Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 94


__ADS_3

Anindira duduk di meja kerjanya lalu menghela nafas.


Tok, tok, tok,


"Masuk,"


"Hai Dira,"


"Hai Clair,"


"Ada apa? sepertinya hari ini kamu tidak terlihat baik-baik saja."


"Aku baik-baik saja Clair."


"Benarkah?"


"Iya, tentu saja." Sambil tersenyum pahit.


"Baiklah kalau memang gak ada apa-apa, ini kopi spesial titipan dari kekasihmu tercinta." Goda Claira.


"Clair..."


"Kenapa? harusnya kamu senang kan?"


"Iya-iya aku senang kok."


"Ah, kamu malu mengakuinya di hadapanku ya, ayolah, aku ini sahabatmu tidak perlu malu."


"Clair, cukup jangan menggodaku lagi, aku sedang bekerja, aku jadi gak bisa fokus." Katanya sambil memeriksa catatan laporan pemasaran di laptopnya.


"Oke-oke, aku gak bakalan ganggu kamu, tapi kalau ada apa-apa cerita sama aku ya."


Anindira menghentikan pekerjaannya, dia teringat dengan kejadian tadi pagi saat bertemu dengan ibunya Claira.


"Iya, aku tau." Katanya sambil melanjutkan pekerjaannya.


"Aku tau kamu sedang ada masalah Dira, entah itu masalah apa, tapi aku berharap kamu bisa cerita sama aku." Ucap Claira dalam hati.


"Aku ingin melihat laporan pendapatan bulan ini, apa boleh?"


"Tentu, kamu bintangnya di perusahaanku ini, jadi kamu juga punya hak."


Waktu telah berlalu, Anindira pulang dari kantor.


"Hai,"


"Dean, hai,"


"Sepertinya hari ini moodmu sedang tidak baik."


"...."


"Ayo masuk,"


Dean menyuruh Anindira masuk ke dalam mobil,


"Sekarang katakan, apa yang terjadi, siapa yang membuatmu tidak senang?"


"Dean, aku bertemu Ibunya Clair, beliau mengira kamu bersama Clair, dan aku adalah orang ketiga diantara kalian."


"Kenapa ibunya Clair berpikir seperti itu?"


"Entahlah, mungkin Clair pernah cerita kalau dia menyukaimu."


"Ya, mungkin saja."


"Aku harus bagaimana? ibunya Clair yang biasanya selalu ramah padaku sekarang membenciku, aku sudah menganggap beliau seperti ibu kandungku sendiri, bagaimana aku menghadapinya nanti." Ucapnya panik


"Tenanglah Dira, kamu tidak salah, ibunya Clair hanya salah paham, jadi kamu tidak usah panik, dengarkan aku, Apa kamu sudah memberitahu Clair tentang ini?"


Anindira menggelengkan kepala.


"Baiklah, nanti kita beritahu Clair dulu, lalu kita selesaikan kesalahpahaman ini, kita temui Ibunya Clair, dan katakan yang sebenarnya pada beliau."


Anindira mengangguk.


"Ayo kita pulang,"


"Tunggu, kalau aku pulang bersamamu bagaimana dengan motorku?"

__ADS_1


"Motor?"


"Iya, motor."


"Kamu kesini naik motor?"


"Iya,"


"Pantas aku tidak melihat mobilmu di parkiran."


"Kalau begitu aku turun dulu."


"Tunggu, cuaca hari ini sangat panas."


"Iya, aku tau, terus kenapa kalau cuacanya panas?"


"Aku akan mengantarmu pulang, supaya kamu tidak kepanasan."


"Lalu motorku?"


"Aku sudah menyuruh Bram untuk membawanya."


"Tapi kasihan, nanti Kak Bram kepanasan juga."


"Gapapa, masa laki-laki takut kepanasan."


Anindira tersenyum.


"Gitu dong, senyum, dari tadi kek."


Di tengah perjalanan...


"Aku haus,"


"Mau mampir ke kafe dulu?"


"Gak usah, gak perlu ke kafe, cuma minum doang, ini punya kamu kan?"


"Iya."


Anindira mengambil botol minum bekas Dean, dan meminumnya


Dean tersenyum,


"Air minum itu bekasku loh."


"Iya aku tau, ada bekasnya kok... maksudku air di botol ini cuma setengah, jadi aku pikir setengahnya lagi pasti sudah kamu minum."


Anindira salah tingkah, lalu mengembalikan botol minum itu pada Dean.


