Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 9


__ADS_3

Anindira yang baru kembali dari dapur mengambil air minum, merasa kebingungan melihat semua orang berkumpul di ruang tengah.


"Apa-apaan ini?! jadi anak itu bukan cucuku?"


ucap mamanya leon sambil menatap anindira dengan tajam.


"Maksud mama apa?!"


"Katakan dengan jujur, anak siapa yang ada dalam kandunganmu itu?"


"Aku tidak pernah berhubungan dengan laki-laki lain selain suamiku."


"Bohong, bajingan itu yang mengatakannya. anak yang ada dalam kandunganmu itu bukan darah dagingku."


"Aku tidak mengerti apa maksudmu, siapa yang kamu bilang bajingan itu?"


Karna tidak bisa membendung amarahnya, leon melayangkan tangannya pada anindira, tapi aluna menghentikannya.


"Apa yang kamu lakukan mas? sadarlah, dia sedang mengandung anakmu."


"Bukan anakku, tapi anak dari bajingan itu." Bentak leon lalu pergi.


"Hhhaahh.. mama tidak mengerti kenapa kamu membawa perempuan seperti dia ke rumah ini."


Ucap mamanya leon pada aluna.


Kemudian mama dan papanya aluna pergi.


Nenek dan kakeknya tidak berkomentar mereka hanya diam saja.


Aluna menyuruh anindira masuk ke kamarnya, "anindira, pergilah ke kamarmu dan beristirahatlah."


Anindira pergi ke kamarnya.


Aluna mencoba untuk bicara baik-baik pada leon, "Mas, sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kamu bilang anindira mengandung anak dari laki-laki lain?"


"Aku melihatnya sendiri, dia sedang bicara dengan bajingan itu di depan gerbang rumah kita. dan bajingan itu mengatakan kalau dia adalah kekasihnya dan wanita itu sedang mengandung anaknya."


"Tapi, dari yang aku tau anindira tidak mempunyai kekasih."


"Sudahlah by, jangan mencoba membujukku."


"Aku mengatakan yang sebenarnya, anindira hidup dengan penuh siksaan dari bibinya. Kehidupannya sangat sulit. mana sempat dia berpikir untuk berpacaran."


"Kalau begitu dia adalah wanita yang munafik, bermuka dua. kamu jangan terpengaruh olehnya."


"Kamu bicara apa sih mas? seharusnya kamu mencari tau kebenarannya terlebih dahulu sebelum kamu marah-marah gak jelas seperti ini." Ucap aluna merasa kesal dengan sikap nya leon.


Sebenarnya leon ingin langsung mengusir anindira dari rumahnya, tapi hati kecil nya tidak tega melakukan itu, dia ingin memberi kesempatan pada anindira untuk membuktikan dirinya.


Tapi karna leon sudah terlanjur percaya dengan ucapan laki-laki itu, dan anindira juga di anggap selalu mengelak perbuatannya, dia merasa jijik padanya. bahkan melihatnya pun dia tidak sudi.

__ADS_1


Setelah kejadian itu, anindira di abaikan oleh keluarganya leon.


Aluna mencoba menanyakan siapa laki-laki yang bersama dengan anindira waktu itu.


"Dira, sebenarnya siapa yang kamu temui waktu itu?"


"Aku tidak menemui siapapun."


"Waktu kamu pulang dari kantor, mas leon bilang dia bertemu seorang laki-laki yang mengaku sebagai kekasihmu."


"Apa yang dia maksud laki-laki yang waktu itu di depan gerbang rumah?"


"Entahlah, tapi mas leon bilang seperti itu."


"Aku juga tidak tau siapa laki-laki itu, tiba-tiba dia datang dan mengajakku bicara."


"Dia bicara apa?"


"Dia hanya menanyakan alamat, tapi aku tidak tau alamat yang dia maksud. Lalu aku masuk ke dalam rumah."


"Kamu yakin, dia tidak bicara apapun lagi selain itu."


"Tidak, aku juga merasa aneh padahal di depan rumah sebelah ada orang, kenapa dia menanyakan alamat padaku."


"Kenapa gitu ya?" aluna bertanya-tanya.


Anindira lebih bingung lagi, karna semua permasalahan mengarah padanya.


...


Karna sudah terlalu larut, leon merasa ngantuk dan pindah ke sofa lalu tidur disana.


Anindira kebangun karna merasa lapar, dia bermaksud pergi ke dapur untuk mengambil makanan.


