Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 61


__ADS_3

Leon terlihat bingung mendengar ucapan Dean.


"Hei, apa yang kamu bingungkan? sampai kapan kalian akan seperti ini? cepatlah ambil keputusan sebelum kalian tutup usia."


"Kamu bisa menjaga mulutmu itu tidak? aku belum setua itu."


"Belum tua bagaimana? umurmu dan umurku saja sangat jauh perbedaannya."


"Kalau kau sadar aku lebih tua darimu kenapa kamu tidak sopan padaku!"


"Baiklah, kau mau aku panggil apa? apa aku harus memanggilmu pak tua, tuan, kakak, abang atau mas?"


"Kalau kau bukan temannya Dira aku sudah membuangmu ke dalam jurang."


"Dan beruntungnya aku adalah sahabat dekatnya, jadi aku tau kamu tidak akan berani menyentuhku."


"Hhahh, sudahlah aku tidak ingin buang-buang waktu dengan orang yang banyak bicara sepertimu." Kata Leon sambil pergi.


"Kau mau kemana?"


"Pulang!"


"Lalu minumannya? siapa yang membayar?"


"Bayar saja sendiri!"


"Oke, tidak masalah! tapi kamu harus memikirkan kembali tentang Anindira dan Rajendra." Teriak Dean


Leon tidak menjawab dia terus saja berjalan keluar dari kafe.


Leon masuk ke dalam mobil dan bergumam, "Apa jika aku meminta dia kembali padaku dia akan mau? sejujurnya aku takut dia akan menolakku seperti terakhir kali."


"Tapi jika aku tidak mencobanya itu sama saja aku seperti seorang pengecut, apa aku mampir dulu sebentar ke rumahnya untuk bertemu dan bicara?"


"Ah, tapi aku tidak tau mereka tinggal dimana."


"Ada apa Tuan Muda? Tuan Muda sedang menggumamkan apa?" tanya Bram.


"Ah itu, ekhem aku ingin bertemu Rajendra tapi aku gak tau rumahnya di mana."


"Oh," kata Bram sambil tersenyum, "Mm, maaf Tuan Muda kenapa Tuan Muda tidak coba tanyakan saja pada Dean?"


"Iya sih kamu benar, tapi aku malas bicara dengannya. Tapi tidak ada salahnya juga, cuma menanyakan alamat rumah saja." Kata Leon sambil menekan nomor telponnya Dean.


Bram tersenyum sambil menggelengkan kepala.


"Ada apa Pak Presdir, bukannya barusan anda bilang tidak mau bicara denganku? kenapa anda berubah pikiran?"


"Aku juga terpaksa, kalau bukan karna alamat rumah putraku."


"Oh, jadi apakah kamu sudah memikirkannya, dan mau langsung menemui mereka malam ini juga?"


"Tolong jangan terlalu banyak bicara, katakan saja alamat rumahnya sekarang!"


"Oke, oke, catat baik-baik ya!"


Dean memberikan alamat rumah Dira pada Leon.


"Oke, terimakasih!" Leon langsung menutup telponnya.


"Dia itu pria yang emosian, tapi untungnya Rajendra tidak sepertinya setidaknya dia lebih ramah dari ayahnya." Kata Dean sambil tersenyum.


"Bram mampir ke toko bunga dulu ya!" ucap Leon terlihat gugup.


"Baik Tuan Muda." Kata Bram sambil tersenyum.

__ADS_1


Leon pergi ke toko bunga untuk membeli sebuah buket bunga mawar, dan cake buah kesukaan Dira dan Rajendra.


Setelah itu dia langsung pergi ke rumah mereka.


Ketika Leon mau mengetuk pintu, dia kelihatan ragu dan gugup.


"Tuan, apa tuan butuh bantuan untuk mengetuk pintunya."


"Kamu meledek saya?"


"Tidak Tuan Muda! saya lihat tuan kesulitan untuk mengetuk pintunya jadi saya.."


"Ini juga mau aku ketuk." Ketika Leon mau mengetuk pintu ternyata Dira lebih dulu membukakan pintu dan ketukan tangannya mengenai dahi Dira.


"Aw," Dira menjerit pelan.


"Emm, maaf! apa itu sakit?" kata Leon memegang kepala Dira dengan kedua tangannya sambil memperhatikan dahi Dira takutnya ada yang terluka.


"Bang Leon?!"


"Maaf, maaf, apa kamu terluka?"


"Tidak, hanya sakit sedikit saja! tapi ada apa Bang Leon datang ke sini? dari mana Bang Leon tau alamat rumahku."


