Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 59


__ADS_3

Anindira tidak menyangka kalau ternyata selama ini Leon di jebak, dia juga tidak tau Leon tidak jadi menikah dengan Aira.


Selama 15 tahun Anindira merintis kariernya di paris dengan bantuan Dean, sampai dia bisa sukses dan menyekolahkan Rajendra di sekolah yang elit.


Selama ini dia selalu berpikir mungkin Leon sudah hidup bahagia dengan Aira dan anaknya, sehingga dia tidak punya waktu untuk memikirkan mereka.


Anindira tidak pernah sekalipun pulang ke negara asalnya jika dia ingin bertemu orang tuanya, orang tuanyalah yang selalu datang menemui dia.


"Maaf bang, aku tidak tau itu."


"Tidak apa-apa."


"Jadi, apa kamu bahagia dengan Dean?"


"Emm, aku bahagia kok bang."


"Bahagia apanya? kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya saja pada Leon?" kata Dean.


"Mengatakan yang sebenarnya?!" ucap Leon heran.


"Iya, bahwa selama ini aku dan dia tidak pernah menjalin hubungan, bahkan dia berkali-kali menolak cintaku."


"Dean!" ucap Anindira merasa bersalah pada Dean.


"Jadi, apa sampai saat ini kalian belum menikah?"


"Siapa yang bilang kami sudah menikah?!"


Leon menatap Anindira dengan tajam, Anindira hanya bisa diam saja.


"Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang?" kata Leon pada Dean.


"Bersyukurlah karna aku sudah mengatakan kebenarannya, kalau aku menginginkan Dira hanya untukku seorang aku bisa menutup mulutku seumur hidup dan membiarkan kamu untuk tidak mengetahuinya."


"Kamu masih sama saja seperti dulu! ucapanmu itu membuat setiap orang yang mendengarnya merasa jengkel."


Dean nyengir mendengar ucapan Leon.


Rajendra memperhatikan dan mendengarkan pembicaraan mereka bertiga dari kejauhan.


"Setelah ini abang mau kemana?" kata Anindira mengalihkan pembicaraan.


"Aku mau ketemu klien, oh ya! tolong berikan ini pada Rajendra, dan katakan padanya kalau aku sangat menyayanginya." Ucap Leon memberikan sebuah kotak yang di bungkus oleh kertas kado.


"Baiklah, terimakasih! aku akan mencoba untuk membujuk Rendra supaya dia mau bicara denganmu."


"Jangan memaksanya kalau dia tetap tidak mau bicara."


Anindira mengangguk.


Rajendra pun pergi dari sana dia masuk ke dalam mobil duluan.


"Aku harus segera pergi menemui klienku, aku akan menemui kalian lagi setelah pekerjaanku selesai."


"Oke, jangan pergi terlalu lama atau aku akan menculik Dira dan putramu." Kata Dean


"Kamu bisanya cuma mengoceh saja." Ucap Leon lalu pergi.

__ADS_1


Dean tertawa cekikikan, "Ayo pulang!" ajak Dean.


"Iya," jawab Dira.


"Loh, Rendra mana?"


"Mungkin dia sudah masuk mobil duluan."


Mereka pun masuk ke dalam mobil.


"Mama, dan paman dari mana saja? aku menunggu kalian dari tadi."


"Ada seorang ayah yang merasa sedih karna di abaikan oleh putranya, makanya tadi aku dan mamamu membantu untuk menghiburnya dulu."


"Paman menyindirku ya!" kata Rajendra sambil membuang muka.


"Siapa yang menyindirmu memangnya kamu merasa?" goda Dean.


"Cepatlah paman jangan banyak bicara! aku sudah lapar kita mampir dulu ke resto sebelum pulang ke rumah."


"Oke, oke sabar jagoan."


Mereka pun mampir ke resto untuk makan siang dulu.


"Selamat siang, silahkan duduk!" kata pelayan resto di sana.


"Siang, terimakasih." Kata Dean, "Kamu mau pesen apa?" tanya Dean pada Dira.


"Apa aja deh." Jawab Dira.


"Oke kita pesan Salad Nicoise aja, Rendra kamu mau pesan apa?"


"Oke, oke, minumnya jus aja ya."


"Oke," kata Rendra."


"Mba, pesan Salad Nicoise  tiga porsi sama jusnya tiga."