Dean ngeblush, dia tersenyum, dan pipinya terlihat memerah.


"Jangan berpikir yang macam-macam."


"Tidak, aku tidak berpikir yang macam-macam.. cuma satu macam saja."


"Dean,"


"Aku bercanda, sayang, bagaimana kabar anak kita? aku sudah cukup lama tidak bertemu atau bertegur sapa di telpon dengannya, di cat pun jarang."


"Sayang? Anak kita?" Anindira ngeblush.


"Iya sayang, anak kita Rajendra, masa kamu lupa sama anak sendiri sih."


"Dean kamu jangan bercanda terus dong."


"Loh, memang benar kan nantinya dia bakal jadi anakku juga."


Anindira menatap Dean dengan haru,


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?"


"Aku terhura dengan perkataanmu."


"Ter ha ru, bukan terhura."


"Hahaha, anakku memang pantas mendapatkan banyak perhatian, karna dia satu-satunya kebanggaanku." Katanya sambil tersenyum bangga.


"Jika mengenai anakmu, kamu pasti menjadi sangat bersemangat, aku jadi merasa sedikit cemburu."

__ADS_1


"Serius kamu cemburu sama Rendra?"


"Ya, meskipun dia anak kita aku pasti cemburu lah."


"Belum jadi anak kita loh Dean."


"Tapi aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri, jadi, dia anakku, anak kamu, anak kita."


"Oke, oke aku mengerti."


"Good Girls,"


Beberapa saat kemudian,


"Kita sudah sampai," Kata Dean.


Anindira turun dari mobil,


"Kamu serius turun dari mobilku begitu saja."


"Memangnya kenapa?"


"Kamu gak nawarin aku mampir dulu."


"Oh, kamu mau mampir? kalau kamu mau mampir dan bertemu dengan anak ki..ta boleh kok." Kata Anindira sambil tersenyum.


Dean pun tersenyum, dia menjadi salah tingkah.


"Ayo masuk,"


Dean mengikuti Anindira dari belakang.


"Rendra belum pulang ya?"


"Palingan juga sebentar lagi dia pulang."


"Biasanya kamu selalu merasa cemas kalau Rendra pulang telat."


"Iya sih, tapi sekarang aku sedang belajar untuk tidak terlalu overprotektif sama dia, aku tidak mau membuatnya tidak nyaman dengan rasa cemasku yang berlebihan, dia itu anak laki-laki seharusnya dia bisa jaga diri kan?"


"Tentu saja, dia itu kuat, tangguh dan punya prinsip, di jaman sekarang anak laki-laki seperti Rendra itu langka."


"Bagaimana kalau dia menyukai seorang gadis atau punya pacar?"


"Ya, itu wajar, anak-anak seusianya pun pasti merasakannya."


"Kenapa aku hawatir ya, bagaimana kalau dia pergi ke rumah teman cewek nya lalu mereka berdua hilap."


"Hus, jangan bicara sembarangan, kamu harus percaya sama anak kamu, apapun yang terjadi padanya dia selalu cerita sama kamu kan, setiap mau pergi dia juga selalu minta izin dan memberitahumu keberadaannya."


"Iya ya, astoge kenapa aku berpikir seperti itu."


"Apa astoge? kamu tuh kebiasaan gunakan kalimat bahasa indonesia yang baik dan benar."


"Iya, ya, Pak Guru."


"Apa Rendra selalu pulang malam setiap hari?"


"Gak juga sih, tapi emang seringnya pulang malam, karna ada kelas tambahan."


"Dia sibuk sekali rupanya."


"Iya, dia hampir tidak bisa meluangkan waktunya untuk bersantai."


"Apa saja yang dia lakukan di kampus, sampai-sampai dia tidak punya waktu untuk dirinya sendiri?"


"Ya sudah pasti belajar Dean, apalagi, dia itu anak yang serba ingin tau, jadi dia sering belajar hal-hal baru, setiap kegiatan di kampus dia ikuti."


"Anakmu itu memang luar biasa, aku harus mengakuinya dia mirip seperti ayahnya."


"Iya, dia memang mirip ayahnya."


"Tapi dia juga mirip denganmu, dia mempunyai hati yang sangat baik."


"Tentu saja, dia adalah anakku."


"Kalian berdua sangat hebat."


"Jangan terus-terusan memujiku, aku tidak terbiasa mendengar kata pujian."

__ADS_1


"Mulai sekarang kamu harus terbiasa, karna nanti aku akan bersamamu setiap hari."


"Hahaha,"


__ADS_2