Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 50


__ADS_3

Leon menatap Dira dan Dean, lalu mengalihkan pandangannya pada Rajendra.


"Aku tidak tau apa aku berhak menceritakan masalahku pada Dira dan Dean atau tidak." Kata Leon dalam hati.


Anindira memanggil-manggil Leon, tapi Leon masih tenggelam dalam lamunannya.


"Bang?" kata Anindira.


Leon tetap tidak bergeming.


"Bang Leon?" kembali Anindira memanggil Leon dengan menepuk bahunya.


Barulah Leon tersadar dari lamunannya, "Ah iya, maaf."


"Ada apa bang?"


"Sebenarnya aku ada sedikit masalah dalam rencana pernikahanku."


"Masalah apa?" tanya Anindira.


"Hanya masalah tentang tempat dan tanggal pernikahan." Leon enggan untuk mengatakan kebenarannya pada Dira dan Dean.


"Memangnya kenapa dengan tempat dan tanggal pernikahannya?"


"Jadinya kami akan mengadakan resepsi di rumah pihak wanita dan tanggal pernikahannya juga di percepat."


"Wah, kenapa jadi masalah? bukankah itu adalah kabar yang baik, lebih cepat lebih baik kan! dan untuk masalah tempat pernikahan memang lebih baik di tempat mempelai wanita gak usah sewa gedung! buang-buang uang saja." Celetuk Dean


"Stt, Dean!" Anindira menegur Dean dengan memukul pelan bahunya.


Dean tertawa cekikikan, Leon tampak merasa tidak enak pada Dira dan Dean.


"Keberangkatan kami ke faris juga sebentar lagi mungkin Aku, Dean, dan Rajendra tidak akan bisa menghadiri pernikahan kalian, kami akan berangkat dalam waktu dua hari lagi."


"Begitu ya, pernikahanku juga akan di langsungkan dalam dua hari lagi, tidak apa-apa untung saja hari ini aku datang berkunjung, aku jadi mempunyai kesempatan untuk melepas kerinduanku pada Rendra. Hari ini aku akan tinggal lebih lama di sini, besok aku tidak bisa datang berkunjung karna sibuk dengan pernikahan itu."


Leon merasa sedih karna akan berpisah dengan Dira dan Rendra dalam waktu yang lama.


"Papa jangan sedih, Lendla akan selalu mendo'akan yang telbaik untuk papa kalau sampai tante itu menyakiti papa bial Lendla yang akan membalasnya."


"Benarkah? memangnya dengan cara apa kamu akan membalasnya?"


"Sepelti Lendla mengeljainya waktu di lumah papa."


"Oh iya, katanya kamu waktu itu sangat berani memberi tante itu pelajaran, bagaimana ceritanya Rendra?" kata Dean sambil tersenyum.


"Dean!" Anindira mencubit lengan Dean, Dean mengaduh kesakitan.


"Kamu juga Rendra! kamu gak kapok-kapok ya udah mama bilang kan jangan begitu!"


"Iya ma, hihihi."


"Kamu ini!" Anindira mencubit pelan pipi Rajendra.


Leon sangat bersyukur dia masih bisa menemui Dira dan Rendra, dia juga merasa lega jika Dira dan Rendra bersama dengan Dean.

__ADS_1


Hari itu mereka menghabiskan waktu berempat sampai sore hari, mereka juga sempat makan siang bersama keluarga Anindira.


"Sudah sore papa harus pulang Rendra." Ucap Leon sambil memegang bahu Rendra dan menundukan kepalanya karna sedih.


"Papa tidak apa-apa kan?"


Leon memeluk anaknya dan berkata, "Papa pasti akan sangat merindukanmu, jangan lupa berkabar dengan papa ya!"


"Iya pa Lendla akan vidio call papa setiap hali."


"Abang jangn bersedih, besok kami akan datang ke rumahmu untuk berpamitan pada semuanya."


"Baiklah, kami akan menunggu kalian."


Leon berpamitan pada Anindira dan keluarganya.


"Kalau begitu, aku juga pamit ya Dira, Rendra sampai jumpa lagi."


"Iya paman."


"Kalian berhati-hatilah di jalan." Kata Anindira.


"Okay," jawab Dean, "Ayo Pak Presdir!"


"Apa maksudmu ayo?" ucap Leon heran.


