
Ting, tong, suara bel berbunyi.
"Kamu pasang bel di luar pintu?" Tanya Claira pada Anindira.
"Iya,"
"Kenapa kamu gak bilang? tau gitu aku gak perlu ketuk pintu kan."
"Lah, kamu selama ini setiap main ke rumahku emangnya gak engeh disitu ada bel?"
"Lah iya ya,"
"Dasar, bentar aku bukain pintu dulu, kayaknya itu Dean deh."
Claira langsung salah tingkah, dia merapihkan rambutnya, dan mengoleskan lipstik di bibirnya.
Dia berkaca lalu menepuk-nepuk pipinya.
Anindira membuka pintu.
"Ya ampun, buka pintu aja lama banget sih kamu."
"Iya, iya, maaf,"
"Ha hai Dean," Claira berdiri dan menyapa Dean dengan gugup.
"Hai Clair,"
"Kamu udah bawa yang aku pesan?" Tanya Anindira.
"Udah semuanya, tinggal masak."
"Ya udah yuk langsung masak aja." Anindira pergi ke dapur dengan di temani Dean, tapi karna gugup Claira hanya berdiri mematung.
"Clair, ayo," Ajak Dean.
"Ah, iya iya."
Mereka bertiga pun mulai memasak untuk makan malam.
"Ya ampun gak nyampe lagi, Dira kok naruh garam di tempat yang tinggi sih, kenapa gak di taro di bawah aja."
Claira mengambil kursi, ketika Claira hendak menaiki kursi untuk mengambil garam dia kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh, untungnya Dean segera menopang tubuh Claira.
"Tadi itu hampir saja, kamu membuatku terkejut."
"Ups, maaf, aku gak melihat apapun kok." Anindira menutup mata dengan satu tangannya, satu tangannya lagi meraih sayuran dan pergi ke westapel untuk mencucinya.
"Lain kali hati-hati, kamu kan bisa meminta bantuanku." Kata Dean memperingatkan Claira.
"Maaf,"
"Kamu ini kenapa sih Clair? daritadi kamu kelihatan gak fokus, hari ini kamu juga hanya bilang hai, dan maaf padaku."
"Aku, aku.."
"Clair, gak usah canggung aku kan juga temanmu." Ucap Dean sambil tersenyum.
"Ya ampun, ini tidak baik untuk jantung." Bergumam dalam hati.
"Iya, oke, tapi kamu jangan pernah menunjukan senyum seperti itu lagi padaku." Kata Claira sambil melangkah pergi mendekati Anindira.
"Apa?" Dean bingung.
Anindira tersenyum geli.
Beberapa saat kemudian makanan pun telah siap di hidangkan.
"Huf, akhirnya selesai juga."
Sementara itu, Leon dan Rajendra telah sampai di depan rumah Anindira.
"Rendra, kamu saja yang berikan ini pada mamamu, jangan bilang ini dari papa, kamu tenang saja papa gak akan ingkar janji, jika mamamu lebih menyukai boneka yang kamu bawa papa akan menuruti semua perkataanmu."
"Baiklah,"
"Ayo, papa antar kamu sampai depan pintu."
Rajendra menekan bel rumah.
"Kamu mengundang seseorang?" Tanya Dean.
__ADS_1
"Enggak kok, siapa ya?" Anindira hendak membuka pintu.
"Mama,"
"Rendra, kamu sudah pulang?"
"Iya,"
"Ayo masuk, kebetulan mama baru selesai masak, kita makan malam bersama." Anindira menarik tangan Rajendra.
"Ma,"
"Iya,"
Anindira baru sadar kalau Leon berada di samping putranya.
"Pa,"
"Masuklah, papa harus pulang sekarang."
"Oke,"
"Selamat malam jagoan," Leon mengepalkan tangan dan meninjukannya ke bahu Rajendra dengan pelan
Rajendra tersenyum dan melambaikan tangan.
"Rupanya Rajendra sudah akrab dengan papanya sekarang." Gumam Anindira dalam hati.
"Ma, ayo masuk,"
"I iya, iya, ayo duduk sini."
"Halo paman, hai tante,"
"Hai Rendra, ayo kita makan paman sudah sangat lapar."
"Iya paman, oh ya ma, Rendra dapat ikan banyak."
"Wah, dapat darimana, kamu beli ya?"
"Iya, beli tapi mancing sendiri."
"Kalau paman mau, paman ambil aja, tapi jangan semuanya."
"Boleh nih?"
"Heem, tante Clair juga boleh ambil, tapi sisain buat mama."
"Oke, oke."
