
Leon kembali ke ruang bersalin untuk bicara dengan Anindira tapi ayahnya tidak memperbolehkan dia bertemu dengan anaknya.
"Tidak boleh, aku tidak akan mengizinkannya."
"Tapi ayah.."
"Siapa yang ayahmu?"
"Biarkan aku bertemu dengan istri dan anakku walau bagaimana pun mereka masih menjadi tanggung jawabku."
"Baru sekarang kau ingat dengan tanggung jawabmu? kemana saja kamu selama ini?"
"Maafkan aku ayah."
"Jangan panggil aku ayah! kamu tidak perlu merasa bertanggung jawab atas anak dan cucuku, karna setelah ini kalian akan bercerai."
Ucap ayah Dira sambil beranjak ke ruang bersalin.
Leon diam mematung di depan pintu ruang bersalin.
"Ayah kenapa?" tanya Anindira.
"Hhaahh.. mulai sekarang kamu tidak usah berhubungan lagi dengan keluarga Pradana! kamu juga tidak usah memperdulikan orang yang ada di luar ruang besalin itu."
"Tapi ayah Leon itu masih suaminya Dira biarkan dia bertemu Dira dan anaknya sebentar saja."
Ibunya Anindira mencoba menenangkan dan membujuk suaminya.
Sementara itu di luar, Dean yang mendengar percakapan Leon dan ayah Anindira tadi menghampiri Leon dan berkata, "tidak perlu cemas, duduklah dulu! aku akan mencoba bicara pada paman dan membujuknya untuk mengizinkanmu bertemu dengan Dira dan anakmu."
Dean masuk untuk bicara dengan ayahnya Anindira.
"Paman, aku melihat ketulusan di hati Leon izinkan dia untuk bertemu dengan Dira dan anaknya."
"Apa kamu juga berada di pihaknya Dean?"
"Bukan begitu paman, tapi bukankah paman sendiri yang pernah bilang kalau paman tidak akan memaksakan kehendak paman kepada Dira, paman akan menyerahkan semua keputusan yang bersangkutan dengan masa depannya Dira kepadanya."
"Tapi sebagai ayah aku merasa hawatir dan tidak ingin melihat anakku terluka lagi."
"Gapapa ayah aku tidak keberatan, walau bagaimana pun dia ayah dari anakku biarkan dia bertemu dengan anak ini sekali lagi saja."
"Baiklah sekali saja, suruh dia masuk!"
"Biar aku yang memanggilnya ke sini." Ucap Dean.
Dean memanggil dan membawa Leon masuk ke dalam.
Ibu dan ayahnya Anindira keluar dari ruangan itu, Dean juga pergi dari sana untuk memberi kesempatan mereka berbicara.
Leon menghampiri Anindira dan anaknya, dia menggendong anaknya dan duduk di samping Anindira.
"Apakah kamu sudah merencanakan sebuah nama untuk diberikan kepadanya?"
"Belum." Jawab Anindira singkat.
__ADS_1
"Bolehkah aku yang memberikan nama padanya?"
"Silahkan saja."
"Aku akan memberi nama dia Rajendra Pradana apa kamu tidak keberatan dengan nama itu?
"Tidak, aku akan mengambil nama itu untuknya."
"Terimakasih, Dira apa aku boleh minta sesuatu darimu?"
"Apa?"
"Aluna sedang sakit parah dia sangat ingin bertemu denganmu dan anak kita, bisakah kamu mengabulkan keinginannya?"
"Aku tidak akan memaksa kamu untuk kembali ke rumah, aku juga tidak akan membawa Rajendra bersamaku dan memisahkan kamu darinya. Aku mohon, sekali saja temui dia! pertemukan dia dengan Rajendra."
"Begitu besar cintamu kepada Mba Aluna, sampai kamu rela memohon untuknya walaupun hatimu membenciku." Ucap Anindira dalam hati.
"Apa kamu bersedia?"
"Bersedia apa?" ayahnya Anindira yang dari tadi mendengar percakapan mereka dari balik pintu tiba-tiba masuk dan ikut bicara.
"Ayah?!" Ucap Anindira kaget.
"Jangan coba-coba kamu menghasut anakku untuk kembali padamu." Gertak ayah Anindira pada Leon menantunya.
Anindira mengambil anaknya dari pangkuan Leon.
"Aku tidak bermaksud untuk membawanya kembali, tapi aku minta pada kalian semua untuk satu hari saja izinkan aku membawa mereka untuk bertemu dengan Aluna."
