Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 91


__ADS_3

Anindira tidak perduli dia tidak mau mendengarkan penjelasan Dean.


"Dira,"


Anindira berjalan lebih cepat.


"Tunggu," Dean menarik tangan Anindira hingga dia jatuh ke pelukan Dean.


"Apa yang kamu lakukan, lepaskan!"


"Tidak, tidak akan aku lepaskan, dengarkan penjelasanku dulu."


"Aku tidak mau."


"Kenapa kamu begitu keras kepala?"


"Aku tidak keras kepala."


"Lalu apa, kenapa kamu tidak mau mendengarkan penjelasanku?"


"Aku tidak suka," Ucapnya sambil menangis.


"Apa kamu cemburu?"


"Siapa, siapa yang cemburu." Anindira berteriak sambil mendorong Dean dengan keras.


Tapi Dean memeluknya lebih erat sehingga Anindira tidak sanggup memberontak.


"Lepaskan, aku bilang lepaskan! apa kamu mau membunuhku? aku tidak bisa bernafas."


"Maaf, aku akan melepaskanmu, tapi kamu harus janji kamu tidak akan lari."


"Iya,"


Dean perlahan melepaskan pelukannya, "Apa kamu baik-baik saja?"


Anindira tidak menjawab, setelah Dean melepaskan pelukannya dia berlari ke tengah jalan raya, Dean mengejarnya.


"Awas," Dean berteriak


Anindira hampir tertabrak mobil tapi Dean berhasil menyelamatkannya.


Karna takut Anindira kabur lagi, Dean menggendong Anindira dan membawanya ke taman dekat pinggir jalan.


Dean duduk di bangku panjang yang ada di taman itu dengan memangkunya.


Anindira menangis.


"Kenapa tingkahmu seperti anak kecil? kamu tau ketika mobil itu hampir menabrakmu, jantungku terasa berhenti berdetak saat itu juga."


Anindira tidak bicara dan terus menangis.


"Jangan menangis, aku tidak memarahimu, aku hanya hawatir, aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu." Kata Dean sambil menyeka air matanya.


"Aku tidak percaya lagi dengan ucapanmu."


"Kamu marah? kalau kamu marah pukul saja aku, jangan melakukan hal seperti itu lagi."


"Aku tidak perduli," Anindira berusaha turun dari pangkuan Dean.


Tapi Dean tidak membiarkannya, "Kali ini aku tidak akan lengah, dengarkan aku, aku dan sekertaris itu tidak punya hubungan apapun, air minumku tumpah ke lantai, tadi dia terpeleset karna lantainya licin mungkin tanpa sadar dia menarik dasiku sampai posisi kami jadi seperti itu, dan.. membuatmu salah paham."


Anindira terdiam.


"Kamu masih tidak percaya padaku?"


"Turunkan aku,"


"Tidak,"


"Turunkan aku,"


"Tidak akan,"


"Aku tidak akan lari."


"Janji,"


Anindira mengangguk.

__ADS_1


Dean menurunkan Anindira dari pangkuannya, Anindira duduk di samping Dean.


"Aku sudah pernah menikah Dean, aku juga sudah punya anak sebesar Rajendra, kamu pantas mendapatkan wanita yang lebih baik daripada aku, kamu pantas mendapatkan pendamping yang sepadan denganmu, aku tidak keberatan jika kamu menikah dengan orang lain, jangan terpaku karna wasiat dari Bang Leon, jangan menungguku lagi Dean."


"Apa kamu akan bahagia jika aku pergi dengan wanita lain?"


"Ya, asalkan kamu bahagia."


"Bagaimana aku bisa hidup bahagian dengan wanita lain, jika kebahagiaanku ada padamu."


"Dean, aku tidak pantas untukmu."


"Hanya karna kamu sudah menikah dan punya anak?"


Anindira terdiam.


"Aku mencintaimu, aku tidak bisa berpaling darimu."


"Dean,"


Dean memeluk Anindira dan men***m b***rnya dengan lembut.


Anindira mendorong Dean, "Ini tidak benar."


"Maaf, aku tidak bisa mengendalikan diri."


Tiba-tiba HP Anindira berbunyi, dia mengangkat telpon, lalu dia pun pamit untuk kembali ke kantornya.


Dean juga kembali ke kantornya, setelah kejadian itu, dia tidak bisa konsentrasi, "Aku sudah melakukan kesalahan dengan men***mnya, dia pasti tidak suka, kami akan merasa canggung ketika bertemu nanti."


Dan ternyata benar, setiap kali mereka bertemu mereka merasa canggung dan tidak saling bicara.


