
Leon bercerita tentang pertemuannya dengan Aluna pada Anindira, Rajendra dan Bram.
"Aku dan Aluna saling mengenal dari sejak kecil, kedua orang tua kami berteman dan mereka adalah rekan kerja. Sejak pertemuan pertama aku sudah sangat menyukainya"
"Kadang kami bertemu di acara pertemuan bisnis orang tua kami, kadang bertemu di acara keluarga. dia tipe orang yang penyayang, dan ramah pada semua orang. Dia wanita yang anggun dan sopan sehingga semua orang menyukainya."
"Semakin sering kami bertemu, seiring berjalannya waktu aku semakin mengaguminya."
"Suatu hari ketika aku duduk di bangku SMA aku terkena masalah dengan kakak kelasku di sekolah."
"Aku di pukuli ramai-ramai, Aluna datang menolongku sehingga dia juga ikut di pukuli, melihat itu aku sangat marah dan menghajar mereka semua dengan brutal sampai mereka terkapar."
"Salah satu dari keluarga mereka yang anaknya sampai di larikan ke rumah sakit karna aku melaporkanku ke kantor polisi, aku hampir di masukan ke dalam penjara waktu itu, tapi Aluna membelaku dengan membawa pengacara dan menjadi saksi di sana sehingga akhirnya hukumanku di ringankan aku hanya di suruh bayar denda dan ganti rugi."
"Sejak saat itu jika ada orang yang mendekati atau mengganggu Aluna aku akan menghajarnya, aluna sering memperingatkanku dan menasihatiku, dia selalu bilang aku harus bisa mengontrol emosiku."
"Tapi aku tidak rela jika ada orang yang mengganggu wanita yang aku sukai."
"Ketika kami duduk di bangku kuliah perasaanku padanya semakin tumbuh aku menyatakan cinta padanya, dan ternyata dia juga mempunyai perasaan yang sama, dia menerima cintaku."
"Suatu hari ada beberapa teman kampus kami yang ingin berusaha melecehkan Aluna, mereka membawa Aluna ke gudang di belakang kampus untungnya aku melihatnya."
"Aku mengikuti mereka dan langsung menghajar mereka habis-habisan di detik-detik terakhir salah satu dari mereka menusukkan pisau ke perutku."
"Aluna berteriak minta tolong sampai semua murid di kampus berdatangan dan mereka pun di bawa ke kantor polisi, waktu itu aku sekarat, aku kehabisan banyak darah dan Aluna lah yang menyelamatkanku dengan mendonorkan darahnya."
"Ketika aku sadar, aku melihat Aluna berada di sampingku dia tersenyum padaku, padahal dia telah mengalami kejadian yang mungkin bisa membuatnya trauma, tapi dia tetap tegar dan selalu menemaniku sampai aku sembuh total."
"Sampai suatu hari aku menikahinya supaya aku bisa terus menjaga dan melindungi dia."
"Setiap hari di pagi hari, di saat aku terbangun dari tidurku, ketika aku berangkat kerja, saat aku pulang kerja, setiap bertemu denganku dia selalu menyambutku dengan senyuman manisnya, itulah yang membuat aku jatuh cinta padanya setiap harinya dia tidak tergantikan."
"Tapi ternyata di balik senyumnya itu dia menyembunyikan penderitaannya selama bertahun-tahun."
"Sampai aku terlambat menyadari kalau Aluna tidak bisa punya anak karna penyakit yang di deritanya."
"Makanya ketika dia tau kamu mengandung Rajendra, dia yang paling merasa bahagia karna sebenarnya dia juga sangat menginginkan seorang anak, dia merasa gagal menjadi seorang istri karna tidak bisa memberikan aku dan keluargaku keturunan."
__ADS_1
"Dia menyayangi kalian melebihi apapun, kasih sayangnya tulus untuk kalian."
Anindira dan Bram sampai meneteskan air mata mendengar kisah Leon dan Aluna.
"Lendla tau kok mama selalu cerita tentang Mama Aluna, Lendla juga ingin beltemu Mama Aluna."
