Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 22


__ADS_3

Anindira menghampiri Aluna dan memegang tangannya.


Aluna membuka matanya, "Dira, apa itu kamu?"


"Iya, ini aku Mba! aku sudah datang."


Karna Aluna merasa senang dengan kedatangan Anindira, dia memaksakan dirinya untuk bangun dari tempat tidur.


"Tidak! Mba aluna tidak usah memaksakan diri untuk bangun."


"Aku senang kamu datang Dira! maafkan aku, aku tidak bisa menjaga kamu dan anakmu seperti yang sudah aku janjikan padamu!" kata Aluna sambil memegang tangan Dira.


Anindira hanya bisa meneteskan air mata mendengar semua perkataan Aluna.


"Oh iya, katanya anak kita namanya Rajendra ya? mana dia? aku ingin melihatnya."


mamanya Leon membawa masuk Rajendra kecil ke kamarnya Aluna.


Anindira membantu Aluna untuk bersandar di ranjangnya.


"Boleh aku menggendongnya?" ucap Aluna dengan perasaan bahagia yang meluap-luap.


Mamanya leon menaruh Rajendra kecil di pangkuan Aluna, "Hai sayang, aku adalah Mama Aluna mamanya kamu juga! mulai sekarang kamu punya dua mama, Mama Dira dan Mama Aluna!" ucap aluna sambil menangis haru.


Dia mencium kening Rajendra kecil, dan memberikannya pada mamanya leon.


"Ma, mas, boleh tinggalkan kami berdua! ada yang ingin aku bicarakan dengan Dira."


"Baiklah, setelah ini kamu jangan lupa minum obatmu ya aluna!" kata mamanya leon.


"Iya ma,"


"Dira, karna sekarang surat perjanjian itu sudah di batalkan, aku tidak akan menuntut apapun darimu! kamu sudah mengembalikan semua yang kami berikan padamu."


"Jadi surat perjanjian itu sudah tidak berlaku lagi! sekarang yang aku inginkan hanya mengahabiskan sisa hidupku bersama kalian."


"Kenapa Mba bicara seperti itu?"


"Dira, hidupku sudah tidak lama lagi! bisakah kamu memenuhi permintaan terakhirku?"


"Apa yang Mba inginkan?"


"Kembalilah ke sisi Mas Leon! sebagai istrinya, bukan hanya sebagai ibu dari anaknya, kamu juga sama berhak nya di rumah ini! kamu adalah istri sah bukan istri siri atau istri kontrak, Aku mohon!"

__ADS_1


Setelah Aluna mengatakan itu dia langsung tak sadarkan diri.


"Mba, Mba Aluna sadarlah! apa yang terjadi padamu?!" Anindira sangat panik, dia terus memanggil-manggil Aluna sambil menangis.


"Ada apa? kenapa dengan Aluna?"


ketika Leon melihat Aluna tak sadarkan diri dia menghampirinya dan berteriak memanggil-manggil Aluna, "By, By, bangunlah!" Leon tak kuasa menahan air matanya.


Kemudian Leon bergegas menghubungi dokter Andri untuk memeriksa keadaan Aluna.


"Bagaimana keadaannya dok?"


"Kondisi Aluna semakin memburuk!"


"Kenapa bisa seperti ini? padahal kami sudah melakukan yang terbaik, aluna juga sudah menjalani oprasi di rumah sakit terbaik!"


"Bisa jadi pemicunya karna Aluna terlalu banyak pikiran, dan sering merasa gelisah dia juga bekerja terlalu keras sehingga sering merasa kelelahan."


"Apa Aluna bisa sembuh lagi?"


"Kita serahkan saja pada sang Maha Pencipta!"


ucap dokter andri sambil menepuk-nepuk pundak Leon.


Anindira tidak sanggup untuk berkata-kata lagi, dia keluar dari kamar aluna.


"Dira, kemari dan duduklah!" pinta neneknya Leon.


Anindira pun duduk di sampingnya.


"Nenek harap kamu bisa memaafkan kami yang sudah menelantarkanmu, kami tidak akan memaksamu untuk kembali ke rumah ini, tapi aku mohon padamu tinggallah di sini sampai Aluna sembuh!"


"Nenek tau ini tidak mudah untuk kamu, bagimu kembali ke rumah ini bisa saja membuka luka lama tapi nenek mohon, demi Aluna! hanya sampai Aluna sembuh saja." Ucap neneknya Leon sambil menempelkan ke dua telapak tangannya.