"Hai guys, kita nongki bareng di kafe yuk, udah lama kita gak nongki bertiga."


Dean dan Anindira hanya diam saja.


"Ada apa dengan kalian berdua?" Claira bertanya-tanya.


"Mm, lain kali aja ya Clair, aku masih banyak kerjaan."


"Kamu itu kan bos, harusnya bos itu gak terlalu banyak bekerja, biar karyawan aja yang ngerjain."


"Kan gak tiap hari juga, ayolah, kali ini aja."


"Clair benar, lagian kita udah lama gak ngafe bareng."


"Oke deh," Kata Anindira mengiyakan.


Setelah sampai di kafe,


"Jadi gimana?"


"Apanya?" Jawab Anindira.


"Tentang kalian, apa kalian sudah mengambil keputusan?"


"Mm, belum." Jawab Dean.


"Ya, lama banget, kamu tuh nunggu apa lagi sih Dira, mau mikir sampai kapan?"


"Aku akan bicara dengan Rendra dulu."


"Oh, ya udah, pokoknya kalian harus update berita terbaru tentang kalian sama aku."


Dean menatap Anindira, Anindira balas menatapnya.


"Clair, aku ke toilet sebentar ya."


"Oke, jangan lama-lama."


"Aku juga mau ke toilet." Kata Dean.


"Ya ampun kalian tuh ya, ke toilet aja barengan kayak pengantin baru aja, atau jangan-jangan.. (Skip)."


Dean masuk ke toilet wanita untuk menemui Anindira berdua saja.


"Dean, sedang apa kamu di toilet wanita?"


"Stt, aku mau bicara denganmu sebentar."

__ADS_1


"Tapi kenapa harus di sini."


"Di sana ada Clair."


"Memangnya kamu mau bicara apa?"


"Tentang waktu itu aku minta maaf, harusnya aku tidak melakukannya tanpa seizin kamu, tapi.. aku benar-benar serius dengan perasaanku, aku mencintai kamu apa adanya, aku juga sangat menyayangi Rendra, aku sudah menganggapnya seperti putraku sendiri, aku bisa menjadi teman, sahabat, atau pun ayah untuknya, aku akan berusaha sekuat tenanga untuk membuat kalian bahagia, sehingga kalian tidak akan punya waktu untuk bersedih."


"Dira, kenapa kamu lama banget sih." Claira langsung nyelonong masuk ke toilet, "Eh, Dean?! sedang apa kamu di toilet perempuan? jangan- jangan kalian berdua.."


"Apa sih, jangan mikir yang macam- macam, aku salah masuk toilet."


"Ya ampun, makanya periksa dulu sebelum masuk, di luar kan ada tanda"


"Iya iya, aku tadi gak liat jadi main masuk aja, ya udah aku ke sebelah dulu." Ucap Dean lalu pergi.


"Dasar, ada-ada saja kelakuanmu, kamu udah selesai belum?"


"Udah,"


"Kalau gitu ayo, aku udah laper banget."


"Kenapa kamu gak makan duluan, malah nyusul kesini."


"Gak enak makan sendiri."


"Kamu udah pesan?"


"Udah dong, aku juga udah pesenin buat kamu sama Dean."


"Punyaku udah dipesenin?" Tanya Dean yang baru kembali dari toilet.


"Udah," Jawab Clair.


"Sebentar, ada telpon." Claira menjawab telpon, "Maaf guys, kayaknya aku gak bisa makan bareng kalian deh."


"Kenapa?"


"Aku lupa hari ini aku ada janji."


"Kencan buta lagi?"


"Bukan, orangtuaku udah berhenti menyuruhku untuk kencan buta."


"Benarkah?"


"Heemh,"


"Kok bisa?"


"Aku bilang sama mereka, kalau aku udah punya calon."


"Kamu bohong sama orangtua kamu?"


"Enggak, aku gak bohong, aku memang udah punya gebetan." Kata Claira sambil tersenyum malu sendiri.


"Yang benar?


"Iya, kapan sih aku pernah bohong, udah ah, aku pergi dulu ya selamat makan, bye."


"Dasar anak itu."


"Kamu belum tau siapa gebetan yang dia maksud?"


Anindira menggelengkan kepala.


"Dia naksir sama Jo."


"Kamu serius?"


"Iya,"


"Kok bisa?!"


"Entahlah,"


"Aku terkejut loh Clair naksir sama Dokter Jo, apa dia sendiri yang bilang sama kamu?"


"Sebenarnya dia gak bilang siapa orangnya, tapi melihat gerak-gerik dia ketika bertemu Jo kayaknya iya."

__ADS_1


"Hm,"


__ADS_2