
"Kenapa pa,"
"Tidak, tidak apa-apa."
"Ini sudah larut, menginap saja di sini."
"Tidak, besok pagi-pagi sekali papa harus pergi."
"Kemana?"
"Temu janji dengan klien."
"Ya sudahlah, hati-hati di jalan."
"Terimakasih,"
Leon menatap putranya itu dan dia memeluknya dengan erat.
"Papa pergi dulu,"
Rajendra menutup pintu, lalu pergi ke kamarnya untuk tidur.
04.30, Anindira memulai rutinitasnya, dari bangun tidur sampai menyiapkan sarapan.
"Pagi ma,"
"Pagi honey, ayo sarapan dulu,"
"Oke,"
"Apa semalam papamu menginap di sini?"
"Seperti yang mama lihat, di sini gak ada papa, semalam dia bersikeras untuk pulang meskipun sudah larut."
"Kamu kecewa?"
"Sepertinya tidak, akhir-akhir ini Rendra menghabiskan banyak waktu bersama papa, jadi gak masalah."
"Good boy,"
Rajendra tersenyum,
Selesai makan, Anindira berangkat kerja dan Rajendra pergi ke kampus.
"Hai Rendra," Sapa Siren yang baru saja sampai di kampus.
"Hai Ren,"
"Kamu gak di antar papamu lagi?"
"Enggak,"
"Pasti papamu sibuk ya, papamu itu pengusaha besar ya?"
"Enggak juga,"
"Hai Rendra, kita bertemu lagi ya."
"Halo tante,"
"Apakabar Nak?"
"Baik Tante, tante mengantar Siren ke kampus setiap hari?"
"Iya, maklumlah ibu-ibu suka hawatir sama anak gadisnya."
"Oh, begitu,"
Ketika mereka bertiga mengobrol, Leon yang waktu itu datang ke kampusnya Rendra melihat mereka, dia mengerutkan keningnya.
"Rendra,"
"Pa,"
Leon menghampirinya.
"Tante, Siren, ini papaku."
Aira membungkukan badan, "Halo, senang bertemu dengan an.." Ucapan Aira terhenti ketika dia mengangkat kepalanya dan mengetahui orang yang dia sapa adalah papanya Rajendra.
"Kamu?! jadi, kamu adalah papanya anak ini!"
"Iya, apa yang kamu lakukan dengan anakku!"
"Hah, sialan, kalau aku tau anak ini adalah putramu, aku gak akan sudi bicara dengannya."
"Siapa yang menyuruhmu bicara dengan putraku, pergi!"
__ADS_1
Aira memelototi Leon.
"Aku bilang pergi!"
"Dasar brengsek, Heh kamu, jangan dekati anakku lagi, Siren ayo pergi."
"Tapi ma,"
"Diam! kamu gak pantas bergaul dengan anak berandalan itu."
"Berandalan? bukannya mama juga sangat menyukai Rendra, mama juga selalu memujinya kan, kenapa sekarang mama melarangku bergaul dengannya?"
"Diam! kamu tidak tau apa-apa, ikuti saja perkataan mama."
"Papa mengenal mamanya Siren?"
"Kamu tidak ingat padanya?"
"Apa aku mengenalnya?"
"Yaampun Rendra, dulu dia adalah wanita yang paling kamu benci, dan bisa-bisanya dia tidak sadar kalau kamu itu adalah putraku."
"Wanita yang paling ku benci? siapa?"
"Sudahlah lupakan, bagus kalau kamu lupa, memang lebih baik seperti itu."
"Ah, sepertinya sekarang aku ingat, dia pasti mantan istrimu setelah ibuku."
"Anak nakal, bisakah kamu tidak memakai kata mu padaku, aku ini ayahmu, panggil aku papa."
"Iya, iya, papa."
"Bagus,"
"Oh ya, papa ngapain di sini?"
"Papa kesini untuk bicara sama kamu,"
"Tentang apa?"
Leon merangkul bahu Rajendra mereka berjalan, dan duduk di bangku taman depan kampus.
"Sebelumnya papa mau minta maaf sama kamu, dan terimakasih sudah mau menerima papa kembali."
"Kenapa papa bicara seperti itu?"
"Maksud papa?"
Leon mengambil sebuah kotak kecil dari saku jasnya, dia memberikan kotak kecil itu pada Rajendra.