"Baik tuan, mohon ditunggu." Kata pelayan Resto.


Setelah pesanannya datang mereka pun makan bersama.


"Aku selalu merasa senang setiap kali kita bertiga makan bersama seperti ini, kenapa kalian tidak menikah saja! aku sungguh tidak mau kehilangan momen seperti ini."


Anindira dan Dean menghentikan makannya dan saling menatap.


"Ekhem, Rendra kamu sangat menyukai salad bukan? punyaku masih banyak makanlah!" kata Dean mengalihkan pembicaraan dan memberikan salad miliknya pada Rajendra.


"Aku sudah kenyang paman."


"Kenyang apanya? tadi kamu bilang kamu sangat lapar bukan?"


"Ya tapi gak gini juga."


Anindira merasa tidak enak hati pada Rajendra dan Dean.


Setelah mereka selesai makan, mereka pun pulang.

__ADS_1


"Paman gak mampir dulu?" kata Rajendra.


"Enggak, aku ada jadwal kencan hari ini."


"Kencan?!"


"Iya kenapa?"


"Paman kok gak bilang sama aku dan mama kalau lagi deket sama wanita lain?"


"Kenapa kamu merasa kaget seperti itu?"


"Bukannya paman selama ini hanya dekat dengan mama?"


"Paman memang dekat dengan mamamu dari dulu dan kamu sangat tau itu kan? tapi bukan berarti paman juga gak bisa dekat dengan wanita lain."


Rajendra merasa kecewa mendengar ucapan Dean.


"Iya aku tau, itu hak paman mau dekat dengan siapapun." Kata Rajendra lalu masuk ke dalam rumah.


"Kamu sengaja ya mengatakan itu pada Rendra."


"Dia harus belajar untuk tidak selalu bergantung padaku, supaya jika nanti dia jauh dariku dia akan terbiasa."


"Maafkan aku Dean, selama ini aku tidak bermaksud untuk menyakiti hati kamu tapi aku takut jika kamu bersamaku kamu malah akan lebih terluka."


"Iya aku mengerti Dira, aku rasa sekarang kamu harus benar-benar memikirkan hubunganmu dengan Leon, kalian sudah lama terpisah banyak hal yang sudah kalian alami selama ini, aku harap kamu mau memikirkannya lagi."


"Kalau begitu aku pergi dulu ya!" kata Dean.


Anindira hanya menjawabnya dengan anggukan.


Setelah Dean pergi Anindira masuk ke dalam rumah dan mampir ke kamarnya Rajendra.


"Apa paman akan benar-benar pergi meninggalkan kami? aku sudah terbiasa bersamanya, jika mama kembali dengan papa apa aku akan bisa menerimanya lagi?" kata Rajendra dalam hati.


Anindira menghampirinya dan memegang pundak Rajendra, "Rendra?"


"Ma,"


"Apa yang sedang kamu pikirkan?"


Rajendra terdiam dan menunduk.


"Maafin mama Rendra, mama gak bisa bersama dengan Paman Dean, mama gak mau membuat dia lebih terluka lagi."


"Lalu apa mama mau menerima papa kembali?"


"Mama tidak tau, mama sama sekali belum memikirkan itu. Ah ini hadiah dari papamu dia bilang dia sangat menyayangimu, kamu jangan terlalu banyak pikiran! setelah ini pergi mandi dan beristirahatlah! mama mau ke kamar mama dulu." Kata Anindira sambil beranjak pergi.


Rajendra membuka kotak hadiah itu, ternyata di dalamnya adalah foto-foto kebersamaannya dengan Leon dulu, di dalam kotak itu juga ada mainan yang sangat di sukai Rajendra sewaktu dia masih kecil yang di belikan oleh Leon untuknya.


"Ternyata papa masih ingat dengan semua ini." Gumam Rajendra.


Rajendra menutup kotak hadiah itu dan menyimpannya di atas meja samping tempat tidurnya, lalu dia membuka laci dan mengambil foto yang sudah lama dia lupakan.


Foto itu adalah foto Rajendra sewaktu kecil bersama Leon dan Anindira yang sengaja di ambil untuk kenang-kenangan sebelum Anindira dan Rajendra pergi ke paris.

__ADS_1


Rajendra menatap foto itu dan menaruhnya di samping kotak hadiah pemberian Leon.


__ADS_2