Dia tidak sengaja melihat leon ketiduran di ruang kerjanya. Lalu dira masuk dan membereskan meja kerjanya.


kemudian dia menghampiri leon dan membukakan sepatu yang masih terpasang di kakinya leon.


Leon terbangun, "Apa yang kamu lakukan?" dia


mendorong nisa sampai terjatuh.


"Aku hanya bermaksud membukakan sepatumu."


"Jangan pernah kamu coba menyentuh barang-barangku. aku tidak sudi barang-barangku di sentuh oleh perempuan munafik sepertimu." Hardik leon, kemudian pergi meninggalkan anindira.


"Kenapa kamu selalu menyalahkan aku? aku menikahimu karna permintaan dari keluargamu, sekarang aku sudah mengabulkan keinginan keluargamu dan mengandung keturunan pradana, kenapa aku masih saja di salahkan?"


Leon menghentikan langkahnya.


Terjadilah pertengkaran diantara mereka.

__ADS_1


"Kamu masih tidak sadar juga dengan kesalahanmu? dan mengaku anak itu sebagai keturunan pradana? kamu masih cukup punya muka untuk mengatakan itu!"


"Hhhehh, dari awal aku memang salah telah menyetujui surat perjanjian itu, selain aku menikahi seorang yang tidak berperasaan, ternyata aku juga telah menikahi orang yang suka menuduh sembarangan tanpa bukti."


"Bukti sudah ada di depan mata."


"Hanya karna ada yang mengatakan ini bukan anakmu, kamu langsung mempercayainya tanpa mencari tau kebenarannya terlebih dahulu. Apa kamu memang tipe orang yang selalu menyalahkan orang lain?"


"Tutup mulutmu! kalau kamu memang merasa benar, buktikan kalau anak yang ada dalam kandunganmu itu adalah benar anakku."


"Hhhehhh.. Apa aku harus melakukannya? aku tidak mau menguras tenaga untuk membuktikan diriku, toh kamu tidak akan pernah mempercayaiku sama sekali." Ucap anindira sambil pergi.


"Sialan.." Ucap leon geram.


...


Keesokan paginya, leon dan keluarga sedang sarapan bersama.


Ketika anindira mau bergabung untuk sarapan, leon berhenti makan lalu pergi, karna tidak mau melihat anindira.


Orang tua leon pun mengabaikan anindira, dan ketika mereka mau beranjak dari kursi anindira berkata pada mereka, "mama dan papa tidak perlu melewatkan sarapan pagi untuk menghindariku, aku tidak akan mengganggu


sarapan pagi kalian."


Kemudian anindira kembali ke kamarnya, dia tak kuasa menahan air matanya.


Seharian dia tidak makan apapun, aluna mengantarkan makanan ke kamarnya karna hawatir dia akan sakit.


"Jangan menangis semuanya akan baik-baik saja, kamu tidak boleh banyak pikiran, tidak boleh setres, kasian bayinya kan." Sambil mrngusap air mata anindira.


"Apa mba juga menganggapku sebagai perempuan munafik yang suka menipu?"


"Mana ada, aku mempercayaimu. Kalau tidak aku tidak akan menjadikanmu sebagai adikku. aku memilihmu untuk menjadi istrinya mas leon karna aku merasa cocok denganmu, kamu perempuan yang sangat baik dira." Ucap aluna sambil memeluk anindira..


"Tapi semua orang tidak menyukaiku."


"Tidak, suatu saat mereka akan berbalik menyukaimu. Kita akan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi, kita berusaha sama-sama ya!"


Tangis anindira semakin pecah. dia menangis dengan tersedu-sedu.


"Sekarang makanlah, habis itu kamu harus tidur lebih awal, biar besok bangun pagi perasaanmu jadi lebih baik."


Anindira menurut. setelah makan, dia bersandar sebentar di ranjang lalu tertidur.


...


Pagi hari, ketika leon mau berangkat ke kantor.


leon menemukan sebuah amplop di depan pintu rumah nya.


Dia membuka amplop itu, ternyata isi amplopnya adalah foto-foto anindira dengan seorang laki-laki.

__ADS_1


Amarah leon semakin meledak-ledak, dia kembali ke rumah untuk menemui anindira, dan melemparkan semua foto-foto itu ke wajahnya.


"Bukannya kamu mengatakan, aku adalah orang yang suka menuduh tanpa bukti dan hanya bisa menyalahkan orang lain?! lalu foto-foto itu apa? sekarang kamu tidak bisa mengelak lagi."


__ADS_2