
Setelah Dean pulang, sebuah mobil datang dan berhenti di depan rumah Anindira.
Ting tong,
"Biar Rendra aja yang buka ma."
Anindira mengangguk.
Rajendra membuka pintu, "Papa,"
"Selamat pagi Nak."
"Pagi pa,"
"Siapa Ren?"
"Papa ma,"
"Papa? mau apa lagi dia ke sini?" Ucapnya pelan.
"Ayo masuk pa,"
"Enggak perlu, papa ke sini mau jemput kamu."
"Jemput aku? memangnya mau kemana?"
"Kok nanya mau kemana, ya ke kampuslah boy."
"Oh, papa mau antar aku ke kampus?"
"Hmm,"
"Gak usah pa, Aku berangkat sendiri aja."
"Gapapalah kali-kali papa yang antar, mumpung papa lagi di sini."
"Oh," Rajendra tidak banyak bicara, "Kalau gitu aku bawa tasku dulu ya pa."
"Oke,"
Rajendra mengambil tasnya di kursi makan.
"Kamu mau berangkat bareng papa?"
"Iya ma, Rendra ngampus dulu ya ma."
"Hati-hati di jalan."
"Hmm," Katanya sambil mengangguk.
"Kamu gak ikut sekalian?" Tanya Leon pada Anindira.
"Enggak, aku berangkat sendiri aja."
"Ya udah, ayo Nak."
Melihat reaksi kedua orangtuanya, Rajendra merasa ada yang berbeda dengan mereka, "Kok suasananya jadi canggung sih, ada apa sama mama papa?" Ucapnya dalam hati.
Setelah berada di dalam mobil, Rajendra mengobrol dengan papanya.
"Pa,"
"Hmm,"
"Papa harus lihat ini,"
"Apa?"
"Ini," Rajendra memperlihatkan foto Anindira yang sedang memegang boneka hamster di handphonenya.
"Apa ini?"
"Menurut papa?"
"Cantik,"
"Ya, mamaku memang cantik, kenapa, papa naksir? sebaiknya jangan deh saingannya berat."
"Haah, anak ini bisakah kamu mengucapkan kalimat yang membuat hati papa tenang, setiap bicara denganmu jantung papa seperti berhenti berdetak."
__ADS_1
Rajendra tertawa cekikikan, "Papa masih ingat kan papa menawarkan tiga permintaan untukku, karna aku menang telak, papa harus mengabulkan tiga permintaanku, dan menuruti setiap perkataanku."
"Kayaknya berat nih,"
"Gak berat kok, Janji itu harus di tepati loh pa."
"Ekhem, iya papa tau, apa yang kamu inginkan?"
"Ini permintaan spesial untuk papa dan mama."
"Apa maksudmu?"
"Papa harus mengajak mama makan malam."
"Bagaimana bisa aku melakukan itu, aku sudah menyusun rencana dan akan kembali ke kota x dalam beberapa hari ke depan." Keluhnya dalam hati.
"Pa,"
"Iya,"
"Kenapa? apa begitu sulit bagi papa untuk memberi kesan yang baik untuk mama?"
"Emm, oke, papa akan mengajaknya pergi malam ini."
Mendengar perkataan Leon Rajendra tersenyum.
Sesampainya di kampus mereka pun berpisah.
"Rendra," Seorang gadis yang baru saja turun dari mobil memanggilnya sambil melambaikan tangan.
"Hai siren," Sapa Rajendra pada gadis itu.
"Hai," Sambil tersenyum senang.
"Oh, jadi ini pemuda tampan yang sering kamu ceritakan itu?"
"Ih, mama bikin siren malu deh."
"Halo tante,"
"Halo tampan,"
"Iya tau, Rendra, tante titip siren ya."
Rajendra hanya tersenyum.
"Ih mamah apaan sih, udah ah yuk kita masuk." Ajak Siren dengan tersenyum malu.
Rajendra mengiyakan.
Ibu itu tersenyum dan melambaikan tangan lalu berkata, "Belajar yang rajin ya."
Siren membalas lambaian tangan ibunya.
"Yang tadi itu papamu ya ren?"
"Iya,"
"Papamu keren dan juga tampan."
"Jangan bilang kamu menyukai papaku."
"Ih, bercanda aja deh kamu Ren, maksudku pantas aja anaknya ganteng banget papanya juga ganteng sih."
"Aku tidak bisa dibandingkan dengan papaku."
"Ah, manisnya." Siren tak henti-henti mengagumi Rajendra dengan menatapnya tanpa berkedip.
"Kamu baik-baik saja kan?"
Siren mengangguk dan tersipu malu.
Teman-teman Rajendra memanggilnya, dia pun menghampiri teman-temannya.
"Aku duluan ya,"
"Iya, sampai bertemu lagi, bye-bye ayang."
"Hei Rendra, kayaknya si siren cinta berat deh sama kamu, jangan bilang kamu pura-pura gak tau." Kata salah seorang temannya.
