
Paris, 08.00,
"Ma, Rendra berangkat kuliah dulu ya,"
"Iya sayang, kamu sudah sarapan?"
"Sudah barusan ma," Sambil mencium tangan mamanya lalu pergi.
"Hati-hati di jalan ya Nak,"
"Iya,"
"Aku juga harus segera berangkat ke kantor, Clair pasti heboh melihat aku ada di sana, aku sengaja tidak memberitahu dia kalau aku sudah pulang, aku akan memberi kejutan padanya." Katanya sambil tersenyum senang.
Sesampainya di kantor, benar saja Claira sangat senang melihat Anindira kembali.
"Dira," Teriaknya, "Ya ampun, kenapa kamu tidak memberitahuku kalau hari ini kamu kembali." Sambil memeluknya.
"Aku sengaja, karna ingin memberimu kejutan." Ucapnya sambil tersenyum.
"Aku senang banget, bagaimana kabarmu, dan Rendra?"
"Aku dan rendra baik-baik saja."
"Aku ikut berduka atas meninggalnya mantan suamimu, aku harap kamu dan Rendra dapat melanjutkan hidup dengan baik, dan tidak berlarut-larut dalam kesedihan."
"Aku dan Rendra sudah belajar untuk mengikhlaskannya, waktu itu Rendra yang paling bersedih, tapi sekarang dia sudah bisa menerima kenyataan kalau papanya sudah meninggalkan dia untuk selamanya."
Claira memeluk Anindira untuk menghiburnya.
"Gapapa, aku juga tidak mau terus-terusan bersedih, ayo kita kembali bekerja."
"Oke, bu bos,"
"Kamu ini, oh ya, sudah bertemu dengan Dean?"
"Belum, dia belum datang."
"Oh, dia pasti masih di perjalanan."
"Selamat pagi semuanya," Sapa Dean yang baru saja datang.
"Selamat pagi," Anindira dan Clair membalas sapaan Dean.
"Hai Clair, apakabar?"
"Hai, aku baik,"
"Baguslah,"
"Gimana dengan kamu?"
"Baik,"
"Oke," Ucap Clair singkat.
"Aku masuk duluan ya," Kata Anindira, dia sengaja meninggalkan mereka untuk memberi ruang supaya mereka punya kesempatan untuk berduaan.
"Dira, jangan pergi," Claira merasa canggung dan malu berhadapan dengan Dean sendirian, Anindira tidak menghiraukannya dia malah tersenyum jahil.
"Clair, bisa kita bicara setelah pulang kerja nanti?"
"Oh, boleh,"
"Oke, nanti kita pulang bareng ya."
"Hm," Claira mengangguk, wajahnya memerah seperti tomat.
"Aku kira aku sudah melupakan perasaanku padanya, tapi ternyata aku masih saja mencintainya." Gumamnya.
__ADS_1
"Dira, bagaimana keadaanmu hari ini?"
"Aku baik Dean, kamu gak bosan apa menanyakan hal yang sama terus setiap hari."
"Bagaimana lagi, itu sudah menjadi kebiasaanku, jika aku tidak menanyakan keadaanmu sehari saja rasanya ada yang kurang."
"Sekarang rasa sedihku sudah berkurang, jadi kamu tidak perlu menanyakan keadaanku setiap hari."
Dean tersenyum, "Apakah nanti malam aku boleh mengajakmu pergi?"
"Kemana?"
"Makan malam di luar,"
"Kita bisa makan malam di rumahku kan?"
"Ada yang ingin aku tunjukan padamu."
"Apa?"
"Jika kamu setuju aku akan beritahu nanti," Katanya sambil tersenyum.
"Dasar aneh,"
"Jadi, apakah kamu mau pergi denganku?"
"Emm.. baiklah,"
"Aku akan menjemputmu jam 19.00 malam nanti." Ucapnya sambil pergi dari ruangan.
Anindira tersenyum heran.
Jam istirahat,
"Dira maaf, hari ini aku tidak bisa makan siang bareng kamu."
"Kenapa?"
Anindira tersenyum, "Pergilah,"
"Kamu gapapa kan makan siang sendiri?"
"Gapapa,"
"Beneran?"
"Iya, kenapa sih? cuma makan siang aja kok."
"Oke, kalau begitu aku pergi dulu ya,"
"Hm," Ucapnya sambil mengacungkan jempol, "Baguslah kalau hubungan Clair dan Dean semakin dekat, aku ikut senang." Gumamnya dalam hati.
"Oh ya satu lagi,"
"Apa?"
