Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 83


__ADS_3

Sepanjang jalan Dean memperhatikan Rajendra.


"Kenapa paman melihatku seperti itu?"


"Aku hanya berpikir, apa orang sepertimu pernah tertarik pada seorang gadis."


"Aku pikir paman terlalu santai, sempat-sempatnya paman berpikir seperti itu di saat paman dan mama sedang tidak baik-baik saja."


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Paman pikirkan saja bagaimana cara untuk membujuk mama."


"Membujuk mamamu itu harus pelan-pelan, gak boleh grasak grusuk."


"Jangan terlalu lama,"


"Apa?"


"Jangan terlalu lama paman dan mama seperti ini, sebagai anak aku merasa sangat buruk."


"Kenapa begitu?"


"Aku tidak bisa berbuat apapun untuk kalian."


"Kamu tidak usah memikirkan itu, ini masalah orang dewasa, aku janji semuanya akan baik-baik saja."


"Iya, aku tau, paman pasti berhasil membujuk mama."


"Iya dong, kapan aku pernah gagal membujuk mamamu."


"Semalam,"


"Itu awal mula permasalahannya, belum termasuk membujuk."


Rajendra nyengir mendengar ucapan Dean, "Bukankah kita sudah seperti anak dan ayah?"


"Ayah dan anak."


"Sama saja."


"Tidak, bukan ayah dan anak, tapi bro."


"Paman tidak mau menjadi ayahku?"


"Aku belum menjadi ayahmu, jadi untuk sekarang kita broan saja."


"Dari dulu kita memang bro kan, nanti paman akan menjadi bro sekaligus ayahku, aku ingin segera menaikkan pangkatmu menjadi seorang ayah."


"Itu penghargaan yang sangat luar biasa."


"Iya, aku sudah putuskan ingin mempunya seorang adik laki-laki dan seorang adik perempuan, lalu.. adik kem.."


"Cukup, hentikan Rendra,"


"Kenapa?"


"Memangnya kamu pikir di usia mamamu bisa melahirkan lagi? tidak, resikonya sangat besar, untuk memikirkannya saja aku tidak berani."


Rajendra tampak berpikir keras, "Aku ingin adik, tapi aku juga tidak ingin membahayakan mama."


"Adik? kenapa Rendra bicara seperti itu, menikah saja belum bagaimana bisa dia memiliki seorang adik." Kata Dean dalam hati.


Memikirkan itu pipi Dean memerah, "Ekhem, Rendra, kamu jangan aneh-aneh, aku dan mamamu belum menikah, jadi berpikir sewajarnya saja oke."


"Memangnya kenapa? toh nanti akan menikah juga kan."


"Sudah jangan bicara lagi."


Sesampainya di kampus,


"Rendra, aku pergi dulu, kamu semangat belajarnya ya, good luck boy."


"Tentu, aku akan giat belajar supaya suatu hari nanti aku bisa sesukses dirimu, dan melampaui papaku."


"Bagus, anak pintar." Katanya sambil mengacak-acak rambut Rajendra.

__ADS_1


"Jangan perlakukan aku seperti anak kecil, perlakukan aku seperti seorang teman."


Dean tertawa, lalu melakukan tos pertemanan dengan Rajendra.


Sementara itu di kantor,


Anindira sedang memantau pembangunan gedung baru di perusahaannya, seorang tukang yang sedang bekerja membuat atap gedung tidak sengaja menjatuhkan tangga lipat yang ia pijaki.


"Dira awas," Teriak Claira.


Tangga itu hampir mengenai Anindira, tapi Dean menghalanginya, hingga tangga itu menimpa punggung Dean."


"Dean?!"


"Dira, Dean," Claira menghampiri mereka, dia mengangkat tangga itu dengan di bantu para tukang yang bekerja di sana..


"Dira, Dean, kalian gapapa?"


"Aku gapapa, tapi Dean.."


"Aku baik-baik saja." Kata Dean.


Anindira menopang tubuh Dean, "Apa ada yang terluka? aku akan mengantarmu ke klinik."


"Tidak usah, aku sudah bilang aku baik-baik saja."


"Punggungmu berdarah, itu pasti sakit, ayo kita ke klinik."


"Tidak,"


"Kenapa kamu keras kepala, kamu diam saja, tidak boleh bicara ataupun protes." Ucap Anindira.


Anindira sangat hawatir melihat keadaan Dean, dia membantu memapah Dean dan membawanya ke klinik untuk segera di obati.


Kebetulan perawat di klinik sedang tidak ada di tempat, hanya ada mereka berdua, mengetahui itu, Anindira bergegas mengambil kotak P3K, "Buka bajumu,"


"Untuk apa?"