__ADS_1
"Iya, dia sampai terang-terangan gitu ngasih kode ke kamu." Teman yang lain menimpali.
"Sudahlah, kita semua itu teman aku gak mau pacaran dulu."
"Ya, lo gak asik bro." Ejek temannya.
"Biarin," Jawabnya.
Mereka pun tertawa sambil pergi menuju kelas.
"Aku udah gak bisa menahan perasaanku terhadapnya, aku harus menyatakan perasaanku."
Setelah waktu istirahat tiba, Siren menemui Rajendra di kelasnya, dia membawa seikat bunga yang habis dia petik di taman belakang kampus.
Semua teman Rajendra panasaran mereka berkerumun mengelilingi Siren dan Rajendra.
"Siren,"
"Rendra, aku kesini ingin mengatakan sesuatu sama kamu."
"Wah, apakah ini pernyataan cinta." Kata salah seorang teman sekelasnya Rajendra.
"Rendra, aku sangat menyukaimu, dari pertama kali kita bertemu aku jatuh cinta pada pandangan pertama padamu, hingga saat ini perasaan cintaku semakin besar, aku sudah tidak bisa menahannya lagi, bisakah aku menjadi pacarmu? maukah kamu jadi pacarku?"
Rajendra melihat ke sekelilingnya, dia melihat semua anak di kelasnya berbisik-bisik.
Rajendra menarik tangan Siren dan membawanya keluar dari kelas, sampai di koridor kampus Rajendra melepaskan tangannya.
"Apa kamu tau apa yang sudah kamu lakukan barusan?"
"Aku tau, aku mengatakan apa yang harus aku katakan yaitu menyatakan cinta padamu."
"Siren, sadarlah! dengan kamu yang seperti ini, tanpa kamu sadari kamu sudah mempermalukan dirimu sendiri."
"Kenapa aku mempermalukan diriku sendiri? aku hanya menyatakan cinta, apa itu salah?"
"Kamu gak salah, tapi cara kamu yang salah, kalau kamu mau bicara, carilah waktu yang tepat, temui aku ketika aku tidak sedang bersama teman-temanku."
"Kenapa, bukankah itu momen yang bagus? aku ingin semua orang tau bahwa aku sangat mencintaimu, aku membayangkan mereka akan bertepuk tangan dan memberkati kita."
"Iya kalau aku menerima cintamu, bagaimana jika aku menolaknya? kamu bayangkan jika aku menolakmu di depan semua teman-temanku, apa yang akan kamu lakukan, apa yang akan terjadi ke depannya? apa kamu masih bisa mempertahankan harga dirimu sebagai wanita? kamu pasti akan merasa terhina lalu membenciku, dan setelah membenciku apa kamu akan diam saja, bagaimana kalau kamu memutuskan untuk balas dendam padaku? kalau terjadi seperti itu tidak akan ada habisnya."
"Mana mungkin, aku mencintaimu, mana bisa aku membencimu." Mata Siren mulai berkaca-kaca.
"Tapi aku tidak bisa menerimamu, apa kamu tidak membenciku?"
"Kamu benar, ini lebih baik, daripada kamu menolakku di hadapan semua teman-temanmu memang lebih baik begini, tapi, apakah kamu tidak ingin memberi kesempatan untukku?"
"Maap, aku tidak bisa, aku di sini untuk belajar aku memilih untuk fokus pada impianku, bagiku cinta itu adalah hambatan."
"Jadi menurut kamu, perasaan cinta yang aku miliki untuk kamu itu gak penting?"
"Mengertilah siren, bukannya aku tidak perduli denganmu, tapi aku tidak ingin memberi harapan kosong untukmu."
"Aku, aku, aku sungguh mencintaimu." Ucap Siren sambil menangis.
"Terimakasih sudah mencintaiku, aku tidak bermaksud untuk menyakiti perasaanmu, tolong hargai keputusanku."
"Kalau sudah begini, bagaimana aku bisa dekat denganmu."
"Jangan hawatir, tidak akan ada yang berubah, bertindaklah seperti biasanya."
Siren berhenti menangis, "Kamu masih mau berteman denganku?"
"Tentu saja, aku akan berada di sampingmu sebagai seorang teman."
"Bagaimana kalau ada yang tanya tentang kejadian hari ini."
"Biar aku yang mengurusnya, tidak akan ada yang berani bergosip tentang dirimu."
"Tapi kamu sudah membuatku malu di hadapanmu." Ucap Siren sambil memukul dada sebelah kirinya.
"Denganku kamu tidak perlu malu." Hiburnya sambil tersenyum.
"Heuh, bagaimana aku tidak jatuh cinta padamu selain keren, tampan, dan cerdas kamu juga orang yang sangat baik."
"Hahaha, kamu masih bisa memujiku setelah aku menolakmu."
"Dasar,"
__ADS_1