"Nenek tidak usah memohon seperti itu padaku, seperti yang nenek bilang ini tidak mudah untukku maka aku butuh waktu untuk memikirkannya lagi!"


"Baiklah, terimakasih Dira."


"Iya nek,"


"Dira, Rajendra menangis mungkin dia merasa lapar." Ucap mamanya Leon.


"Iya, dari tadi Rajendra belum minum susu, biarkan aku menyusuinya dulu."

__ADS_1


"Duh, cucu nenek lapar ya sayang?" ucap mamanya leon pada Rajendra kecil lalu memberikannya ke pangkuan Anindira.


Anindira pergi ke halaman belakang rumah untuk menyusuinya sambil duduk di kursi panjang yang ada di sana.


Leon menghampiri Anindira yang sedang menyusui Rajendra, "Dira, ah maaf nanti saja!" Ucap Leon sambil membalikan badan lalu pergi.


Setelah Anindira selesai menyusui Rajendra kecil dia membawanya ke kamar yang telah di siapkan Aluna sebelum Anindira di usir dari rumah itu, anindira teringat kembali saat Aluna menata kamar itu dengan sedemikian rupa untuk dia dan Anaknya.


Anindira mengingat ekspresi wajah Aluna yang begitu bahagia ketika dia tau Anindira mengandung Rajendra kecil.


Matanya berkaca-kaca mengingat semua itu, Kemudian anindira menidurkan Rajendra di ranjang gantungnya, dia mengayun-ngayunkan ranjangnya supaya Rajendra tidur dengan pulas.


Leon menyusulnya ke kamar, dia memperhatikan Anindira dan anaknya.


Anindira menyadari keberadaan Leon, "Ada apa? apa ada yang ingin kamu katakan padaku?"


Leon menghampiri Rajendra dan mengusap kening anaknya itu, "Maaf, karna ayah selalu meragukanmu! ayah akui kalau ayahmu ini sangat egois dan keras kepala."


"Setelah melihatmu ayah sadar kalau selama ini ayah bersalah padamu, kamu sangat mirip denganku! kamu adalah anakku!" Leon mengecup kening anaknya.


"Dira, aku ingin bicara sebentar denganmu!" ucap leon sambil pergi.


Anindira mengikutinya tanpa mengatakan apapun. Merekapun duduk di halaman belakang rumah dan mengobrol.


"Sebelumnya aku minta maaf, apa aku boleh tanya sesuatu padamu?"


"Mau tanya apa?"


Leon memperlihatkan foto yang waktu itu di berikan oleh Gena padanya, "Apa orang yang ada dalam foto ini benar-benar kamu? kalau benar siapa lelaki yang sedang bersamamu itu?"


Anindira memperhatikan foto itu dan menjawab pertanyaan Leon dengan tegas, "Iya itu memang aku, dan lelaki itu memang benar duduk di sampingku waktu itu, tapi aku tidak mengenalnya! itu adalah sebuah halte bus, semua orang, laki-laki dan wanita bisa saja duduk bersamaan di sana karna itu fasilitas publik."


"Kenapa? apa kamu masih juga meragukan perkataanku? apa kamu masih saja mencurigaiku? apa sekarang kamu juga mengira aku berhubungan dengan banyak pria?"


"Jangan-jangan dalam hatimu kamu masih meragukan Rajendra! baiklah bukankah kamu menginginkan tes DNA? besok kita pergi ke rumah sakit untuk tes DNA!" ucap nisa merasa geram lalu pergi meninggalkan Leon.


Leon menghela nafas, dan memijat-mijat keningnya.


Anindira pergi ke kamarnya Aluna, dan berbicara padanya yang masih tak sadarkan diri, "Mba, kenapa kamu memintaku untuk kembali ke sisi leon? dia hanya mencintai Mba seorang, meskipun aku adalah istri sahnya sekalipun bagaimana bisa aku hidup bersama orang yang sama sekali tidak pernah mempercayaiku."


"Mba harus cepat sembuh, Mba selalu bilang kan kalau Mba menganggapku seperti adikmu sendiri, dan Mba juga selalu bilang Mba akan menyayangi Rajendra melebihi seorang ibu kandung."


"Kalau Mba sakit seperti ini bagaimana caranya kamu memberikan kasih sayang padanya? sekarang kami di sini untukmu Mba! aku akan selalu berdo'a untuk kesembuhan Mba."

__ADS_1


__ADS_2