"Mamamu harus hidup bersama orang yang tepat, kamu tau kan apa yang harus kamu lakukan dengan ini? papa tau kamu pasti berpikir papa ini tidak berguna, tapi kebahagiaan mamamu ada padanya, dan kamu juga sangat menyukainya bukan? papa yakin kalian bertiga akan hidup bahagia selamanya."
Rajendra hanya bisa diam saja mendengar semua ucapan Leon, dia tidak tau harus berkata apa.
"Oh ya ngomong-ngomong papa sudah terlalu lama di sini, papa sudah harus pergi."
"Kemana?"
"Ke tempat asal papa,"
"Papa mau pulang ke kota X?"
"Iya, disana masih ada nenek dan kakekmu, mereka membutuhkan papa."
"Bagaimana kabar nenek dan kakek?"
"Mereka sudah tua, jadi mereka sering merasa pegal-pegal, kamu dan mamamu boleh berkunjung kapan pun kesana, kami akan selalu menunggu kalian."
"Apa papa akan pergi hari ini juga?"
"Iya, apa kamu mau mengantar papa sampai bandara?"
"Iya, aku mau, kapan pesawat papa Take off?"
"Jam lima sore,"
"Oke, aku akan langsung berangkat dari kampus."
"Terimakasih Rendra,"
Setelah selesai kelas Rendra langsung pergi ke bandara.
"Dira,"
"Ya,"
"Ada yang ingin aku katakan padamu."
__ADS_1
"Apa?"
"Ini tentang Leon,"
"Ah, iya, hari ini dia tidak datang ke kantor atau mengomeliku di telpon, ada apa dengannya?"
Dean memberikan sebuah map pada Anindira.
"Apa ini berkas-berkas kantor, kenapa kamu membawanya padaku?"
"Iya berkas-berkas kantor yang merupakan hakmu."
"Maksud kamu?!"
Anindira menatap Dean lalu membuka map itu, "Ini..?!"
"Iya, itulah kebenarannya, sebenarnya hari ini Leon akan pulang ke negaranya."
Anindira sangat terkejut, dia tidak mampu untuk berbicara.
"Dira, apa kamu baik-baik saja?"
Anindira meneteskan air mata.
"Kalau kamu mau, aku akan mengantarmu ke bandara untuk menemuinya."
"Apa masih ada waktu?"
"Hm, lima belas menit lagi pesawatnya take of."
"Ayo kita pergi."
Merekapun berangkat ke bandara.
Karna di perjalanan mereka mengalami kemacetan mereka terlambat, Anindira tidak bisa menemui Leon, dia mengambil Handphonenya dan ternyata Rajendra mengirim pesan padanya, dia memberitahu kalau papanya telah pergi.
"Rendra,"
"Mama,"
Anindira menghampiri Rajendra dan memeluknya.
"Maaf ma, Rendra tidak memberitahu mama kalau hari ini papa pergi."
"Tidak apa-apa, kamu baik-baik saja kan?"
"Iya ma,"
Mereka bertiga duduk di kursi tunggu di dalam bandara.
"Maaf, aku terlambat memberitahumu." Ucap Dean.
Anindira dan Rajendra hanya terdiam.
"Bagaimana kalau kita menyusulnya," Ucap Dean.
"Tidak perlu,"
"Kenapa tidak ma, apa salahnya? kita juga sudah lama tidak bertemu dengan kakek dan nenek kan, ayo kita pulang dan bertemu dengan mereka sebentar saja."
"Iya mama mau, tapi kita berangkat besok saja, kita harus berkemas dulu sekarang."
"Mamamu benar, kita akan berangkat besok."
Merekapun pulang ke rumah dan mulai berkemas, esok harinya mereka berangkat.
"Dean, kamu sudah memberitahu Clair kalau kita akan pergi hari ini?"
"Sudah, aku memberitahunya lewat chat, dia memintamu untuk jangan hawatir, dia akan menghandle pekerjaan kita selama kita pergi."
"Ah ya, syukurlah."
Sesampainya di kota X.
"Mama sudah memberitahu nenek dan kakekmu kalau kita akan pulang hari ini."
"Apa kita akan menemui nenek dan kakek dulu?"
"Iya, kita kesana dulu untuk menyimpan barang-barang kita."
"Aku juga akan ke rumah pamanku."
"Nona Dira, Tuan muda,"
"Kak Bram?!"
"Kapan nona sampai?"
__ADS_1
"Baru saja, kenapa Kak Bram ada di sini? di mana Bang Leon?"