"Itu, aku tau dari Dean, dan aku datang kemari untuk bertemu denganmu juga Rajendra."


"Oh, kalau begitu silahkan masuk bang! Kak Bram ayo masuk!"


"Tidak Nona saya duduk di sini saja."


Anindira pun masuk ke dalam rumah dengan di ikuti Leon.


"Dira, ini untukmu!" Leon memberikan buket bunga mawar dan cake buah yang tadi dia beli.


"Terimakasih! silahkan duduk dulu bang! aku akan mengambilkan minum."


"Tentang apa ya bang?"


"Tentang hubungan kita."


"Hu, hubungan kita?!"


"Iya, tapi sebelum itu aku ingin Rendra ada di sini juga supaya dia tau maksud aku datang menemui kalian."


Anindira terlihat kebingungan tapi dia tetap menuruti perkataan Leon mengajak Rajendra untuk mendengarkan apa yang akan di bicarakan oleh Leon.


Ketika itu Rajendra keluar dari kamarnya, "Ma, ada apa?"


"Rendra, di bawah ada papamu dia ingin bicara dengan kita, bisakah kamu menemuinya juga?"


"Baiklah, ayo kita temui dia!"


Anindira dan Rajendra menemui Leon di ruang tengah.


"Rendra, apakabar nak?" kata Leon sambil memegang pundak Rajendra.


"Baik, ada keperluan apa papa datang kemari?"


Mereka bertiga pun duduk, Rajendra melihat sebuah buket bunga dan cake buah di meja yang ada di hadapannya.


"Apa papa yang membawanya?"


"Iya," kata Leon.


"Apa maksud papa dengan membawa bunga dan kue itu?" tanya Rendra.

__ADS_1


"Rendra, papa membeli kue ini karna dulu kalian sangat menyukainya."


"Papa masih ingat dengan apa yang aku dan mama sukai?"


"Tentu saja papa ingat, papa tidak pernah melupakannya."


"Baiklah, apa yang ingin papa bicarakan pada aku dan mama?"


"Papa sudah memikirkan ini sejak lama, tapi papa tidak mempunyai keberanian untuk mengatakannya, papa ingin kamu dan mamamu kembali pada papa! bisakah kalian menerimaku untuk melengkapi keluarga kita yang sudah lama terpisah?"


Anindira dan Rajendra terlihat bingung untuk memberi jawaban pada Leon.


"Maaf bang, kami butuh waktu untuk memikirkannya lagi bisakah abang menunggu?"


"Baiklah, kalian tidak perlu terburu-buru untuk menjawab."


"Maaf ya bang!"


"Tidak apa-apa, aku juga tidak terburu-buru kok."


"Oh ya, abang mau minum apa? biar aku ambilkan."


"Tidak usah! aku juga tidak akan lama kok, Kalau begitu aku pamit pulang dulu."


Leon berdiri dan membalikan badannya, ketika Leon baru saja mau melangkahkan kakinya Anindira menghentikannya.


"Tunggu bang!"


Leon menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Apa abang sudah makan?"


"Sudah, aku sudah makan bersama Dean tadi di kafe."


"Dean?!"


"Iya, kebetulan tadi kami bertemu di jalan jadi kami mengobrol dulu sambil makan."


"Rendra apa kamu tidak ingin mengatakan sesuatu sebelum papamu pergi?"


Mendengar perkataan Anindira Rajendra berdiri dan berkata, "Hati-hati di jalan!" katanya lalu pergi ke kamarnya.


"Maafkan Rajendra ya bang! dia tidak bermaksud untuk bersikap tidak sopan padamu."


"Gapapa, aku pamit dulu ya."


"Iya, biar aku antar sampai depan!"


Anindira pun mengantar Leon sampai depan rumah.


"Tuan Muda, Nona."


"Bram ayo pulang!"


"Baik Tuan Muda."


"Sampai jumpa Dira."


"Iya bang, hati-hati di jalan."


Leon pun pulang ke rumahnya.


Setelah itu, Anindira menemui Rajendra di kamarnya.


"Rendra, apa kamu tidak mau memakan kue ini?" kata Anindira sambil membawa kue yang di belikan oleh Leon.

__ADS_1


Rajendra hanya terdiam.


"Lihatlah Rendra, bukankah kamu sangat menyukai kue ini? biasanya kamu paling tidak bisa menolaknya, dan kamu akan langsung memakannya dengan lahap."


__ADS_2