"Kamu terlihat senang Rendra, apa hubunganmu dengan papamu sudah membaik?" Tanya Dean
"Hemm, aku hanya memberinya sedikit ruang saja."
"Syukurlah,"
Anindira merasa gelisah, makanan yang dia makanpun sekarang terasa hambar.
Dean menyadari hal itu.
"Bukannya kamu sangat menyukai ikan, bagaimana kalau aku buatkan ikan bakar sekarang?" Ucap Dean sambil berdiri.
"Eh, tidak usah, nanti makannya malah gak enak kalau di tunda, ayo selesaikan makannya buat ikan bakarnya besok-besok aja."
"Yakin,"
"Iya, iya."
Selesai makan, Rajendra pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Claira mengusap-usap bahu Anindira untuk menenangkan hatinya yang sedang resah.
"Apa kita harus menginap di sini, sepertinya ada seseorang yang butuh di temani." Kata Dean.
"Kenapa tiba-tiba?" Anindira menyahutinya.
"Belakangan ini moodmu sangat buruk, kalau kamu mau aku dan Clair akan menemanimu sampai besok."
Rajendra yang baru saja keluar dari kamar dengan rambut basahnya menyela pembicaraan mereka, "Paman Dean dan Tante Clair mau nginep di sini?"
"Ya, kalau mamamu mau sih, kalo enggak aku dan Clair pulang saja."
__ADS_1
"Jangan,"
"Ah, kamu bersemangat sekali."
"Kalau Paman Dean menginap kita bisa main game bersama lagi."
"Kamu ini ga ada habisnya, bukannya tadi
kamu habis bersenang-senang dengan papamu?"
"Papa payah, main game sama papa gak ada tantangannya."
"Oh, jadi, tetap paman yang terbaik dong?" Dean mengepalkan tangannya mengajak Rajendra tos.
"Hmm," Rajendra mengangguk dan menempelkan kepalan tangannya dengan tangan Dean.
"Karna sekarang kamu sudah beranjak dewasa kita pakai aku dan kamu saja ya."
"Boleh, tapi aku tidak akan memakai kata kamu untuk paman."
"Eh, kenapa, kita kan friends boy?" Dean memukul pelan bahu Rajendra dengan kepalan tangannya."
"Itu, terkesan gak sopan, Paman kan lebih tua dariku."
"Hah, kalau membicarakan masalah umur aku gak bisa berkata apa-apa, sepertinya aku harus bereinkarnasi dulu supaya bisa sejajar dengan kamu Nak." Keluh Dean.
"Ya udahlah, terserah kalian saja, kalau Rajendra bilang begitu berarti ya kamu harus menurutinya." Kata Anindira.
Mereka saling pandang dan langsung duduk di depan layar bersiap untuk bermain game.
"Ternyata sebesar apapun aku berusaha, aku tetap gak bisa jauh dari kalian." Seru Dean dalam hati.
Anindira mengambil handuk dan hair dryer, dia mengusap-usapkan handuk ke rambut Rajendra dan mengeringkan rambutnya sambil mengomel.
"Saking semangatnya kamu sampai lupa mengeringkan rambut."
"Makasih ma," sambil tersenyum
Anindira pun tersenyum.
"Mereka terlihat seperti ibu, ayah, dan anak." Ucap Claira dalam hati.
Setelah selesai Anindira mengajak Claira ke kamarnya.
"Clair, menurutmu aku harus bagaimana melihat hubungan Rajendra dengan papanya sekarang?"
"Aku tidak tau harus bilang apa, karna kalau aku ada di posisi kamu, aku pun tidak tau harus bagaimana."
Anindira menghela nafas.
"Sudahlah, yang penting sekarang Rendra masih bersamamu, jika dia mengambil Rendra darimu aku tidak akan tinggal diam."
Anindira terdiam.
"Jangan hawatir kamu masih punya aku dan Dean, kami tidak akan membiarkan sahabat kami disakiti, kami akan berdiri di barisan paling depan untuk membela kamu."
"Terimakasih Clair,"
"Oke, sekarang kita mau ngapain? lanjut nonton drakor atau curhat sampai pagi hmm?"
"Ah, enggak aku mau tidur saja." Sambil menarik selimut dan tidur.
"Aku akan menemanimu jika kamu mau."
"Enggak,"
"Yakin?"
"Iya,"
"Kalau gitu, aku pinjam kamar mandimu ya."
"Oke, nanti kamu pakai piyamaku aja di lemari."
"Kamu gak mandi dulu baru tidur?"
"Nanti setelah kamu."
"Oke, kamu ambilin piyamanya ya, aku kan gak mungkin mengubek-ubek isi lemari kamu."
"Iya, aku siapin."
__ADS_1