"Lendla mau ketemu Mama Aluna?" tanya Anindira pada anaknya.
"Iya," jawab Rajendra sambil memainkan mainannya.
"Bukannya mama udah pernah ajak Rendra ke tempatnya Mama Aluna ya."
"Iya, lendla boleh mampil lagi kan ma ke tempatnya Mama Aluna?"
"Boleh kok, nanti kamu mampir sama papa ke tempatnya Mama Aluna ya! sebentar mama mau ambil sesuatu dulu." Anindira masuk ke dalam rumah dan kembali dengan membawa bunga yang sudah di rangkai, "Taruh bunga ini di atas makamnya Mama Aluna, Mama Aluna sangat menyukai bunga."
"Baik ma, lendla akan menaluh bunga ini di tempatnya Mama Aluna."
"Anak pintar." Kata Anindira sambil mencubit pelan pipinya Rajendra.
"Ayo kita berangkat! nanti keburu siang." Ajak Leon.
"Iya sayang, hati-hati di jalan ya! kamu jangan nakal di rumah nenek! kamu harus baik-baik sama semua orang di sana, jangan menyusahkan kakek buyut dan nenek buyut."
"Rajendra anak yang baik, dia tidak akan menyusahkan kami, nenek sama kakek nya pasti senang dia menginap di rumah." Ucap Leon.
"Kalau gitu aku titip Rendra ya bang."
"Kamu ini bicara apa, Rendra juga anakku loh kamu gak percaya sama aku?"
"Ya bukannya gitu bang, aku kan gak biasa jauh lama-lama dari Rendra."
"Kamu gak perlu cemas, aku akan menemaninya seharian."
Leon berpamitan pada Anindira, mereka pun berangkat untuk mengunjungi makam Aluna terlebih dulu.
Ketika Leon pergi, Dean datang berkunjung.
__ADS_1
"Hai dira,"
"Hai,"
"Mana Rajendra?"
"Dia baru aja pergi sama papanya.
"Aku telat dong padahal aku ke sini mau ketemu Rendra loh, aku beliin mainan yang dia mau."
"Eh, kapan Rendra bilang mau mainan baru?"
"Emh, dua hari yang lalu waktu di telpon, dia bilang dia mau mainan mobil-mobilan yang kaya di kartun-kartun favoritnya itu."
"Anak itu ada-ada saja, padahal dia gak pernah merengek mau mainan baru loh sama aku."
"Sepertinya anakmu itu gengsinya tinggi kaya papanya, dia selalu ingin terlihat tegar olehmu."
Anindira tersenyum, "Aku bersyukur punya Rendra, dia adalah kekuatanku, dia anak yang pintar dia bisa memahami apa yang terjadi di antara aku dan papanya, dia tidak pernah mengeluh meskipun sebenarnya aku tau dia selalu ingin bersama papanya." Ucap Anindira lirih.
"Apa kamu tidak berniat untuk kembali dengan Leon?"
"Hhaahh, entahlah Dean aku memang sudah memaafkannya, tapi untuk kembali dengannya dan tinggal di rumah itu lagi sepertinya itu adalah pilihan yang berat, kamu tau kan aku ini orangnya seperti apa."
"Tentu saja, aku adalah orang yang paling mengerti kamu, makanya aku gak berani macam-macam."
"Hahaha,"
Sementara itu, Leon dan Rajendra sudah sampai di pemakaman.
Rajendra berlari menghampiri makamnya Aluna.
"Rendra hati-hati, nanti kamu jatuh." Kata Leon.
Rajendra menaruh bunga yang di berikan Anindira padanya di atas makam Aluna.
"Mama Aluna, Lendla datang jenguk mama hali ini mama Lendla selalu bilang Mama Aluna sangat menyayangi Lendla, Lendla juga sayang sama Mama Aluna makanya Lendla bawakan bunga ini, ini bunga dali mamanya Lendla katanya Mama Aluna menyukai bunga."
__ADS_1
"Ma, hali ini Lendla mau menginap di lumah papa, Mama Aluna baik-baik ya di sini nanti Lendla datang lagi sama mama Lendla."