
Anindira diam-diam mendengarkan pembicaraan Rajendra dan teman-temannya.
"Anak-anak, ini camilan dan teh, silahkan di nikmati."
"Waah, camilan dan teh di sore hari," Ucap salah satu teman Rajendra.
"Kenapa, apa kamu tidak menyukainya Nak?"
"Tidak tante, justru aku sangat menyukainya, di rumah, aku juga sering menikmati sore hari dengan memakan camilan sambil minum teh."
"Benarkah?"
"Iya tante,"
"Syukurlah kalau kalian menyukainya, saya tinggal dulu ya, kalian nikmatilah camilan dan teh nya."
"Terimakasih tante," Kata mereka berdua.
"Sama-sama," Kata Anindira sambil berlalu ke kamarnya.
"Ren, kita pulang dulu ya,"
"Kenapa buru-buru, tinggallah sebentar lagi untuk makan malam bersama kami."
"Lain kali saja, aku ada janji mau dinner sama do'i." Kata salah satu temannya Rajendra.
"Berasa paling laku aja lu ye," Kata teman yang satunya.
"Ye emang, hahaha."
Rajendra tersenyum melihat kelakuan kedua temannya.
"Ya udah kalau kalian emang mau pulang, tapi lain kali kalian gak boleh pulang sebelum mencicipi masakan buatan mamaku."
"Iya, tentu saja, camilan buatan mamamu sangat enak apalagi masakannya."
"Bener tuh,"
"Oke, aku akan antar kalian sampe depan."
Setelah kedua temannya pulang, Rajendra langsung menemui mamanya.
Tok, tok, tok, "Ma, mama masih bangun?"
"Iya, ada apa Ren?"
"Rendra kira mama udah tidur."
"Belum, mama baru saja mau turun buat bikin makan malam, teman-teman kamu udah pulang?"
"Udah barusan, mama kenapa? sepulang mama dari kantor mama terlihat gelisah."
"Mama hawatir sama Dean."
"Ada apa dengan Paman Dean?"
"Dia mengalami kecelakaan karna mama."
Anindira menceritakan kejadian waktu itu pada putranya.
"Mama jangan hawatir, Paman Dean pasti baik-baik saja."
"Tapi jika kondisi Dean memburuk dia harus di oprasi."
"Tidak akan terjadi apa-apa sama Paman Dean ma, bukannya mama bilang Dokter Jo akan menjaganya."
"Iya, tapi Dokter Jo tidak bisa melihat kondisinya setiap saat, dia sendirian di rumahnya, bagaimana kalau dia membutuhkan sesuatu?"
"Sepertinya mama tidak akan bisa tenang sebelum melihat keadaan Paman Dean sekarang." Ucap Rajendra dalam hati
"Begini saja, besok kita pergi ke rumah Paman Dean untuk menjenguknya."
"Tapi sekarang ini dia sendirian di rumahnya, bagaimana kalau dia membutuhkan sesuatu?"
"Emm, apa mama mau pergi kesana sekarang?"
"Tidak, ini sudah malam, mama tidak bisa pergi sekarang."
"Kalau begitu biar Rendra saja yang pergi kesana untuk menemani Paman Dean,"
__ADS_1
"Sekarang?"
"Iya, Rendra juga hawatir padanya."
"Baiklah, ayo, mama akan buatkan makan malam dan camilan untuk kamu dan Dean, siapa tau dia belum makan apa-apa, dia harus minum obat tepat waktu, kalian makanlah sama-sama."
"Jelas-jelas mama begitu hawatir pada paman, tapi kenapa mama tidak mau menerima pernyataan cinta dari paman." Kata Rendra dalam hati.
"Ini, mama sudah siapkan semuanya, kamu hati-hati dijalan ya."
"Iya ma, sekarang mama bisa makan dan tidur dengan tenang, nanti kalau ada apa-apa Rendra akan kasih kabar ke mama, jangan sampai mama gak makan ya."
"Hm mama akan makan setelah kamu berangkat, terimakasih ya sayang."
"Sama-sama ma, Rendra berangkat ya,"
"Hati-hati."
"Setidaknya Rendra bisa membantunya jika dia membutuhkan sesuatu, sekarang aku merasa lega."
Rajendra sampai di rumahnya Dean, dia menekan bel berkali-kali tapi tidak ada yang membuka pintu.
Rajendra mencoba membuka pintunya, "Pintunya tidak di kunci? paman, paman,"
"Iya, aku di sini," Jawab Dean.
"Sepertinya paman di kamarnya," Kata Rajendra, lalu pergi menuju kamar Dean.