"Aku mohon ayah, Aluna sedang sakit keras dia sangat merindukan Dira dan anak kami Satu hari saja setelah itu aku akan mengantarkan mereka pulang."
"Ayah izinkan aku ikut untuk bertemu dengan Mba Aluna."
"Kenapa kamu mau melakukan ini nak?"
"Anak ini adalah keturunan dari keluarga Pradana dia punya hak untuk bertemu dengan kakek, neneknya, dan Mba Aluna dia sangat menyayanginya dari semenjak dia berada dalam kandungan, anakku juga pasti sangat menginginkan bertemu dengannya."
"Terserah kamu saja, hari ini ayah sudah banyak mengalah untuk orang yang gak pernah menganggap putri ayah sebagai istrinya. Semoga suatu saat kita mendapatkan balasan yang setimpal atas kemurahan hati kita pada keluarga Pradana."
"Ayah," ucap ibunya Anindira bermaksud menghentikan ucapan suaminya
Ayahnya Anindira meninggalkan ruang bersalin.
"Nak leon Dira baru saja melahirkan dia tidak bisa ikut denganmu sekarang."
"Gapapa bu, aku akan menjemputnya nanti setelah Anindira benar-benar sudah pulih."
"Sebaiknya sekarang kamu pulang! Mba Aluna pasti sedang menunggumu, bilang padanya aku akan ikut denganmu besok, katakan juga padanya jaga kesehatan, dan kamu harus selalu menjaganya perhatikan kesehatannya, suruh dia minum obat dengan teratur."
"Baiklah, apa kamu sudah cukup bicaranya? boleh aku berpamitan pada anakku?"
Anindira mengangguk.
"Nak, ayah pulang dulu ya nanti ayah datang lagi untuk jemput kamu." Ucap Leon pada anaknya yang masih bayi dan mengusap lembut keningnya.
__ADS_1
Leon pun pamit untuk pulang.
"Dira kamu yakin mau ikut Leon pulang ke rumah itu?"
"Iya bu, cuma satu hari aja setelah itu aku akan pulang ke rumah dan berkumpul lagi bersama ibu dan ayah."
Tok.. tok.. tok.. terdengar suara ketukan pintu dari luar ternyata itu adalah Dean.
"Masuklah Dean!" ucap Anindira.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Baik,"
"Syukurlah, boleh aku menggendong anakmu?"
"Tentu saja," ucap dira sambil memberikan anaknya pada Dean.
Dean sangat senang melihat anak dari sahabatnya lahir dengan selamat dan sehat.
Apalagi dia sempat berada di samping Anindira ketika dia akan melahirkan.
"Dia sangat mirip denganmu." Ucap Dean.
Keesokan paginya, Anindira berkemas untuk pulang, Leon datang pagi-pagi sekali untuk menjemputnya.
"Kamu boleh membawa anak dan cucuku hari ini, tapi besok kamu harus mengembalikan mereka padaku!"
"Baik ayah."
Leon membawa Anindira kembali ke kediaman keluarga Pradana, ketika Anindira turun dari mobil dan menginjakan kakinya di halaman depan rumah, dia teringat kembali saat leon menyeret dan mengusirnya dari rumah itu.
Sehingga membuat dia enggan untuk menginjakan kakinya di rumah itu lagi.
Mamanya Leon menghampiri Anindira dan menyambut kedatangannya dengan suka cita.
"Anindira, selamat datang kembali di rumah ini!"
ucap mamanya Leon sembari memeluknya.
"Mana cucuku? aku ingin melihat dan menggendongnya."
Anindira membuka gendongannya.
"Apa ini cucuku? dia sangat tampan, kemarilah sayang datanglah kepangkuan nenek!" ucap mamanya Leon dengan perasaan bahagia.
Saat ini, perasaan Anindira sedang campuraduk
dia tidak tau apa dia harus merasa bahagia atau sedih karna suami dan keluarganya sekarang sudah bisa menerima keberadaan dia dan anaknya.
Tapi di sisi lain Anindira belum sepenuhnya memaafkan Leon.
Mamanya Leon mengajak Anindira masuk ke dalam rumah dan menemui Aluna.
Ketika Anindira menemui Aluna di kamarnya alangkah terkejutnya dia melihat keadaan Aluna yang terbaring lemah dia sudah tidak bisa bergerak dengan bebas lagi.
__ADS_1