"Aku juga akan naik mobil denganmu."


"Mobil siapa?"


"Mobilmu," Dean berjalan menghampiri mobil Leon dan membuka pintu mobilnya lalu melambaikan tangan pada Leon, "Pak Presdir ayo cepat naik nanti aku tinggal loh!"


"Hei, siapa yang menyuruhmu masuk ke dalam mobilku!"


"Aku baru mau masuk loh."


"Siapa yang mengajakmu ikut denganku."


"Tidak ada, aku juga mau pulang ke kota, jalan ke rumah Pak Presdir kan melewati apartemenku jadi sekalian saja! beri aku tumpangan pak."


"Tidak ada tumpangan untukmu, pakai saja kendaraanmu kenapa harus menumpang di mobilku."


"Motorku sedang dalam perbaikan, aku ke sini juga menggunakan bus tolonglah Presdir kasihani aku." Kata Dean.


"Papa, ajak saja paman kasihan kan kalau paman harus naik bus lagi siapa tau paman sedang tidak memegang uang, jadi papa juga ada teman mengoblol." Ucap Rajendra.


"Hhahh, Menyusahkan saja. Naiklah!"


Anindira dan Rajendra tertawa kecil, sambil melambaikan tangan.


Leon dan Dean membalas lambaian tangan mereka.


Selama di perjalanan Dean terus saja mengajak Leon mengobrol.


"Hei, apa kamu bisa diam? kenapa kamu cerewet sekali, seperti wanita saja."

__ADS_1


"Hahaha, maaf! oh ya Leon apa kamu yakin akan menikah dengan adik dari istrimu?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Aku penasaran saja, apa kamu tidak punya pikiran untuk berkumpul kembali bersama Dira dan Rajendra?"


"Kenapa kamu menanyakan itu? apa kamu sadar wanita yang kamu bicarakan itu adalah wanita yang akan kamu nikahi?"


"Apa maksudmu?"


Sebelum Leon menjawab Dean, tiba-tiba handphone Leon berbunyi Leon mengangkat telponnya.


Ternyata itu telpon dari kantor, sekertaris Leon mengatakan ada klien yang ingin bertemu dengannya hari itu juga.


"Bram kita harus pergi ke kantor sekarang juga!"


"Baik tuan,"


"Maaf Dean sepertinya aku harus menurunkanmu di sini."


"Ya tidak masalah, lagi pula apartemenku tidak jauh dari sini." Dean turun dari mobil.


"Terimakasih atas tumpangannya Presdir."


"Kamu memang harus banyak-banyak berterimakasih padaku." Ucap Leon.


"Ayo pergi Bram!"


"Iya tuan."


"Hhahh, dia memang angkuh pantas saja Anindira tidak mau kembali padanya, tapi aku yakin dia masih mencintai Anindira tapi apa yang membuatnya berhenti meyakinkan Dira dan menikahi wanita Lain?" Dean mengoceh sendiri sambil berjalan menuju apartemennya.


Pagi hari, di rumah Aira.


Dia mendapat telpon misterius dari seseorang, dia juga tau kehidupan Aira waktu di luar negri.


Dia mengirimkan foto-foto Aira yang sedang bersama seseorang sewaktu dia tinggal di luar negri.


Dia juga mengirim pesan pada Aira.


Aira tampak hawatir, dia menelpon balik no.misterius itu.


"Siapa kamu, apa maumu?" teriak Aira di telpon.


"Tenanglah, aku ingin memberitaumu kalau seseorang yang ada di foto itu sangat merindukanmu."


"Apa, apa maksudmu? dari mana kamu dapat foto-foto itu?"


"Kamu tidak perlu tau siapa aku, aku telah berbaik hati memberikan kabar tentang orang yang sangat penting dalam hidupmu, ah bukan hanya itu saja aku juga akan membawa dia untuk bertemu denganmu."


"Tidak, jangan bawa dia! jangan coba-coba bawa dia untuk bertemu denganku."


"Oh, aku kira kamu akan senang mendengar kabar ini."


"Apa maumu sebenarnya?"

__ADS_1


"Apa lagi, aku hanya ingin berbuat baik dengan mempertemukan dua insan yang sudah lama terpisah."


"Apa, apa yang kamu katakan? apa kamu mau mencoba untuk memerasku." Kata Aira dengan perasaan panik.


__ADS_2