"Aku boleh gak hari ini pulang cepat? soalnya aku harus menjemput adikku ke bandara."
"Untuk kamu boleh Clair,"
"Aah, terimakasih banyak, kamu memang yang terbaik"
"Iya iya, aku tau, aku memang yang terbaik, sekarang pergilah temui Deanmu itu."
"Oke, thank you very much honey, bye."
"Setelah pulang kerja aku harus langsung ke bandara untuk menjemput adikku, jadi aku terpaksa mengajak Dean bertemu di jam istirahat begini." Ucapnya menggerutu sambil berjalan.
Clair menemui Dean di kafe sebelah, dekat perusahaan butik milik Anindira.
__ADS_1
"Hai Dean,"
"Hai,"
"Maaf ya, jadinya kita harus bertemu di jam makan siang."
"Gapapa, gak masalah, sekalian makan siang, aku udah pesenin makanan buat kamu."
"Ah, makasih, kamu mau bicara apa?"
"Ini tentang aku, kamu dan Dira."
"Kenapa dengan kita bertiga?"
"Clair, sebelumnya aku minta maaf, seperti yang pernah aku katakan sama kamu aku tidak bisa menganggapmu lebih dari teman, aku tau ini menyakitkan untukmu, tapi aku tidak mau memberi harapan palsu padamu, tolong lupakan perasaanmu padaku aku tidak mau membuatmu sakit hati."
"Apa yang kamu katakan Dean? aku memang sangat menyukaimu, tapi aku tidak akan menuntut kamu untuk menyukaiku juga, mungkin tidak akan semudah itu melupakan perasaanku padamu, tapi kamu jangan merasa terbebani dengan itu, aku mengerti cinta itu tidak selalu harus memiliki, jika aku memaksakan cintamu aku ataupun kamu tidak akan bahagia."
"Terimakasih, kamu adalah wanita yang sangat baik, semoga kamu bertemu dengan laki-laki yang lebih baik dariku, yang mencintaimu sepenuh hati, aku akan selalu mendo'akan kebahagiaanmu Clair."
"Terimakasih Dean, tapi kita masih berteman bukan?"
"Iya, tentu saja."
"Oh ya, kamu bilang ini bukan hanya tentang aku dan kamu, tapi tentang Dira juga, kenapa dengannya?"
"Emm, aku.."
"Katakan saja Dean,"
"Apa kamu tidak akan marah mendengarnya?"
"Kenapa aku harus marah, memang ada apa?"
"Clair, mungkin ini sensitif untuk kamu karna ini menyangkut aku, dan perasaanku terhadap Dira."
Claira terdiam sejenak, "Apa kamu akan mengatakan perasaanmu padanya?"
"Iya,"
Claira menarik nafas, "Itu bagus, mungkin aku akan marah jika itu orang lain tapi kalau itu Dira, aku tidak akan bisa marah." Katanya sambil tersenyum kecil.
"Kamu serius?"
"Iya, kalian itu teman terbaikku dan kamu sudah mencintainya selama itu, jika sekarang kamu ingin menyatakan perasaanmu, itu adalah kemajuan besar aku ikut senang, apalagi kalau hubungan kalian berhasil sampai ke pelaminan, aku akan sangat bersyukur."
"Sekali lagi terimakasih, malam ini aku akan bicara dengan Dira." Katanya sambil menarik nafas.
"Itu bagus, semoga berhasil Dean."
"Iya," Ucapnya ragu-ragu.
"Kenapa kamu terlihat cemas?"
"Aku tidak tau, dia akan menjawab apa, sebelumnya aku sudah di tolak duluan sebelum aku menyatakan perasaanku."
"Ya ampun, ada apa denganmu? barusan kamu sangat yakin akan mengatakannya, kenapa kamu jadi kaku begitu."
"Aku.."
"Apa kamu takut Dira akan menolakmu lagi? kamu sudah pernah di tolak olehnya, seharusnya itu bukan hal yang baru lagi buat kamu, yang terpenting itu kamu nyatakan dulu perasaanmu dengan tulus padanya, di terima atau enggaknya itu masalah nanti."
Dean menarik nafas berkali-kali, "Iya, aku tau."
"Ayolah Dean jangan gugup, semangat!"
"Terimakasih banyak Clair,"
"Hm, semoga berhasil."
__ADS_1
"Setelah jam makan siang selesai, akan ada meeting karyawan."
"Oh iya ya, aku hampir melupakan itu, ayo habiskan makanannya, kita harus segera kembali."