kamu tetap tidak bisa bersatu dengannya, kali ini kamu meninggalkan Dira, dan Rendra untuk selama-lamanya, selamat jalan Leon, kamu tidak perlu hawatir aku akan menjaga Dira dan Rendra." Ucapnya dalam hati.


Empat bulan kemudian,


"Rendra, kamu sudah siap?"


"Iya ma,"


"Gak ada yang ketinggalan kan?"


Rajendra mengambil album foto yang tersimpan di laci meja belajarnya, itu adalah kenangan masa kecilnya bersama kedua orangtuanya, Leon dan Dira.


Dia memasukan album foto itu ke dalam kopernya.


"Gak ada ma, semuanya sudah siap?"


"Apa kamu masih merasa sedih, apa kamu sedih akan berpisah dengan papa dan keluargamu?"


Rajendra menghela nafas, "Enggak ma, meskipun kita tidak tinggal di sini, tapi kita masih bisa sering datang kesini untuk mengunjungi makam papa, dan menjenguk kakek, nenek."


"Kamu benar, nanti kita akan sering-sering video call sama nenek dan kakek, meskipun kita jauh dari mereka, kita tidak akan membiarkan mereka merasa jauh dari kita."


"Iya ma,"


"Ayo, Dean sudah menunggu dari tadi."


"Hm,"


Mereka bertiga pamit pada kedua orangtua Anindira.


"Nona, Tuan Muda,"


"Kak Bram,"


Kedua Orangtua Leon turun dari mobil, "Biarkan kami mengantar kalian ke bandara."


Anindira, Rajendra dan Dean tersenyum.


Merekapun berangkat ke bandara dengan di antar keluarga.


"Aku akan meninggalkan dua kakekku dan dua nenekku di sini, tapi bukan berarti aku akan melupakan kalian, aku akan video call kalian setiap hari sehingga kalian akan merasa kalau aku berada di dekat kalian." Katanya sambil tersenyum.


"Kamu harus melakukan itu, karna kalau tidak kami akan memukulmu." Ucap Ibu Leon.


"Aku sayang kalian," Kata Rajendra, seraya memeluk mereka berempat secara bergantian.


Merekapun berpisah,


Rajendra melambaikan tangan sambil meneteskan air mata.

__ADS_1


"Kendalikan dirimu teman," Kata Dean.


__ADS_2