"Supaya aku bisa memeriksa lukamu."


"Hati-hati,"


Anindira membantu membersihkan luka di punggung Dean dan mengolesinya dengan salep lalu membalutnya dengan perban.


"Punggungmu sampai memar dan berdarah seperti ini, kenapa kamu kemari, dan so jadi jagoan."


"Aku bermaksud untuk melihatmu sebentar sebelum aku bekerja."


"Memangnya aku tontonan yang bisa kamu lihat disetiap waktu luang."


"Aku tidak bisa memulai pekerjaanku sebelum aku melihatmu."


"Diamlah,"


"Baiklah,"


"Apa itu sakit?"


"Tidak,"


"Beban tangga itu tidak ringan, bahkan itu cukup untuk meremukan tulangmu, bagaimana kalau sampai mengenai kepalamu juga, kamu membuatku cemas saja."


"Ini tidak seberapa, tangga itu tidak terlalu berat, punggungku berdarah bukan karna tangga itu terlalu berat atau terlalu keras menimpaku, tapi karna terkena paku yang mencuat di tangga itu."


"Iya, aku melihatnya ada bekas paku di punggungmu, untung tidak terlalu dalam, aku sudah melakukan pertolongan pertama, nanti sisanya akan di tangani oleh perawat."


Anindira hendak menyimpan kotak P3K ke tempat semula, tapi Dean memegang tangannya.


"Jangan pergi,"


"Aku mau menyimpan ini sebentar."


"Nanti saja, sshhh,"


"Kenapa, apa terasa sakit?"

__ADS_1


"Tidak,"


Anindira mencubit lengan Dean, "Kalau sakit bilang saja, kenapa mesti berpura-pura, kamu pikir kamu itu hebat? sehebat apapun seseorang kalau terluka pasti merasa kesakitan, jangan berpura-pura."


"Ah, iya, tidak sakit tapi perih."


"Ya Sabar, nanti juga sakitnya hilang, biar aku bantu meringankan rasa perihnya." Anindira meniup-niup punggung Dean dengan maksud supaya rasa sakitnya berkurang.


"Kamu selalu perduli padaku, tapi kenapa kamu belum juga membuka hatimu untukku?" Ucap Dean dalam hati.


"Aku akan memanggil perawat dulu."


"Jangan,"


"Kenapa?"


"Aku tidak ingin momen ini cepat berakhir." Katanya dalam hati.


"Dean,"


"Sebentar lagi, temani aku sebentar lagi."


"Baiklah,"


Mereka menjadi canggung satu sama lain.


"Kenapa diam saja?" Tanya Anindira.


"Karna kamu menyuruhku untuk diam, aku tidak mau kamu mengomeliku lagi."


"Aku tidak mengomel, aku bilang seperti itu karna kamu keras kepala."


"Aku tidak ingin terlihat lemah di depanmu."


"Ish, saat dia terluka, dia menjadi seperti anak kecil." Gumamnya dalam hati.


10 menit kemudian, perawat pun datang, Dean memakai bajunya kembali.


"Maaf, tadi saya mengambil stok obat dulu di gudang penyimpanan."


"Tidak apa-apa, tolong periksa dia,"


"Baik,"


"Periksa lukanya juga,"


"Maaf tuan, bisa buka bajunya sebentar, supaya saya bisa memeriksa lukanya."


"Tidak usah, dia sudah memberikan pertolongan pertama pada luka di punggungku."


"Oh, baiklah, saya akan menyiapkan obat, dan salep untuk tuan."


"Iya,"


"Kenapa kamu tidak mau perawat itu memeriksa lukamu?"


"Kamu sudah memeriksa dan mengobatinya, itu sudah cukup."


"Hhahh, kamu itu benar-benar aneh, bagaimana kalau tulang punggungmu ada yang retak? siapa tau luka yang terkena paku juga perlu di jait."


"Aku tau kamu hawatir, tapi aku sungguh baik.. Sshh,"


"Aku sudah bilang, sebaiknya di periksa lagi, aku ini bukan perawat atau pun dokter yang hanya dengan satu kali sentuhan saja bisa menyembuhkan lukamu."


"Kalau tuan tidak mau saya yang memeriksa lukanya, biar dokter yang memeriksanya."


"Iya, panggilkan saja, dimana dokternya?"


"Beliau sedang tugas di rumah sakit, mungkin sekarang beliau sedang dalam perjalanan pulang." Ucap perawat satunya lagi.


"Kalau begitu tolong hubungi beliau supaya cepat datang kemari,"


"Baik bu,"


"Dean, berbaringlah dulu, atau kalau kamu merasa sakit tengkurap saja."

__ADS_1


"Tidak, lebih baik aku duduk saja."


__ADS_2