Ketika Rajendra ke kamarnya, Dean terjatuh dari tempat tidurnya dia berusaha untuk bangun.
Rajendra pun segera membantunya berdiri, "Paman, kenapa paman bisa jatuh seperti ini?"
"Tadi aku mendengar suara bel, lalu mendengarmu memanggilku, jadi aku bermaksud untuk menemuimu di bawah, tapi aku tidak sengaja jatuh."
"Emangnya gak ada suster yang jaga?"
"Ini rumah Ren, bukan rumah sakit."
"Aku kira Dokter Jo mengirim perawat untuk menjaga paman."
"Tadinya iya, tapi aku tolak."
"Perawatnya cewek."
"Emang kenapa kalau cewek? sama perawat kok pilih-pilih."
"Aku gak mau kalau sampai mamamu semakin menjaga jarak denganku karna itu."
"Apa hubungannya sama mama?"
"Ada lah, dia gak mau nerima aku gegara dia mengira aku ada hubungan sama Claira, dan kalau sekarang ada perawat cewek di sini, di rumahku, apa yang akan dia pikirkan."
"Aku tidak menyangka paman akan berpikir sampai kesitu."
"Aku memang selalu berpikir jauh ke depan, oh ya, kamu kesini di kasih tau mamamu?"
"Iya, mama juga suruh aku bawakan makan malam, dan camilan untuk paman." Rajendra menyimpan paper bag yang berisi makanan di meja samping tempat tidur Dean.
"Apa dia buatkan jus juga?"
"Enggak ada, cuma ada susu."
"Susu?!"
"Iya,"
"Aku bukan anak kecil lagi, kenapa di beri susu."
"Itu demi kesehatanmu paman."
"Ayo, aku akan membantumu untuk makan." Kata Rajendra Sambil menyuapi Dean.
"Aku bisa sendiri."
"Oke,"
"Kamu sudah makan?"
Rajendra menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Kalau begitu ayo makanlah bersamaku."
"Iya, aku memang sudah lapar dari tadi."
"Terus kenapa diam saja, ayo makan, apa perlu aku yang menyuapimu."
"Aku bisa makan sendiri." Kata Rajendra sambil mengambil makanannya.
"Kamu akan lama di sini?"
"Iya aku akan menginap, kalau paman butuh sesuatu aku bisa membantu."
"Tidak usah, mamamu sendiri di rumah, pulanglah."
"Tapi mama menyuruhku untuk menemanimu."
"Itu tidak perlu, kamu sudah menaruh semua yang aku butuhkan di sini, kalau perlu sesuatu aku tinggal mengambilnya."
"Tapi,"
"Tidak usah hawatir, kasihan mamamu sendirian di rumah, kalau kamu mau kamu bisa kembali besok."
"Paman benar tidak apa-apa? bagaimana keadaan paman sekarang?"
"Aku tidak apa-apa, selama aku tidak banyak bergerak aku akan baik-baik saja."
"Kalau begitu jangan bergerak, tetaplah di tempatmu."
"Apa maksudmu? kalau aku mau ke kamar kecil bagaimana, apa aku harus buang air kecil di sini."
"Ya kalau itu perlu kenapa tidak."
Mereka terdiam sejenak lalu tertawa.
"Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu ya paman."
"Iya, salam untuk mamamu, dan katakan padanya terimakasih."
"Hm,"
"Hati-hati di jalan."
"Jaga diri paman baik-baik."
"Iya, aku tau." Ucap Dean sambil menepuk-nepuk pundak Rajendra.
Esok pagi,
Anindira menyiapkan sarapan pagi.
"Pagi ma,"
"Pagi sayang, mau berangkat kuliah?"
"Rendra berangkat siang ma,"
"Oh,"
"Ma, ayo kita ke rumah Paman Dean, dia pasti belum sarapan."
"Iya, mama juga berpikir seperti itu, mama udah siapin sarapan buat di bawa kesana."
"Ayo kita pergi setelah sarapan,"
"Baiklah,"
Setelah seslesai sarapan merekapun langsung pergi ke rumah Dean.
Sesampainya di sana, mereka melihat Claira sedang memeluk Dean di kamarnya.
"Sepertinya kita datang di waktu yang tidak tepat." Ucap Anindira, lalu pergi dari kamar Dean.
Rajendra bingung harus berbuat apa.
"Rendra, kapan kamu datang?"
"Barusan paman,"
"Hai Rendra," Sapa Claira.
__ADS_1
Rajendra hanya membalas sapaan Claira dengan senyuman kecil